Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 128


__ADS_3

Jantungku berdebar tak keruan mendengar Yuda menyebutkan sebuah nama yang tak asing di telingaku. Badriyah. Nama yang menjadi awal bencana dalam rentetan segala masalah yang terjadi di kost itu. Nama yang menghancurkan rumah tangga Pak Thamrin dan istrinya, Nyai Asih. Nama yang membuat keberadaan kuntilanak merah menjadi momok menakutkan di kost Pak Thamrin. Dan nama yang harus bertanggung jawab atas kematian kawanku Bagas.


Entah bagaimana cara mengalahkan kekuatan kuntilanak merah dan Nek Iyah? Aku tak tahu caranya. Bahkan, sampai saat ini pun aku belum melihat wujud Nek Iyah setelah kejadian di rumah Yuda beberapa waktu lalu. Kang Ujang bilang kalau Nek Iyah sedang pergi berobat. Cih, alasan macam apa itu? Aku yakin ia sedang menyembuhkan lukanya bersama kuntilanak merah itu di suatu tempat. Guna memuluskan kembali rencana jahat mereka. Yang jelas, aku harus terus waspada dan selalu berserah diri pada Yang Maha Kuasa.


"Di. Adi. Kok lo diam aja sih? Kenapa?" tegur Yuda.


Yuda memecah lamunanku.


"Eh. Eng-enggak apa-apa." jawabku.


"Di, memang siapa itu Badriyah? Lo kenal dengan Badriyah?" tanya Yuda dengan suara pelan.


Bagaimana ini? Apa harus kuberi tahu siapa sebenarnya Nek Iyah itu pada Yuda? Aku diam, tak langsung menjawab pertanyaan Yuda.


"Eh Da, kopi gue habis nih! Gue mau pesan yang seger-seger nih, lo mau minum apa lagi?" aku bangun dari duduk dan hendak menuju gerobak tempat Bang Dede membuat pesanan pelanggan.


Grep. Tiba-tiba Yuda mencengkram tanganku, menahanku untuk pergi ke dalam. Ia menatapku dalam.


"Siapa itu Badriyah Di?" tanya Yuda. Raut wajahnya berubah serius.


"Apa kakek tua yang ikut menolong gue kemarin kenal dengan Badriyah?" Yuda bertanya lagi.


"Apa ada hubungannya dengan kematian Bagas?" Yuda bertanya lagi.


"Apa ada kaitannya dengan kalung milik lo?"


Aku melepaskan cengkraman tangan Yuda, lalu kembali duduk.


"Tenang Da. Akan gue ceritakan semuanya. Badriyah, kakek tua yang ikut menolong lo, kematian Bagas, dan semua kejadian mistis yang lo alami." jawabku.


"Gue ceritakan semua yang gue tahu. Tapi ada syaratnya." lanjutku.


"Syarat? Cerita aja pakai syarat segala sih Di." sahut Yuda.


"Mau gue ceritain nggak?" tekanku.


"Iya. Apa syaratnya?" tanya Yuda.


"Oke. Syaratnya cuma satu. Begitu gue ceritakan semua ke lo, dan lo tahu siapa dalang di balik semua kejadian ini. Lo harus janji sama gue akan tetap biasa aja, nggak terpancing emosi, apa lagi sampai ada niat untuk balas dendam pada orang itu. Deal?" ujarku.


Yuda diam, ia berpikir. Matanya menerawang ke atas.


"Deal?" aku mengulurkan tangan mengajaknya bersalaman.


Yuda menatapku.


"Kenapa gue harus biasa aja? Kenapa gue nggak boleh balas dendam atas apa yang sudah dia perbuat pada gue? Kenapa Di? Gue hampir mati karena perbuatan orang itu, lo hampir mati, kita semua hampir mati. Kenapa gue harus biasa aja? Hah?" Yuda memberondongku dengan pertanyaan.


Aku menatap Yuda dalam.


"Karena lo bukan tandingan dia." jawabku.


"Lo nggak bisa melakukan apa-apa ke dia Da, orang itu bukan manusia biasa. Orang itu bagai ratu, dan semua rakyatnya adalah demit yang lo lihat saat itu. Lo nggak bisa minta bantuan sama teman-teman lo yang begajulan, lo nggak bisa minta tolong sama Bang Tomi si pemimpin preman tukang bikin onar itu. Nggak bisa Da." lanjutku.


Yuda tampak diam. Matanya menatap gelas kosong yang ada di depannya.


"Deal nggak?" aku mengulurkan tangan kembali.


Tep. Yuda mengulurkan tangannya, dan kami pun bersalaman.


"Deal!" ucapnya keras.


"Wuuiihh, apaan nih? Ada kata-kata deal segala, lagi bisnis apaan lo berdua?" Bang Dede tiba-tiba datang. Ia duduk bergabung denganku dan Yuda.


"Hahahahahahaha. Nggak ada apa-apa bang, gue sama Adi cuma taruhan bola. Liga Champion!" ucap Yuda asal.


"Taruhan apa nih? Tebak skor? Ikutan dong gue!" Bang Dede dengan cepat berucap.

__ADS_1


"Nanti malam kan jagoan gue yang main, Liverpool tuh! Lo fans Liverpool juga Da?" tanya Bang Dede.


"Jelas itu bang! You'll never walk alone!" balas Yuda sembari mengangkat tangan dan mengacungkan telunjuknya ke atas.


"Hahahahahaha. Cakep! Lo emang ma brader Da!" Bang Dede bangun dari duduk kemudian mengajak Yuda tos. Yuda pun menyambut tos.


Obrolan pun berganti, sejak Bang Dede bergabung dengan kami. Membahas soal Liga Inggris, Liverpool, Liga Champions, sampai pemain bintang yang terkena kartu merah pada pertandingan lalu. Aku hanya menyimak dan memperhatikan mereka, sesekali ikut nimbrung dan ikut berkomentar. Bukan tak suka sepak bola, hanya saja aku penggemar pemain, bukan penggemar klub. Ternyata Yuda juga penggemar klub Liverpool juga, dan aku baru tahu. Makin klop bertemu dengan Bang Dede.


Empat orang mahasiswi datang ke kedai. Mereka datang dengan tawa dan canda, ramai. Bang Dede menyapa mereka dengan ramah. Wah, siang ini kedai cukup ramai pengunjung. Empat orang mahasiswi itu masuk dan duduk di dalam.


"Eh, gue tinggal sebentar ya. Duit nih!" ucap Bang Dede, kemudian berlalu meninggalkan kami. Ia masuk ke dalam, menyapa ke empat mahasiswi itu.


"Di, kayaknya kita harus pindah tempat deh." ucap Yuda.


"Iya. Gue tahu apa yang lo pikirkan. Bebas Da, lo mau pindah tempat kemana?" balasku.


"Cabut aja dulu dari sini, nanti kita cari tempat ngopi di seberang kampus. Kayaknya banyak juga tuh." ujar Yuda.


"Sebentar, gue bayar dulu ya." Yuda bangun dari duduk, ia hendak menuju kasir.


"Da, nih uang buat bayar kopi gue!" aku menyodorkan selembar uang pecahan dua puluh ribu.


"Apaan tuh? Duit lo nggak laku Di. Hehehehehehe." balas Yuda becanda, lalu ia ngeloyor masuk.


Aku membakar rokok, melihat keramaian siang. Mahasiswa lalu lalang mencari makan. Ada juga yang sibuk photo copy. Jalan samping kampus memang menjadi pusat perekonomian. Bukan hanya tenda makan dan warung makan, ramai juga tukang photo copy, laundry kiloan, kost-kost-an, penjual minuman, dan masih banyak lagi.


"Adi!" panggil seseorang. Aku menengok ke arah suara.


Rahmat? Si bocah pintar.


"Woi Mat! Sini Mat!" panggilku ke Rahmat.


Rahmat datang menghampiriku. Ia pun duduk.


"Lo ngapain Di?" tanya Rahmat.


"Dari perpus. Yuda-nya mana?"


"Di dalam tuh, lagi bayar. Kita udah mau cabut." jawabku.


"Eh Di, kapan lo ada waktu buat bantuin bikin makalah?" Rahmat bertanya.


"Bebas Mat, kalau waktu gue avail terus. Lo tinggal hubungin gue aja."


"Ooh gitu. Mantap. Berarti selalu standby ya." sahut Rahmat.


"Standby dong." balasku.


Yuda pun selesai membayar, "Lho, ada lo Mat. Kapan datangnya?" tanya Yuda.


"Baru aja sampai Da. Jadi kalian sering ngopi-ngopi di sini?" tanya Rahmat.


"Ya nggak sering sih, ini kebetulan aja. Lo kenapa baru datang sih? Gue sama Yuda udah mau cabut, coba dari tadi, kan bisa gabung ngopi Mat." ucap Yuda.


Aku menimpali, "Iya, coba dari tadi."


"Ah santai, gue juga mau pulang kok. Yaudah kalau kalian mau cabut, gue juga cabut deh!" ujar Rahmat.


Aku pun beranjak dari tempat duduk.


"Di, nanti gue kabarin ya." kata Rahmat.


"Oke Mat."


"Gue duluan ya!" ucap Rahmat seraya berlalu meninggalkan kami.


"Oke, hati-hati Mat!" ucap Yuda.

__ADS_1


Aku dan Yuda meninggalkan Kedai Kopi Satu Arah. Kami menuju kawasan seberang kampus. Seberang kampus pun menjadi favorit mahasiswa untuk mencari makan dan tempat nongkrong, karena di sana banyak juga warung-warung makan. Letaknya ada di jalan samping masjid besar.


Yuda menghentikan motornya tepat di depan kedai kopi bernama, Ngopi Yo. Kedainya kecil, tak terlalu besar. Di bagian luar ada meja panjang dengan kursi tinggi, layaknya di bar. Lampunya berwarna orens, bejibun menghiasi kedai. Kami pun masuk ke dalam. Bagian dalam terlihat minimalis dengan dekor yang cukup menarik. Kesan hijau terasa begitu masuk ke dalam kedai. Banyak tanaman pot, di meja, ada yang di gantung di dinding, ada pula pot besar di sudut kedai. Cat dindingnya berwarna abu-abu muda, banyak frame foto yang menempel di dindingnya. Meja dan kursinya pendek. Dan gerobak kopinya tak sebesar milik Bang Dede, warnanya hitam dan terlihat kinclong. Semuanya terlihat minimalis.


"Sore kak!" ucap seorang perempuan. "Lho! Adi, Yuda!"


"Eh, Kak Nia!" balasku.


Kak Nia, partner Bang Dede di Kedai Kopi Satu Arah.


"Kok bisa ketemu di sini sih? Lo berdua ngapain ke sini?" tanya Kak Nia.


Kami bersalaman dengan Kak Nia, wajahnya tampak sumringah melihatku dan Yuda datang.


"Gue ke sini mau cuci baju kak!" ucap Yuda asal.


"Hahahahahahaha." Kak Nia terbahak.


"Ya mau ngopi dong kalau ke sini." lanjut Yuda.


Kami pun duduk di ruang dalam. Tak seperti di Satu Arah, tak ada ruang ber-AC. Ruang dalam dan luar di perbolehkan untuk merokok. Kak Nia ikut duduk bersama kami.


"Emang nggak ke Satu Arah ngopinya?" tanya Kak Nia.


"Ini habis dari sana kak. Gue sama Yuda ada obrolan serius, jadi butuh sedikit privasi. Lo kan tahu Bang Dede gimana. Jadinya cari tempat ngopi lain deh." jawabku.


"Ooohh, iya iya. Hahahahaha. Gue ngerti, gue ngerti. Ya begitu deh si Dede. So, mau ngopi apa nih?" ujar Kak Nia.


"Betewe, tempat lo asik juga kak. Dekornya minimalis banget, mata juga jadi segar karena banyak tanaman di dalam kedai." ujar Yuda.


"Soalnya budget-nya minim, jadi bikinnya minimalis. Serba mini deh! Bangku sama meja aja mini. Iya kan! Hahahahaha." sahut Kak Nia.


"Gue pesan kopi susu gula aren aja deh! Pengin yang segar-segar." tuturku.


"Lo apa Da?" tanya Kak Nia ke Yuda.


"Sebentar." Yuda memandangi papan tulis besar yang menempel di tembok, di sana tertulis menu yang di sediakan.


"Mango booster apa tuh kak?" tanya Yuda.


"Oh itu jus mangga di campur susu, terus di tambah yokult. Lo tau yokult kan?" terang Kak Nia.


"Mantap. Gue pesan itu aja deh! Pasti lebih segar tuh." Yuda memesan.


"Oke sebentar ya." balas Kak Nia. Kak Nia menuju gerobaknya dan membuat pesanan kami.


Yuda berbisik padaku, "Di, ini sih alamat lo nggak bisa cerita lagi nih. Pasti Kak Nia ikut nimbrung ngobrol sama kita."


Aku terkekeh.


"Kak Nia beda sama Bang Dede. Lihat nanti aja." balasku.


Tak berapa lama pesanan kami datang, Kak Nia mengantarkan.


"Lo sendirian kak?" tanyaku.


"Sendiri aja. Soalnya masih merangkak, belum bisa bayar karyawan. Sendiri juga asik kok." jawabnya.


"Nah, kan lo berdua butuh privasi ngobrol, gue nggak ikut nimbrung ya. Silakan di nikmati!" ucap Kak Nia.


Aku dan Yuda saling melirik, lalu tersenyum.


"Oke kak. Sorry yaa." ucapku.


"Santai Di. Eh, kalau ada yang kurang kasih tahu gue ya."


"Siiiipp!" balasku seraya mengangkat jempol.

__ADS_1


__ADS_2