Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 163


__ADS_3

"Pak, berapa lama kami harus menunggu sampai hasil penyelidikan dan autopsi keluar?" tanyaku.


"Biasanya hasil autopsi sudah bisa di dapatkan sekitar 1 sampai 2 jam. Namun, kami menunggu hasil laboratorium untuk mencari petunjuk. Apakah korban menggunakan obat-obatan atau sejenisnya. Proses ini yang biasanya memakan waktu cukup lama." jelas Pak Andri.


Aku dan Yuda saling lirik.


"Begini saja Dek, sore nanti jika hasil penyelidikan mobil menunjukkan bahwa Dek Yuda tidak menjual mobil di bawah standar nasional. Kalian boleh pulang. Sembari menunggu hasil autopsi dari tim forensik. Bagaimana?" ujar Pak Andri.


"Baik Pak." jawab Yuda.


"Terima kasih Pak." ucapku.


Pak Andri mengangguk melemparkan senyum pada kami. Aku dan Yuda pun keluar dari ruangan. Pikiranku terasa ruwet. Ada korban lagi? Seorang wanita dengan ciri-ciri jenazah yang sama persis dengan Mbak Wati dan Pak Rahmat. Gila. Ini gila.


"Ngerokok yuk Da." ajakku.


"Eh, tumben amat lo ngajak ngerokok. Ada apa nih?" tanya Yuda.


"Nggak tahu nih, tiba-tiba aja mulut gue pengin ngerokok." jawabku.


"Kita cari warung aja deh. Sekalian ngopi. Kepala gue juga terasa mumet nih." balas Yuda.


Kami mencari warung kopi dekat dengan kantor polisi. Beruntungnya, persis di seberang kantor ada warung nasi. Kami memesan dua gelas kopi panas.


"Mbak, saya kopi pahit ya." ucapku.


Yuda melihatku dengan tatapan heran.


"Kopi pahit? Yakin lo?" tanya Yuda.


Aku hanya garuk-garuk kepala yang tak gatal.


"Kayak dukun aja minum kopi pahit." ungkap Yuda asal.


Kubalas senyum.


Mbak penjual mengantar kopi pesanan kami.


Kemudian Yuda membakar rokok. Aku mengambil sebatang dan membakarnya.


"Heh, kenapa lo? Kok tiba-tiba lo yang kelihatan kusut." tanya Yuda.


Aku mengambil gelas kopiku. Meniupnya pelan. Menyeruputnya sedikit. Aaaahh, rasa pahitnya membuat mataku terang.


"Da, ini nggak main-main lagi Da." ujarku singkat.


"Apaan Di? Nggak main-main apa?" tanya Yuda sembari meniup kopinya.


Sluuuurrppp. Yuda menyeruput kopi.


"Lo sadar nggak dengan foto jenazah wanita yang tadi lo lihat?" tanyaku.


Yuda menatapku. Ia menaruh gelas kopinya dengan segera.


"Di. Jangan bilang itu korban tumbal kuntilanak merah lagi?" tanya Yuda dengan suara cukup lantang.


Mbak penjual nasi melirik ke arah kami.


Kami diam saling tatap.


"Di, bener nggak apa yang gue bilang tadi?" tanya Yuda, kali ini dengan suara yang lebih pelan.


Aku mengangguk.


"Ah sial!" ucap Yuda.


"Jadi?" tanya Yuda.


"Jadi ada dua korban tumbal kuntilanak merah itu. Dan bakal ada dua demit yang akan bersiap menyerang." balasku.


"Serius Di?" tanya Yuda dengan raut wajah was-was.


"Serius Da. Dua. Dua demit." jawabku.


"Karena mendapat dua tumbal, kekuatan kuntilanak merah itu akan semakin kuat." tambahku.


Yuda mengambil gelas kopinya, menyeruputnya dengan cepat.

__ADS_1


"Di, lo ada rencana untuk mengalahkan kuntilanak merah itu?" tanya Yuda.


Aku diam.


"Jawab Di. Ada rencana apa nggak?" tanya Yuda lagi.


"Gue nggak tahu Da. Rencana apa?" sahutku.


Yuda diam.


Aku diam.


Yuda menatap ke luar warung.


Aku hanya tertunduk.


"Di,"


Aku menatap Yuda.


"Apa itu artinya nyawa lo dalam bahaya? Atau nyawa gue juga dalam bahaya?" tanya Yuda.


Aku tersenyum.


Menatap Yuda, lekat ke matanya.


"Tenang Da. Kalau seandainya gue tewas di tangan kuntilanak merah itu, orang terdekat gue nggak akan menjadi incarannya." ucapku pelan.


Yuda diam menatapku tajam.


"Kuntilanak merah itu hanya menginginkan gue. Bukan sahabat-sahabat gue." sambungku.


"Nggak. Lo nggak akan kenapa-kenapa Di. Lo akan selamat. Lo bisa mengalahkan dia Di. Lo kuat. Ingat motivasi lo saat lo menolong dan menjemput gue Di. Ingat itu Di. Lo nggak boleh kenapa-kenapa." ujar Yuda dengan mata memerah.


Aku hanya diam dan tersenyum.


Yuda menyodorkan kelingkingnya.


"Janji sama gue! Janji sama gue Di." ucap Yuda.


"Janji sama gue lo akan baik-baik aja. Janji!" ucap Yuda.


"Gue janji. Insya Allah gue nggak akan kenapa-kenapa." jawabku sembari tersenyum.


"Ingat Di. Lo itu laki-laki. Laki-laki yang dipegang omongannya. Lo udah janji sama gue. Lo harus tempatin janji lo. Oke!"


"Oke Da." balasku.


* * *


Kriiiiiinnggg kriiiiiinnggg. Ponselku berdering.


Mas Gun?


Kujawab.


"Woi, lo masih di kantor polisi?" tanya Mas Gun.


"Masih Mas. Lagi tunggu hasil penyelidikan mobil. Kalau hasilnya aman, gue sama Yuda udah boleh pulang." jawabku.


"Gue perlu temani lo nggak disana?" tanya Mas Gun.


"Nggak usah Mas. Santai aja."


"Oohh yasudah. Kabarin kalau ada apa-apa ya."


"Oke siap Mas."


Mas Gun menutup pembicaraan.


Aku dan Yuda sedang di mushola. Kami baru saja selesai melaksanakan shalat Maghrib. Sampai saat ini, hasil penyelidikan mobil belum juga keluar. Aku dan Yuda masih menunggu di kantor polisi.


Aku melanjutkan zikir. Yuda sudah lebih dulu meninggalkan mushola.


"Di, gue di panggil ke ruangan. Yuk!" tak berapa lama, Yuda memanggilku dari luar mushola.


Aku bergegas beranjak dan mengekor di belakang Yuda. Kami masuk ke dalam ruangan, tetapi bukan ruangan Pak Andri. Seorang petugas piket menyuruh kami masuk ke ruangan di sudut kantor.

__ADS_1


Seorang pria tegap dengan kumis tipis menghias atas bibirnya. Kulitnya sawo matang. Tatapan tajam menikam. Otot lengannya terlihat padat. Ia tak memakai seragam seperti kebanyak polisi. Pakaiannya lebih seperti anak milenial masa kini. Pria itu memakai kaus di balut kemeja kotak-kotak tak di kancing di luarnya. Celana jeans dengan motif sobek-sobek di beberapa sisinya. Jam tangan berwarna silver, terlihat sekali bukan barang imitasi. Si Pria memakai sepatu branded dengan warna yang cukup mencolok. Di atas mejanya ada sebuah papan nama ukiran kayu, bertuliskan nama si pria. Carlos P.


"Duduk!" suruhnya. Nada bicaranya datar.


Kami duduk. Yuda menunjukkan wajah tegang.


Si Pria bernama Carlos membakar sebatang rokok.


"Yang bernama Yuda yang mana?" tanya Pak Carlos.


"Saya Pak." Yuda buka suara.


"Kamu siapa? Temannya?" tanya Pak Carlos padaku.


"Saya saudaranya Pak." jawabku.


Pak Carlos lalu duduk.


"Begini, saya cuma mau kasih informasi ke kamu terkait mobil yang korban beli dari kamu." Pak Carlos membuka obrolan.


"Baik Pak. Siap Pak." sahut Yuda.


"Setelah dilakukan penyelidikan, mobil yang dipakai oleh korban memang dalam kondisi baik. Kecelakaan yang terjadi, bukan salah kamu sebagai penjual mobil. Berkas dari tim penyidik sudah selesai, dan hasilnya menunjukkan seperti itu. Jadi, kamu boleh pulang." jelas Pak Carlos.


"Alhamdulillaaaahh." Yuda mengucap syukur sambil mengusap wajahnya.


"Jadi, apa penyebab kecelakaannya Pak?" tanyaku.


Pak Carlos menghisap rokoknya.


"Ada beberapa kemungkinan sih. Bisa jadi korban mengantuk, atau mungkin ada faktor lain. Misalnya pengaruh minuman keras, atau bisa jadi pengaruh narkotik. Tergantung hasil autopsi pada jenazahnya nanti." jelas Pak Carlos.


"Jadi kami sudah boleh pulang Pak?" tanya Yuda.


"Sudah boleh. Atau kamu mau menginap disini? Boleh juga kok." sahut Pak Carlos sembari melempar senyum.


Kami hanya cengengesan.


"Berkas dari tim penyidik soal hasil mobil bisa menggugurkan tuntutan dan laporan dari istri korban pada kamu." lanjut Pak Carlos.


"Alhamdulillah." ucapku.


"Yasudah, sana pulang. Jangan lama-lama disini. Saya cuma mau kasih info itu saja." suruh Pak Carlos.


"Siap Pak." ucap Yuda.


Kami bangun dan bersalaman dengan Pak Carlos, seraya mengucapkan terima kasih.


Kami keluar kantor polisi dengan napas lega. Setidaknya beban Yuda berkurang. Aku kasihan melihatnya. Entah masalah apa yang sedang ia hadapi di keluarganya. Tapi aku senang bisa menemaninya hari ini.


Kami pun pulang. Sebelumnya kami makan di warung tenda pinggir jalan. Baru kemudian Yuda mengantarku pulang ke kost.


"Di, makasih banyak ya udah temani gue hari ini." ucap Yuda.


"Santai Da." balasku.


"Gue nggak mampir ya. Salam buat Mas Gun sama Tika." ujar Yuda.


"Oke. Gue cabut ya."


Aku melangkah meninggalkan mobil Yuda.


"Eh Diii." Yuda memanggilku.


"Apa?" tanyaku setengah berteriak.


"Jangan lupa ya!" ucap Yuda.


"Apaan Da?" tanyaku.


"Janji lo."


Yuda mengacungkan kelingkingnya.


"Siap Pak!" aku hormat layaknya polisi padanya.


Yuda tersenyum. Lalu menutup kaca mobil. Mobil melaju meninggalkanku.

__ADS_1


Semoga bisa kutepati janjiku pada Yuda.


Bismillahirrahmanirrahiem.


__ADS_2