Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 43


__ADS_3

Aku dan Yuda memutuskan untuk pulang sekitar pukul 20:20, karena esok kami ada jadwal kuliah pagi. Setelah membayar kami pun meninggalkan kedai kopi tersebut. Yuda mengantarku ke kost, sepanjang perjalanan menuju kost Yuda selalu membicarakan kedai kopi terus-menerus. Ku rasa ia amat senang dengan kopi racikan Bang Dede.


"Da, lo nggak usah masuk deh. Turunin gue di depan gang aja." pintaku.


"Lah, gimana sih Di. Tas sama helm gue kan ada di kamar lo. Masa gue tinggal?" balas Yuda.


"Oh iya ya. Lupa gue."


Kami memasuki gang, pemandangan gelap menghiasi jalan. Karena di kanan kiri jalan memang hanya ada kebun kosong, dan penerangan cuma ada satu tiang lampu di ujung jalan. Kami melewati rumah depan, Yuda menghentikan motornya tepat di depan rumah itu. Melihat garis kuning hitam yang di pasang polisi, aku kembali teringat oleh Bagas.


"Udah lo tunggu di sini aja Da, biar tas sama helm lo gue yang ambilin." ucapku.


"Emang kenapa sih Di, gue nggak boleh masuk?" tanya Yuda.


"Knalpot motor lo berisik. Takut ganggu ibu kost. Udah tunggu di sini aja ya." aku menyuruh Yuda.


"Iya deh iya. Jangan lama-lama ya." pinta Yuda.


Aku membuka gerbang dan menutupnya. Lalu berlalu menuju kamar kost mengambil tas dan helm milik Yuda. Tak lama, aku pun bergegas mengantarkannya ke Yuda.


"Lama banget sih Di." gerutunya.


"Lama apaan sih, sebentar doang kok. Nih!" aku menyerahkan helm dan tas.


"Gue balik ya. Eh, jangan lupa perjanjian kita ya. Hehehehe." Yuda mengingatkanku.

__ADS_1


"Oke sip." aku memberi jempol. Yuda menghidupkan mesin motor, lalu pergi meninggalkanku.


Aku berbalik badan dan berlalu menuju kamarku. Ku buka gerbang, dan ketika gerbang hendak ku tutup, aku melihat sosok yang tak asing. Ia berdiri dekat tiang lampu di ujung sana. Aku memicingkan mataku.


Itu sosok kakek kemarin malam. Ia berdiri tak bergerak. Wajahnya menghadap ke arahku, matanya seolah-olah menatapku tajam. Mau apa kakek itu? Kenapa terus menghantuiku belakangan ini. Aku mengunci gerbang, lalu pergi meninggalkan halaman rumah Nek Iyah.


Ku buka pintu kamarku dan kembali menutupnya. Aku menuju kamar mandi untuk berwudhu dan bersih-bersih. Baru saja ku buka pintu kamar mandi, aku mendengar pintu kamarku di ketuk dengan kuat.


"Iya sebentar." teriakku.


Aku bergegas membuka pintu kamar. Tapi aneh, tak ada siapa pun. Aku menoleh ke kanan dan kiri melihat sekeliling kost, tak ada siapa pun. Lalu siapa yang mengetuk pintuku dengan kuat? Apa mungkin Bang Oji? Ku tutup kembali pintu kamarku.


Baru saja aku masuk ke dalam kamar mandi, aku dengar pintu kamarku kembali di ketuk dengan kuat. Ah sial, siapa sih yang iseng malam-malam gini? Aku mulai kesal. Ku acuhkan, aku pun berwudhu. Tapi ketukannya semakin kuat. Setelah berwudhu aku kembali ke ruang depan, dan pintu kamar ku buka. Lagi, tak ada siapa pun, aneh pikirku. Lalu ku dengar suara motor dari arah garasi. Bang Oji.


Tiin.


"Woii, belum tidur lo?" tanya Bang Oji.


"Belum bang. Baru balik bang?"


"Iya nih. Ngopi yuk!" Bang Oji menawarkan.


"Aduuh, skip dulu deh. Baru kelar ngopi nih." jawabku.


"Yaudah temenin gue ngobrol sebentar dong." pinta Bang Oji.

__ADS_1


"Oke, gue shalat dulu ya."


Setelah shalat aku mengobrol dengan Bang Oji di teras depan kamarku. Ia hanya membawa secangkir kopi untuknya. Kami mengobrol tak lama, sekitar setangah jam. Lalu aku undur diri, karena esok ada jadwal kuliah pagi.


Ku rebahkan tubuh di atas kasur, ku pejamkan mataku. Tak lama aku pun tertidur.


***


Aku bangun karena suara aneh yang mengganggu telingaku. Suaranya seperti percikan cairan kental. Blupp blupp, kurang lebih seperti itu. Mataku tertuju ke lantai kamar ruang tengah, cairan itu menyembul keluar dari sela-sela lantai. Apa ini? Bau busuk seketika memenuhi ruangan kamarku. Aku tak dapat menahan mual, aku muntah seketika. Kaget bukan main, aku memuntahkan cairan berwarna hitam, dan berbau busuk. Aku panik dan lari ke kamar mandi. Ku buka bajuku, ku bersihkan bekas muntahan menjijikkan ini. Ku basuh dengan air dan ku cuci dengan sabun.


Aku kembali ke ruang tengah, cairan itu masih terus keluar dari sela-sela lantai. Lalu, terdengar suara aneh.


Kkrrkk. kkrrkk.


Mataku awas, melihat seisi kamarku mencari asal suara tersebut. Tiba-tiba, dari genangan cairan di lantai kamarku muncul perlahan wajah, wajah seseorang. Aku terperanjat hampir lompat. Apa ini? Suara aneh makin nyaring terdengar. Dan wajah yang muncul dari genangan cairan makin jelas terlihat, wajah seorang perempuan! Mulutnya menganga lebar, matanya terpejam, kulit di dahi dan pipinya banyak luka sayatan, persis sayatan dari kuku. Aku mundur perlahan menuju ruang depan kamarku sambil terus ku lihat wajah seorang wanita di genangan cairan hitam. Tiba-tiba, mata wanita itu terbuka, membelalak melotot melihatku.


Aku kaget dan lari ke ruang depan. Karena saking paniknya, sampai-sampai aku tak dapat memutar kunci pintu. Astaga, kenapa kunci ini? Ku tarik dengan kuat gagang pintu sambil ku putar kunci, namun tetap tak terbuka. Keringat membanjiri bajuku, dahiku, bahkan seluruh tubuhku. Aku masih terus mencoba membuka kunci. Aku menoleh ke arah ruang tengah kamarku.


Jantungku berdegup makin cepat, memompa darah ke seluruh tubuh dengan deras. Pemandangan mengerikan baru saja ku lihat. Kini bukan saja wajah wanita, melainkan sosok seorang wanita berjalan mengesot di lantai pelan menghampiriku. Wajahnya menyeramkan, matanya masih melotot menatapku, mulutnya masih menganga lebar. Namun pintu ini tak dapat ku buka. Aku teriak amat kencang, berharap siapa pun datang membantuku membuka pintu kamar.


Wanita itu masih menatap tajam ke arahku, jaraknya kian dekat. Tubuhnya penuh cairan hitam. Perlahan ia makin dekat. Aku teriak sekuat tenaga meminta tolong.


. . . . .


Mataku terbuka. Nafasku tak beraturan. Keringat membasahi dahi dan seluruh tubuhku. Aku bangun dari kasur, dan duduk. Mimpi. Astaga, mimpi buruk lagi. Sadar apa yang barusan terjadi hanya mimpi, aku langsung melihat ke arah lantai kamarku. Aku menghela nafas lega, tak ada cairan hitam yang menyembul keluar dari dalam lantai. Tubuhku lemas. Tenggorokanku kering. Ku lihat ponselku, jam 03:05.

__ADS_1


Aku bangun dan mangambil segelas air, menenggaknya dengan singkat. Duduk di lantai dan bersandar pada dinding. Ku coba mengumpulkan kepingan-kepingan mimpi yang ku alami tadi. Terlalu nyata dan terlalu menyeramkan.


__ADS_2