
"Malam ini kita harus cari juragan! Pokoknya cari sampai ketemu!" ucap Bi Tati.
"Iya, tapi cari kemana teh?" tanya ibu.
"Kemana saja, namanya juga mencari. Ini demi nyai Teh Kokom, pikirkan itu!" sahut Bi Tati.
"Hari sudah gelap teh, lagipula kita cari juragan naik apa? Dan cari kemana?" ayah menambahkan.
"Mang, Mang Engkus kan laki, laki harusnya bisa berpikir lebih baik ketimbang perempuan. Naik apa kek, becak kek, delman, atau angkot. Apa sajalah, yang penting cari juragan sampai ketemu." Bi Tati memaksa.
"Teh, teteh coba tenang dulu. Kita pikirkan jalan keluar ini bersama-sama. Jangan ambil keputusan cari juragan dulu. Duduk dulu." ibu berkata dengan pelan.
"Bagaimana saya bisa tenang Teh Kokom, saat ini kondisi nyai yang terpenting. Lalu, kalau saran saya cari juragan nggak betul, apa saran dari Teh Kokom?" Bi Tati bertanya pada ibu.
"Teh, saya memang nggak punya saran bagus seperti teteh. Tapi saran saya yang paling utama adalah sebaiknya kita semua istirahat dulu, nyai sudah letih sejak pagi di rumah sakit, obrolan kita tadi mungkin terdengar oleh nyai yang membahas soal juragan. Saya pun begitu, sedari pagi mengantar nyai, menuntun nyai berjalan, menjaga nyai. Mang Engkus pun sama, mondar-mandir di rumah sakit. Kita semua sudah capek teh. Apa nggak sebaiknya kita semua istirahat? Saya tahu, teteh pun lebih capek, tidak tidur karena menjaga nyai semalaman. Kalau kita tidak istirahat, dan kita sakit, lalu siapa yang akan merawat nyai?" jelas ibu. Bi Tati diam, wajahnya tertunduk.
"Saat ini nyai hanya punya kita, saat ini nyai hanya bisa mengharapkan kita teh. Agar kesehatan nyai bisa pulih lebih cepat, kita pun harus sehat lebih daripada nyai. Teteh harus istirahat, teteh jangan sampai sakit. Ya." ibu mengelus pundak Bi Tati.
Bi Tati tiba-tiba terisak.
"Saya tahu, teteh sangat sayang dengan nyai melebihi apa pun. Sama teh, saya pun sayang dengan nyai. Kita semua sayang dengan nyai. Malam ini kita semua istirahat ya, besok akan kita pikirkan lagi rencana mencari juragan." lanjut ibu. Bi Tati mengangguk.
Malam ini seperti biasa, Bi Tati dan ibu tidur di kamar Nyai Asih, mereka menggelar tikar dan selimut tebal sebagai alas tidur. Aku dan ayah tidur di ruang tamu, beralaskan tikar dan juga selimut.
Dogg dogg dogg.
Pintu rumah di gedor dengan kuat. Ayah bangun.
Dogg dogg dogg.
Lagi, pintu rumah di gedor dengan kuat.
"Yah, itu siapa malam-malam begini ketuk pintu kuat banget?" tanyaku dengan suara berbisik.
__ADS_1
"Sssttt. Nggak tahu, nanti ayah lihat." jawab ayah.
Bi Tati dan ibu keluar dari kamar nyai, mereka pun terbangun karena suara pintu rumah yang di gedor sangat kuat.
"Mang, siapa itu mang?" tanya Bi Tati.
Ayah mengangkat bahunya, tanda tak tahu.
Dogg dogg dogg.
"Tatiiiiii! Buka pintu! Tatiiiiii!"
Kami semua terkejut. Juragan? Itu suara juragan.
"Tatiiiiii! Buka pintunya Tatiiiii!" suara Pak Thamrin yang berteriak di teras rumah.
Ceklek. Ayah memutar kunci lalu membuka pintu.
"Engkus! Lama sekali kau buka pintu, kau sudah lupa suara juraganmu, hah?" bentak Pak Thamrin.
Juragan masuk ke dalam rumah bersama si perempuan. Mereka duduk di kursi ruang tamu. Bi Tati dan ibu mendekat.
"Ju-juragan sudah kembali. Ba-bagaimana kabar juragan, sehat?" tanya Bi Tati.
"Heh Tati! Kau ini tuli ya? Sedari tadi aku teriak-teriak memanggilmu. Kau tuli atau sengaja tak mendengarku, hah?" omel juragan.
"Kokom, bersihkan kamar untuk kami! Sana cepat!" ayah menyuruh ibu, tapi tampak ibu ragu.
"Kau ini kenapa Kokom? Kau pun sudah tuli? Apa perlu kuulang lagi perintahku tadi?" bentak juaragan ke ibu.
"Ti-ti-tidak juragan." ibu pun bergegas menuju kamar tamu.
"Ju-juragan, maaf juragan. Kenapa juragan tidak tidur di kamar juragan saja bersama nyai. Nyai sangat rindu dengan juragan." Bi Tati berkata.
__ADS_1
Juragan Thamrin senyum kecut.
"Aku tidur dengan wanita yang sudah menyia-nyiakan calon anakku? Tidak tidak. Biar saja ia tidur sendiri. Ini rumahku, aku bebas tidur di mana pun kumau. Paham kau?" sahut Juragan Thamrin.
"Ta-tapi juragan, nyai sedang sakit. Ia sakit akibat keguguran. Apa juragan tidak kasihan dengan kondisi nyai?" tanya Bi Tati.
"Apa? Sakit? Hahahahahaha. Mati pun aku tak peduli dengannya." ujar Juragan Thamrin. "Sudah sudah, aku capek! Daripada kau banyak bacot, lebih baik kau buatkan aku kopi. Sana!" suruh Juragan Thamrin ke Bi Tati.
Juragan berubah, nada bicaranya keras. Ia bukan juragan yang dulu kami kenal, juragan yang ramah, baik, murah senyum, dan sangat menyayangi Nyai Asih.
Kamar tamu telah rapi dan di bersihkan oleh ibu, juragan masuk ke dalam kamar bersama perempuan muda itu. Perempuan tak tahu malu, ia sama sekali tak berperasaan. Jelas-jelas Juragan Thamrin masih memiliki seorang istri, ia malah asik menggandeng tangan juragan dengan mesra.
Bi Tati, ibu, dan ayah tak habis pikir dengan perubahan sikap juragan yang sangat drastis. Mereka berpikir kalau juragan telah kena guna-guna oleh si perempuan itu.
Bi Tati dan ibu kembali masuk ke dalam kamar nyai. Ternyata nyai bangun, ia duduk menangis sambil memeluk bantal.
"Nyai, nyai kenapa?" tanya Bi Tati.
Nyai tak menjawab, ia hanya menangis terisak.
"Nyai, apa nyai dengar juragan pulang?" tanya ibu.
"Sa-saya dengar teh." jawab nyai sambil menangis. "Saya su-sudah tak berguna teh, sa-saya sudah di campakkan oleh juragan."
"Tidak nyai, tidak. Juragan hanya gelap mata, ia tidak benar-benar mengatakan hal demikian nyai." Bi Tati menimpali.
"Ti-tidak teh. Saya lebih baik mati saja."
"Hush! Jangan bicara seperti itu nyai. Nyai harus sehat, besok saya akan minta juragan untuk mengantar nyai ke rumah sakit, agar nyai bisa cepat di operasi." Bi Tati mencoba menenangkan nyai.
Nyai tak hentinya menangis, Bi Tati dan ibu menemani dan mendiamkan nyai, menenangkannya seperti anaknya sendiri. Nyai menangis di pelukan Bi Tati, Bi Tati tak kuasa menahan sedihnya, ia memeluk nyai erat, tangisnya pun pecah. Ibu pun tak bisa bertahan, ia pun menangis memeluk nyai dan Bi Tati.
Bi Tati menangisi nasib nyai yang sedemikian peliknya, begitu pun dengan ibu. Ibu amat kasihan dengan kondisi nyai yang di telantarkan suaminya, dalam keadaan sakit dan sangat membutuhkan dukungan dan kasih sayang seorang suami, yang terjadi malah lebih mengenaskan. Suaminya pulang dengan wanita lain, dan tak peduli dengan kondisi sakit yang di alami nyai.
__ADS_1