Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 119


__ADS_3

Mas Gun masuk ke dalam kamar, wajahnya menggambarkan kegelisahan. Aku pun masih di landa kebingungan. Siapa yang membuka kunci padahal tidak ada kunci yang menyantol di lubangnya?


Akhirnya kami memutuskan untuk duduk menenangkan diri di depan kamar. Teman Mas Gun pamit pulang, ia memang hanya niat mengantar Mas Gun pulang ke kost. Aku membuat dua cangkir kopi. Mas Gun duduk bersandar pada dinding, wajahnya menatap langit siang yang terang-benderang. Angin nampak kikir, sedikit pun ia tak berhembus siang ini. Menambah cuaca makin panas.


"Lo ngapain sampai dua hari di rumah temen lo?" tanya Mas Gun.


Aku duduk menaruh cangkir kopi.


"Di!" Mas Gun menegurku.


"Apa mas?" tanyaku yang tak ngeh dengan pertanyaannya.


"Tadi gue tanya."


"Tanya apa mas?" sahutku.


"Lo ngapain aja sampai dua hari di rumah temen lo?" tanya Mas Gun.


"Hahahahahaha. Dua hari? Bercanda aja lo mas. Gue kan pergi kemarin siang." jawabku.


Mas Gun menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Lho, kenapa mas?" tanyaku.


"Emang lo nggak lihat kalender? Lo pikir sekarang hari apa?" tanya Mas Gun lagi.


"Rabu kan?" aku memastikan.


"Ini hari kamis Adi." balas Mas Gun.


Kamis?


"Ngaco aja lo mas. Masa sekarang hari kamis? Jelas-jelas hari ini rabu." aku membantah.


"Hehehehehe. Coba lihat kalender di hape lo!" suruh Mas Gun, ia sambil terkekeh.


Aku mengambil ponselku dari dalam kantong celana.


"Aaahh, hape gue mati mas. Lowbat." ucapku.


Mas Gun mengambil ponselnya, menunjukkan tanggal dan hari pada layar ponselnya. Hah? Benar, hari ini hari kamis.


"Gimana? Masih bilang hari ini rabu?" ledek Mas Gun.


Aku diam sejenak.


"Ah, nggak percaya gue. Coba gue tanya ke warung Teh Kokom sekalian gue mau beli es." ujarku.


"Hehehehehehe. Sana tanya! Gue nitip rokok sekalian." balas Mas Gun.


Aku pergi ke warung Teh Kokom dekat kost Mas Gun. Membeli minuman dingin dan rokok untuk Mas Gun.


"Ini kembaliannya dek." ucap Teh Kokom sambil menyerahkan beberapa lembar uang padaku.


"Makasih teh. Oh iya teh, mau tanya."


"Tanya apa dek?" kata Teh Kokom.


"Sekarang hari apa teh?" tanyaku.


"Hari kemis dek. Emang kenapa?" jawab Teh Kokom.


Kamis? Teh Kokom bilang hari ini kamis. Masa iya Mas Gun niat mengerjaiku sampai kongkalikong dengan Teh Kokom, rasanya tak mungkin. Coba kutanya penjual gorengan yang mangkal dekat pengkolan sana deh. Aku masih tak yakin kalau hari ini hari kamis.


"Mas, gorengan goceng ya." ucapku sambil menyerahkan selembar uang bergambar pahlawan KH. Idham Kholid.


"Apa aja mas?" tanya penjual gorengan.


Kutunjuk lima macam gorengan, si penjual menjejalkan gorengan di bungkus kertas, di akhiri dengan secomot cabe rawit hijau.


"Mas, hari ini hari apa?" tanyaku.


"Mas mau main kuis ya?" sahut si penjual gorengan.

__ADS_1


Kuis?


"Enggak mas, saya bener mau tanya hari." jawabku.


"Aaaahhh. Masa tanya hari sih? Ini acara uang kaget ya? Mana yang bawa kameranya mas?" penjual gorengan menanggapi.


"Acara uang kaget apa mas? Saya beneran cuma mau tanya hari doang." balasku.


"Jangan bohong mas. Ini pasti ada kamera tersembunyi nih. Dimana kameranya? Di rumah situ ya?" sambut penjual gorengan sambil melambaikan tangannya ke arah rumah depan.


Mangkel, aku pun meninggalkannya tanpa bilang terima kasih. Dasar penjual gorengan aneh. Aku pun tak mendapat jawaban dari perkara hari apa ini.


Aku berjalan pulang menuju kost Mas Gun. Dekat warung Teh Kokom aku berpapasan dengan tiga orang mahasiswi, aku pun memberanikan diri untuk bertanya dengan mereka.


"Permisi kak. Boleh tanya?" tegurku ke tiga orang mahasiswi.


Mereka menghentikan langkahnya.


"Mau tanya apa kak?" tanya seorang mahasiswi berkerudung krem.


"Hari ini hari apa ya?" tanyaku.


"Iiihhh kakak mau gombal ya?" sahut mahasiswi lainnya yang berkerudung pink.


"Enggak kak, sumpah deh. Saya cuma mau tanya hari." balasku.


"Hari kamis kak." jawab si kerudung krem.


"Ooh kamis ya." gumamku. "Yasudah, makasih ya kak." lanjutku.


Mereka tertawa kecil lalu meninggalkanku yang masih berdiri mematung. Ternyata benar, hari ini hari kamis. Aku berjalan pulang dengan segudang pertanyaan memenuhi otakku. Kenapa bisa hari ini kamis? Padahal aku pergi ke rumah Yuda hari selasa siang, lalu pergi ke alam lain selasa malam sekitar pukul sepuluh. Mana mungkin kulewati satu hari? Padahal di alam itu kami tak sampai satu hari, hanya beberapa jam saja.


"Gimana? Sudah dapat jawaban hari ini hari apa?" tanya Mas Gun begitu aku sampai di kostnya.


Aku duduk di depannya.


"Hari apa sekarang?" ledek Mas Gun sambil cengengesan.


"Kamis mas. Benar, hari ini hari kamis." jawabku. Aku bergeser tempat duduk, ke samping Mas Gun, bersandar pada dinding sambil menatap langit siang yang angkuh.


"Kok bisa ya?" aku bergumam.


"Bisa apa?" tanya Mas Gun. "Gimana sampai lo lupa hari Di? Pengangguran bukan, masa sampai lupa hari. Hehehehehe." tambah Mas Gun.


"Memang ada apa lagi nih?" tanya Mas Gun.


Aku menoleh ke arah Mas Gun, mulutnya sedang mengunyah sepotong bakwan. Tangan kanannya memegang bakwan, tangan kirinya mencengkram sebatang rokok.


"Kenapa? Ada masalah lagi?" Mas Gun menebak-nebak.


Aku mengangguk.


Mas Gun nyengir kuda.


"Nggak mau cerita?" ucap Mas Gun.


Akhirnya kuceritakan kejadian hari itu. Mulai dari Yuda yang kerasukan, sampai aku berpindah alam bersama Tika dan Kakek Badrun untuk menyelamatkan Yuda. Tak lupa kuceritakan soal Kanjeng Ratu Sekar Dara, juga pertarunganku dengan kuntilanak merah saat kami hendak pulang kembali ke alam dunia.


Mas Gun hanya diam tanpa menyela sedikit pun. Ia tampak takjub dengan ceritaku.


"Di, ini cerita beneran kejadian sama lo?" tanya Mas Gun seolah tak percaya.


"Ya masa gue bohong mas. Gue kan bukan penulis yang pinter bikin cerita." balasku.


"Pindah alam beneran Di?" tanya Mas Gun lagi.


"Iya mas. Melepas raga sebutannya." jawabku.


"Ckckck." Mas Gun berdecak. "Penasaran gue, gimana rasanya lihat tubuh sendiri, terus terbang melayang-layang. Jadi pingin deh. Hehehehehe."


"Terus kapan lo ketemu si kakek itu lagi Di? Gue pengen dong melepas raga." tanya Mas Gun.


"Buat apa melepas raga? Gue aja nggak mau lagi mas. Cukup sekali aja, nggak lagi-lagi deh." sahutku.

__ADS_1


"Eh mas, jadi pindah bareng gue nggak?" tanyaku.


"Jadi dong. Sore-sorean aja ya. Siang gini panas banget Di, nanti kulit gue hitam lagi. Hehehehehehe." canda Mas Gun.


"Sakarepmu ae mas!" sahutku, lalu mengambil sepotong tahu.


* * *


Sore hari setelah shalat ashar, aku dan Mas Gun bersiap membawa barang-barang milik Mas Gun. Motor Mas Gun sudah di nyalakan, suara dari knalpot motornya sember dan tak mengenakkan. Aku menggendong tas besar, dan sebuah koper kecil di letakkan di depan, tepat di bawah kaki Mas Gun.


"Dulu waktu gue pindahan di bilang mau naik haji karena koper gue besar. Lha ini apa? Lo mau naik gunung mas?" ledekku.


"Hehehehehe. Ya maklumlah Diii, gue kan lebih dulu merantau. Jadi kalau barang-barang gue banyak harap di maklumi." Mas Gun mengeles.


"Halaaahh, ngeles aja lo mas. Yuk jalan!" ajakku.


Kami pun berangkat menuju Kost Pak Thamrin, motor melaju dengan santai. Matahari sore mengantar kami, cahayanya yang keemasan menandai sebentar lagi langit akan gelap, dan matahari yang angkuh di gantikan bulan.


Tak banyak obrolanku dengan Mas Gun di atas motor. Ia lagi-lagi berkelakar ingin merasakan melepas raga, sampai-sampai penasarannya melebih dari apa pun. Aku hanya cengengesan tak terlalu menanggapi keinginannya.


Sampailah kami di depan gerbang kost, aku membantu membukakan pintu gerbang, lalu motor masuk ke dalam dan parkir tepat di depan rumah Nek Iyah.


"Sebentar mas, gue harus ketemu dulu sama ibu kost." ucapku.


Mas Gun hanya mengangguk dan duduk di atas motornya.


"Assalamualaikum. Nek Iyah." aku mengetuk pintu rumah pelan dan mengucap salam.


Tak ada jawaban dari Nek Iyah.


Tok tok tok tok.


"Assalamualaikuuum. Nek Iyaahh." suaraku sedikit lebih keras.


Namun tak ada jawaban juga dari Nek Iyah.


"Di, nanti aja deh kesini lagi. Kita beres-beres dulu." ajak Mas Gun.


Betul juga, setelah beres-beres saja kembali lagi ke rumah Nek Iyah. Aku memang belum membuka obrolan dengan Nek Iyah perihal Mas Gun akan ikut tinggal di kost bersamaku. Tapi kuyakin Nek Iyah pasti memberi izin, paling hanya membayar sejumlah uang tambahan.


"Oke deh, nanti aja gue balik lagi ke sini." aku pun mengiyakan ajakan Mas Gun.


Mas Gun menyalakan mesin motor, suara cempreng lagi-lagi terdengar dari knalpot. Aku mengambil ancang-ancang untuk naik ke atas motor. Kuangkat kakiku.


"Nak Adi!"


Aku terkejut ketika seseorang memanggilku.


Nek Iyah!


Kuurungkan untuk naik motor. Kepala Nek Iyah hanya melongok sedikit dari dalam rumahnya, pintu rumahnya terbuka setengah. Aku pun menghampiri Nek Iyah. Wajah Nek Iyah samar terlihat, tak terlalu jelas. Kini kepalanya masuk kembali ke dalam. Pintu rumah masih terbuka tak terlalu lebar.


"Nek Iyah, saya mau minta izin." ucapku dari luar.


"Minta izin apa Nak Adi?" suara Nek Iyah terdengar serak.


"Saudara saya akan tinggal bersama saya di kost ini nek. Kalau boleh tahu, berapa tambahan biayanya?" tanyaku.


"Masuklah dulu nak." suruh Nek Iyah.


Aku yang tak menaruh curiga sama sekali, membuka lebar pintu rumah Nek Iyah. Aku melangkah masuk ke dalam. Ruangan gelap, tak ada setitik pun cahaya masuk. Gelap gulita. Padahal di luar masih terang.


"Nek. Nek Iyah." panggilku pelan.


Nek Iyah tak menjawab. Mesin motor Mas Gun kudengar berhenti. Aku tak melangkah lagi, hanya selangkah masuk ke dalam rumah Nek Iyah.


"Nek Iyah. Nenek di mana nek?" panggilku lagi.


"Nenek di siniii Nak Adii." suaranya agak merintih.


Aku hanya berdiri diam.


"Sini Nak Adii. Siniii." panggil Nek Iyah.

__ADS_1


"Sini sama neneekk. Sini Nak Adii." suaranya makin merintih dan meratap.


Apa yang memanggilku ini benar-benar Nek Iyah?


__ADS_2