Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 178


__ADS_3

"Di, kenapa sih ngajak pulang buru-buru. Nggak enak sama Kang Ujang." Mas Gun membalas.


"Mas, lo mau ikut gue balik atau mau disini? Terserah, lo pilih!" ucapku.


"Apa alasannya lo ngajak balik buru-buru?" tanya Mas Gun.


"Nanti gue jelasin sambil jalan. Ayo Mas!" aku memaksa.


Mas Gun berdiri.


"Kita nggak pamit dulu sama Kang Ujang?" tanya Mas Gun.


"Nggak usah! Ayo buruan Mas."


Kami baru melangkah mendekat ke arah pintu rumah. Tiba-tiba..


Ngiiiiiikk. Brakk. Pintu tertutup sendiri.


Aku dan Mas Gun lompat terkejut.


"Astaghfirullah. Di, ada apa ini Di?" tanya Mas Gun was-was.


Sudah mulaikah serangan kuntilanak merah?


Bzzzztt. Bzzztt. Lampu berkedip.


Dan..


Tep. Tiba-tiba lampu rumah padam.


"Allahu Akbar!" Mas Gun terkejut.


"Ya ampun, apa lagi nih Di?" ucap Mas Gun memegang erat tanganku.


Jantungku berdegup cepat.


Gelap. Sangat gelap. Tak ada cahaya sedikit pun. Bahkan cahaya bulan pun tak nampak.


"Mas, nyalain senter dari hape." suruhku.


Mas Gun menyalakan senter di ponselnya. Cukup untuk menerangi pemandangan sekeliling ruangan.


"Di, ada apa sebenarnya ini Di?" tanya Mas Gun.


"Gue yakin kalau Kang Ujang ternyata kaki-tangan Nek Iyah Mas." jawabku.


"Bagaimana lo tahu kalau Kang Ujang kaki-tangan Nek Iyah?" tanya Mas Gun.


"Udah nanti aja gue jelasinnya. Sekarang, kita harus cepat keluar dari rumah ini." balasku.


Mas Gun menyinari ruangan. Kami pun menuju pintu rumah.


Gila. Keras sekali. Gagang pintu tak bergerak. Mas Gun mengambil alih. Ia mencoba membuka pintu. Namun gagang pintu tak juga bergerak. Pintu pun tak dapat dibuka.


"Di, ini jelas ada yang nggak beres nih." ucap Mas Gun.


Aku mengangguk.


"Dekat dapur ada pintu, mungkin itu pintu belakang rumah ini. Ayo kita coba buka pintu itu Mas." ajakku.


Mas Gun mengiyakan.


Mas Gun berjalan di depanku, ia masih memegang ponselnya guna menerangi padangan kami.


Tak ada suara dari Kang Ujang. Dimana ia?


"KANG. KANG UJANG!" panggil Mas Gun.


Plakk. Aku menepuk pundak Mas Gun.


"Buat apa panggil-panggil Kang Ujang Mas?" tanyaku.


"Sekedar memastikan aja Di."


Kami melangkah pelan menuju ruang belakang.


Prang Klontanngg. Suara alat dapur jatuh. Suaranya nyaring terdengar.


Aku dan Mas Gun lompat terkejut.


"KANG UJANG!" panggil Mas Gun lagi.


Tak ada jawaban dari Kang Ujang.


Kami sampai di dapur. Mas Gun menyinari sekeliling dapur. Banyak alat dapur berjatuhan di lantai. Terlihat wajan, panci, beberapa piring dan gelas yang pecah. Berhamburan di lantai. Namun tak ada tanda-tanda keberadaan Kang Ujang.


"Kemana ya si Ujang?" tanya Mas Gun.


"Mas, itu pintunya tuh!" tunjukku.


Kami mendekat ke arah pintu. Mas Gun mencoba membuka, tapi tetap saja gagang pintu tak bergerak.


"Kita dobrak saja Di."


"Ayo Mas."


"Sesuai aba-aba gue ya." ucap Mas Gun.


Aku mengangguk.


Kami mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang.


"Satu!" Mas Gun menghitung.

__ADS_1


"Dua!"


.


.


.


.


"Tigaaa!"


Kami maju dengan kekuatan bertumpu di lengan.


BUAKKK.


Pintu tak terbuka. Hanya sakit di lenganku yang terasa.


"Lagi Mas?" tanyaku.


"Ayo Di."


Kami kembali mundur beberapa langkah ke belakang.


Mas Gun lagi-lagi menghitung memberi aba-aba.


"Satuu!"


"Duaa!"


.


.


"Tigaaaa!"


Kami berlari kecil lalu menubrukkan badan kami ke pintu.


BUAKKK.


Pintu belum terbuka. Masih terkunci dengan kuat.


Tiba-tiba..


Sett.


"Waaaaa!" Mas Gun teriak, membuatku terhenyak.


"Mas, apaan sih Mas? Ada apa? Bikin kaget aja. Kenapa?" tanyaku sedikit panik.


"Lo nggak ngerasa ada sesuatu yang lewat di belakang kita?" tanya Mas Gun dengan wajah basah penuh keringat.


"Dimana? Gue nggak ngerasa. Jangan bercanda Mas."


Saat kami berdebat soal sesuatu yang lewat di belakang Mas Gun. Tiba-tiba saja suara yang membuat kami sedikit bisa bernapas dengan lega.


Ngiiiiiiikkk. Brakk.


Klekk.


.


.


Ngiiiiiiikkk. Brakk.


Klekk.


.


.


"Diam!" kata Mas Gun.


Ngiiiiiiikkk. Brakk.


Klekk.


.


.


"Suara apa tuh?" tanya Mas Gun.


Ngiiiiiiiikkk. Brakk.


Klekk.


.


.


.


"Suara pintu terbuka!" aku dan Mas Gun berbarengan.


Dengan tergopoh, aku dan Mas Gun buru-buru meninggalkan dapur.


Benar feeling kami. Memang suara pintu yang terbuka. Namun yang membuatku merinding adalah, pintu itu terbuka dan tertutup dengan sendirinya.


"Mas." panggilku pelan.


Kami belum memutuskan untuk lari dan keluar dari rumah ini. Kami hanya berdiri mematung di tengah ruangan. Di hadapanku dan Mas Gun ada pintu yang terbuka dan tertutup dengan sendirinya.

__ADS_1


Ngiiiiikkk. Brakk.


Klekk.


"Di, lari atau jangan nih?" tanya Mas Gun dengan suara sedikit bergetar.


Aku menelan ludah. Dahiku basah oleh keringat.


Tiba-tiba..


Syuuuuuuuuuuuu. Angin bertiup kencang dari luar rumah. Merangsek masuk, membuat hawa menjadi dingin.


Tirai yang menutupi kamar melambai terbang.


Hingga kulihat sesosok tubuh yang sangat kukenal.


Kang Ujang.


"Mas. Mas. Di kamar itu ada Kang Ujang." aku memberitahu Mas Gun.


Tirai masih melambai-lambai. Kini sangat jelas sosok Kang Ujang yang berdiri di sudut ruangan. Wajahnya tertunduk menghadap ke dinding.


"Hehehehehehe." terdengar Kang Ujang terkekeh.


"Kang. Kang Ujang." panggil Mas Gun.


"Hehehehehe." Kang Ujang hanya tertawa.


Kami bergerak, melangkah dengan pelan masuk kamar tempat Kang Ujang berdiri.


"Kang Ujang." panggilku.


"Hehehehehehe." Kang Ujang tak menanggapi panggilanku dan Mas Gun. Ia hanya terkekeh dengan wajah tetap menghadap dinding.


Lampu rumah masih padam. Gelap sangat terasa. Dan Mas Gun masih menggunakan senter dari ponselnya. Sementara pintu yang terbuka dan tertutup sendiri, masih terdengar.


Mas Gun mengarahkan cahaya senter ke arah Kang Ujang.


"Kang Ujang." panggilku.


Tanganku hendak meraih pundak Kang Ujang dengan perlahan.


Namun, tiba-tiba saja tubuh Kang Ujang berbalik menghadapku. Cahaya dari senter ponsel Mas Gun menerangi wajah Kang Ujang.


Bola mata Kang Ujang berwarna putih, matanya terbelalak. Mulutnya komat-kamit tak jelas apa yang ia katakan.


Aku dan Mas Gun, mundur menjauh.


Kang Ujang berhenti komat-kamit.


"Hehehehehehe. Adi Adi. Naas betul nasibmu Adi. Kau datang kesini hanya untuk mengantar nyawa. Hehehehehe." tiba-tiba Kang Ujang berucap.


Aku dan Mas Gun hanya tertegun.


"Ada yang ingin kau tanyakan? Hehehehehe." Kang Ujang berkata sambil melangkah mendekati kami.


Aku dan Mas Gun mundur perlahan, keluar dari kamar.


"Kenapa kau terlihat bingung Adi? Tenang, akan kuberi tahu semuanya tanpa harus kau bertanya. Hehehehehe." ujar Kang Ujang.


"Pertama-tama, akan kuberitahu hal terpenting. Salah satu kabar gembira. Bahwa sekarang, akulah pemilik kuntilanak merah. Aku adalah tuan barunya. Sebentar lagi, Nenek tua itu akan menemani kalian menjadi pengikut iblis peliharaanku. Hahahahaha. Akulah yang berkuasa untuk menentukan siapa tumbal yang akan diambil oleh kuntilanak merah." jelas Kang Ujang.


"Kau terkejut dengan kabar ini bukan?" tanya Kang Ujang.


"Kenapa Kang? Kenapa Kang Ujang jadi seperti ini? Kang Ujang orang baik, tak seharusnya seperti ini." balasku.


"Kenapa aku seperti ini? Karena aku muak dengan Badriyah. Ia sudah menjanjikan banyak hal padaku. Namun tak pernah ia penuhi. Aku sengaja menuntut ilmu untuk menaklukkan Badriyah. Sampai akhirnya, kami bertaruh dan bertarung. Siapa yang menang, maka ia berhak mendapatkan kuntilanak merah itu. Hahahahahaha." terang Kang Ujang.


Bertaruh dan bertarung?


"Badriyah menjanjikan untuk menjadikan aku sakti seperti dirinya. Namun ia malah memilih Oji. Padahal aku sudah lama mengabdi padanya. Memang Nenek sialan. Cih, Oji bocah bengal yang telah tega memperkosa Wati si anak cacat."


"Aku yang memberitahu Badriyah, kalau Oji telah memperkosa Wati beberapa kali. Aku adalah saksi kelakuan bejat Oji. Dan pada akhirnya, Oji pun menjadi tumbal. Hahahaha. Kesimpulan yang kau buat tak sepenuhnya salah Adi. Kau jenius. Kau anak pintar. Tapi rencanaku lebih jenius. Hahahahaha." Kang Ujang terbahak.


"Jadi hanya itu alasan Kang Ujang sengaja menuntut ilmu dan mengalahkan Nek Iyah?" tanyaku.


"Bukan. Bukan hanya itu tujuanku semata. Aku ingin mustika yang kau pakai Adi. Hahahahaha. Aku ingin kau serahkan mustika itu dengan sukarela. Tak perlu ada pertumpahan darah. Hehehehe. Bagaimana?" jawab Kang Ujang.


"Dengan mustika Dawana itu, aku bisa menguasai ribuan demit. Aku bisa menjadi sakti mandraguna. Hahahahaha." tambahnya.


Aku tak habis pikir dengan ulah Kang Ujang.


"Misteri kenapa Badriyah tak berubah menjadi muda dan lebih segar sudah terjawab bukan? Hahahahahaha. Karena kuntilanak merah itu sudah menjadi milikku. Kau tak perlu repot-repot menganalisa, merangkai pola, dan memberi kesimpulan Adi. Sudah kujawab." ucap Kang Ujang.


"Nah, sekarang. Apa kau sudah siap menemui malaikat maut? Adi. Guntur. Hehehehe. Kecuali, kau serahkan mustika itu. Maka aku akan mengampunimu." Kang Ujang menyeringai dengan buas.


Jantungku berdegup sangat cepat.


..._____________...


...penasaran kelanjutannya?...


...besok baca lagi yaa...


...jangan lupa...


...LIKE, KOMEN, FAVORIT...


...jika berkenan, boleh kasih...


...HADIAH dan VOTE...


...makasih...

__ADS_1


__ADS_2