
"Heh, malah pada ketawa-ketiwi. Udah buruan lanjutin Da. Jangan bikin orang penasaran deh!" Mas Gun sungut-sungut.
"Hehehehehe. Iya iya Mas." sahut Yuda.
Yuda menyeruput kopi sedikit. Ia mengambil sebatang rokok, menyalakan korek dan membakar rokok. Menghisapnya dalam, lalu meniup asapnya.
"Yaelaaaahh, banyak amat ritualnya sih mau cerita aja. Pakai nyeruput kopi dulu, bakar rokok segala. Lama-lama pegal gue lihat lo Da." Mas Gun kembali mengoceh.
Yuda cengengesan, aku hanya terkekeh.
"Gini, mobil itu dipegang oleh montir bernama Tarjo. Tarjo itu montir andalan Om Panji di bengkelnya. Kata Om Panji, tangan Tarjo seperti mempunyai kekuatan sihir. Kerusakan mobil sesulit apapun bisa diselesaikan oleh Tarjo." Yuda memulai cerita.
"Tarjo orangnya profesional dalam bekerja. Karena bengkel mobil milik om gue bukan bengkel mobil antik, jadi Tarjo selalu mengerjakan mobil gue saat bengkel sudah tutup. Karena dari pagi sampai sore, bengkel selalu dipenuhi oleh mobil-mobil biasa. Jadi, dari pagi sampai sore Tarjo mengerjakan mobil pelanggan. Malamnya mengerjakan mobil gue. Lo ingat kan Di, kalau mobil gue di parkir di belakang?"
"Oohh iya iya. Gue ingat. Alasannya apa Da?" tanyaku.
"Ya karena bengkel Om Panji bukan bengkel mobil antik. Makanya di parkir di belakang."
"Lalu, anehnya dimana Da?" tanya Mas Gun.
"Sabar Mas, ini kan intro dulu. Lagu aja ada intronya." kataku. Mas Gun senyum-senyum.
"Awal keanehan terjadi saat Om Panji bilang montirnya yang paling jago sakit. Ingat nggak Di, saat kita ke bengkel waktu itu. Om Panji bilang montirnya yang paling jago sedang sakit, atau kerasukan?" Yuda bertanya.
"Aaahh iya iya. Gue ingat banget. Om lo bilang nggak percaya dengan hal begitu kan!" sahutku.
"Iya bener. Om Panji memang nggak percaya dengan hal-hal diluar logika dan nalar. Nah, montir itu Tarjo." tambah Yuda.
"Malamnya gue sempat mampir ke bengkel. Gue kan dari sini tuh, gue juga sempat mengajak lo untuk nginap dirumah gue kan Di?"
"Iya iya. Gue bilang nggak mau kan."
"Bilang nggak mau, tapi tiba-tiba udah nongol dirumah gue." balas Yuda.
"Eh." tegur Mas Gun.
"Ini mau mulai ceritanya dari mana sih? Flashback mulu, gue jadi bingung. Coba cerita dari awal!" gerutu Mas Gun.
"Oke deh. Gini mas, gue cerita dari awal banget deh. Saat itu gue mengajak Adi untuk nginap dirumah gue. Tapi Adi nggak mau, akhirnya gue pulang. Sebelum pulang ke rumah, gue mampir ke bengkel untuk lihat mobil. Tapi bengkelnya di tutup. Yaudah, akhirnya gue balik ke rumah. Begitu sampai di rumah, tahu-tahu Adi udah sampai di rumah gue. Gue bingung, tadi diajak bilangnya nggak mau." jelas Yuda.
"Astaghfirullah Da!" ucapku.
Yuda dan Mas Gun terkejut.
"Apaan sih lo? Bikin kaget aja." sahut Yuda.
"Tau nih. Ada apaan Di?" tanya Mas Gun.
"Gue baru ingat Da. Gue baru ingat. Lo tahu nggak alasan gue malam itu ke rumah lo?" tanyaku pada Yuda.
Yuda menggeleng.
"Saat lo pulang itu, gue lihat ada sosok putih berambut panjang yang duduk membonceng di jok belakang motor lo. Sosok itu terlihat, begitu lo melewati kebun kosong di jalan tanjakan keluar gang sana." ceritaku.
"Ah yang bener lo Di?" tanya Yuda.
__ADS_1
"Demi apapun Da. Gue nggak ngarang." aku bersumpah.
"Serius Di?" tanya Mas Gun.
"Serius Mas."
"Saat motor Yuda melaju melewati kebun kosong itu, tiba-tiba sosok putih dengan rambut panjang duduk membonceng. Gue teriak panggil-panggil lo Da. Cuma karena jarak udah terlalu jauh, mungkin lo nggak dengar." jelasku.
"Terus?" tanya Yuda.
"Karena panik dan khawatir, gue memutuskan untuk mengejar lo pakai ojek. Abang ojek gue suruh ngebut. Sampai di rumah lo, ternyata lo belum pulang. Disitu gue sangat khawatir, gue takut sesuatu yang buruk terjadi sama lo." ujarku.
"Tapi begitu lo sampai rumah, sosok putih sudah nggak ada." lanjutku.
Yuda berpikir.
"Mungkin nggak sih sosok yang lo lihat membonceng itu, turun di bengkel Om Panji?" tanya Yuda.
Aku berpikir, Mas Gun berpikir.
"Bisa jadi Da." ucap Mas Gun.
"Iya Da. Ada kemungkinan sosok itu turun di bengkel om lo. Karena lo nggak langsung pulang ke rumah kan." sahutku.
"Berarti ada yang mau jahatin gue dong Di?" tanya Yuda.
Aku dan Mas Gun saling pandang.
"Mungkin kalau malam itu gue nggak mampir ke bengkel, bisa jadi sosok itu turun di rumah dan sosok itu yang akan mengganggu gue di rumah. Bener nggak?"
Yuda menggeleng.
Aku diam.
"Lalu, gimana kejadian aneh di bengkel om lo?" tanya Mas Gun.
"Ah iya, sampai lupa cerita intinya. Hehehehe." Yuda terkekeh. Ia kembali membakar sebatang rokok sebelum melanjutkan ceritanya.
"Jadi, saat Tarjo memperbaiki mobil gue malam hari. Ia selalu mendengar suara tangis bayi di sekitaran mobil gue. Hampir tiap malam. Namun karena Tarjo cuek, ia selalu tak menggubris suara tangis bayi itu." cerita Yuda.
Tangis bayi? Sudah lama tak kudengar suara itu.
"Terus?" tanyaku.
"Puncaknya, saat itu malam Jumat. Kebetulan beberapa montir yang tinggal di bengkel sedang pulang kampung. Tinggal Tarjo sendirian di bengkel. Tarjo cerita, malam itu saat ia sedang membetulkan mobil gue ia tak mendengar lagi suara tangis bayi. Tarjo merasa lega. Setelah selesai, sekitar jam sebelas malam ia mandi. Di dalam kamar mandi Tarjo mendengar suara cekikikan. Lo tahu dong suara cekikikan cewek Di?"
Aku mengangguk. Mas Gun yang mendengar cerita Yuda sesekali mengusap-usap tangannya, bulu kuduknya berdiri.
"Terus?" tanya Mas Gun.
"Selesai mandi, itulah saat-saat yang bikin Tarjo merinding ketakutan." ucap Yuda.
"Memang apa Da?" tanyaku.
"Iya. Memang Tarjo lihat apa?" Mas Gun ikut bertanya.
__ADS_1
"Tarjo lihat sesosok wanita berambut panjang, memakai pakaian putih hingga menutup kakinya. Wanita itu sedang duduk di atas mobil sambil uncang-uncang kaki. Dan kembali terdengar suara tangis bayi." terang Yuda.
"Tarjo yang seumur hidup belum pernah sekalipun melihat hal macam itu, akhirnya lari keluar bengkel hanya dengan memakai handuk."
"Hahahahaha. Lucu juga ya. Terus terus?" sahut Mas Gun.
"Nggak berapa lama, Tarjo kembali melihat ke dalam bengkel. Tepatnya ke mobil gue, dan sosok wanita bergaun putih sudah nggak ada." lanjut Yuda.
"Udah? Gitu doang anehnya?" tanyaku.
"Nggak sampai di situ. Kamar para montir memang tepat berada di belakang bengkel. Dan mobil gue tepat berada di depan kamar para montir. Saat Tarjo sedang asik ngopi di depan kamar, samar-samar ia melihat sosok wanita sedang duduk di jok belakang. Wanita itu sedang menangis mengulun-ngulun. Karena penasaran, Tarjo mendekat ke mobil. Di lihatnya wanita itu masih menangis. Tapi alangkah kagetnya Tarjo ketika ia membuka pintu.." Yuda berhenti sejenak.
Aku dan Mas Gun menanti kelanjutan ceritanya dengan rasa penasaran.
"Ketika Tarjo membuka pintu, sosok wanita itu sudah nggak ada. Tarjo merasa ketakutan, ia pun masuk kamar dan segera pergi tidur."
Yuda bercerita lagi, kalau malam itu menjadi malam yang sangat panjang buat Tarjo. Saat hendak pulas tidur, tiba-tiba tubuh Tarjo merasa seperti di tindih. Ia sulit bernafas dan menggerakkan tubuhnya. Ketika ia membuka matanya, Tarjo terkejut sosok wanita yang ia lihat duduk di atas mobil kini sudah duduk di atas perutnya. Lalu wangi harum bunga melati memenuhi seisi kamar. Tarjo tak bisa berbuat apa-apa. Sosok wanita itu tertawa cekikikan.
"Waaahh, gue nggak tahu kalau gue ada di posisi Tarjo. Pasti udah pingsan kali." ucap Mas Gun.
"Terus Da?" tanyaku.
"Tarjo memejamkan matanya, ia membaca doa yang ia hapal sembari mengumpulkan tenaga. Ketika tenaga dirasa cukup, Tarjo menghentakkan tubuhnya dengan kuat. Akhirnya ia sepenuhnya bangun dan sadar. Tanpa pikir panjang, Tarjo segera lari keluar kamar." cerita Yuda.
"Begitu keluar kamar, ia dikejutkan dengan penampakan sosok wanita itu lagi. Kini wanita tersebut tengah duduk di atas mobil, sambil uncang-uncang kaki dan tawa mengikik." lanjut Yuda.
Aku dan Mas Gun mendengarkan dengan seksama.
"Tiba-tibaa.." Yuda memasang wajah angker.
Aku menahan nafas.
Mas Gun menelan ludah.
"Tep. Lampu di bengkel mati total. Suara tawa cekikikan terdengar, membuat bulu kuduk berdiri." ucap Yuda.
"Terus, gimana nasib Tarjo Da?" tanyaku.
"Ia lari mencari pintu keluar. Beberapa kali ia jatuh tersandung. Menghantam peralatan bengkel, menabrak apapun yang menghalanginya. Beruntungnya ia segera menemukan pintu keluar bengkel. Tarjo berlari mencari tempat ramai. Malam itu ia tidur di warung kopi dekat bengkel." cerita Yuda.
"Terus?" tanya Mas Gun.
"Paginya Om Panji mengubungi gue. Om Panji bilang mobil gue sudah rampung dan sudah bisa di pakai. Ia menyuruh gue untuk secepatnya mengambil mobil itu. Tanpa memberi tahu alasannya."
"Lalu? Mobil lo ambil hari itu juga?" tanyaku.
"Hari itu gue ambil mobilnya. Awalnya Om Panji tak cerita soal kejadian yang dialami Tarjo. Sampai akhirnya, Tarjo sendiri yang memberitahu gue. Tarjo menyarankan untuk segera menjual mobil itu, ia takut mobil itu membawa petaka buat gue." terang Yuda.
"Setelah Tarjo cerita dan menyuruh lo untuk menjual mobil itu, apa lo langsung percaya dengannya?" tanyaku.
"Nggak terlalu sih. Makanya mobil itu sempat nongkrong di garasi rumah beberapa hari." jawab Yuda.
"Lalu, apa ada kejadian aneh yang lo alami selama mobil itu ada di rumah lo?" tanyaku.
Yuda diam. Ia menatapku dan Mas Gun dalam.
__ADS_1
Kemudian Yuda mengangguk pelan.