Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 138


__ADS_3

Sontak Kubil memeluk betisku, ia menyembahku. Tangisnya mengulun-ngulun. Ia memohon untuk tidak mengusirnya.


"Ampun tuan, ampun. Hu hu hu hu. Saya nggak mau balik ke rumah itu lagi tuan. Ampun tuan, jangan usir saya. Hu hu hu hu. Saya nggak mau. Hu hu hu hu hu." Kubil memohon seraya menangis.


Aku acuh, aku tak berkata apa-apa.


"Masih juga kau tak mau menjelaskan padaku? Hah?" tanyaku.


"Pergi sana! Aku bukan tuanmu lagi!" ujarku.


"Ampun tuan. Ampuuunn. Hu hu hu hu." Kubil terus saja meminta ampun.


"Ba-baiklah tuan. Akan sa-saya beri tahu soal perkataan saya ta-tadi." ujar Kubil terbata.


Akhirnya.


Aku masih berlagak angkuh sambil tolak pinggang. Tak menoleh sedikit pun ke arah Kubil. Jangankan menoleh, melirik saja pun tidak.


"Tu-tuan, akan saya jelaskan pada tuan. Akan saya beri tahu soal perkataan saya tadi." ucap Kubil lagi.


"Benar kau akan jelaskan?" tanyaku mencoba meyakinkan.


"Be-benar tuan. Saya sumpah. A-akan saya jelaskan." jawab Kubil.


"Tapi tolong jangan usir saya tuan. Jangan biarkan saya kembali ke rumah itu. Saya mohon tuan." Kubil kembali merayu, kedua tangannya rapat memohon.


"Baiklah. Kau tak akan kuusir, kau boleh tinggal di loteng kamarku selama yang kau mau. Sekarang jelaskan maksud perkataanmu tadi." pintaku pada Kubil.


Kubil mengangguk pelan.


Aku pun duduk bersila, kami duduk saling berhadapan.


Aku bertanya pada Kubil, "Kenapa kau bilang kalau aku belum siap menghadapi Genderuwo itu?".


"Apa maksudnya?" tanyaku kembali.


"Anu tuan. Emm, anu. Anu, itu ma-maksudnya itu tuan." Kubil bicara dengan gagap, seolah ia sudah sekali berucap.


"Apa anu anu? Ayo cepat jelaskan!" ujarku dengan nada tinggi.


Seketika tatapan Kubil berbeda. Pandangannya menusuk kedalam bola mataku. Raut wajahnya pun kini berubah lebih serius. Aku sedikit bergidik ngeri, namun kusembunyikan rapat-rapat.


"Apa? Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa yang mau kau katakan? Ayo cepat!" tuturku.


"Kau masih lemah tuan. Tidak mentang-mentang kau memegang mustika Dawana itu kau menjadi sakti dengan sendirinya. Tidak tuan. Mustika itu harus di beri makan. Sama halnya dengan mustika-mustika lain. Kekuatan yang tersimpan di dalamnya akan luntur, atau bisa saja hilang jika tuan tak memberinya makan. Mustika Dawana bukan mustika sembarangan, di dalamnya tersimpan kekuatan luar biasa yang harus selalu di beri makan. Ia sama seperti binatang peliharaan. Sekarang, aku ingin tanya pada tuan. Apa tuan sudah memberinya makan?" Pertanyaan Kubil menutup penjelasannya.


Aku diam tertegun. Otakku masih mencerna penjelasan Kubil soal mustika harus di beri makan layaknya binatang peliharaan. Candaan apa lagi ini? Lelucon demitkah ini?


Kubil masih menatapku dengan tajam. Sedangkan aku masih diam seribu bahasa.


"Khikhikhikhi. Sudah kuduga. Tuan tak memberinya makan. Dari diamnya tuan, aku yakin sekali tuan tak tahu kalau mustika harus di beri makan." ucap Kubil.


"Sudah berapa lama mustika Dawana itu tak di beri makan? Khikhikhikhikhi." Kubil terkekeh.


"Itu kenapa aku bilang tuan belum siap untuk menghadapi Genderuwo dan begundalnya seorang diri. Tuan belum punya persiapan apa-apa. Tuan hanya mengandalkan mustika Dawana itu, tanpa tahu cara merawat kekuatan di dalamnya." lanjut Kubil.


"Jika saja tak kuhalangi tuan pergi ke kebun belakang. Apa tuan bisa menebak apa yang akan terjadi pada diri tuan? Khikhikhikhikhi." sambung Kubil.


Seketika bulu kudukku berdiri. Aku merinding membayangkan apa yang akan terjadi pada diriku, jika aku nekat dan mengedepankan emosiku untuk melawan Genderuwo itu.


"Mati." ucap Kubil sembari menyeringai.


"Tuan bisa mati sia-sia. Khikhikhikhikhi."


Aku menelan ludah.


"Ditambah lagi tuan tidak tahu demit apa yang ada bersama Genderuwo itu saat ini." ucap Kubil lagi.


"Hah? Memang demit apa yang bersama Genderuwo itu?" tanyaku terkaget.


"Khikhikhikhikhikhi. Aneh. Khikhikhikhikhikhi. Tuan sungguh aneh. Khikhikhikhikhikhi." balas Kubil sambil terkekeh seolah meledekku.


"Hei, kau meledekku? Kenapa kau bilang aku aneh? Apa maksudnya?" tanyaku sungut-sungut. Aku di ledek oleh demit bocah, ada sejumput perasaan dongkol dalam hati.


"Sabar tuan, sabar. Tuan ini orang baik, tak perlu tuan tersinggung dengan perkataan demit rendahan macamku." sambut Kubil.


"Iya iya." balasku asal.


"Sekarang kau jelaskan padaku, kenapa kau bilang aku aneh." tanyaku lagi.


"Khikhikhikhikhi. Kenapa kubilang tuan aneh. Jelas aneh, tuan pemegang mustika paling sakti dan paling besar kekuatannya. Tapi tuan tidak tahu kalau mustika itu harus di beri makan. Lalu tuan dengan emosi yang memuncak ingin melawan Genderuwo dan begundalnya. Memang tuan yakin mustika itu akan mengalahkan demit itu? Atau paling tidak melukai mereka? Apa tuan yakin mustika itu bisa menolong tuan dari serangan demit-demit itu? Khikhikhikhikhikhi. Tuan saja tak bisa melihat dua demit yang menyertai Genderuwo itu sekarang. Iya kan?" jelas Kubil.


Aku lagi-lagi diam membatu. Masuk akal. Semua penjelasan Kubil masuk akal. Pengetahuanku soal dunia lain belum ada apa-apanya, bahkan aku pun baru tahu kalau mustika harus di beri makan. Tak heran jika Kubil menertawaiku. Tak di nyana, semua begitu rumit dan jelimet.

__ADS_1


"Lalu, apa makanan dari mustika ini? Apa kau tahu?" tanyaku.


"Khikhikhikhikhi. Aku tak tahu. Aku ini demit rendahan, tak pernah bersinggungan dengan mustika selama hidupku. Lebih baik tuan tanyakan saja pada orang yang memberi mustika itu pada tuan." jawab Kubil.


Aku tak berkata.


"Aneh. Memang si pemberi mustika itu tak memberi tahu tuan bagaimana cara merawat dan memberi makan? Aneh sekali." ujar Kubil lagi.


Aku menggeleng.


"Khikhikhikhi. Aneh yang sangat aneh. Khikhikhikhi." lagi-lagi Kubil terkekeh.


Aku masih diam. Isi kepalaku penuh dengan tanda tanya yang bejubel dan berdesakan, layaknya bus antar provinsi saat mudik lebaran. Mengapa Kakek Badrun tak memberi tahuku perihal merawat mustika ini? Apa masih ada yang ia sembunyikan dariku? Apa Tika tahu soal merawat dan memberi makan mustika?


Di kejauhan terdengar adzan subuh. Kubil undur diri dan menghilang sekejap mata. Aku masih termenung memikirkan penjelasan Kubil.


"Diiiiii. Adiiiiii." Mas Gun memanggilku, aku terperanjat. Aku buru-buru menghampiri Mas Gun.


"Kenapa mas?" tanyaku.


"Lo ngobrol sama siapa sih? Dari tadi gue dengar suara anak kecil. Ada yang datang ya?" tanya Mas Gun.


"Hah? A-anak kecil. Eng-enggak kok mas. Emm, itu lho. Emm, gue lagi, lagi, lagi nonton youmute. Iya, lagi nonton video-video di youmute." jawabku gagap.


"Lo mau apa mas? Mau ke kamar mandi? Atau mau minum? Mau apa?" tanyaku.


Mas Gun menggeleng, ia meringis seolah kesakitan sambil memegang perutnya.


"Minum air hangat ya mas. Sebentar gue ambilin." aku beranjak mengambil segelas air hangat. Lalu kembali, membantu Mas Gun bangun dari tidurnya, membantu meminum air.


"Udah subuh ya?" tanya Mas Gun.


"Iya mas. Baru aja selesai adzan subuh." jawabku.


"Lo nggak tidur Di?" Mas Gun kembali bertanya, matanya tertutup rapat.


"Tidur kok mas. Sejak kapan Adi kuat begadang. Hehehehehe. Gue kan nggak setangguh lo mas." jawabku.


Mata Mas Gun terbuka, ia menatapku dengan tatapan sayup.


"Di, gue mimpi ketemu perempuan berbaju merah. Di mimpi itu, gue cuma diam saling berhadap-hadapan dengan perempuan itu tanpa ngomong apapun. Apa itu kuntilanak merah yang pernah lo ceritain ke gue Di?" ucap Mas Gun.


"A-apa? Kun-kuntilanak merah? Hehehehe. Ngaco lo mas. Masa mimpi ketemu perempuan berbaju merah langsung bilang itu kuntilanak merah sih. Cuma mimpi doang itu mas, nggak ada kaitannya." jawabku menenangkan.


Mas Gun menghela nafas.


"Ya semoga itu cuma mimpi aja." ucap Mas Gun.


"Yaudah, lanjut tidur aja mas. Mas Gun harus banyak istirahat, biar cepat pulih. Nanti kalau udah sehat, gue janji gue akan download game favorit lo. Biar kita bisa main bareng. Oke!" tuturku.


Mas Gun hanya senyum sambil mengangguk pelan.


"Tapi ajarin gue ya, gue nggak mau di teriakin noob sama lo. Hehehehe." sambungku.


Lagi-lagi Mas Gun mengangguk dengan senyum terukir dari bibirnya. Kemudian ia memejamkan matanya.


Aku beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu.


* * *


Kriiiiiinnggg. Ponselku berdering.


Yuda.


"Ya Da." aku menjawab Panggilan Yuda.


"Woi, mas ndeso! Kok lo nggak ke kampus? Gue sampe di kelas nggak lihat lo." ledek Yuda.


"Gue nggak bisa kuliah dulu nih. Mas Gun lagi sakit, nggak ada yang ngerawatin. Nanti kalau dia butuh apa-apa gimana." jawabku.


"Oooh gitu. Yaudah, gue ke kost lo deh sekarang!" ucap Yuda.


"Lah, ngapain lo ke kost gue? Kenapa nggak kuliah aja?" tanyaku.


"Gue mah lulusnya gampang, selama bokap gue masih di rektorat mah santaaaaii. Mau gue bawain sarapan apa lo?" Yuda lagi-lagi menyombongkan jabatan ayahnya.


"Beneran nih lo mau bawain gue sarapan?" tanyaku.


"Udah buruan mau apaan?" tanya Yuda.


"Bubur ayam deh. Dua porsi ya, buat gue sama Mas Gun. Hehehehe." ucapku.


"Itu doang? Nggak mau yang lain?" Yuda kembali bertanya.

__ADS_1


"Emmm, apa ya? Oh iya, sate ati ampelanya dua, sate ususnya dua deh. Udah itu aja. Hehehehe." balasku.


"Celana kolor abangnya mau sekalian nggak? Hahahahaha. Yaudah, tunggu ya." canda Yuda sebelum menutup panggilannya.


Aku mengintip ke ruang tengah. Mas Gun tampak masih tertidur pulas. Ah, nanti saja kubangunkan saat bubur ayam pesananku tiba. Aku duduk di ruang depan sambil menikmati cerah mentari pagi. Sinarnya kuning keemasan. Menyegarkan. Ditemani secangkir kopi susu. Asapnya tipis mengepul tak beraturan.


Tring. Ada pesan masuk di ponselku.


Tika.


- Lo nggak kuliah lagi? -


Kubalas dengan cepat.


- Enggak nih. Mas Gun masih sakit Tik. Semalam muntah2, muntahnya item mirip lumpur. Lo tau nggak itu apaan? -


.


.


.


.


*Tring.


- Gue kuliah jurusan komunikasi, bukan jurusan nebak muntah orang :D* -


Aku menahan tawa. Bisa bercanda juga cewek satu ini.


Kubalas.


- Hahahaha. Sorry. Gue panik aja, kali aja lo tau. Btw, ada yg mau gue obrolin nih. Lo ada waktu nggak? -


.


.


.


.


.


.


.


*Tring.


- Ngobrol mulu, nggak jadian-jadian. wkwkwkwkw. canda ;p Balik kuliah ya* -


"Hehehehehehe." aku tertawa sambil menatap layar ponsel.


Kubalas.


- Jadian yuk! wkwkwkwkw. Oke, gue tunggu lo balik kuliah ya ;) -


Kuseruput kopi susu yang kubuat. Kunyalakan playlist lagu favoritku di ponsel. Volume tak terlalu keras, tipis-tipis namun terdengar iramanya.


Eh, suara apa itu? Seperti suara orang berbincang. Dan terdengar seperti suara Mas Gun.


Kumatikan lagu di ponselku. Aku beranjak dari duduk dan menuju ruang tengah.


Deg. Aku terperanjat.


Kulihat Mas Gun sedang duduk bersila di tengah ruangan. Matanya terpejam, namun mulutnya berbicara. Berbicara seperti orang sedang berdialog. Seperti sedang berbincang dengan seseorang di depannya. Aku menelan ludah.


"Iya, saya temannya. Saya teman dekatnya. Saya sudah lama bergaul dengan dia. Bla bla bla.." seperti itu dialog yang kudengar. Namun dengan mata terpejam dan sesekali tersenyum. Aneh. Sungguh aneh.


Aku menghampiri Mas Gun.


"Mas. Mas. Mas Gun. Bangun mas!" aku menggoyang tubuh Mas Gun.


Mas Gun masih memejamkan matanya. Namun ia berhenti berbicara.


"Mas Gun. Bangun mas! Mas. Bangun mas!" kutepuk-tepuk pipinya.


Mas Gun diam.


"Mas. Bangun mas! Mas Gun." aku kembali menepuk pipinya pelan.


Kelopak matanya bergerak. Kemudian terbuka dengan perlahan. Mas Gun melihat ke arahku. Ia nampak keheranan.

__ADS_1


"Kenapa Di?" tanya Mas Gun.


__ADS_2