
Pria paruh baya semakin mendekat. Wajahnya teduh. Kulitnya putih bersih. Tampak tak luntur ketampanan masa mudanya. Ia tersenyum padaku. Wewangian semerbak tercium, sangat harum.
"Assalamualaikum cucuku." salamnya seraya memanggilku cucu. Siapa sebenarnya pria ini?
"Waalaikumsalam. Ba-bapak siapa?" tanyaku.
Ia tersenyum.
"Jelas kau tidak mengenaliku, karena kita memang tidak pernah bertemu. Keluargamu juga tak pernah menceritakan keberadaanku dulu." ucapnya.
"Aku leluhurmu. Raden Halim." lanjutnya dengan senyum teduhnya.
Raden Halim? Raden Halim Kakek Buyutku? Apa benar ini Raden Halim?
"A-apa benar Bapak ini Raden Halim?" tanyaku memastikan.
"Iya cucuku. Aku Raden Halim, bukan jelmaan demit ataupun setan." jawabnya.
"Apa buktinya kalau Bapak ini benar-benar Raden Halim?" tanyaku menantang.
Si Pria kembali tersenyum.
Kemudian Pria itu mengangkat tangan kanannya. Seketika cincin yang kupakai bersinar sangat silau. Tiba-tiba saja segumpalan sinar berwarna biru keluar dari dalam cincin. Lalu sinar itu menghampiri tangan Pria paruh baya, dan meresap ke dalam tangannya.
"Cincin mustika itu kuambil. Kau bangunlah, jika kau masih tak percaya. Jika sudah yakin kalau aku ini Raden Halim, kembali temuiku." ucap Pria paruh baya itu sambil tersenyum.
Tiba-tiba saja gelap kembali menyelimuti. Sosok Pria paruh baya itu hilang di makan gelap.
.
.
.
"Di. Woi, bangun Di." Mas Gun menepuk pipiku.
Aku bangun gelagapan.
"Heh, kenapa lo? Mimpi di kejar demit? Hehehehe. Udah subuh Di. Yuk shalat." ajak Mas Gun.
Aku tertidur di sofa dan bermimpi didatangi leluhurku.
"Di, shalat yuk. Udah subuh." ajak Yuda.
"I-iya Da."
Mimpi yang terasa sangat nyata. Aku beranjak bangun. Lalu berwudhu. Tapi..
Hei, dimana cincinku?
Lho? Cincinku hilang?
Apa benar mimpiku tadi?
"Lo kenapa sih Di?" tanya Yuda, ia telah selesai berwudhu.
"Cincin gue nggak ada Da. Cincin gue kemana Da?" tanyaku.
"Nah lho, mana gue tahu. Kan lo yang pakai." sahut Yuda.
Astaga. Dimana cincin itu?
Aku panik.
Apa benar mimpiku barusan? Apa Pria paruh baya itu yang mengambil cincinku? Sepertinya memang ia Raden Halim. Si pemilik cincin mustika itu. Ah, sudahlah.
__ADS_1
Aku mencoba menenangkan diri. Kulanjutkan berwudhu dan menyusul Yuda serta Mas Gun ke mushola dekat kamar Yuda. Kami melaksanakan shalat subuh berjamaah. Mas Gun menjadi imam. Bacaan quran Mas Gun lebih fasih dan enak dibandingkan aku.
Setelah selesai shalat, kami zikir sendiri-sendiri. Aku berzikir sembari menutup mata. Kukesampingkan pikiran cincin yang tak tahu ada dimana. Aku hanya fokus berzikir dan berdoa memohon perlindungan dari Yang Maha Kuasa.
.
.
.
.
.
Kulihat sinar putih kembali. Tiba-tiba sekelilingku berwarna putih seluruhnya.
"Apa kau kehilangan ini?"
Aku terkejut, lalu menoleh ke belakang.
Pria paruh baya sudah berdiri di belakangku. Ia memegang cincin di tangannya sambil tersenyum.
"Ba-bagaimana, bagaimana bisa?" tanyaku.
"Bagaimana bisa? Tentu saja bisa, ini cincinku. Aku bisa ambil kapanpun kumau." ucap Pria paruh baya itu.
"Sekarang, apa kau sudah percaya kalau aku ini Raden Halim? Atau, kau masih ragu?" tanya Pria paruh baya lagi.
Jelas Pria itu memang Raden Halim, leluhurku. Ia yang bertapa dengan Kakek Badrun, demi mendapatkan mustika itu. Tak diragukan lagi, beliau memang Raden Halim.
"Maafkan aku Kakek Buyut, aku meragukanmu." ucapku.
Kakek Halim tersenyum.
"Tak apa cucuku. Disaat seperti ini, wajar kalau kau menaruh curiga pada siapapun. Karena keselamatanmu dan teman-temanmu memang sedang terancam." balas Kakek Halim.
"Mari cucuku, berjalan bersamaku." ajak Kakek Halim.
Kami berjalan berdampingan. Sekelilingku tak ada apapun selain warna putih yang terlihat.
"Tujuanku menemuimu tak lain dan tak bukan hanya untuk memberi sedikit nasihat. Aku tahu kau sedang dalam kesulitan. Aku juga tahu kau sedang terancam. Tapi aku salut denganmu cucuku." ujar Kakek Halim.
"Kau masih berdiri dan balik melawan. Entah apa yang terjadi jika hal ini dialami oleh anak muda sebayamu. Mungkin mereka sudah pasrah, menyerah, atau mungkin rela menjadi pengikut iblis. Tapi tidak denganmu cucuku. Kau anak yang tangguh." lanjut Kakek Halim.
Kami berhenti melangkah. Tiba-tiba kami sudah berada di sebuah air terjun yang sangat indah. Udaranya terasa sangat sejuk. Terpaan bintik-bintik air terjun yang terbawa angin, terasa membasahi wajahku. Pepohonan yang tumbuh rindang, serta suara binatang hutan terdengar saling bersahutan. Kulihat burung terbang mengepakkan sayap bergerombol, terbang meliuk lalu hinggap di sebuah dahan pohon. Bunga-bunga bermekaran di sekitaran air terjun. Berwarna-warni. Tampak kupu-kupu terbang rendah melewati bunga yang menggodanya centil. Semua yang kulihat begitu indah, selaras, dan syahdu.
Apa ini surga?
"Cucuku, kau telah melakukan hal benar. Bahwasanya makanan dari mustika yang kau pakai adalah shalat dan zikir. Dengan keduanya, mustika itu akan memiliki kekuatan yang sangat besar. Kekuatan yang melebihi batas. Aku percaya dan sangat yakin padamu, kau bukanlah anak yang sembarang dan neko-neko. Mustika itu memang tepat berada di tanganmu. Pesanku, kau jagalah mustika ini baik-baik. Berserah diri pada Yang Maha Kuasa, maka mustika ini akan membawa manfaat bagimu." jelas Kakek Halim.
"Baik Kek. Insya Allah akan saya laksanakan nasihat Kakek." sahutku.
"Lalu Kek, apakah dengan menggunakan mustika ini aku bisa mengalahkan kuntilanak merah itu?" tanyaku.
Kakek Halim tersenyum. Ia berjalan ke pinggir hulu sungai sambil menatap ke air terjun.
"Kuntilanak merah dan pengikutnya hanyalah setitik gangguan untukmu cucuku. Ia bukan apa-apa. Satu kuncinya, asal kau tetap melaksanakan kewajibanmu sebagai seorang hamba, maka ia tak akan ada apa-apanya di matamu. Derajatmu lebih tinggi dibanding dengannya." ujar Kakek Halim.
Kemudian Kakek Halim berbalik badan menghadapku.
"Jangan pikirkan iblis itu. Cukup hanya laksanakan kewajibanmu. Maka pertolongan Yang Maha Kuasa akan menyertaimu cucuku." ucap Kakek Halim seraya menepuk pundakku.
"Mari cucuku," aku diajak berjalan kembali.
"Satu hal lagi yang ingin kukatakan padamu."
__ADS_1
"Apa itu Kek?" tanyaku.
"Aku tak ingin hal buruk menimpa darah keturunanku. Aku tak rela jika itu sampai terjadi, apalagi padamu. Satu lagi pesanku, berhati-hatilah dengan orang terdekatmu. Ia bisa mengancam keselamatanmu dan teman-temanmu." ungkap Kakek Halim.
"Orang terdekatku? Apa Kakek bisa beritahu padaku siapa orangnya?"
Kakek Halim kembali tersenyum.
Tiba-tiba, kami sudah berada di depan rumah Yuda. Terlihat hari masih gelap.
"Kau akan temukan sendiri jawabannya cucuku." jawab Kakek Halim.
"Bagaimana caraku menemukan jawabannya Kek?" tanyaku lagi.
"Kau akan segera tahu cucuku. Ini, kuserahkan kembali cincin mustika untukmu. Aku pamit. Assalamualaikum."
"Waalaikumsal.."
.
.
.
"Heh, zikir apa tidur?" Mas Gun menepuk bahuku.
Aku terkejut.
Kulihat jemariku.
Eh, cincin itu kini melingkar di jari manisku.
Apa yang barusan terjadi? Mimpikah? Kuusap wajahku. Eh, basah? Apa aku benar-benar pergi ke air terjun itu barusan? Apa ini air wudhu? Tak mungkin air wudhu, itu sudah beberapa belas menit yang lalu. Kalau air wudhu, pasti sudah mengering.
Yang kualami tadi pasti nyata. Bertemu dengan leluhurku, Raden Halim berusan pasti nyata. Ya, nasihatnya padaku akan kudengar dan kulaksanakan dengan baik. Tapi, siapa orang terdekatku yang bisa mengancamku? Ah sial, teka-teki apa lagi ini?
Aku beranjak dari mushola, menuju kamar Yuda. Kulihat Mas Gun sudah terlentang tidur dengan pulasnya, begitu pun Yuda. Aku masih berdiri di depan pintu kamar Yuda. Pikiranku masih melayang-layang.
Siapa orang terdekat yang bisa mengancamku?
Mas Gun? Masa iya.
Atau Yuda? Rasa-rasanya tak mungkin.
Tika? Ah, perasaanku..
"Heh, ngapain lo bengong di depan pintu?"
Tika mengagetkanku.
"Eh. Em anu. Emm, gue. Gue pengen olahraga rasanya. Hehehe. Iya, pengen olahraga." jawabku asal.
"Olahraga? Memang lo udah tidur?" tanya Tika.
"Be-belum sih. Cuma pengen aja nih. Nggak tahu kenapa." balasku sembari memutar-mutar lengan.
"Aneh. Sana tidur! Simpan tenaga lo." suruh Tika.
Ia kemudian menutup pintu kamar Deby.
Apa mungkin Tika?
Tak mungkin rasanya kalau Tika. Ia sedari awal membantuku, kami seperti duet maut pemusnah demit. Mana mungkin Tika.
Ah sial, pusing memikirkannya. Aku lebih baik tidur. Kututup rapat kamar Yuda.
__ADS_1
Kurebahkan tubuh letihku di samping Yuda. Kupejamkan mata dan pergi tidur.