
Tumbal? Apa selama ini kejahatan di kost itu soal persembahan tumbal? Sial, semakin rumit saja misteri ini. Apa Nek Iyah bersekutu dengan iblis itu dan mencari tumbal? Ada kemungkinan-kemungkinan yang bisa menjawabnya.
Bagas, dialah korban tumbal pertama sejak aku pindah ke kost itu. Terbukti saat Ela kerasukan dan Nek Iyah yang mencoba mengusirnya, Ela berkata 'aku berterima kasih padamu Badriyah, pamuda itu sangat aku sukai'. Itu bisa menjadi satu bukti, kalau Nek Iyah memang bersekutu dengan kuntilanak merah, dan menumbalkan kawanku Bagas.
Lalu Mbak Wati, dialah korban tumbal kedua. Aku ingat betul kata-kata Nek Iyah yang berbisik di telingaku saat aku mengucapkan bela sungkawa atas kepergian Mbak Wati, Nek Iyah berkata 'gara-gara kau, anakku yang jadi penggantinya!'. Aku berpikir, mungkin kalau Kakek Badrun tak memberiku mustika itu, bisa jadi aku yang akan menjadi tumbal. Naahh, makanya saat aku bertemu dengan Kakek Badrun, ia bilang ingin membantuku. Cukup masuk akal.
Dan yang ketiga adalah Pak Rahmat. Ia menjadi tumbal ketiga karena telah memberi informasi mengenai Nek Iyah yang mempraktekkan ilmu hitam dan menyuruhku untuk segera angkat kaki dari kost itu, apa lagi siang itu Bang Oji memergoki kami sedang berbincang. Dan sangat jelas perkataan Bang Oji saat itu, 'jangan ngomong sembarangan kalau tidak tahu yang sebenarnya. Bapak kan RT di sini, jangan memfitnah'. Dan beberapa hari kemudian Pak Rahmat meninggal dengan kondisi yang mengenaskan, sama seperti Mbak Wati.
Dan karena kondisi Nek Iyah sedang lemah, juga kuntilanak itu tak memiliki kekuatan, maka harus ada tumbal selanjutnya agar kekuatan mereka dapat pulih dan menyerang balik.
Seperti itulah analisaku sementara, yang patut di curigai adalah Nek Iyah, tak ada lagi. Jika memang semua yang kupikirkan itu benar, instingku sebagai penyidik patut di apresiasi.
Aku berpamitan dengan Hendra dan Kang Ujang, karena besok jadwal kuliah pagi. Dan aku tak mau terlambat. Aku bergegas menuju kost, melewati jalan menurun gelap di sisi kanan dan kirinya hanya kebun kosong cukup luas.
Srekk Srekk.
Suara dedaunan kering tergesek sesuatu, lagi-lagi terdengar. Suaranya berasal dari kebun di sebelah kananku. Langkahku terhenti, mataku awas, mengamati setiap sudut kebun. Walau tak jelas terlihat karena gelap, aku tetap memicingkan mataku, barangkali sosok bayangan lelaki tadi dapat kulihat. Ya, lelaki yang berlari dari kebun sisi kiri ke kebun sisi kanan saat aku hendak berangkat tahlil ke rumah Pak Rahmat.
Srekk Srekk. Suara itu kembali terdengar.
Aku tak melihat sosok apa pun, ku putuskan untuk cepat kembali ke kost. Ku lewati rumah depan, rumah tempat Bagas di temukan tewas.
Meow meow meow.
Hah, kucing? Pikiranku melayang, teringat kembali sosok wanita dengan wajah menyeramkan yang menyantap kucing hidup-hidup. Bulu kudukku merinding. Aku terburu-buru membuka gerbang dan menutupnya kembali. Dan secepat kilat berlari menuju kamar kost. Aku berlari melewati halaman, lalu menuju garasi.
Astaghfirullah!
Ketika berbelok dari halaman menuju garasi, aku di kejutkan sosok Ela yang berdiri mematung tepat di tengah-tengah garasi. Jantungku terasa ingin keluar dari tubuh. Nafasku sampai tersengal di buat kaget.
"Ya Allah Ela. Bikin kaget aja. Hah..hah..hah." ujarku dengan nafas tersengal.
Ela hanya senyum melihatku, sembari tangannya menutup mulutnya.
"Mau kemana La?" tanyaku.
"Hehehehehe." Ela hanya tertawa terkekeh. Tingkahnya sedikit genit dan centil.
Ah gila, kalau sampai ia kerasukan lagi, aku akan lari ke kamar. Masa bodo, tak ada Bang Oji yang membantuku dan Nek Iyah pun kondisinya sedang tak bagus.
"Ela, Ela kenapa?" tanyaku pelan.
Ela masih senyum-senyum, tingkahnya pecicilan mirip anak kecil. Tiba-tiba ia berlari pelan mengitariku, aku merinding di buatnya. Ini jelas, ia kerasukan lagi.
"Hihihi." tawanya sambil berlari mengelilingiku dan sekali tangannya menari-nari. Aku gugup, aku tak tahu harus berbuat apa. Ela kini bersenandung riang.
"Ela." panggilku pelan. Jantungku sudah menari sejak ia tertawa tadi. Firasatku sudah yakin kalau Ela memang sedang kerasukan saat ini.
"Ela!" tiba-tiba kudengar suara Dini. Aku sedikit tenang.
"Bang Adi, Ela kenapa bang?" tanya Dini yang melihat teman sekamarnya sedang asik mengelilingiku sambil menari dan bersenandung.
"Gue nggak tahu Dini. Gue juga baru sampai, tahu-tahu ketemu Ela di garasi." jawabku.
__ADS_1
Dini pun bingung harus berbuat apa. Aku mengambil ponselku, kutekan nomor Kang Ujang dengan sergap. Kuceritakan soal Ela dan memintanya untuk segera datang ke garasi rumah Nek Iyah. Dini terus memanggil Ela, namun Ela tak menggubrisnya. Ia masih bersenandung riang sambil sesekali menari. Dini sudah banjir air mata, ini sudah yang ketiga kalinya Ela kerasukan.
Tak lama Kang Ujang datang dengan tergopoh, ia datang bersama seorang lelaki muda.
"Dari kapan Ela begini dek?" tanya Kang Ujang.
"Nggak tahu kang." ucapku yang masih di kelilingi Ela.
"Kang, ini sih yang masuk anak kecil. Ayo saya bantu keluarin." ucap lelaki muda.
Dengan aba-aba, Kang Ujang dan lelaki muda itu menyergap dengan cepat lengan Ela. Aku pun dengan sigap memegangi kakinya. Ela pun kami gotong masuk ke dalam kamar, Dini hanya menangis terisak melihat temannya kerasukan.
Ela di rebahkan di atas kasur, aku memegang kakinya. Sementara Kang Ujang memgang tangan kanan dan lelaki muda memegang tangan kiri. Ela tak berontak, ia hanya menangis sedu. Tak membuatku mengeluarkan tenaga ekstra.
"Bismillahirrahmanirrahiiimm." setelah membaca basmalah, lelaki muda memejamkan mata dan nampak mulutnya komat kamit membaca doa atau surah dari quran. Lalu menekan titik antara jempol kaki dan telunjuk kaki. Ela meraung, menangis dengan kuat.
"Kamu siapa?" tanya lelaki muda, ia nampak tenang.
"Huhuhuhu. Huhuhuhu." Ela menangis. "Kamu jahat, sakit tahu! Huhuhuhu." ucapnya.
"Ya kalau sakit, segera keluar dari tubuh ini." balas lelaki muda. "Memang kamu mau ngapain masuk ke tubuh ini?" lelaki muda bertanya.
"Huhuhuhu. Aku di suruh. Huhuhuhu. Aku cuma di suruh." jawab sosok yang ada di dalam tubuh Ela.
"Di suruh siapa? Siapa yang suruh kamu masuk ke tubuh ini?" lelaki muda kembali melontarkan pertanyaan dengan santai.
"Huhuhuhu. Ampun, ampun." jawabnya.
"Iya iya, terus kamu di suruh siapa?"
"Takut sama siapa?"
"Itu. Itu. Huhuhuhu. Ampun. Ampun. Takut. Takut." jawabnya kemudian Ela memejamkan matanya, ia terus menangis.
Lelaki muda kembali memejamkan mata dan berdoa. Aku masih memegangi kaki Ela, begitu pun Kang Ujang yang masih memegangi tangan kanan Ela.
"Astaghfirullah. Astaghfirullah." lelaki muda itu istighfar ketika membuka matanya, ia melepas pegangannya dari tangan Ela dan jatuh terduduk ke belakang. Aku reflek menangkap tubuh lelaki muda.
"Astaghfirullah. Astaghfirullah." lelaki muda terus beristighfar.
"Arya, kenapa Ya?" tanya Kang Ujang.
"Enggak kang. Nggak apa-apa." jawab lelaki muda yang di panggil Arya.
Arya kembali memegang tangan kiri Ela, dan Ela masih saja menangis.
Arya berkata ke sosok yang merasuki Ela, "Adek, sekarang keluar ya dari tubuh ini."
"Huhuhuhu. Takut. Takut. Huhuhuhu." jawabnya.
"Arya, ini kenapa susah banget di keluarinnya?" tanya Kang Ujang.
Arya tak menjawab, ia kembali berdoa sembari memejamkan matanya. Tak lama kemudian ia membuka matanya. Sambil beristighfar terus menerus.
__ADS_1
"Dia nggak mau keluar karena takut sama yang nyuruh. Dan yang nyuruh itu penunggu sini kang." ucap Arya dengan pelan dan nampak santai. "Kang Ujang pasti tahu!" sambungnya sambil tersenyum.
Wajah Kang Ujang menyiratkan kegelisahan sekaligus kebingungan.
"Terus ini bagaimana Arya? Masa mau di diamkan saja." ucap Kang Ujang.
"Mau bagaimana kang? Yang nyuruh lebih kuat dan sakti, yang masuk ke tubuh ini setan biasa." balas Arya, lagi-lagi menjawab dengan santai seperti tanpa beban. Sementara Dini masih saja menangis, berbarengan dengan Ela.
"Dini," Kang Ujang memanggil Dini. "Coba ke rumah Nek Iyah, bilang saja Ela kerasukan. Tolong ya Dini." Kang Ujang memohon.
Dini pun bergegas menuju rumah Nek Iyah. Ini yang ketiga kalinya Dini memanggil Nek Iyah untuk meminta bantuan.
"Arya, memang siapa yang menyuruh setan kecil ini?" tanya Kang Ujang dengan berbisik.
Arya tak langsung menjawab, ia menunduk.
"Peliharaan yang punya rumah," jawab Arya. Kang Ujang sedikit kaget.
"Kuntilanak merah." lanjut Arya.
Bulu kudukku seketika merinding mendengar Arya menyebutkan sosok itu. Kembali teringat penampakan sosok kuntilanak merah di ruang depan kamarku. Aku beristighfar, mencoba tak mengingat-ingatnya kembali.
Dini datang membawa segelas air. Tapi tak bersama Nek Iyah.
"Lho, Nek Iyah mana Dini?" tanya Kang Ujang. Ela masih saja menangis.
"Nek Iyah nggak bisa ikut, beliau lagi sakit. Ini dia kasih segelas air." Dini menyerahkan gelas ke Arya.
"Terus, Nek Iyah bilang apa Dini?" Kang Ujang kembali bertanya. "Masa cuma kasih air aja, memang nggak bilang apa-apa?" lanjut Kang Ujang.
"Suruh baca ayat kursi, terus sembur." terang Dini.
"Cuma itu?" Arya bertanya.
"Iya, cuma itu aja."
"Udah buruan Ya! Saya sudah pegal nih." ujar Kang Ujang.
Arya meneguk air, matanya terpejam. Kemudian ia membuka matanya kembali dan menyemburkan seteguk air itu ke wajah Ela. Tangis Ela makin menjadi. Lalu tiba-tiba ia diam, tak bergerak, tak bersuara. Arya mengusap dan membalurkan air pada wajah Ela.
"Udah lepas saja. Udah pergi kok." tutur Arya. Aku melepas pegangan di kaki Ela. Kang Ujang menghela nafas panjang. Tangis Dini sudah berhenti.
Aku duduk tepat dekat kaki Ela, Arya masih berdoa di samping tubuh Ela. Kang Ujang berdiri, merenggangkan tubuh. Dini ke belakang mengambil sebotol besar air putih dan tiga buah gelas plastik.
"Kang Ujang, abang, ini di minum dulu." Dini menaruh botol air dan gelas di lantai.
"Dini, ini gue minum ya. Haus juga ternyata."
"Iya Bang Adi, silakan." balas Dini.
Aku mengambil sebuah gelas, membuka tutup botol dan menuangkan air ke dalam gelas. Arya duduk di tempat yang sama, sementara Kang Ujang merokok di luar kamar.
Tiba-tiba saja, Ela bangun dari pingsannya, tangannya langsung mencengkram leherku, ia mencekik leherku dengan kuat. Gelas yang kupegang terlepas dan air pun tumpah. Dini berteriak. Arya sigap menarik tangan Ela agar melepas cekikannya pada leherku.
__ADS_1
"Akuhh.. mau kau.. anak mudaahh!" Ela mengerang, suaranya berubah. Wajahnya terlihat marah.
Dadaku sesak. Pandanganku berkunang-kunang. Ela mencekikku dengan kuat. Tolong!