Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 74


__ADS_3

Aku membuka gerbang kost, ku lihat Kang Ujang sedang membersihkan halaman dan merapikan tanaman, mungkin berantakan akibat angin kencang semalam.


"Lagi sibuk kang?" sapaku.


"Eh Dek Adi, ini cuma rapi-rapi halaman aja. Baru pulang kuliah? Lho, kok bawa tas besar banget, mau pindah?" tanya Kang Ujang.


"Enggak kang, habis ambil cucian di laundry." jawabku sekenanya.


"Dek, nanti malam mau ikut tahlil lagi di rumah Pak Rahmat?"


"Emm, insya Allah deh kang. Sebetulnya mau ketemu sama Nek Iyah, ada yang mau saya bicarakan." balasku.


"Ooh gitu, kalau memang mau ikut lagi, kita ketemu di sana saja ya." ucap Kang Ujang.


"Oke kang. Saya ke kamar dulu ya kang."


"Iya iya." balas Kang Ujang sambil melempar senyum.


Aku berjalan melewati garasi, sampai di halaman kost, ku lihat motor Bang Oji masih terparkir di depan kamarnya. Sudah dua hari aku tak melihat Bang Oji, kemana ia? Aku tak jadi ke kamar, aku kembali menemui Kang Ujang di halaman.


"Kang." panggilku.


"Ada apa Dek Adi?" Kang Ujang menghampiriku.


"Emm, Kang Ujang hari ini lihat Bang Oji?" tanyaku.


"Astaga, saya lupa dek. Tadi saya ada kerjaan, sampai lupa mau periksa ke kamarnya Bang Oji. Sekarang saja yuk!" ajak Kang Ujang.


"Yuk."


Aku dan Kang Ujang berlalu menuju kamar Bang Oji.


Tok tok tok. Kang Ujang mengetuk pintu kamar 11d, kamar Bang Oji.


"Bang Oji. Bang." panggilnya.


Tak ada jawaban.


Kang Ujang kembali mengetuk pelan dan memanggil Bang Oji. Namun tak ada jawaban. Lampu kamar nampak gelap sedari kemarin. Lalu aku mengetuk pintu kamar dengan sedikit kuat.


"Bang! Bang Ojiii." panggilku dengan suara lantang.


"Bang Oji! Bang Ojiii!"


"Oji nggak ada!"


Aku dan Kang Ujang kaget lalu menoleh ke arah suara tersebut. Nek Iyah sudah berdiri di depan pintu belakang rumahnya. Wajahnya telihat tak segar, senyum di bibirnya tak nampak, kulitnya pucat pasi, matanya sayu. Nek Iyah memakai daster panjang berwarna merah motif batik di balut cardigan berwarna putih bunga-bunga. Tangannya menyilang di depan dadanya.


"Memang Bang Oji kemana nek?" tanyaku.

__ADS_1


"Pergi." jawab Nek Iyah singkat.


Aku dan Kang Ujang pun menjauh dari kamar 11d, lalu menghampiri Nek Iyah yang masih berdiri di depan pintu.


"Memang ada perlu apa sama Oji?" tanya Nek Iyah sedikit ketus.


"Eng..enggak ada apa-apa nek. Cuma, sudah dua hari saya nggak lihat Bang Oji, sedangkan motornya ada." jelasku.


"Biasanya Bang Oji kalau pergi selalu pakai motor." sambungku.


"Mungkin Oji sedang nggak mau naik motor." sahut Nek Iyah.


"Jang, tanaman depan sudah beres?" tanya Nek Iyah ke Kang Ujang.


"Se..sedikit lagi nek." jawab Kang Ujang.


"Sana beresin kerjaan kamu! Malah ngurusin orang lain. Sana!" Nek Iyah menyuruh Kang Ujang.


Kang Ujang pun bergegas kembali ke halaman depan. Nek Iyah nampak aneh, keriput di wajahnya nampak jelas terlihat, kulit tangannya pun tak sekencang kemarin. Ada yang beda dengan Nek Iyah, dan lagi hari ini ia sangat tak ramah. Terkesan judes.


"Emm, kalau begitu saya permisi masuk kamar nek." aku pamit.


"Iya." balas Nek Iyah dengan nada ketus, lalu masuk dan menutup pintu.


Aku pun berlalu ke kamar, ku taruh tas dan merebahkan diri di atas lantai. Ah, terasa adem sekali lantai kamarku. Langit sebentar lagi gelap, waktu shalat maghrib pun sebentar lagi tiba. Astaga, aku lupa bicara soal Yuda ke Nek Iyah. Biarlah, nanti saja sehabis shalat maghrib aku akan menemui Nek Iyah kembali.


***


Aku bersiap menuju rumah Pak Rahmat. Ku kunci pintu kamar dan berjalan melewati halaman kost. Di garasi, aku berpapasan dengan Ela, dan lagi-lagi Dini tak bersamanya.


"Eh Ela, baru pulang kerja?" sapaku dengan senyum.


"Iya Bang Adi. Mau kemana bang?" tanya Ela.


"Mau tahlil di rumah Pak RT, Dini mana? Masih lembur di tempat kerjaan?" tanyaku.


"Iya bang, lagi dapat jadwal lembur terus dia. Mari bang, Ela masuk dulu."


"Iya iya mari." balasku dengan senyum.


Aku pun menuju rumah Nek Iyah, ku ketuk pelan pintu rumahnya.


"Assalamualaikum nek."


Tak ada jawaban dari Nek Iyah.


"Assalamualaikum nek. Nek Iyah." panggilku.


"Waalaikumsalam." Nek Iyah menjawab dari dalam rumah. Tak lama pintu pun di buka.

__ADS_1


"Ada apa dek?" tanya Nek Iyah. Lalu ia keluar dan mempersilakanku duduk.


"Ini nek, saya sudah bilang ke teman yang mau beli mobil milik almarhum Pak Thamrin untuk datang ketemu dengan Nek Iyah,"


"Terus?" tanya Nek Iyah.


"Harusnya malam ini kan Nek Iyah minta teman saya datang, tapi kebetulan malam ini teman saya nggak bisa. Apa bisa di undur besok malam nek? Atau besok sore setelah pulang kuliah?" tanyaku.


Nek Iyah diam, tubuhnya nampak lemah.


"Uhukk uhukk." Nek Iyah batuk sambil memegang lehernya.


"Besok malam saja nggak apa-apa. Kalau sekarang saya sedang tidak enak badan, kebetulan kondisi saya juga sedang lemah." ucap Nek Iyah.


"Baik nek. Kalau gitu terima kasih nek, saya permisi dulu ya." ucapku sambil bangun dari tempat duduk.


"Iya dek." balasnya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." kemudian Nek Iyah masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Aku pun bergegas menuju rumah Pak Rahmat.


Aku melangkah menyusuri jalan di antara kebun kosong yang gelap, menanjak. Hingga ku dengar suara sesuatu yang menggesek di tanah, langkahku pun terhenti. Suaranya jelas terdengar karena di tengah kebun kosong banyak dedaunan kering.


Srekk Srekk.


Suaranya terdengar kembali, aku memicingkan mataku. Mencari sesuatu yang menggangguku. Tak terlihat, karena di tengah kebun terlihat sangat gelap. Cahaya dari sebuah lampu jalan tak sampai menyinari sisi dalam kebun. Ku acuhkan, aku kembali melangkah. Sampai di ujung gang ku dengar kembali suara tadi dan menoleh ke belakang, aku melihat bayangan seorang lelaki berlari dari kebun sebelah sisi kanan jalan, ia menyebrang ke kebun kosong yang ada di sebelah kiri jalan. Tak jelas terlihat wajahnya, ia berlari dengan cepat. Aku was-was, jangan-jangan itu maling.


"Woii!" ku teriaki lelaki itu, namun sosoknya tak terlihat lagi karena gelapnya kebun.


Aku pun melanjutkan pergi ke rumah Pak Rahmat. Sesampainya di sana, seperti biasa warga sudah ramai berkumpul, duduk mengisi bangku dan teras rumah. Aku duduk kembali di samping Kang Ujang. Mataku mencari-cari sekelompok pria dari Cirebon kemarin, mereka tak nampak malam ini. Apa mereka sudah pulang? Lalu bagaimana ritual yang di lakukan kemarin malam? Apa berhasil?


"Saya kira Dek Adi nggak datang." ucap Kang Ujang.


"Habis saya bingung kang, di kost sendirian dan nggak ngapa-ngapain juga. Mending ikut tahlil aja deh." jawabku.


Tahlil pun di mulai.


"Eh kang, Kang Ujang sadar nggak sih ada yang aneh sama Nek Iyah?" tanyaku pelan.


"Aneh gimana maksudnya dek?"


"Kemarin-kemarin saya lihat Nek Iyah segar bugar, kulitnya kencang dan wajahnya cerah. Tapi tadi sore Kang Ujang lihat sendiri kan, raut wajahnya kurang segar, dan badannya lemah banget. Iya kan!" terangku.


"Iya sih dek. Kelihatan lemas dan nggak bersemangat ya." sahut Kang Ujang.


"Mungkin Nek Iyah sedang sakit dek." lanjutnya.


"Mungkin ya. Semoga cepat sehat deh, kita doain aja." ujarku.

__ADS_1


"Amiiiiiinnn." sambut Kang Ujang.


Dan kami kembali fokus mengikuti tahlil.


__ADS_2