
Sore hari menjelang. Keramaian di rumah Nek Iyah pun sudah usai. Para petugas sudah kembali ke kantor, orang tua almarhum Bagas pun sudah pamit pulang. Tinggal aku duduk melamun di teras kamar kost.
Info dari petugas, nanti malam jenazah Bagas akan di antar kerumah duka. Aku dan Yuda pun nanti malam akan pergi ke rumah Bagas. Rencananya jenazah akan di makamkan esok pagi.
Tiiiiinnn..
Suara klakson motor Bang Oji memecah lamunanku. Eh, sejak kapan ia datang? Tiba-tiba motornya sudah terparkir di depan kamarku. Bang Oji duduk di atas motornya, kaca helm-nya masih tertutup rapat.
Ia mematikan mesin motor, lalu turun dan menghampiriku seraya membuka helm-nya.
"Heh, ngelamun aja lo! Nanti ke sambet aja." candanya. Bang Oji lalu duduk di sampingku.
"Pulang gawe bang?" tanyaku.
Ia menghela napas panjang, dan bersandar ke dinding.
"Iya nih. Hadeeh, capek banget gue. Lo ngapain sendirian ngelamun? Mikirn apa sih? Negara? Hahahaha." ledeknya. Biasa, Bang Oji dengan celetukan becandanya.
"Hahahahaha. Nggak mikirin apa apa bang." jawabku singkat.
"Ah, bohong lo. Nggak mungkin nggak mikirin apa apa. Eh, ngopi yuk!" ajaknya.
"Ngopi dimana bang?"
"Di sini, emang lo pikir gue punya uang buat ngopi di cafe? Hahahaha." sambar Bang Oji.
"Bentar, gue bikin kopi dulu. Jangan kemana-mana ya. I'll be right back." tukasnya menirukan gaya Mas Arnold Schwarzenegger dalam film Terminator.
Aku senyum melihat tingkahnya, dasar bocah tua!
Sore ini suasana lebih tenang, langit belum temaram. Tapi cahaya jingga di pelupuk barat sudah terlukis indah, sebentar lagi maghrib. Bang Oji datang membawa dua cangkir kopi. Mengenakan celana buntung dan kaus putih sudah usang dengan robek di sana sini.
"Silakan Mas Adi kopinya." ia memberikan secangkir kopi padaku, lalu duduk tepat di sebelah kananku.
Bang Oji duduk bersandar sambil menatap langit sore.
"Ada masalah apa Di?" tanya Bang Oji pelan. Matanya masih terpaku pada langit yang perlahan temaram.
"Eh, apaan bang?"
"Lo ada masalah apa? Berat banget ya?" tanya Bang Oji kembali.
Aku terdiam. Mengambil cangkir kopi, meniupnya pelan, kemudian menyeruputnya sedikit. Ah nikmat.
__ADS_1
"Cerita aja Di! Jangan di simpen sendiri." ucap Bang Oji sembari membakar sebatang rokok.
"Anu bang, gini. Gue bingung mau mulai dari mana." aku membuka obrolan.
Bang Oji menyeruput kopinya.
"Di, mata lo bengkak. Gue tahu lo habis nangis. Nggak mungkin lo nangis nggak ada sebab. Nggak mungkin juga lo nangis gara-gara kangen sama ortu di kampung. Bener nggak?" ucap Bang Oji.
Aku mengangguk pelan.
Aku pun menceritakan seluruh kejadian yang kualami, hingga kehilangan sahabatku, Bagas. Bang Oji hanya mendengarkan dengan seksama, ia tak berkata sedikitpun. Ia menjadi pendengar yang baik. Tak ada candaan ataupun celetukan isengnya.
Adzan maghrib pun terdengar, sayup namun merdu.
"Shalat dulu sana! Nanti kita lanjut lagi. Tenangin pikiran dulu. Siapa tahu kena air wudhu, jadi lebih tenang. Sana!" suruhnya. Aku pun berlalu. Bang Oji kembali ke kamarnya. Dua cangkir kopi masih terpajang rapi di depan teras kamarku.
Aku masuk ke kamar mandi, pintu kamar mandi sengaja tak kututup rapat. Aku membungkuk membuka kran air, di lanjutkan dengan berwudhu.
Ngiik ngiik
Suara apa itu? Kuacuhkan, aku tetap berwudhu.
Ngiik ngiik ngiik
Apa itu? Aku berhenti berwudhu. Mataku terbelalak melihat penampakan kaki. Sepasang kaki dengan kulit pucat, kukunya hitam. Ada beberapa luka sayatan yang mengeluarkan darah. Urat-uratnya terlihat menonjol berwarna biru. Sepasang kaki itu tak menapak di lantai. Lalu bergoyang maju mundur, si pemilik kaki seperti menggantung. Lalu bunyi ngiik ngiik kembali terdengar.
Jantungku berdegup kencang. Bibirku gemetar. Aku tak bisa berkata. Aku ketakutan. Bulu kudukku seketika bangun. Sepasang kaki masih bergoyang. Jelas, amat jelas. Aku mengucek mataku kuat. Dan sepasang kaki masih terlihat menyeramkan dari celah pintu. Ini bukan mimpi, ini bukan halusinasiku. Ini nyata. Sepasang kaki itu nyata.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa.."
Aku teriak dengan kuat, ku dorong pintu kamar mandi, aku berlari kencang ke luar kamar. Napasku tersengal-sengal. Aku membungkuk di depan teras kamarku, sambil mengatur napas. Kulihat ke arah depan kamar mandi. Kosong. Tak ada apa-apa. Lalu, sepasang kaki siapa tadi?
Aku menuju kamar Bang Oji. Kuketuka kuat pintu kamar Bang Oji.
"Bang. Bang. Bang Oji."
Bang Oji membuka pintu.
"Kenapa lo Di?" tanya Bang Oji.
"Gue numpang shalat di kamar lo ya." pintaku sembari melihat ke arah kamarku.
"Oh, yaudah. Lo kenapa sih?"
__ADS_1
Aku shalat di ruang depan kamar Bang Oji. Bang Oji menungguku di teras depan kamarnya. Setelah selesai shalat, aku menghampirinya. Nampak Bang Oji sedang asik menyedot rokoknya.
"Mau nongkrong di sini, apa di depan kamar lo?" tanya Bang Oji.
"Di sana aja yuk bang. Kan kopinya ada di sana." tunjukku ke depan kamar 11b.
"Bang, gue mau tanya dong." ucapku.
"Tanya apa?"
"Kost ini emang angker ya?"
"Hah? Angker? Memabukkan dong? Hahahahaha." lagi-lagi Bang Oji becanda.
"Yeee serius gue bang." aku mendorong lengan Bang Oji pelan.
"Hahahahaha, kenapa lo bisa mikir gitu sih?" tanya Bang Oji.
"Em, nggak tahu deh. Perasaan gue aja sih." jawabku sekenanya.
"Jangan pakai perasaan, nanti kalo bertepuk sebelah tangan sakit. Hahahahaha." Bang Oji kembali menjawab dengan candaan, kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
Triiiingg triiiingg
Yuda? Apa ia sudah sampai di depan gerbang? Ya, rencana kami malam ini memang ingin ke rumah duka. Mendoakan almarhum kawan kami, Bagas.
Kujawab.
"Assalamualaikum Da. Lo udah di depan?" tanyaku.
Krrrrkk krrrkk.. Bzzzz..
"Da. Yuda. Lo dimana?" tanyaku.
Tak ada jawaban dari Yuda, yang terdengar hanya suara tak beraturan dan tak jelas.
"Yuda. Woi, lo jadi ke kost gue?"
Krrrkk krrrkk..
Tak jelas terdengar.
Bzzzzz Bzzzz..
__ADS_1
Ah, dasar bocah jail. Lalu kututup telpon dari Yuda dan tak kuhiraukan.