
Jam dinding menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Ternyata lama juga kami mengobrol. Sampai tak terasa, sudah satu jam lebih aku dan Mas Gun berkunjung ke rumah Kang Ujang.
Kopi di gelas kami, masing-masing sudah habis. Pisang goreng pun sudah ludes tak bersisa. Aku hanya makan dua potong, kebanyakan pisang goreng bersarang di perut Mas Gun.
Kang Ujang mengambil ceret air dan membawa tiga buah gelas beling.
"Ini, kalau mau minum air putih." ucapnya.
"Gun, masih kurang nggak pisang gorengnya?" Kang Ujang bertanya.
"Uhukk uhukkurang." Mas Gun batuk sambil menyindir.
Aku dan Kang Ujang tertawa. Memang ada-ada saja kelakuan Mas Gun. Aku tak bisa membayangkan jika waktu itu nyawanya tak bisa diselamatkan. Mungkin bisa gila otakku.
"Hahahahaha. Yasudah, sebentar saya goreng lagi." ucap Kang Ujang seraya bangkit dari duduknya dan berlalu ke dapur.
"Mas, jangan gitu dong. Ngerepotin Kang Ujang aja sih." tuturku.
"Yaaaa namanya ditawarin. Kalau gue sih mau-mau aja. Lagian kenapa sih Di?" tanya Mas Gun.
"Malu kali Mas." jawabku.
"Eh Di, dalam kamus hidup gue. Malu nggak bikin kenyang. Kalau ada yang tawarin dan berbaik hati, apa salahnya kita iyakan." balas Mas Gun.
"Iya deh iya."
Mas Gun membakar sebatang rokok.
"Eh Di, lo bilang tadi lo lihat perempuan di dalam rumah. Memang Kang Ujang sudah nikah?" tanya Mas Gun.
"Oh iya. Gue kelupaan tanya."
"KANG. KANG UJANG!" panggilku.
"YAA." sahutnya.
"ISTRI KANG UJANG MANA? MEMANG NGGAK BANTUIN GORENG PISANG?" tanyaku.
.
.
.
Sepi.
.
.
.
Tak ada jawaban.
"Lah, nggak jawab. Tidur kali ya?" ucap Mas Gun.
"KANG. KANG UJANG!" panggilku.
Kang Ujang tak menjawab.
"Samperin sana ke dapur!" suruh Mas Gun.
Aku segera beranjak dari duduk. Lalu melangkah pelan menuju dapur.
Baru saja melewati lemari kayu besar. Tiba-tiba Kang Ujang muncul membawa sepiring pisang goreng. Mengagetkanku.
"Lho, mau kemana Di?" tanya Kang Ujang.
"Eh. Anu. Ma-mau. Mau numpang ke kamar mandi Kang. Dimana ya?" ucapku asal.
"Oh, kamar mandi. Itu di belakang. Ke arah dapur, ada di sebelah kanan." tunjuk Kang Ujang.
Aku berjalan menuju kamar mandi. Ruang belakang rumah Kang Ujang terdiri dari dapur yang berhadapan dengan kamar mandi. Lampunya remang, agak gelap.
Setelahnya, aku pun kembali ke ruang depan. Baru saja menuju ruang depan, tiba-tiba..
Brrr. Tengkuk leherku terasa dingin
__ADS_1
Ada apa ini?
Sett.
Eh, siapa itu? Seperti ada yang lewat di belakangku.
Aku menoleh, lalu melangkah kembali ke dapur. Kulihat ke sekeliling dapur. Sepi.
Kubuka kembali pintu kamar mandi, hanya sekedar memeriksa. Tak ada siapapun.
Aku pun kembali ke ruang depan.
Mas Gun tampak sudah mengunyah pisang goreng sambil tersenyum. Aku kembali duduk.
"Eh, tadi Dek Adi tanya apa sih ke saya? Soalnya nggak kedengaran."
"Tanya apa ya?" balasku.
"Yang Dek Adi tanyakan ke saya, pas saya sedang di dapur."
"Oohh. Tadi Adi tanya, istri Kang Ujang kemana? Memang nggak bantuin Kang Ujang buat goreng pisang?" sambar Mas Gun.
"Istri saya? Kapan saya cerita sudah punya istri?" sahut Kang Ujang keheranan.
"Lho, memang Kang Ujang belum menikah?" tanyaku.
"Hehehehe. Dek Adi meledek saya ya? Kapan saya nikah Dek? Kenalan sama cewek saja gemetaran. Hahahahaha." jawab Kang Ujang.
Mas Gun berhenti mengunyah.
Aku terdiam.
Kang Ujang senyum-senyum.
"Serius Kang?" tanyaku.
"Ya serius atuh Dek. Saya memang belum menikah. Masih bujangan saya teh. Hehehehe." jawab Kang Ujang meyakinkan.
"Memang kenapa sih?" tanya Kang Ujang.
Aku menelan ludah.
"Ta-tadi, saat saya dan Mas Gun menunggu Kang Ujang. Saya lihat ada sosok perempuan di ruangan ini. Terlihat dari luar, karena tirai jendelanya tipis dan transparan." jelasku.
Kang Ujang terkejut.
"Dek Adi sedang bercanda ya?" tanya Kang Ujang.
"Sumpah saya nggak bercanda Kang. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Serius Kang." jawabku.
Kang Ujang diam.
Kemudian Kang Ujang bertanya pada Mas Gun, "Kamu lihat juga Gun?"
"Saya sih nggak ngeh. Jadi nggak tahu kalau ada perempuan di dalam rumah." jawab Mas Gun.
"Memang Dek Adi lihat perempuan itu dimana?" tanya Kang Ujang lagi.
"Disini Kang. Persis di tempat kita duduk sekarang ini. Di ruangan ini. Dia berdiri dengan tubuh yang bergoyang-goyang." aku menerangkan.
"Seperti apa perempuan itu?" Kang Ujang bertanya lagi.
"Wajahnya memang nggak terlihat jelas. Tapi saya lihat rambut perempuan itu panjang dan tergerai." jawabku.
Kang Ujang diam. Ia seakan berpikir.
Aku dan Mas Gun pun diam.
"Saya nggak tahu apa itu. Tapi yang jelas saya memang belum menikah Dek." jawab Kang Ujang.
Aku dan Mas Gun saling tengok.
"Lalu, yang barusan Adi lihat itu siapa?" ucap Mas Gun.
Aku menelan ludah.
"Jangan bilang penunggu rumah ini." sahutku.
__ADS_1
"Hush! Jangan ngomong sembarangan ah. Selama saya disini, saya nggak pernah lihat yang begituan. Dek Adi jangan menakuti saya." sambut Kang Ujang.
"Tapi memang saya lihat ada perempuan di ruangan ini Kang. Saya nggak bohong." ujarku meyakinkan.
"Sudah sudah. Kalau dibahas terus bakal nggak ada ujungnya nih. Udah, mending lupain aja. Anggap aja Adi salah lihat. Dan rumah ini baik-baik aja. Udah. Selesai." Mas Gun menengahi.
Nggak. Nggak mungkin aku salah lihat. Mataku masih sehat. Tak ada minus maupun silinder. Aku nggak rela disebut salah lihat.
"Iya, jangan bahas yang aneh-aneh soal rumah ini. Saya kan yang tinggal disini." sahut Kang Ujang.
Oke. Baiklah. Anggap saja aku salah lihat.
"Iya, mungkin penglihatan saya yang salah." balasku.
"Iya Di. Pikiran lo ini sedang kacau. Dalam otak lo sedang dihantui kuntilanak merah. Mungkin alam bawah sadar lo yang berperan, sehingga apa yang lo lihat seperti kenyataan. Jadi terbayang-bayang terus." ujar Mas Gun.
Penjelasan ilmiah yang bisa kuterima. Alam bawah sadar yang berperan. Mengambil alih penglihatan karena otak kita yang selalu terbayang akan hal-hal yang sedang kita alami. Bolehlah.
"Sudah ya, nggak usah dibahas lagi. Mending lanjutin makan pisang goreng, saya bikin kopi lagi. Setuju nggak?" Kang Ujang menawari.
"SETUJUUUUU!" Mas Gun menyambar sambil mengangkat tangan yang mengepal.
Aku cengengesan.
Kang Ujang hanya terkekeh.
Kang Ujang berlalu ke dapur untuk membuat kopi.
"Eh Mas, mau balik jam berapa nih?" tanyaku.
"Nanti aja Di. Kang Ujang baru buat kopi, masa kita pamit pulang sih. Nggak sopan dong." jawab Mas Gun.
"Jam dua belas gerbang sudah di kunci Mas."
"Oh iya ya. Nanti tanya sama Kang Ujang, ada jalan tembus yang bisa langsung ke kost atau tidak." ucap Mas Gun.
"KANG! KANG UJANG." panggil Mas Gun.
"YAA."
"KALAU GERBANG SUDAH DI GEMBOK, KIRA-KIRA ADA JALAN TEMBUS NGGAK YANG LANGSUNG BISA KE KOST?" tanya Mas Gun setengah berteriak.
"ADA KOK! LEWAT KEBUN KOSONG. NANTI TEMBUSNYA SAMPING KAMAR TIKA." jawab Kang Ujang.
"Tuuuhh ada kan. Tenang aja Di." ucap Mas Gun.
"Yakin lo mau lewat kebun kosong?" tanyaku.
"Memang kenapa? Kan kita berdua. Jangan takut Di, ada Guntur di samping lo. Hehehehe." balas Mas Gun seraya mencomot lagi pisang goreng dari piring.
Aku diam, masih memikirkan sosok perempuan tadi. Ah, aku tak mungkin salah lihat.
"DEK ADI," panggil Kang Ujang.
"YA KANG!"
"TAPI DEK ADI DAN TIKA BAIK-BAIK SAJA KAN SETELAH MELAWAN DEMIT MBAK WATI KEMARIN?" tanya Kang Ujang.
Eh?
Kenapa Kang Ujang bertanya seperti itu?
Dari mana ia tahu?
Grepp. Aku mencengkram tangan Mas Gun.
"Apaan sih Di?" tanya Mas Gun.
"Mas. Ayo kita balik sekarang!"
"Apaan sih tiba-tiba minta pulang? Kayak anak kecil aja." sahut Mas Gun.
"Ayo Mas!"
Dari mana Kang Ujang tahu kalau aku dan Tika melawan demit Mbak Wati.
"Mas, ayo balik!" aku menarik tangan Mas Gun.
__ADS_1
Aku beranjak bangun. Dan menarik lagi tangan Mas Gun.