
Aku menyaksikan pemakaman Mbak Wati, warga pun ramai. Aku berdiri di barisan paling belakang. Jenazah Mbak Wati di makamkan tepat di kebun kosong samping kamar 11a. Dalam gamang aku terpikirkan omongan Bang Oji tadi. Nampaknya satu persatu misteri kost ini terkuak, Bang Oji bersekongkol dengan Nek Iyah, yang notabene masih ada hubungan saudara. Tapi, aku tak tahu bersekongkol dalam hal apa? Jika bersekongkol hanya ingin mendapatkan mustika Batu Dewa Dawana pemberian Kek Badrun, bisa ku maklumi. Ya, mungkin saja Nek Iyah yang mempraktekkan ilmu hitam ingin kesaktiannya bertambah. Tapi, kalau bersekongkol mencari tumbal dan ternyata incaran korban selanjutnya adalah aku, secepatnya aku harus kabur dari kost ini. Dan saran dari Pak Rahmat pun bakal ku dengar.
Semua kepingan-kepingan informasi ku rangkai dan ku simpulkan sendiri, entah benar atau pun tidak. Dari Ki Sona, maupun dari Pak Rahmat, belum lagi dari Kek Badrun yang bilang "mereka semua bersekongkol", itu bisa menjadi modal untukku menguak misteri yang ada di kost ini. Nampaknya, cita-cita menjadi bankir harus ku kesampingkan dulu. Bagaimana diriku saat ini di tuntut menjadi seorang detektif, aku membual dalam hati.
Matahari cukup terik, liang lahat di gali tepat berada di bawah pohon. Ya pohon. Pohon tempat Ela kerasukan malam itu. Hiiiyy, mengingatnya saja membuat bulu kudukku merinding. Aku memperhatikan dengan seksama tiap wajah yang hadir di pemakaman. Kang Ujang nampak paling depan, Bang Oji sudah turun ke dalam liang lahat.
Ada yang aneh di sudut kebun, seorang wanita samar-samar ku lihat. Ia berdiri tepat di bawah pohon rimbunan pohon bambu mengunakan gaun merah panjang sampai menutup kakinya, rambutnya panjang lurus terurai, kulitnya pucat. Di kejauhan ia menatap ke arah kerumunan pelayat. Siapa wanita itu?
"Bang," seorang menepuk bahuku pelan. Aku menoleh.
Dini.
"Eh, iya. Kenapa Din?" tanyaku. Dini bersama Ela.
"Sudah di makamin belum bang?" tanya Dini.
"Belum. Lubangnya baru rampung di gali."
Tak lama, jenazah Mbak Wati berbalut kain kafan pun di turunkan ke dalam liang lahat. Ku lihat ada bercak darah yang tergambar di kain kafannya pada bagian wajah. Dua orang naik, tinggal seorang di dalam liang, lalu adzan pun di kumandangkan pelan di lanjutkan dengan iqomah. Dua orang kembali turun ke dalam liang, bersamaan dengan itu beberapa papan kayu di bariskan menutup jenazah Mbak Wati. Kemudian tanah pun sedikit demi sedikit kembali di gali guna menutup liang lahat.
Mataku menatap ke arah pohon bambu, sosok wanita bergaun merah masih ada di sana. Masih berdiri dengan posisi yang tak bergeser sedikit pun. Ia masih menatap ke arah kerumunan.
"Din," panggilku ke Dini.
"Ya bang."
"Lo lihat wanita yang berdiri di bawah pohon bambu nggak?" tanyaku.
Dini melongok ke arah rimbunan pohon bambu. Matanya jelalatan. Ela pun ikut melihat ke arah yang sama.
"Wanita? Nggak ada siapa-siapa tuh di bawah pohon bambu." jawab Dini.
Eh, benar kata Dini. Wanita bergaun merah sudah tidak ada. Aku menoleh ke seluruh sisi kebun mencari sosok wanita bergaun merah, namun tak ada.
"Eh iya, nggak ada ya. Gue salah lihat ternyata." balasku sembari cengengesan. Dini balas senyum. Ela hanya diam.
__ADS_1
Pemakaman Mbak Wati pun selesai setelah seorang ustad menutup dengan doa. Warga pun bubar meninggalkan makam Mbak Wati. Aku pun meninggalkan makam.
"Dek Adi."
Kang Ujang memanggilku, aku menghentikan langkah.
"Ya kang."
"Nanti malam ikut tahlilan ya. Sekalian berdoa bersama untuk almarhumah Mbak Wati." ucap Kang Ujang.
"Oh iya kang, siap. Memang jam berapa tahlilnya?" tanyaku.
"Setelah isya dek. Acara tahlilnya juga di tenda depan kamar kost, nggak di rumah Nek Iyah."
"Siap kang."
"Kang Ujang, boleh saya ngobrol sebentar dengan Kang Ujang?" tanyaku.
"Mau ngobrol apa dek?"
"Boleh sambil ngopi nggak di kamar saya?" pintaku.
"Mangga kang, kopinya." aku menyodorkan cangkir kopi.
"Iya. Nuhun Dek Adi,"
"Dek Adi mau ngobrol apa?" tanya Kang Ujang seraya membakar sebatang rokok.
"Kang, saya mau tanya soal kost ini. Karena ada beberapa kejanggalan yang saya alami di sini. Dan itu nggak sekali aja." ucapku.
"Memang Dek Adi mengalami kejanggalan apa di sini?" tanya Kang Ujang.
Aku merapatkan posisi duduk ke Kang Ujang.
"Yang pertama, Kang Ujang sebelumnya pasti masih ingat dengan cerita saya, soal suara tangis bayi yang saya dengar tiap jam tiga malam. Iya kan?"
__ADS_1
Kang Ujang mengangguk.
"Itu satu. Yang kedua, soal cairan hitam yang selalu keluar dari sela-sela lantai di ruang tengah. Saya perhatiin dari awal cairan itu keluar, tidak ada pipa yang tertanam di bawah lantai kamar saya. Pipa pembuangan dari kamar mandi terpasang tepat di belakang kamar kost. Apa yang sebenarnya terkubur di bawah lantai ruang tengah kamar saya?"
Kang Ujang diam, ia menghisap cepat rokoknya.
"Karena saya tahu sejak awal saya datang ke kost ini untuk lihat kamar, ruang tengah kamar ini agak landai. Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan lantai menjadi landai. Satu, adanya akar pohon yang menyebabkan pergeseran tanah di bawah lantai,"
"Atau dua, kontur tanah yang lembek yang menyebabkan lantai menjadi amblas akibat bekas galian." jelasku.
"Jadi, di bawah lantai kamar saya ini ada apa kang?"
"Se..sebenarnya begini dek.."
"Eits, saya belum selesai kang." ku potong Kang Ujang yang hendak berbicara.
"Yang ketiga, apa benar Nek Iyah mempraktekkan ilmu hitam?"
Kang Ujang nampak terkejut. Ia tak berkata, namun raut wajahnya menyiratkan sesuatu. Jelas ada arti di balik terkejutnya.
"Kenapa saya bisa bertanya seperti ini, Kang Ujang pasti penasaran kan?"
Kang Ujang diam.
"Kenal dengan Kakek Badrun kang?" tanyaku.
Wajah Kang Ujang makin tak biasa, duduknya mulai tak nyaman. Sebatang rokok sudah ia habiskan, kini ia bakar lagi sebatang. Lalu meyeruput kopi dengan cepat.
"Adek tahu dari mana nama Kakek Badrun? Apa Bang Oji cerita soal Kakek Badrun?" tanya Kang Ujang.
Hah? Bang Oji? Ku simpulkan Kang Ujang pun ikut dalam persekutuan Nek Iyah. Aku harus lebih cermat dalam memilih pertanyaan.
"Sebelum Kang Ujang jawab tiga pertanyaan saya tadi. Boleh ceritakan soal Kek Badrun yang sebenarnya?"
Kang Ujang nampak ragu. Mimik wajahnya terlihat linglung.
__ADS_1
"Sebenarnya saya sudah tahu soal Kek Badrun, dari seorang narasumber terpercaya. Tapi saya mau tahu dari Kang Ujang, jadi jangan cerita yang tidak benar." aku menggertak dengan santai.
Kang Ujang menggaruk kepalanya. Terlihat ia bingung, mungkin serba salah antara ingin cerita atau tidak padaku. Sepertinya gertakanku memberi efek yang cukup bagus untuk psikis nya, dan sebentar lagi ia pasti buka mulut, kerja bagus Adi.