
Ayah menyalakan mesin mobil, Nyai Asih berjalan di papah oleh Bi Tati dan ibu. Darah segar membanjiri hinggak ke betis nyai, tubuhnya seketika lemah. Nyai Asih masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang di temani Bi Tati dan ibu. Aku hanya melihat dari teras rumah.
"Jang, kamu jaga rumah ya. Kunci pintu dan jendela!" perintah ayah.
Lalu mobil pun melaju, aku tak tahu hendak kemana mereka membawa Nyai Asih.
Malam ini aku sendiri dalam rumah. Memikirkan nasib Nyai Asih, aku takut terjadi apa-apa dengan bayi dalam kandungannya. Aku duduk di ruang tamu, tak berbuat apa-apa. Hanya memandangi jarum jam yang terus berputar.
Sudah pukul sebelas malam, tapi ayah dan yang lainnya belum juga kembali. Aku duduk bertopang dagu, sempat terkantuk namun ku kuatkan mataku kembali. Aku pun menyerah, rasa kantuk mengalahkan segalanya. Dan aku tertidur.
--------
"Dek, ini sudah jam dua malam. Dek Adi nggak tidur?" tanya Kang Ujang.
"Saya nggak merasa ngantuk kang. Cerita Kang Ujang seru, saya jadi nggak ngantuk." jawabku. "Terusin kang!" pintaku.
"Memang besok nggak kuliah?" Kang Ujang kembali bertanya.
"Kuliah mah gampang kang." balasku.
"Nah, saat itu.." Kang Ujang melanjutkan ceritanya.
--------
Dong dong dong dong dong.
Suara dentuman jam dengan bandul yang terus bergoyang mengagetkanku. Aku terbangun. Astaga, sudah jam dua belas malam, dan mereka belum pulang. Sebenarnya mereka membawa Nyai Asih kemana.
Aku bangun, dan mendekat ke arah jendela. Kusingkap gordyn dan melihat ke arah luar. Sepi. Hanya suara jangkrik saling bersahutan. Lalu, tiba-tiba terlihat pancaran sinar. Ah itu lampu mobil, dua buah cahaya bulat mendekat di iringi deruman mesin. Mereka pulang. Ayah memarkir mobil di garasi. Bi Tati membuka pintu belakang, ayah sudah siap membantu. Ibu dan Bi Tati menuntun Nyai Asih berjalan ke dalam rumah. Aku membuka pintu lebar-lebar. Kulihat wajah Nyai Asih nampak lesu, bibirnya pucat, raut kesedihan terlihat. Begitu pun ibu dan Bi Tati, mereka pun nampak sedih. Nyai Asih masuk ke dalam kamar bersama ibu dan Bi Tati. Aku hanya melihat dari teras rumah. Ayah datang mengusap rambutku.
"Kamu nggak tidur ya? Sengaja menunggu ayah pulang, hah?" tanya ayah.
Aku mengangguk.
"Y-yah, Nyai Asih sakit ya?" aku bertanya dengan lugu.
"Iya, nyai sedang sakit. Karena nyai sakit, berarti kamu yang harus merawat kucing-kucing peliharaan nyai ya." tutur ayah.
Aku pun mengangguk di barengi senyum.
"Yuk, tidur yuk! Kamu pasti ngantuk kan." ajak ayah. Ayah mengambil alas tidur kami, selembar selimut tebal. Dua buah bantal dan dua lembar kain sarung milikku dan milik ayah. Ia menggelar selimut di atas lantai ruang tamu.
"Ayo kamu lekas tidur. Sudah lewat tengah malam, tidak baik anak kecil tidur telalu malam." tutur ayah.
Aku merebahkan badanku di samping ayah.
"Yah, memang nyai sakit apa?" tanyaku.
Ayah menatapku lalu tersenyum.
"Nyai sedang tidak enak badan."
__ADS_1
"Tapi bayinya sehat kan yah?"
"Iya. Bayi Nyai Asih sehat. Sudah ayo tidur, besok pagi kamu harus kasih makan kucing milik nyai." ujar ayah.
Aku pun tidur.
---------
Meow meow meow meow
"Kang, Kang Ujang dengar nggak suara kucing?" tanyaku. Aku segera melihat jam di ponselku. 03:02.
"Eh. Iya dek, saya dengar. Itu kucing dimana?" tanya Kang Ujang.
Bulu kudukku seketika merinding.
"Kang, kemarin malam saya dengar juga suara kucing. Tapi kemarin terdengar lebih banyak." ucapku.
"Terus?" tanya Kang Ujang.
"Terus, saya lihat penampakan perempuan di ruang tengah setelah suara kucing." jawabku.
Kang Ujang kaget, "Hah, penampakan perempuan? Memang seperti apa perempuannya dek?"
"Wajahnya serem banget kang, hiiiyyy. Lihat deh bulu kuduk saya sampai merinding nih kalau ingat kejadian semalam." aku menunjukkan bulu kuduk di tanganku.
"Rambutnya acak-acakan, kulit di wajahnya terkelupas dan berdarah, gigi-giginya hitam. Perempuan itu duduk, kakinya berselonjor." terangku.
"Dan yang lebih bikin serem, dia itu sedang menggigit perut anak kucing, sedang makan kucing. Hiiiyyy." sambungku.
"Iya kang, persis di ruang tengah kamar." ujarku.
Kang Ujang diam.
"Kenapa kang?" tanyaku.
"Ah, eh, eng-enggak kok. Nggak apa-apa. Dek, mending kita periksa yuk asal suara kucing itu dari mana." ajak Kang Ujang.
Ada yang Kang Ujang sembunyikan nampaknya. Ada sesuatu yang ia ketahui. Aku dan Kang Ujang mencari asal suara kucing. Aku menuju garasi, sedangkan Kang Ujang menuju kebun samping kamar 11a dan ada makam Mbak Wati juga di kebun itu.
"Kang!" panggilku.
Kang Ujang mendekatiku.
"Kenapa dek?" tanyanya.
"Ini kucingnya! Habis melahirkan, tuh!" tunjukku.
Ada tiga ekor anak kucing dan seekor induknya, mereka sedang asik saling gigit di bawah mobil.
"Halaaahh, saya kira bakal ada penampakan lagi. Yuk, masuk aja dek!" ajak Kang Ujang.
__ADS_1
Sudah pukul 03:17, kami pun masuk ke dalam kamar. Aku merebahkan badan di kasur, sementara Kang Ujang di atas selimut yang kugelar di lantai. Kami mencoba tidur, lebih tepatnya aku mencoba untuk tidur, tubuhku terasa sangat letih. Kang Ujang sudah tak bersuara, hanya terdengar dengkurannya tipis.
Ngik ngik ngik ngik
Eh, suara apa itu?
Seperti pernah kudengar.
Ngik ngik ngik ngik
Apa sih itu? Aku bangun dari kasur, aku ke ruang depan. Kusingkap ujung gordyn untuk melihat ke luar.
Astaghfirullah.
Aku kembali ke ruang tengah. Kubangunkan Kang Ujang, ia sempat kaget.
"Kenapa dek?"
"Sssttt." aku memberi kode agar Kang Ujang tak bersuara kencang.
"Kenapa dek?" tanya Kang Ujang dengan suara berbisik.
"Di luar kang."
"Ada apa di luar?" tanyanya.
"Lihat ke luar deh!" suruhku. "Tapi intip saja kang."
Kang Ujang bangun dan menuju ruang depan. Aku mengekor di belakangnya. Kang Ujang menyingkap sedikit gordyn.
"Astaghfirullah. Apa itu dek?" tanya Kang Ujang dengan suara berbisik.
Aku mengangkat bahu, tanda tak tahu.
Kami melihat kursi roda milik almarhumah Mbak Wati berjalan sendiri memutari halaman kost. Berjalan pelan, rodanya terus berputar seperti ada yang mendorongnya. Suara yang tadi kudengar berasal dari pangkal roda yang mulai mengarat.
Kang Ujang mengusap-usap lengannya, ia bergidik merinding. Lalu kami kembali ke ruang tengah. Kami tak jadi tidur. Mata Kang Ujang nampak segar.
"Saya baru lihat kejadian aneh macam ini dek." ujarnya dengan suara sedikit bergetar.
"Saya takut dek." lanjutnya.
Aku mengambil segelas air putih dan memberikannya ke Kang Ujang.
"Ini minum dulu kang."
Kang Ujang meneguk air dengan cepat hingga tak bersisa.
"Makasih dek." ucapnya seraya menyerahkan gelas. "Jujur dek, saya baru pertama kali lihat yang kayak gitu di sini. Saya pikir di kost ini baik-baik saja, ternyata ada hal ganjil di sini." tambahnya.
"Kang, apa Kang Ujang tahu asal suara tangis bayi yang pernah saya ceritakan ke Kang Ujang?" tanyaku pelan.
__ADS_1
Kang Ujang menatapku. Kemudian ia mengangguk.
Sudah kuduga, pasti Kang Ujang tahu. Ah sial baru terpikirkan omongan Kakek Badrun saat itu. Abdi Dalem. Pasti yang di maksud Kakek Badrun soal abdi dalem adalah Kang Ujang. Ya, pasti Kang Ujang si Abdi Dalem. Tak salah.