Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 93


__ADS_3

Malam ini Nyai Asih keluar dari kamar, ia memaksakan untuk makan bersama di ruang tamu bersama Mbak Ajeng dan Mbak Gendis. Makan beralaskan tikar di atas lantai, membuat suasana makan malam terasa lebih nikmat. Kami semua pun di ajak makan bersama, tak terkecuali.


"Nyai harus banyak makan ya, biar cepat sehat. Ayo tambah lagi nasinya." suruh Mbak Gendis.


Nyai Asih hanya senyum.


"Masakan Teh Tati memang tiada duanya ya mbak?" ucap Mbak Gendis meminta pendapat dari Mbak Ajeng.


"Ajari saya masak atuh teh." sahut Mbak Ajeng.


"Aaahh Mbak Ajeng ini merendah saja. Makanya nginap yang lama atuh, sembari menemani nyai, nanti teteh ajari masak." balas Bi Tati merayu.


Makan malam ini memang terasa spesial karena kehadiran Mbak Ajeng dan Mbak Gendis, karena merekalah Nyai Asih jadi tergerak untuk makan dan keluar dari dalam kamarnya, setelah lama mengurung diri.


Terlupakan sejenak nama Pak Thamrin dalam kepala Nyai Asih, walaupun terlihat senyum dan tawanya malam ini, namun kesedihan nyai tak bisa di tutupi. Mbak Ajeng selalu membuat lelucon melalui celotehannya agar nyai terhibur. Malam ini wajah nyai cerah, secerah rembulan di kelamnya malam.


***


Dua malam Mbak Ajeng dan Mbak Gendis menginap di rumah juragan, dan selama itu juga Nyai Asih merasa sehat. Ia selalu tersenyum, ia mulai berjalan mengitari halaman depan rumah hanya sekedar merenggangkan otot-otot yang kaku selama nyai mengurung diri. Nafsu makan mulai kembali, walaupun hanya makan beberapa suap.


Mbak Ajeng dan Mbak Gendis berencana pulang pagi ini. Bi Tati sudah memaksa mereka untuk tetap tinggal di rumah juragan, namun mereka bukan menolak, melainkan ada tanggung jawab yang mereka emban. Mbak Ajeng memikirkan suami dan anak-anaknya. Sedangkan Mbak Gendis memikirkan anak-anak muridnya.


Pak Thamrin anak tertua, setelahnya Mbak Ajeng kemudian Mbak Gendis. Hanya Mbak Gendis yang belum menikah, ia masih belum siap jika di tanya kapan mau menikah. Mbak Ajeng kadang cerewet kalau membicarakan soal jodoh ke Mbak Gendis.


"Mbak, yakin mau pulang? Nggak mau menemani nyai sampai benar-benar sehat?" tanya Bi Tati ke Mbak Ajeng.


"Saya bukan nggak mau teh, tapi suami dan anak-anak dirumah takut nggak ada yang urus." jawab Mbak Ajeng. "Gendis saja tuh di suruh nginap di sini sebulan! Masih perawan, belum ada yang di urus." singgung Mbak Ajeng.


"Enak saja, kalau aku nginap sebulan di sini, bagaimana nasib murid-murid pengajianku di surau mbak?" balas Mbak Gendis.


"Sudah-sudah. Mbak Ajeng dan Mbak Gendis mau pulang kok di larang-larang sih teh." sergah Nyai Asih yang duduk di kursi teras rumah.


Ayah membantu memasukkan tas Mbak Ajeng dan Mbak Gendis ke becak. Dua becak sudah siap mengantar kedua wanita itu menuju terminal.


Mbak Ajeng pamit ke Nyai Asih. Nyai di peluk dengan erat oleh Mbak Ajeng, di usap punggung nyai pelan.


"Nyai sehat-sehat ya. Jangan terlalu banyak pikiran, nanti kesehatan nyai nggak pulih-pulih. Soal Mas Thamrin, nanti mbak bantu cari ya."


Mbak Ajeng melepas pelukan. Ujung matanya menggenang air mata, nyai pun begitu. Mbak Ajeng sangat menyayangi Nyai Asih.


Kemudian Mbak Gendis memeluk nyai, seraya berkata, "Nyai, banyak-banyak doa dan zikir ya. Minta sama Gusti Allah agar Mas Thamrin cepat pulang. Aku hanya bisa bantu doa. Nyai cepat sehat ya."


Mbak Gendis melepas pelukan, nyai mengangguk. Lagi-lagi di ujung matanya menggenang air mata. Tanpa sadar, air mata nyai tumpah membasahi pipinya yang putih.


Mbak Ajeng dan Mbak Gendis pun menaiki becak, kemudian becak pun berangkat menuju terminal. Nyai Asih kembali murung, ia duduk di kursi teras rumah dengan tatapan nanar. Dalam hatinya, ia masih ingin kedua saudari iparnya tetap di sini menemaninya.

__ADS_1


Bi Tati, ibu, dan juga ayah kembali sedih melihat nyai.


***


Suatu malam, tiga hari setelah Mbak Ajeng dan Mbak Gendis pulang. Nyai kembali sakit, tubuhnya panas, nyai menggigil. Bi Tati menyelimuti nyai dengan dua lapis selimut tebal. Wajah nyai pucat, bibirnya bergetar. Suaranya merintih mengulun. Bi Tati dan ibu kembali mengurus nyai.


"Te-teeh." Nyai memanggil Bi Tati, suaranya pelan.


"Saya nyai."


"Kasur sa-saya sepertinya basah." ucap nyai.


Bi Tati segera menyingkap selimut. Ia terkejut, melihat nyai pendarahan lagi, paha sampai betisnya banjir darah.


"Mang Engkuuuss. Maaanngg. Sini maaangg!" Bi Tati meneriaki ayah, ayah datang dengan berlari.


"Tolong bopong nyai ke kamar tamu. Nyai pendarahan lagi." suruh Bi Tati.


Nyai di bopong ayah menuju kamar tamu. Bi Tati dan ibu membereskan kasur nyai yang basah oleh darah. Bi Tati membawa baju salin untuk nyai, ibu membawa sebaskom air hangat dan handuk kecil untuk membersihkan bekas darah.


***


Pagi harinya, kondisi nyai kian melemah. Mungkin akibat pendarahan semalam. Bi Tati menyarankan untuk segera membawa nyai ke dokter.


"Ke dokter naik apa teh?" tanya ibu.


"Nanti naik becak aja sampai terminal, dari terminal kan banyak mobil angkot ke arah kota." jawab Bi Tati.


Ibu menatap ayah. Ayah mengangguk.


"Ujang di sini saja temani Bi Tati ya. Biar ayah sama ibu pergi antar nyai ke dokter." pinta Bi Tati.


Sekitar pukul 09:00, Nyai Asih pun berangkat ke dokter di antar oleh ayah dan ibu. Dua becak sudah siap mengantar mereka ke terminal. Nyai menaiki satu becak bersama ibu, sedangkan ayah satu becak sendiri.


Aku menemani Bi Tati di rumah, Bi Tati menyuruhku untuk memperhatikan kucing peliharaan nyai selama nyai sakit. Nyai amat menyayangi kucing-kucingnya.


"Jang, kamu jangan lupa kasih makan kucing-kucing peliharaan nyai ya. Kamu harus ingat sehari dua kali, pagi dan sore. Nyai sangat sayang dengan kucing-kucingnya, selama nyai sakit kamu tolong perhatikan kucing-kucingnya. Jangan sampai lupa ya Jang."


"Iya bi." jawabku.


Hari sudah siang, tapi nyai belum juga kembali bersama ayah dan ibu. Bi Tati berkali-kali menuju teras rumah sembari melihat keluar rumah.


"Sudah siang begini, kok nyai belum kembali ya Jang." ujar Bi Tati. Wajahnya tampak cemas.


"Ujang makan duluan sana, bibi sudah masak tuh. Biar bibi yang jaga di depan rumah. Sana makan!" Bi Tati menyuruhku makan.

__ADS_1


Sore pun tiba, aku duduk di kursi teras rumah menemani Bi Tati.


"Bibi nggak makan?" tanyaku.


"Bibi nggak nafsu makan Jang. Bibi khawatir dengan nyai." jawab Bi Tati.


Sudah hampir maghrib, nyai belum juga pulang. Bibi tak pindah dari kursi teras rumah, matanya selalu tertuju ke luar rumah. Bi Tati belum makan sedari siang tadi. Wajahnya cemas.


"Aduuuhh, kenapa belum pulang juga sih? Apa kita susul mereka saja ya Jang?"


"Terserah bibi, Ujang ikut Bi Tati saja."


Bi Tati ke dalam rumah, tak berapa lama keluar membawa dompet besar andalannya dan kepala yang di bungkus kerudung.


"Ayo Jang, kita susul mereka!" ajak Bi Tati.


Setelah mengunci pintu, aku dan Bi Tati pergi. Entah hendak kemana aku hanya mengikuti Bi Tati. Baru saja berjalan melewati perkebunan, tiba-tiba dua becak mendekat ke arahku dan Bi Tati.


Crekk crekk creeekkk. Suara ciri khas klakson becak.


"Teh Tatiii." ibu memanggil dari becak. Becak pun berhenti.


"Teh Tati mau kemana?" tanya ibu.


"Saya mau susulin kalian. Habisnya lama sekali sih, saya khawatir teh. Gimana keadaan nyai?" tanya Bi Tati.


Nyai duduk bersandar di bahu ibu, ia tampak begitu lemah.


"Nanti saya ceritakan di rumah." sahut ibu.


***


"Apa? Nyai infeksi rahim?" Bi Tati terkejut dengan informasi yang di berikan ibu.


"Teh, apa dokternya nggak salah periksa?" tanya Bi Tati. "Apa sudah benar nyai sakit itu?"


Ibu mengangguk. Ayah hanya tertunduk menatap gelas kopinya. Bi Tati, ibu, dan ayah berbincang di meja makan. Nyai Asih sudah tidur karena efek obat yang di minumnya barusan.


"Lalu bagaimana teh? Apa kata dokter selanjutnya?" Bi Tati terus memberondong pertanyaan.


"Ny-nya-nyai harus di operasi teh." ucap ibu.


Bi Tati menangis mendengar ucapan ibu. Ibu mengusap-usap pundak Bi Tati, mencoba menenangkan.


"Teh, syarat bisa di lakukan operasi salah satunya adalah harus ada suami yang mendampingi." ibu kembali berkata.

__ADS_1


__ADS_2