
Mas Gun membakar sebatang rokok. Aku dan Tika tetap menunggu kelanjutan ceritanya dengan was-was dan hati berdebar.
"Ayo di lanjutin mas!" pintaku pada Mas Gun.
"Sabar toh. Tunggu sebentar, gue kan baru kelar makan gorengan. Ngerokok dulu sebentar." jawab Mas Gun.
"Oalaaahh, lama dong kalau harus nunggu lo habisin rokok sebatang." balasku.
Mas Gun terkekeh, tawanya seolah meledekku yang tak sabaran.
"Gimana, mau di lanjutin sekarang?" tanya Mas Gun.
"Lanjutin mas. Masa kita harus nunggu lo habisin rokok sih." ujar Tika.
"Hmmm, oke deh. Karena penggemar gue minta lanjut, dengan berat hati akan gue lanjutin ceritanya. Hehehehehe." tutur Mas Gun sembari terkekeh.
Aku hanya menggeleng mendengar ucapan Mas Gun. Tika diam tak berkata.
"Karena penampakan si cewek yang gantung diri sudah hilang, akhirnya gue putuskan untuk balik ke kamar. Walaupun sebenarnya jantung gue masih deg-degan, tapi gue mencoba tetap tenang dan nggak panik. Gue berjalan pelan menenangkan diri, lewatin garasi mobil. Ada satu keanehan lagi yang gue temui ketika sampai di garasi." cerita Mas Gun.
"Keanehan apa lagi mas?" tanyaku.
"Gue lihat kucing berdiri berjejer. Mereka menatap gue dengan tatapan buas. Kayak mau menerkam gitu. Menurut lo aneh atau biasa aja Di? Menurut lo gimana Tik?" Mas Gun meminta pendapat padaku dan Tika.
"Kucing yang berjejer ya?" sahutku. "Kalau gue pribadi sih bilang aneh. Karena gue udah pernah ketemu kucing yang seperti itu di sini. Tepat di garasi juga, dan jumlah kucingnya juga lumayan banyak. Persis seperti yang lo bilang tadi, mereka juga menatap gue dengan tatapan buas dan marah." jelasku.
"Iya Di. Nggak kayak kucing pada umumnya." sahut Mas Gun. "Nah, kalau menurut lo gimana Tik?" Mas Gun bertanya pada Tika.
Tika tampak berpikir.
"Hmmm, kucing ya. Kalau gue sih wajar ketemu kucing begitu. Namanya juga kucing. Mungkin lo ganggu teritorial mereka kali mas, jadi mereka ngelihat lo seperti ancaman buat mereka." ujar Tika.
"Aduh Tikaaa. Sejak kapan kucing jadi hewan teritorial sih? Kalau kuda nil gue percaya. Ini kucing lho! Hewan yang bisa jadi peliharaan dan bisa hidup berdampingan dengan manusia. Tiba-tiba kelakuannya aneh dengan tatapan buas. Coba lo bayangin deh!" ujar Mas Gun.
Tika berpikir sejenak.
"Iya juga sih. Kalau di pikir-pikir aneh juga kucing baris berjejer gitu." ungkap Tika.
__ADS_1
"Tapi gue belum pernah ketemu kucing kayak gitu selama kost di sini. Sedangkan Adi udah kan ya?" ujar Tika.
"Udah, dan sama persis seperti yang Mas Gun alami." sahutku.
"Terus begitu lo lihat kucing aneh gitu, apa yang terjadi selanjutnya mas?" tanya Tika.
"Gue coba buat usir itu kucing. Tapi yang anehnya lagi, semua kucing itu nggak bergeming sedikit pun. Nggak takut dengan gue. Malah makin beringas menatap gue, beberapa ekor malah memamerkan taring mereka. Menggeram kayak harimau. Aneh kan kucing macam itu?" cerita Mas Gun.
"Fix. Itu aneh banget sih. Nggak ada kucing yang diam ketika di usir sama manusia. Minimal mereka kaget atau kabur. Iya kan." sahut Tika.
"Naaahh. Betul lo Tik." gumam Mas Gun seraya menyeruput kopi.
"Terus?" pintaku pada Mas Gun untuk melanjutkan ceritanya.
"Karena gue pikir kelakuan kucing-kucing itu udah di luar nalar, akhirnya gue cabut dari garasi. Sampai gue di depan kamar, gue kembali melihat kucing yang ada di garasi. Lo tahu apa yang mereka lakukan?" tanya Mas Gun.
Aku menggeleng. Tika diam menunggu lanjutan cerita Mas Gun.
"Kucing itu ternyata jalan mengikuti gue sampai di depan kamar. Mereka tiba-tiba sudah baris berjejer di belakang gue, masih dengan tatapan yang ganas dan marah. Aneh kan Di? Aneh kan Tik?" lagi-lagi Mas Gun meminta pendapatku dan Tika.
Aku mengangguk pelan.
"Terus setelah itu gimana lagi mas?" tanya Tika.
"Mangkel hati ini rasanya, di lihatin dan di ikuti sampai depan kamar. Gue ambil sapu ijuk di dalam kamar. Gue hantam dan usir mereka dengan gagang sapu ijuk. Hahahahaha. Dua ekor kena hantam gagang sapu, dan mereka kabur. Lari tunggang langgang." cerita Mas Gun.
"Hah? Serius lo hantam mereka mas?" tanyaku.
"Iya dooonngg. Hehehehehe. Lagian ngapain ngikutin gue sampai depan kamar. Kena hantam gagang sapu kan jadinya." jawab Mas Gun bangga.
"Aduuhh kasian mas kucingnya kena hantam gagang sapu. Gue nggak bisa bayangin sakitnya kayak apa tuh." ungkap Tika.
"Yaelah Tika. Nggak usah di pikirin. Bukan lo ini yang kena hantam." sahut Mas Gun.
"Terus gimana kelanjutannya mas?" tanyaku yang masih penasaran dengan cerita Mas Gun.
"Oke gue lanjutin ya ceritanya." ucap Mas Gun.
__ADS_1
"Setelah kucing-kucing aneh itu kabur, gue kembali masuk kamar. Gue rebahan di ruang depan sambil menahan lapar yang menyiksa. Cuma air putih dan kopi yang masuk ke dalam mulut gue tadi malam. Gue kembali main game, tujuannya untuk mengalihkan rasa lapar yang gue alami. Tapi di sela-sela main game, tiba-tiba tercium wangi masakan masuk ke dalam kamar. Harum dan enak banget. Perut gue kembali keroncongan. Rasa lapar gue makin buas." cerita Mas Gun.
"Wangi masakan? Dari mana asalnya mas?" tanyaku dengan penasaran.
"Gue nggak tahu Di. Akhirnya gue beranjak dari kamar, dan keluar. Mencari sumber harum masakan yang tercium dari dalam kamar. Wangi masakannya sangat berbeda dengan yang lain. Yang gue rasakan semalam, harumnya bikin perut gue meronta-ronta. Liur gue deras menggenang di dalam mulut. Bagai anjing, gue mengikuti asal harum masakan yang tercium. Gue pikir Tika dan temannya yang sedang masak untuk sahur, karena asal wanginya dari sekitaran kamar sebelah. Tapi setelah gue ikuti, ternyata asal wangi masakan itu dari kebun belakang." terang Mas Gun.
"Hah? Asal wangi masakan dari kebun belakang? Nggak salah tuh mas?" tanyaku.
"Terus gimana mas?" tanya Tika.
"Akhirnya gue ikuti terus wangi masakan itu. Seperti yang gue bilang di awal, rasa lapar membuat otak lo kadang nggak bisa berpikir jernih. Kalau tadi malam gue pikir-pikir lagi, mana mungkin ada orang masak di kebun kosong. Bener nggak? Tapi ya itu, kadang lapar bikin otak nggak sinkron. Pada akhirnya gue terus mengikuti wangi harum masakan hingga masuk lebih dalam ke kebun kosong." cerita Mas Gun.
"Lo sama sekali nggak curiga mas? Wangi masakan berasal dari kebun kosong." tanyaku.
"Otak gue udah nggak mikir apa-apa Di. Dalam benak gue cuma ada makanan, makanan, dan makanan. Nggak ada kepikiran kebun kosong yang gelap dan seram itu." jawab Mas Gun.
"Lalu, setelah sampai kebun, apa lo temuin asal dari wangi masakan itu mas?" tanya Tika.
"Enggak. Yang gue lihat cuma seorang wanita cantik membawa sepiring nasi dan lauk pauk lengkap. Wanita itu duduk di sebuah batang kayu, kulitnya putih dan rambutnya panjang terurai sampai ke tanah. Ia cuma melambaikan tangannya ke arah gue. Memanggil gue, seolah ingin memberikan makanan itu untuk gue. Gue nggak sadar setelah lihat wanita itu melambaikan tangannya. Yang gue ingat, tiba-tiba wanita itu sudah menyuapi gue dengan makanan yang terasa sangaaaaaatt lezat." jelas Mas Gun.
"Wajahnya cantik banget, mirip artis-artis Korea gitu deh pokoknya. Ia senyum ramah, sambil terus menyuapi gue makan. Gue makan dengan lahap nggak berhenti. Dan setelahnya, gue nggak ingat apa-apa lagi." lanjut Mas Gun.
"Terus, bagaimana lo sadar? Apa lo dengar gue panggil-panggil?" tanyaku.
"Nah, itu dia Di. Setelah makan di suapi wanita itu, sepertinya gue ketiduran karena terlalu kenyang. Dan tiba-tiba gue dengar lo panggil. Lo seperti teriak persis di depan telinga gue. Keras banget. Gue bangun karena kaget teriakan lo. Setelah benar-benar sadar, gue kaget ternyata gue ada di atas pohon." ungkap Mas Gun.
"Kalau dari cerita Mas Gun, demit apa yang menjahilinya Tik?" tanyaku pada Tika.
"Hmmm, gue nggak tahu Di. Belum bisa pastiin demit apa. Tapi yang jelas, demit itu sengaja mengincar sisi lemah lo malam tadi mas. Yaitu, lapar. Kalau tujuan menjahilinya gue belum tahu apa." jawab Tika.
Mas Gun menyimak penjelasan Tika.
"Oh iya. Tadi pagi kenapa lo teriak kencang banget mas? Dan setelah itu lo jatuh kan dari atas pohon?" aku lanjut bertanya.
"Aaahh itu Di. Itu yang membuat gue bergidik ngeri." sahut Mas Gun.
"Bergidik ngeri, maksudnya? Apa ada sesuatu yang lo lihat?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Gue lihat lo di bawah, dan di belakang lo berdiri dua orang yang sangat seram Di. Yang satu cewek penuh darah di sekujur tubuhnya, dan yang satu lagi cowok dengan wajah hancur dan nggak ada bola matanya. Hiiiiyyy, ih merinding gue. Tuh, lihat deh! Bulu kuduk gue berdiri." jelas Mas Gun.
Cewek penuh darah di sekujur tubuh? Dan cowok dengan wajah hancur tanpa bola mata? Apa yang Mas Gun lihat itu arwah penasaran Mbak Wati dan Bang Oji?