
Aku menggedor pintu dengan kuat. Nggak, nggak akan kubiarkan Yuda seperti ini. Nggak boleh, Yuda nggak boleh jadi tumbal. Aku orang yang paling menyesal jika sampai itu terjadi. Aku orang paling tak ikhlas. Dan aku orang paling marah dengan Nek Iyah jika sampai itu terjadi.
"Mas Adi. apa nggak sebaiknya di dobrak saja pintu kamar Mas Yuda. Saya khawatir mas." ujar si mbak.
Aku menoleh ke mbak, wajahnya sangat was was. Ia pun terlihat sangat khawatir.
"Bener boleh kalau pintu ini saya dobrak mbak?" tanyaku.
"Iya mas dobrak saja. Nanti saya panggil satpam buat bantu Mas Adi." ucap si mbak seraya pergi turun memanggil bapak satpam.
Sementara si mbak turun, aku tetap menggedor pintu kamar dan memanggil-manggil Yuda. Namun sejauh ini tak ada jawaban dari Yuda. Kemala ikut memanggil Yuda.
Tak berapa lama, si mbak datang bersama bapak satpam.
"Gimana mas? Mau di dobrak saja pintunya?" tanya pak satpam.
"Mbak, boleh di dobrak?" tanyaku ke mbak.
Si mbak mengangguk, "Dobrak saja, nanti saya yang bilang ke bapak dan ibu. Saya yang akan tanggung jawab."
bapak satpam sudah membawa palu, di gunakan untuk memukul gagang pintu. Ia hantam dengan kuat gagang pintu. Sedikit bengkok. Empat kali hantaman, gagang pintu pun rusak. Tapi sayang, pintu masih terkunci.
Keringat bapak satpam membasahi dahinya.
"Kita dorong bareng-bareng saja pak, siapa tahu bisa." saranku.
"Ayo mas. Hitungan ketiga ya!"
Kami mundur sekitar tiga langkah, mengambil ancang-ancang.
"Satuuu!" ucapku.
.
.
.
"Duaaa!"
.
.
.
"Tiga!"
Aku berbarengan dengan bapak satpam, mendorong kuat pintu dengan lengan kami.
Bugg.
Pintu masih terkunci. Tapi setidaknya, ada celah kecil menganga.
"Lagi pak. Yuk!"
Aku mundur dan kembali mengambil ancang-ancang. Sesuai aba-abaku, pada hitungan ketiga, kami pun mendorong lagi pintu. Sayangnya belum juga terbuka. Namun kuncinya tampak sudah mengendur.
"Ayo lagi mas. Sekali lagi bisa nih kita dobrak!" bapak satpam mengajak. Aku mengangguk.
Kini kami mundur agak jauh, sekitar lima langkah dari pintu, agar daya dorong lebih kuat. Si mbak masih menunjukkan wajah khawatirnya, begitu pula Kemala.
"Pak, hitungan ke tiga ya!" ucapku.
Bapak satpam mengangguk penuh yakin.
"Siap pak! Satuuu!" aku sedikit teriak.
.
.
.
"Duaaa!"
.
.
.
"Tigaaaaaa!"
Kami agak berlari. Kumpulkan seluruh tenagaku pada lengan.
__ADS_1
Bugg krakk.
Pintu berhasil kudobrak. Terbuka lebar pintu kamar Yuda.
Aku, bapak satpam masuk lebih dulu. Di ikuti si mbak dan Kemala. Lampu kamar tak menyala. Gelap. Gordyn dan jendela pun tertutup rapat.
Klik. Si mbak menyalakan lampu kamar.
Tampak Yuda terlentang di atas kasurnya. Kamarnya berantakan, bantal berserakan di lantai, selimutnya acak-acakan. Lemari bajunya terbuka, baju dan celananya berhamburan.
Aku segera naik ke atas kasur. Kuperiksa hambusan nafasnya di hidung Yuda. Alhamdulillah, ia masih bernafas. Matanya terpejam. Kutepuk pelan pipi Yuda.
"Da. Yuda. Da."
"Mas, di bawa ke rumah sakit saja mas." ucap si mbak.
"Yuda. Bangun Da. Gue Adi nih Da." masih kutepuk pelan pipinya. Tubuhnya tidak bergerak, matanya masih terpejam.
"Adi, kita bawa ke rumah sakit aja yuk." Kemala berkata. Aku pun setuju.
Akhirnya aku dan bapak satpam menggotong Yuda. Kami menggotong Yuda menuruni anak tangga satu persatu dengan pelan. Sampailah kami di lantai bawah, lalu menuju ke garasi mobil. Tapi begitu hendak menggotong Yuda ke garasi, tiba-tiba kelopak mata Yuda bergerak-gerak. Matanya terbuka perlahan-lahan.
"Sebentar sebentar!" ucapku. "Yuda sadar. Yuda sadar!" aku dan bapak satpam akhirnya menidurkan Yuda di sofa panjang yang ada di ruang tamu. Mata Yuda nyalang sepenuhnya.
"Yuda. Yuda. Bangun Da." aku menepuk pelan pipinya.
Yuda menatapku. Ia terlihat heran menatapku, tatapannya tajam.
"Yuda. Gue Adi. Lo nggak apa-apa Da?" aku berucap.
Ia menatapku seolah heran.
"Mas Yuda. Mas Yuda, nggak apa-apa?" si mbak bertanya.
Yuda melepas tatapannya dari mataku. Ia kini melihat sekeliling. Ia masih tampak heran dengan apa yang ia lihat.
"Yuda. Da, lo kenapa Da?" aku bertanya kembali. "Gue Adi nih Da."
Yuda tersenyum melihatku. Wajahnya sumringah. Lalu tertawa terkekeh.
"Eh ada Adi. Hehehehehe." ucap Yuda sambil cekikikan. Suaranya seperti bukan suara Yuda.
Kami yang melihat Yuda mengucapkan kata mendadak senang. Wajah mbak makin berseri.
"Hehehehehe. Asiikk ada Adi. Horeee." Yuda tepuk tangan pelan.
"Mas Yuda. Mas Yuda. Mas Yuda kenapa?" si mbak pun heran melihat Yuda.
"Hehehehehe. Adiii. Aku kangen sama Adi. Akhirnya Adi datang juga. Yes yes yes." tingkah Yuda seperti anak kecil. Sungguh aneh dan mengherankan.
"Mas Adi. Mas Yuda kenapa mas?" si mbak bertanya.
"Iya mas. Kok Mas Yuda jadi aneh seperti ini?" bapak satpam bertanya.
Yuda bangun dari rebahnya, ia duduk. Wajahnya benderang sambil bertepuk tangan.
"Yeeeyy ada Adi. Aku senang kalau ada Adiii. Hehehehehe."
Aku bangun dan mundur perlahan. Tingkah Yuda jadi aneh. Ini bukan Yuda. Jelas ini bukan Yuda. Tak mungkin Yuda seperti ini.
"Yuda, lo kenapa Da?" tanyaku.
"Hehehehehe. Aku nggak apa-apa Adiii. Aku baik-baik saja kok. Adi kenapa lama banget datangnya sih." jawab Yuda.
"Hei, siapa lo?" bentakku ke Yuda. "Lo bukan Yuda. Siapa lo?"
Tiba-tiba raut wajah Yuda berubah menjadi sedih, seperti anak kecil yang habis di marahi.
"Hu hu hu hu." Yuda menangis secara tiba-tiba. Air matanya mengucur membasahi pipinya. Kami semua heran dengan kelakuan Yuda.
"Adi jahat sama aku. Hu hu hu hu hu." ucapnya sambil merajuk.
Aku jongkok di depan Yuda. "Iya maaf, maafin aku yaa. Maaf udah bentak-bentak kamu. Sekarang aku tanya nih, memang ini siapa? Ini pasti bukan Yuda kan?" tanyaku dengan suara pelan.
Yuda berhenti menangis, lalu menyeka air matanya di pipi. Ia masih sesenggukan. Lalu menatapku dengan tatap lugu.
"Sudah yaa, diam yaa. Aku mau tanya, ini siapa? Nggak mungkin ini Yuda kan?" aku kembali bertanya.
Yuda menatapku.
"Aku, aku Kubil." ucapnya.
Apa, Kubil? Siapa Kubil? Kami semua saling tatap dengan penuh heran.
"Kubil? Kubil dari mana?" tanya bapak satpam.
__ADS_1
"Aku dari loteng. Tapi di loteng nggak enak, soalnya gelap. Aku lebih suka di sini." jawabnya.
Loteng? Aku jadi merinding, ini bukan Yuda. Kubil ini merasuki Yuda. Si mbak tiba-tiba menangis. Kemala mengajak mbak menjauh dari kerumunan kami, mencoba menenangkan.
"Memang Kubil dari loteng mana?" tanyaku amat penasaran.
Yuda memandangi kami satu persatu dengan tatapan nanar.
"Aku kok nggak kenal kalian?" tanya Yuda dengan suara lirih. "Aku cuma kenal sama Adi." ucap Yuda. "Kalian semua siapa?" tanya Yuda.
"Heh! Kamu jawab jangan ngalor ngidul?" bapak satpam membentak.
Yuda kembali menangis, kali ini sambil merengek akibat di bentak. Aku memberi kode ke bapak satpam untuk diam, bapak satpam mengangguk.
"Udah udah, maafin om itu yaa. Udah jangan nangis yaa. Maafin om itu ya." ucapku menenangkan sambil menepuk-nepuk lututnya.
Tangis Yuda berangsur menurun, yang tadinya merengek. Ia menurut denganku. Kubil ini ternyata sosok anak kecil sejak tadi kuperhatikan.
"Kubil, aku mau tanya ya sekarang. Udah, diam yaa jangan nangis lagi." aku kembali menenangkan. Tangis Yuda pun berhenti.
"Nah, sekarang aku mau tanya. Kubil memang tinggal di loteng mana sebelumnya? Masa nggak kenal sama om yang marahin Kubil tadi?" tanyaku dengan suara pelan.
"Aku haus nih Adiii." balas Kubil.
"Ooh, Kubil mau minum apa?" tanyaku.
"Aku mau kelapa muda." jawabnya.
Hah, kelapa muda? Aku tak mau menuruti permintaannya. Aku panggil si mbak, kubisiki meminta es sirup. Mbak pun ke dapur. Dan tak lama kemudian, si mbak kembali membawa segelas es sirup berwarna orens. Terlihat menyegarkan jika di minum saat siang begini. Si mbak menyerahkan segelas es sirup padaku.
"Kubil, kelapa muda nggak ada. Adanya ini nih! Tuuhh lihat deh! Seger banget nih." aku mengangkat gelas sirup, menggoda Kubil.
"Emang itu apa sih? Emang enak?" tanya Yuda alias Kubil.
"Enak banget lhoo! Dingin lagi nih. Coba deh!" kuserahkan gelas sirup yang berembun karena es sirup.
Yuda alias Kubil pun mengambil gelas sirup. Ia mengedus-endus, lidahnya di julurkan mencicipi air berwarna orens, mengecapnya dan diam. Lalu wajahnya sumringah, dan menenggak segelas es sirup dengan cepat. Segelas es sirup habis tak bersisa. Terakhir, Yuda alias Kubil sendawa dengan keras.
"Naahh, sudah enak kan?" tanyaku.
Wajah Yuda tampak mengilap.
"Nah, sekarang aku boleh tanya?"
"Boleh boleh. Adi mau tanya apa?" Yuda alias Kubil berkata.
"Kubil, memang Kubil sebelumnya tinggal di mana?" tanyaku.
"Di loteng. Aku tinggal di loteng gelap. Banyak debu, banyak tikus, banyak laba-laba, kotor tempatnya. Aku nggak suka Adiii." jawabnya.
"Oooh gitu. Nggak enak ya tinggal di loteng?" tanyaku.
"Iya Adiii, rame dan sempit, banyak temen-temen wajahnya serem. Hiiiiyy takuuutt." jawabnya lagi.
"Temen-temen? Temen-temennya memang apa?" tanyaku mengorek Kubil.
"Sama seperti aku Adiii." tukasnya.
"Iya apa?"
"Demit juga."
Deg. Demit?
Si mbak menangis. Kemala menenangkan si mbak. Bapak satpam diam dan tampak sedikit terkejut.
"Kubil, memang di loteng atas banyak demit?" bapak satpam bertanya.
"Bukan loteng rumah sini om." jawabnya.
Hah? Bukan loteng rumah ini? Lalu, loteng rumah mana?
"Kalau bukan loteng rumah ini, memang loteng rumah mana?" tanyaku.
Yuda alias Kubil diam. Matanya melirik kami satu persatu.
"Loteng rumah siapa?" aku kembali bertanya.
"Rumah kosong itu." jawabnya.
"Rumah kosong mana Kubil?" aku penasaran.
Raut wajah Yuda tampak ragu.
"Rumah kosong yang ada di depan rumah Nyi Badriyah." jawab Kubil.
__ADS_1
Aku terkaget. Kemala bingung, si mbak masih menangis, bapak satpam bingung.
Rumah kosong di depan rumah Nek Iyah? Rumah tempat jenazah kawanku Bagas di temukan?