
Yuda membuka pintu dengan lebar, aku mengekor di belakangnya di ikuti Tika dan Kakek Badrun.
"Yudaaaaa!" suara teriak ibu Yuda ketika melihat anaknya membuka pintu kamar.
Ibu Yuda memeluk erat anaknya, tangisnya pecah, air mata tumpah ruah. Ayah Yuda pun ikut memeluk anak semata wayangnya. Anak semata wayang yang amat mereka sayangi, tangis Yuda pun ikut meraung. Tak terasa, air mataku menitik di ujung mata. Rasa rindu dengan ayah dan ibuku terasa menggelora. Tika menepuk-nepuk bahuku, aku menoleh ke Tika. Tika melempar senyumnya, manis.
Sosok Kemala sudah tak ada, ia mungkin sudah pulang sedari pagi. Tapi, lama juga ternyata kami di alam lain. Semalaman.
Ibu Yuda dan ayah melepas pelukan dari Yuda, mereka menyeka air mata dari pipi. Lalu mendekat ke Kakek Badrun. Seketika ibu Yuda sujud memegang kaki dari Kakek Badrun sambil berucap terima kasih, tangisnya kembali pecah. Kakek Badrun kikuk, ia segera membangunkan ibu Yuda, menyuruhnya untuk berdiri. Kakek Badrun merasa tak pantas jika ibu Yuda sampai berbuat seperti itu.
"Yuda. Nak, bilang makasih ke Kakek Badrun." suruh ibu Yuda.
Yuda menghampiri Kakek Badrun, ia mencium tangan Kakek Badrun sambil terisak. Kakek Badrun hanya mengusap-usap punggung Yuda dengan pelan.
"Iya Nak Yuda, sama-sama. Sudah sudah, semua sudah lewat. Yang penting kamu sekarang sudah kembali ke keluargamu." ucap Kakek Badrun.
Cukup lama Yuda menggenggam erat tangan Kakek Badrun, tangisnya tak kunjung reda.
"Sudah sudah. Sudah nak. Ingat pesan dari Kanjeng Ratu, itu semua demi kebaikanmu. Kedepannya, jadilah pribadi yang lebih baik dan menghargai sesama." sambung Kakek Badrun.
Yuda mengangguk, ia pun melepas genggaman tangannya.
"Kek Badrun." sapa ayah Yuda.
"Iya pak."
"A-apa yang harus saya berikan untuk Kek Badrun, sebagai ucapan terima kasih saya?" tanya ayah Yuda.
Kakek Badrun hanya tersenyum.
"Bapak tidak usah berikan apa-apa ke saya." ucap Kakek Badrun.
"Bapak cukup jaga dan perhatikan Yuda dengan baik, masa depan Yuda masih panjang. Didik Yuda dengan baik. Tidak semua bisa di ukur dengan harta." sambung Kakek Badrun.
Setelah percakapan yang tak terlalu panjang dengan kedua orang tua Yuda, akhirnya kami pun pamit undur diri. Sampai di depan pintu rumah pun Kakek Badrun tetap menolak sejumlah uang pemberian ayah Yuda. Bahkan untuk di antar pulang saja, Kakek Badrun menolak.
"Tidak usah pak, saya bisa pulang sendiri." Kakek Badrun menolak dengan halus.
Kami pun keluar dari gerbang rumah Yuda. Aku menghela nafas panjang.
"Kek, kakek pulang kemana?" tanyaku.
Kakek Badrun hanya tersenyum lalu berkata, "Ke suatu tempat yang nantinya kau akan tahu." jawab Kakek Badrun. Aku bingung bercampur penasaran. Tempat yang nantinya akan kuketahui? Tempat apa itu?
"Memang tempat apa?" tanyaku lagi.
"Nanti kau akan tahu Nak Adi." balasnya sambil melempar senyum, kumisnya yang putih ikut naik seiring bibirnya melengkung.
"Kek, sebelum pulang ada yang mau saya tanyakan." ujarku.
"Tanyalah nak!"
"Saat kita di alam lain, saat Kanjeng Ratu Sekar Dara memberi pesan pada saya, saya bingung soal menggunakan cincin mustika ini dengan baik, dan Kanjeng Ratu bilang untuk bertanya ke Kakek Badrun. Kakek ingat kan?" ujarku.
"Iya, kakek ingat sekali. Terus, apa yang mau kau tanyakan?" balas Kakek Badrun.
"Bagaimana menggunakan kekuatan cincin ini untuk kebaikan kek?" tanyaku.
Kakek Badrun lagi-lagi tersenyum. Tika hanya diam memperhatikan.
"Kau tetaplah jadi dirimu sendiri, jadilah Nak Adi yang biasa. Jadilah Nak Adi yang baik, yang rajin ibadah, peduli sesama. Maka dengan sendirinya aura dari cincin itu akan mengikuti kebiasaan baikmu. Jangan kau pikirkan soal kekuatan cincin mustika itu, karena jika terus-menerus di pikirkan, nantinya kau akan menggantungkan hidup pada keajaiban kekuatan yang tertanam dari cincin mustika itu. Anggaplah cincin itu hanya sebagai cincin biasa yang tak berguna, jangan anggap itu sebuah mustika yang memiliki kekuatan dahsyat." jelas Kakek Badrun panjang.
__ADS_1
"Mengerti?" tanya Kakek Badrun menutup pernyataannya dengan sebuah pertanyaan.
Aku mengangguk tanda mengerti.
"Lalu, bagaimana saya bisa tahu kalau cincin itu saya gunakan kek?" tanyaku kembali.
Kakek Badrun menghela nafas di lanjutkan dengan tersenyum.
"Tanpa kau pakai cincin itu pun hidupmu sudah kau jalani dengan sendirinya nak. Mustika itu akan mengikuti kemana si pemakai membawanya, jika di bawa ke arah keburukan maka akan berefek buruk, kekuatan yang di pancarkan akan buruk pula, dan begitu sebaliknya. Intinya, nanti kau akan sadar sendiri efek dari mustika yang kau pakai." terang Kakek Badrun.
"Sudahlah nak, tidak usah di pikirkan cincin itu. Kau jalani saja hidupmu seperti biasa." tutur Kakek Badrun.
Belum terjawab rasanya pertanyaanku. Ada rasa yang masih mengganjal di hatiku.
"Tapi kalau saya butuh bantuan kakek, bagaimana cara saya menghubungi kakek?" tanyaku.
Kakek Badrun menepuk pundakku.
"Kakek akan datang saat kau membutuhkan bantuan nak." ucapannya di tutup dengan senyum.
"Kalian pulanglah. Beristirahatlah! Kalian sudah lelah." suruh Kakek Badrun.
"Aaaahhhh. Iya nih, badan rasanya capek banget." sahutku sambil meregangkan badan.
Kami berpisah dengan Kakek Badrun. Aku dan Tika pergi lebih dulu, kami memesan taksi online dan meninggalkan Kakek Badrun yang masih berdiri di depan gerbang rumah Yuda.
* * *
Aku turun lebih dulu dekat kost Mas Gun, aku janji akan membantunya pindahan. Sedangkan Tika pulang menuju Kost Pak Thamrin. Begitu turun dari mobil, kurenggangkan tubuhku. Aah, nikmatnya. Mobil melesat meninggalkanku.
Aku berjalan santai, matahari mulai menyengat. Mungkin ini sudah jam sebelas siang. Cukup terik, arak-arakan awan pun seperti menjauh dari Sang Surya, ia gagah menggantung di langit. Bulat bersinar.
Aku sampai di depan kost Mas Gun, pintu kostnya masih tertutup rapat. Tapi seonggok motor maticnya yang jarang di cuci terparkir di depan kamar. Aku pun duduk di lantai teras depan kamar. Ahh, adem rasanya. Kuambil ponselku dari kantong celana, sedari pagi aku belum melihat ponselku. Sial, ternyata ponselku mati, mungkin semalaman tak di charge.
"Assalamualaikuuum. Maass! Mas Guuun!" panggilku dari luar.
Tak ada jawaban dari Mas Gun. Apa masih tidur orang ini? Pasti ia begadang semalaman bermain game.
"Mas Guuun! Assalamualaikuuum! Maaas!" kupanggil lagi sambil mengetuk pintu.
Ceklek ceklek. Suara kunci di putar terdengar.
Ah, Mas Gun sudah bangun rupanya.
"Mas! Sudah bangun?" tanyaku dari luar. Tapi tetap tak ada jawaban.
Kutekan gagang pintu sambil kubuka pintu lebar-lebar. Lampu ruang depan mati. Eh, lampu ruang tengah dan ruang belakang pun mati. Kuletakkan tasku di lantai, kurebahkan badanku. Kunyalakan kipas angin, udara siang ini memang cukup panas.
"Mas. Maaf ya, gue nggak balik semalam. Temen gue sakit." ucapku dari ruang depan.
Mas Gun tak menanggapi.
"Lo habis begadang ya semalam?" tanyaku lagi.
Tetap tak ada tanggapan. Barangkali ia kembali tidur di ruang tengah.
"Oh iya, jadi pindahan nggak mas? Kalau jadi, ayo hari ini!" ajakku.
Namun Mas Gun tetap tak menanggapi pertanyaanku dari tadi.
"Mas. Lo tidur lagi?" panggilku.
__ADS_1
Kenapa tak menjawab sih? Tak mungkin Mas Gun bisa kembali tidur secepat itu, apalagi setelah bangun dan berjalan membuka kunci pintu. Aku kenal betul dengan Mas Gun. Ia tipe orang yang susah tidur dan gampang sekali bangun. Jika ia tidur dan aku menyenggol tubuhnya tanpa sengaja, maka jelas ia akan bangun.
"Mas! Mas Gun. Makan yuk! Gue traktir deh. Yuk!" ajakku dengan suara cukup keras.
.
.
.
.
.
Hening.
.
.
.
.
.
Tak ada jawaban dari Mas Gun.
Karena kesal tak ada tanggapan dari Mas Gun, aku pun bangun dari rebahku. Penasaran ingin melihat ke ruang tengah.
Klik. Kunyalakan saklar lampu ruang tengah.
Hah? Kosong-melompong? Tak ada Mas Gun!
Ruang tengah terlihat rapi. Kasur pun tampak rapi, tak ada bekas di tiduri, spreinya pun licin. Ada sajadah dan kain sarung yang di lipat rapi di atas kasur. Dua buah bantal di susun sangat sempurna.
"Mas! Lo di kamar mandi mas?" teriakku dengan lantang.
Tapi tak ada suara air yang mengucur deras dari kran. Aku pun bergegas menuju kamar mandi. Kubuka pintu kamar mandi dengan cepat. Kosong juga. Jantungku berdegup cepat.
Suara motor terdengar di depan kamar Mas Gun. Aku cepat menuju ke ruang depan.
Mas Gun bersama seorang teman? Wajah Mas Gun terlihat heran melihatku keluar dari kamarnya.
"Lho, mas!" imbuhku.
"Di, lo masuk kamar gue dari mana?" tanya Mas Gun keheranan.
"Lho, gue kira yang tadi bukain pintu lo mas." sahutku.
"Bukain pintu? Gue dari pagi udah di kampus, ini baru balik." tepis Mas Gun.
Aku gagap. Salah tingkah. Juga bingung.
Siapa tadi yang memutar kunci?
"Tadi gue dengar kunci di putar mas." ucapku lagi.
"Kunci apaan? Ini kunci kamar gue Di!" balas Mas Gun sambil mengeluarkan kunci dengan gantungan kincir angin dari dalam kantongnya.
Aku pun segera mengecek pintu kamar kost Mas Gun. Astaga! Benar saja, tak ada kunci yang menggantung di lubangnya. Lalu suara yang kudengar barusan itu apa?
__ADS_1
Wajah Mas Gun masih menampakkan keheranan. Aku juga masih bingung dan tak berkata.