
"Dek, sebenarnya siapa narasumber yang cerita soal Kakek Badrun itu?" tanya Kang Ujang.
"Beliau kenal dekat dengan Nek Iyah juga kang. Tapi maaf kang, saya nggak bisa kasih tahu ke Kang Ujang siapa narasumber itu. Karena saya sudah janji untuk menutupi identitasnya. Dan beliau mengiyakan, lalu akhirnya kasih informasi ke saya." balasku dengan mengarang.
Kang Ujang diam. Wajahnya tertunduk lesu. Aku heran, apa yang membuatnya begitu tak bersemangat, sampai lesu seperti ini? Apa nama Kek Badrun begitu tersohornya di keluarga Nek Iyah?
"Baiklah, saya akan ceritakan siapa Kakek Badrun itu. Tapi saya mohon, tolong sembunyikan juga identitas saya jika suatu saat nanti ada yang bertanya ke Dek Adi siapa yang memberi tahu." ucap Kang Ujang.
"Deal!" aku menyodorkan tangan mengajak Kang Ujang bersalaman.
Kang Ujang pun meraih tanganku tanda setuju. Ia menyeruput kopinya perlahan, menaruh kembali cangkirnya di atas lantai. Sedikit menghela nafas, memandangku, kemudian mulai bercerita.
Kang Ujang bercerita :
Tiga puluh lima tahun setelah Indonesia menyatakan merdeka dari penjajah, ayah dan ibuku memutuskan untuk merantau ke kota ini. Aku menjadi anak semata wayang dari kedua orang tuaku sesaat setelah ibu melahirkan adikku ke dunia. Ia meninggal akibat cairan yang berlebihan menumpuk di dalam rongga kepala, ilmu kedokteran menyebutnya Hidrosefalus.
Kami hanya bertiga, pekerjaan ayahku menjadi kuli panggul di sebuah pasar dan ibuku mengais sayur-mayur yang di buang oleh pedagang karena tidak terlalu bagus, untuk di jual kembali ataupun untuk di masak. Aku tak mengenyam pendidikan sejak kecil, karena penghasilan ayah yang tak menentu dan pekerjaan ibuku yang tak keruan.
Suatu hari, ayahku di tuduh mencuri belanjaan di pasar tempatnya bekerja. Habislah wajah ayah babak belur kena hantam tinju kuli-kuli panggul di pasar. Kau bisa bayangkan otot, tangan, dan tenaga kuli pasar seperti apa. Ayahku masuk bui selama tiga malam tiga hari. Sampai akhirnya, tepat hari ketiga seorang pria berbadan gagah menyambangi sel tempat ayahku di tahan.
"Siapa yang namanya Engkus?" tanya si pria gagah.
Ayah yang sedang meringkuk karena masih merasakan nyeri di seluruh badan, mengangkat tangan.
Ia melihat orang itu dengan terkesima, wajahnya rupawan, tubuhnya tegap, rambutnya klimis. Dan seragamnya pun beda dengan petugas polisi, ayah lalu mendekat ke jeruji besi dengan lemah.
"Sa..saya Engkus pak." jawab ayah pelan.
"Hei!" panggil pria gagah ini ke seorang polisi jaga.
"Buka sel! Dia saya yang jamin." ucap si pria gagah.
"Ta..tapi pak. Bapak harus lapor dulu ke atasan ka.."
__ADS_1
Duakk
"Saya bilang buka, ya buka!" si pria gagah menendang sel yang terbuat dari besi. Suaranya menggema di lorong. Si polisi jaga kicep, menciut bagai balon kehabisan udara, lalu bergegas membuka grendel kunci sel.
"Ada apa ini?" seorang petugas baru datang bertanya ke si pria gagah.
"Bebaskan dia, dia tidak salah. Saya yang menjaminnya!" ucap si pria gagah.
"Baik. Tapi mari kita bicarakan dulu di ruangan saya sebentar." ucap petugas yang baru saja datang.
Si pria gagah pun di ajak oleh petugas itu ke sebuah ruangan. Ayah kembali duduk meringkuk, awalnya ada secercah harapan untuknya bisa keluar dari bui, namun sesaat kemudian kandas. Lama si pria gagah itu di dalam ruangan, ayah mengintip dari jeruji sel ke pintu ruangan tempat pria gagah dan petugas itu berada.
Pintu ruangan terbuka, petugas tadi keluar di ikuti oleh si pria gagah. Mereka berjalan ke arah sel ayah. Jantung ayah berdegup cepat, ia bertanya-tanya dalam hatinya, apakah ia akan bebas hari ini?
Petugas tadi menyuruh polisi jaga untuk membuka grendel kunci sel tempat ayah di tahan.
"Engkus, kamu bebas hari ini." ucap petugas.
Senang bercampur haru, hingga tak di rasa kembali nyeri di badannya akibat tinju para kuli beberapa hari lalu.
Secepat kilat ayah berlari keluar dari dalam sel dan memeluk betis si pria gagah, berurai air matanya membasahi pipi. Ayah menangis tersedu, sampai tak bisa berkata.
"Kus, kamu ikut saya." ucap si pria gagah.
Ayah pun di ajak ke rumah si pria gagah itu. Menaiki mobil jeep dengan warna khas hijau tua. Sepanjang perjalanan ayah tak berani berkata, bahkan kentut pun ia tahan, tiga malam tidur di atas lantai penjara membuat perutnya bergolak, angin masuk ke dalam tubuh dengan seenaknya.
Sampailah ayah dan pria gagah di sebuah rumah besar, tingkat dua, dengan halaman besar dan tanaman hijau menyejukkan mata. Si pria mengajak ayah untuk masuk, mempersilakan ayah duduk di teras rumahnya. Ayah duduk sambil berpikir, mau di apakan lagi aku ini? Pikirannya bercabang, memikirkan dirinya dan keluarganya yang tiga hari tak ia tahu keadaannya.
Tak berapa lama si pria gagah datang bersama seorang wanita cantik nan ayu. Parasnya cantik, alisnya tebal, bibirnya tipis memakai gincu merah muda, dan kulitnya putih bersih.
"Kus, ini istri saya, Nyai Asih." si pria gagah memperkenalkan istrinya. Ayah hanya senyum kikuk.
"Kamu pasti bertanya-tanya, kenapa saya menjamin kebebasanmu."
"I..iya pak." jawab ayah sambil menunduk.
__ADS_1
Si lelaki gagah tersenyum.
"Dengan segala kekhilafan yang terjadi, saya minta maaf sama kamu Kus." ucap pria gagah.
Ayah bingung.
"Minta..maaf?"
"Iya Kus, saya Thamrin, atas nama pribadi dan keluarga meminta maaf pada kamu Kus." ucap pria gagah yang memperkenalkan dirinya dengan nama Thamrin.
"Sa..saya nggak ngerti pak." jawab ayah dengan pelan dan gugup.
"Begini kang, tempo hari saat saya dan tukang masak belanja ke pasar.." istri Pak Thamrin membuka perbincangan, dengan suaranya yang lembut.
"Belanjaan kami hilang di curi orang. Saya dan tukang masak merasa panik, di kejauhan tukang masak melihat akang membawa belanjaan yang sama persis dengan belanjaan saya. Kami pun teriak, dan semua orang mengerubungi akang." ceritanya.
"Saya betul-betul minta maaf dengan semua yang terjadi pada akang. Dan setelah di selidiki oleh suami saya, ternyata memang bukan akang pencurinya. Sekali lagi saya mohon maaf kang." sambung Nyai Asih.
Ayah diam tak berkata. Ia merasa sudah di rugikan.
"Kus, akan saya bayar semua kerugian yang telah di perbuat istri saya dan tukang masak kami. Berapa Kus? Kamu sebut saja!" ucap Pak Thamrin.
Ayahku diam.
"Pak, nyai. Saya sudah maafkan kesalahan bapak dan nyai. Dari awal itu terjadi, saya tahu semua hanya salah paham. Kalau bapak dan nyai menawarkan saya uang untuk ganti rugi, jujur saya tidak mau terima." ucap ayah.
"Lalu, kau mau apa Kus?" tanya Pak Thamrin.
"Izinkan saya dan istri saya bekerja di rumah bapak dan nyai saja. Terserah mau di pekerjakan jadi apa saja, asal halal. Mau di bayar berapa pun saya ikhlas. Asal saya tidak jadi kuli panggul lagi di pasar, asal istri saya tidak mungut-mungut sayur busuk lagi, asal anak saya tidak tidur di kolong jembatan lagi." tutur ayah, tak terasa air matanya berderai.
Pak Thamrin dan Nyai Asih pun menangis melihat ayah menangis terisak.
"Bawa anak dan istrimu ke sini Kus. Kau ku terima bekerja di sini. Bawa sekarang." ucap Pak Thamrin sambil berderai air mata.
Ayah menangis sambil bersimpuh di kaki Pak Thamrin dan mengucapkan terima kasih yang tak ternilai. Lalu memberi sejumlah uang kepada ayah untuk ongkos menjemput ibu dan aku.
__ADS_1
Sejak hari itu, kami pun tinggal di rumah Pak Thamrin. Ayah bekerja sebagai tukang kebun dan tukang bangunan, ibuku bekerja sebagai tukang cuci dan tukang bersih-bersih rumah. Sedangkan aku, aku bekerja membantu Nyai Asih mengurus kucing peliharaannya.