
Aku duduk sendiri di dalam kelas, saat ini pukul 07:10. Sengaja aku datang lebih cepat, tujuannya agar aku lebih leluasa memilih kursi untuk posisi duduk lebih nyaman, tak lebih. Hari ini sepertinya aku tak bersemangat, entah kenapa. Mungkin karena mimpi yang ku alami tadi malam. Badanku seperti tak memiliki energi. Tubuhku seolah tak mempunyai tulang belulang.
Kelas pagi ini di mulai pukul 08:00, dan sampai saat ini belum seorang pun temanku datang. Aku duduk persis di sebelah dinding, bahuku bersandar pada dinding. Mataku ku pejamkan. Ah, nikmatnya. Damai. Suasana sepi seperti ini sangat ku rindukan.
Tiiinngg.
Ku buka mataku, ada pesan masuk dan ku lihat ponselku. Kemala? Ada apa pagi-pagi begini ia chat?
-Di, lo kuliah kan hari ini? - tanya Kemala di chat.
- Kuliah dong. Ini udah di kelas. Kenapa La? - balasku.
- Nanti siang ketemuan yuk, butuh temen ngobrol nih ;b - Kemala membalas lagi.
- Siang ini ya? Bisa kok, mau ketemuan di mana? - aku bertanya.
- Kedai kopi kemarin aja yuk! Biar sekalian lo mau ketemu sama si kakak kasir, iya kan? :D -
- Rese lo, boleh deh di kedai kopi. Berkabar aja ya ;) - aku membalas kembali.
- Oke ;) -
Semulanya aku tak bersemangat, gegara chat dari Kemala mengajak bertemu energi dalam tubuhku seketika melonjak. Seolah membuncah. Pandanganku terasa lebih terang benderang. Dan aku amat sangat siap untuk menimba ilmu hari ini. Terima kasih Kemala.
***
Seusai shalat zuhur dan makan siang, aku menunggu Kemala di depan gedung fakultas. Yuda langsung pulang setelah perkuliahan selesai, ada janji menemani mamahnya dan ajakan ngopi yang kemarin ia katakan terpaksa di undur, syukurlah aku bisa bersama Kemala seharian di kedai kopi.
Aku lihat Kemala keluar dari gedung fakultas, wajahnya nampak lesu namun kesan manisnya tak bisa terelakkan. Ia berjalan pelan menghampiriku. Sekali angin meniup kerudungnya, memesona.
"Udah lama nunggu di sini?" tanya Kemala.
"Belum kok, belum dua hari. Hehehehe." jawabku asal.
Kemala mencubit tanganku.
"Adaaww, sakit woi!"
"Abisnya lo rese. Yuk jalan!" ajaknya.
Kami pun berjalan menuju kedai kopi. Aku merogoh tas, mengambil sesuatu yang ingin ku berikan untuk Kemala.
__ADS_1
"Nih, biar nggak badmood." ku berikan Kemala sebatang coklat.
"Waahh coklat. Buat gue nih?" wajahnya nampak berseri.
"Iya, kan gue kasihnya ke lo. Gue baca artikel, kalau lo makan coklat, ada hormon endorfin yang di injeksi kan ke darah lo, dan itu bikin lo tenang." jelasku sambil kami berjalan beriringan.
"Ah, masa sih Di?" tanya Kemala sembari menyobek bungkus coklat kemudian menggigit ujungnya.
"Bener, gue baca tiga artikel lho di Giigle. Menurut artikel yang gue baca, ada penelitian kalau coklat kasih kepuasan luar biasa buat wanita ketimbang dengar musik favoritnya, menang undian, ataupun jatuh cinta." sambungku.
"Terus terus. Apa lagi?" pancing Kemala.
"Emm, coklat juga bisa bikin tubuh wanita yang mengkonsumsinya berfungsi jauh lebih baik."
"Widiih, lo tahu banyak ya Di." puji Kemala.
"Hehehehe. Tahu dari Mbah Giigle, dari mana lagi."
"Gimana mood lo setelah makan coklat?" tanyaku.
"Beeeuuhh, parah sih. Coklat emang benar-benar mood booster banget. By the way, makasih ya Di." ujar Kemala sambil tersenyum manis padaku.
"Sama-sama Kemala." jawabku.
"Nggak mau kan? Hahahaha." sambarnya langsung.
"Belum gue jawab lho." balasku.
"Becanda gue. Nih mau nggak?" Kemala menawarkan kembali.
"Nggak usah, buat lo aja yang lagi bad mood." ucapku.
Kami pun sampai di Kedai Kopi Satu Arah. Kali ini Kemala memilih meja di dalam ruangan, dan kami pun duduk saling berhadapan. Kak Nia menghampiri kami, Kemala mencolek tanganku memberi kode, matanya berkedip sebelah. Ia meledekku.
"Siang kak, mau pesan apa nih?" sapa Kak Nia ramah ke kami.
"Siang kak. Lho, tumben Kak Nia yang nyamperin kita. Biasanya Wahyu." balasku.
"Wahyu izin telat, ada urusan katanya." jawab Kak Nia.
"Mau langsung pesan apa pilih-pilih dulu nih?" Kak Nia kembali bertanya.
__ADS_1
"Aku pilih-pilih dulu deh kak, nanti kalau udah sreg minta segera di lamar. Hehehehe." ucap Kemala.
"Hahahahaha. Bisa aja si kakak, yaudah pilih saja dulu. Nanti kalau mau pesen ke meja kasir aja ya." ujar Kak Nia, lalu kembali ke meja kasir.
"Wahyu itu siapa Di? Kok lo udah kenal aja sih?" tanya Kemala.
"Semalam gue ngopi di sini sama Yuda, lama banget. Sampai kenal sama orang sini." jawabku.
"Ciyeee ciyeee, udah kenal dong sama si kakak kasir?" ledek Kemala.
"Yeee mulai deh."
Aku memesan es kopi susu, sedangkan Kemala memesan es teh leci. Kami mengobrol cukup lama, Kemala cerita kalau semalam ia tak bisa tidur. Entah apa yang di pikirkannya, yang jelas ia tak enak hati denganku akibat omongan ibu-nya kemarin.
"Di, gue minta maaf ya soal omongan nyokap kemarin." tuturnya.
"Ah nggak apa-apa, wajar kalau orang tua cemas La. Secara lo kan anak perempuan, nyokap lo takut lo kenapa-kenapa." balasku.
"Iya, tapi nggak perlu maki-maki orang di depan rumah, kan nggak enak di lihat tetangga." ucapnya lagi.
"Gue takutnya lo tersinggung atau sakit hati Di." sambungnya.
"Nggak kok La. Gue santai aja nanggepinnya, nggak ada tersinggung apa lagi sakit hati. Nggak mungkin lah." ucapku berlagak tegar.
"Nah, terus semalam kenapa nggak bisa tidur?" tanyaku penasaran.
"Gue kepikiran lo Di." jawab Kemala.
Jantungku berdegup cepat. Darahku mengalir deras di seluruh nadi. Jawaban Kemala tadi membuatku seakan melayang ke langit.
"Kepikiran gue? Ngaco aja lo." aku mencoba menepis.
"Beneran Di."
"Ya terus kenapa bisa sampai lo kepikiran gue? Emang gue jahatin lo? Hahahaha." aku bertanya, mencoba memancing jawab Kemala selanjutnya.
"Nggak tahu kenapa. Tiba-tiba aja kepikiran lo. Di satu sisi nggak enak karena omongan nyokap kemarin, di satu sisi lagii..." kalimatnya tak ia lanjutkan. Aku menunggu lanjutannya dengan jantung berdebar.
"Ya pokoknya kepikiran lo deh." ucapnya dengan senyum manis terukir di bibirnya.
Yes yes yes, dalam hati aku sorak-sorai. Bagaimana mungkin Kemala memikirkan seorang Adi? Apa yang membuat Kemala seperti itu? Apakah ini sebuah pertanda kalau aku harus mengutarakan perasaanku? Ah tidak tidak, terlalu cepat, terlalu dini. Sabar Adi, sabar. Ada baiknya kau lebih tenang menghadapi ini Adi, aku bergumam dalam hati.
__ADS_1
Kini aku lebih mengenal Kemala. Ayahnya telah meninggal dunia dua tahun lalu, saat ini ia tinggal bersama ibu tiri dan kedua adik tirinya. Ibu kandungnya telah wafat setahun lebih dulu, ayah Kemala menikah lagi dengan seorang wanita janda yang mempunyai dua anak. Ia pun cerita, terkadang ia merasa tak nyaman tinggal dan di urus oleh ibu tirinya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia bertekad untuk lulus kuliah lebih cepat, agar bisa bekerja dan bisa keluar dari rumah itu, bisa cepat menikah dan pergi dari rumah itu. Aku kagum dengan rencananya yang sudah tertata rapi, semoga bisa terwujud. Dan aku hanya bisa mendoakanmu Kemala.