Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 179


__ADS_3

"LARI MAS!" teriakku.


Aku dan Mas Gun lari keluar rumah. Aku tak pikir panjang, kuterobos kebun kosong yang membentang luas di depan rumah Kang Ujang. Aku lari lebih dulu, Mas Gun tergopoh mengikutiku di belakang.


"HAHAHAHAHAHA." Kang Ujang terdengar tertawa dengan kerasnya. Aku sempat menengok ke belakang. Kang Ujang berdiri di depan rumahnya sambil tertawa.


Aku masih lari, meliuk-liuk menghindari pepohonan. Napasku tak beraturan. Entah apa yang kupijak, semua tak terasa.


"Mas. La-lari teruu.."


BRUKK.


Aku menabrak sesuatu dan terjatuh ke belakang. Dadaku terasa nyeri.


BRUKK.


Aku menoleh. Mas Gun juga jatuh terhempas ke belakang.


"HAHAHAHAHAHAHA." suara tawa Kang Ujang terdengar. Kian mendekat.


Seketika, Kang Ujang sudah berdiri di belakang kami. Ia berdiri dengan wajah beringas dan senyum menyeringai.


"Mau kemana kalian? Percuma kalian lari. Mau lari sampai ke pulau seberang, kalian tetap akan mati. Hehehehehe." ucap Kang Ujang.


Aku berdiri, menghadap Kang Ujang.


"Kang. Sadar Kang. Sadar! Ini sudah kelewat batas Kang." ucapku.


"Apa? Kelewat batas? HAHAHAHAHA." Kang Ujang tertawa semakin keras.


"Ini bukan kelewat batas Dek Adi. Ini kenikmatan yang tak bisa dilewatkan. Hahahahaha." balasnya.


"Baiklah. Aku tak mau banyak bacot lagi. Sebelum kalian menikmati menu utama. Akan kuberikan camilan pembuka untuk kalian. Hehehehehe. Selamat menikmati." tutur Kang Ujang sambil menunjuk ke arah belakang.


Aku dan Mas Gun berbalik badan.


Aku terkejut bukan main.


Beberapa meter di belakangku, berdiri Ela dan Dini. Mereka tersenyum menyeringai dengan liur yang menetes keluar. Bola matanya putih, mirip seperti Kang Ujang. Ternyata Ela yang kutabrak barusan, dan Mas Gun mungkin menabrak Dini.


"Kalian tentu mengenal mereka bukan?" tanya Kang Ujang.


"Ela. Dini. Ternyata kalian juga termasuk kaki-tangan Nek Iyah." ucapku.


"HEI! JANGAN SEBUT NENEK TUA ITU LAGI!" bentak Kang Ujang.


"Mereka kini menjadi kaki-tanganku." tambah Kang Ujang.


"Ckckckck. Sama sekali tak bisa saya sangka. Ela dan Dini tak bisa saya prediksi. Saya kira mereka bukan termasuk golongan kalian. Ternyata." balasku.


"HAHAHAHAHAHAHA!" Kang Ujang terbahak.


"Terkejut? Adi dan Guntur terkejut? Hahahahaha. Sudah kubilang, aku lebih jenius dibandingkan kamu Dek Adi." sahut Kang Ujang.


"Sudah cukup mengobrolnya." tambah Kang Ujang.


"Ela! Dini! Bersenang-senanglah. Dan tolong, bocah yang bernama Adi jangan kalian bunuh, sisakan untukku. Hehehehehe." Kang Ujang memberi perintah.


Ela dan Dini mengangguk. Wajahnya semakin terlihat buas.


Mas Gun merapat ke arahku.


"Di, gimana ini Di?" tanya Mas Gun berbisik.


"Bismillah. Kita lawan mereka Mas. Ini ajang pembuktian kekuatan lo. Oke." jawabku.


"Bismillahirrahmanirrahiem." ucap Mas Gun.


Mendadak Ela dan Dini lompat ke arah kami. Aku dan Mas Gun memasang kuda-kuda.


Wuuunngg. Cincin yang kukenakan bersinar. Cahayanya berwarna biru.


Aku menoleh ke Mas Gun. Raut wajahnya serius.


Syuuuuttt. Tangan Mas Gun bersinar. Cahayanya berwana kuning.


"Grrraaaaaaaaaa!" Ela teriak menyerangku.


Ela melancarkan pukulan dengan cepat dan terarah. Aku mengelak seraya menahan pukulannya.


DUAKK. Tanganku menepis pukulan Ela.


Gila. Tenaga Ela cukup besar. Tanganku nyeri menangkis pukulannya.


BUGGH.

__ADS_1


Aku menoleh ke asal suara pukulan.


Mas Gun terpental dan mendarat dengan keras di atas tanah.


"Mas!"


DUAKK.


Sebuah pukulan mendarat di pipiku. Sangat kuat. Tubuhku memutar dan terjerembab di atas tanah. Aku salah, aku sudah lengah. Sehingga Ela memanfaatkan kelengahanku. Satu pukulan telak bersarang di pipiku.


"Hehehehehe. Jangan lengah. Pikirkan dirimu sendiri Adi." ucap Ela.


Kuelus pipiku. Terasa sakit dan nyeri.


Sial.


"Hiyaaaaaaa!"


Aku bangun dan berlari ke arah Ela. Tanganku mengepal dengan kuat. Kulayangkan beberapa pukulan, tertuju ke wajah Ela. Namun Ela dengan mudahnya berkelit.


Dan tiba-tiba..


BUGGHH.


Sebuah serangan tenaga dalam mendarat di ulu hatiku.


"Aaaaaaaaaaaaa!" teriakku kencang.


Tubuhku terdorong ke belakang.


JDAKK. Tubuhku membentur sebuah pohon besar. Lalu jatuh ke tanah.


"Uhukk uhukk. Cuuhh!" darah terasa memenuhi mulutku.


Kutengok Mas Gun, ia meringis kesakitan memegang dadanya. Sementara Dini tersenyum dengan angkuhnya.


Bagaimana ini? Bagaimana cara mengalahkan mereka?


Ela berjalan mendekat ke arahku. Tubuhku lemas tak bertenaga. Rasa sakit di pipiku belum reda, kini bertambah dengan hantaman di perut, dan punggungku yang membentur pohon.


Grepp. Ela mencengkram batang leherku. Tubuhku diangkatnya dengan satu tangan dan disandarkan pada pohon. Napasku sesak.


"Sayangnya kau tak boleh kubunuh. Kau diperuntukkan untuk pemimpin kami. Hehehehehe." ucap Ela.


BRUAKK. Tubuhku mendarat di tanah.


"Hahahahahahaha." aku di lempar Ela dekat dengan tempat Kang Ujang berdiri.


Lalu Kang Ujang berjongkok di hadapanku.


"Ckckckck." Kang Ujang berdecak.


"Kasihan sekali kamu Dek Adi. Sebetulnya aku tak tega mempersembahkanmu untuk kuntilanak merah. Namun karena darahmu spesial, dengan berat hati jiwamu harus kuberikan pada kuntilanak merah itu." Kang Ujang berkata.


"Maafkan aku Dek Adi. Hehehehehe." sambung Kang Ujang.


"Hiyaaaaaaaaaa!"


Mas Gun teriak sambil berlari mendekati Kang Ujang.


Tiba-tiba..


DUARRR!


Mas Gun terpental jauh.


"MAS GUUUUUUNNN!"


Kang Ujang menembakkan cahaya merah dari tangannya. Tepat mengenai perut Mas Gun.


"Dasar iblis!" ucapku pada Kang Ujang.


Kang Ujang tersenyum.


"Aduuuhh. Tak boleh berkata kasar Dek Adi. Aku sedang menikmati malam ini. Kau tak boleh seperti itu. Hehehehehe." ucap Kang Ujang.


Mendadak Ela dan Dini mengangkat tubuhku. Tanganku dicengkram erat, aku tak bisa melepaskan cengkramannya.


Aku dituntun dengan Ela dan Dini. Kang Ujang jalan di depanku. Entah hendak kemana aku dibawa oleh mereka. Beberapa kali aku meronta, mencoba melepaskan cengkraman Ela dan Dini. Namun sia-sia, tenaga mereka bukan lagi tenaga manusia. Mereka sudah dirasuki kekuatan jahat.


Mas Gun. Apa lo baik-baik aja Mas? Maafin gue Mas. Aku menangis dalam hati, meratapi nasib Mas Gun.


.


.

__ADS_1


.


Apa ini akhir dari hidupku?


"Heh, setan! Mau lo bawa kemana saudara gue?"


Suara Mas Gun!


Itu suara Mas Gun.


Sangat jelas, itu suara Mas Gun.


Langkah Kang Ujang terhenti. Ia berbalik badan. Ela dan Dini yang memegangiku ikut berbalik badan.


Beberapa meter di depanku, Mas Gun berdiri dengan tegap. Kedua pipinya lebam dan mengalir pula darah dari ujung bibirnya. Tangannya bersinar menyilaukan, cahayanya berwarna kuning keemasan.


"MAS GUN!" teriakku.


Mas Gun senyum kecut.


"Lo sehat Di?" tanya Mas Gun sambil menggerakkan lehernya.


"Oohh. Masih hidup rupanya si gembrot ini? Hehehehe." ucap Kang Ujang.


"Dasar orang nggak berpendidikan. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan segala sesuatu. Cih, picik banget pikiran lo Jang." sahut Mas Gun.


"Gue tahu, yang lo butuhkan bukan kekuatan, kuntilanak merah, ataupun cincin mustika. Yang lo butuhkan tuh cuma kasih sayang dari kedua orang tua. Hehehehehe. Kasihan gue sama lo Jang!" lanjut Mas Gun.


"TAHU APA KAU GEMBROT!" teriak Kang Ujang.


"Halaaaahh. Isi otak lo udah kebaca Jang! Nggak usah berkelit. Alasan lo meminta diajarkan ilmu kanuragan agar jadi sakti seperti Nek Iyah bukan tujuan utama lo. Lo cuma butuh kasih sayang seorang Ibu. Dan itu lo dapatkan dari Nek Iyah. Tapi sayang, Nek Iyah lebih sayang Oji ketimbang lo. Hehehehe." jelas Mas Gun.


Kang Ujang tampak marah.


"Lo sakit hati dengan Oji yang lebih disayang oleh Nek Iyah. Padahal kita semua tahu, lo mengabdi dengan Pak Thamrin sudah sejak kecil. Harusnya, lo yang menjadi prioritas utama. Bukan malah Oji. Hehehehe. Kasihan gue sama lo Jang. Haduuuhh. Ujang Ujang."


"Tapi kalau kebenaran Oji memperkosa Wati, gue nggak tahu. Atau itu juga salah satu rencana lo? Memfitnah Oji dan mengadukan pada Nek Iyah. Sehingga amarah Nek Iyah tersulut dan menjadikan Oji sebagai tumbal untuk kuntilanak merah itu. Ckckckck. Licik juga ya." tambah Mas Gun.


"JANGAN SOK TAHU KAU GEMBROT!" teriak Kang Ujang marah.


"Buktinya cuma satu Jang. Nggak ada yang lain. Hehehehe. Mau gue kasih tahu?" balas Mas Gun.


Kang Ujang terdiam. Kami semua terdiam.


"Foto lo sekeluarga yang masih menempel sampai saat ini di dinding rumah lo. Itu buktinya." ucap Mas Gun.


"HAHAHAHAHAHA." Kang Ujang tertawa lepas.


"Tahu apa kau gembrot? Mana mungkin hanya foto yang menjadi bukti? Hahahahaha. Kau memang lucu. Bahkan saat ajal sejengkal lagi menjemputmu, kau masih saja melucu. Dasar gembrot!" balas Kang Ujang.


"Cih!" Mas Gun senyum kecut.


"Oke. Akan gue jelaskan kenapa foto itu jadi bukti. Ayah dan Ibu lo yang meninggal karena santet Bi Tati menjadi kenangan buruk dalam hidup lo. Kebanyakan manusia, jika ia mempunyai sebuah memori buruk atau mengalami kejadian buruk di masa lalu, maka ia cenderung akan menghindari hal-hal yang mendukung memori tersebut untuk bisa diingat kembali.Tapi berbeda dengan lo Jang. Lo masih memajang foto Ayah dan Ibu lo, terlepas hanya itu foto satu-satunya yang lo punya." jelas Mas Gun.


"Dengan mengabdi pada Nek Iyah, akhirnya lo memiliki sosok Ibu yang bisa menggantikan Ibu lo yang sudah meninggal. Lo curahkan segenap hati lo padanya. Lo sayang dengannya. Tapi apa? Ternyata orang yang lo anggap sebagai Ibu, malah menyayangi orang lain." terang Mas Gun panjang.


Kang Ujang terdiam.


"Gue kasih sama lo Jang." ucap Mas Gun.


Mas Gun senyum kecut. Tangannya masih bersinar.


"Ngaku Jang! Analisa gue lebih jenius dibanding Adi bukan?" tanya Mas Gun sambil tersenyum.


"Hehehehehehe." Kang Ujang terkekeh.


"HAHAHAHAHAHA." kini ia terbahak.


"Boleh juga analisamu gembrot! Baiklah, karena kau sudah capek-capek menganalisa tentang hidupku. Sekarang waktunya kau beristirahat." ucap Kang Ujang.


"ISTIRAHAT SELAMANYAAAAA!" teriak Kang Ujang seraya lompat menyerang Mas Gun.


Kang Ujang mendekat, kepalan tangannya terlihat kokoh. Mas Gun berdiri memasang kuda-kuda.


"MAMPUS KAU GEMBROOOTTT!"


Syyuuuttt. Dari tangan Mas Gun terbentuk perisai bercahaya kuning.


DANGGG! Pukulan Kang Ujang terhalau perisai.


Kang Ujang melancarkan pukulan membabi buta pada Mas Gun. Namun selalu kandas. Perisai yang dibuat Mas Gun terlalu kuat. Pukulan dan serangan Kang Ujang mentah. Tak dapat melukai Mas Gun. Keren. Mas Gun sangat keren.


Amarah Kang Ujang semakin memuncak. Terlihat dari serangannya pada Mas Gun. Tak terarah, tak terkonsep, tak terencana, tak mematikan. Serangan seperti itu hanya membuat tenaga terkuras habis. Itu yang pernah dilakukan oleh Kakek Badrun saat melawan kuntilanak merah dulu. Ini kesempatan yang baik.


Tak boleh disia-siakan.

__ADS_1


__ADS_2