Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 114


__ADS_3

"Hihihihihihihihihi. Tampaknya raut putus asa sudah terpancar dari wajah kalian. Ckckckck, kasian sekali, niat menolong teman malah jiwa kalian yang akan melayang. Hihihihihihihi." tukas kuntilanak merah.


Aku merangkul Kakek Badrun yang kelelahan. Ia memporsir tenanganya untuk menyerang kuntilanak merah, tapi semua yang ia lakukan sia-sia. Kuntilanak merah mempermainkan Kakek Badrun. Dan lagi, tampaknya Kakek Badrun terbawa emosi tadi, ia kalap, menyerang kuntilanak itu tanpa strategi matang dan terencana. Hasilnya sia-sia belaka, dan kuntilanak merah itu tak terluka sedikit pun.


Kondisi Tika kian melemah, aku sangat menyesal telah melakukan hal bodoh barusan, kini Tika tak bisa berbuat apa-apa. Wajahnya pun terlihat pasrah dengan apa yang nanti akan menimpanya. Tika hanya duduk memegang perutnya, beberapa kali terlihat Tika terbatuk dan mengeluarkan darah.


Sedangkan aku, aku hanya pion dalam catur. Lemah, tak dapat berbuat apa-apa, ruang gerak pun terbatas, tak ada kekuatan. Yang kuandalkan adalah cincin yang tersemat di jari manisku. Kubilang, kami hanya menunggu keajaiban yang terjadi. Kalau menurut hitung-hitungan jelas kami akan kalah. Ini alam mereka, kuntilanak merah itu pemimpin para demit, jumlah mereka tak terhitung banyaknya, dan yang sudah kami kalahkan tak seberapa dengan jumlah mereka.


"Kek, apa yang harus kita lakukan kek?" tanyaku dengan pelan.


Kakek Badrun tertunduk, sedang memikirkan cara mengalahkan kuntilanak merah itu atau lesu karena putus asa? Aku tak bisa menebaknya.


"Aku ingin bersenang-senang lebih lama dengan kalian. Terutama dengan kau Badrun! Hihihihihihihihihihi. Kuberi kalian sebuah hadiah kecil ini. Silakan kalian nikmati. Hihihihihihihihi." kuntilanak merah itu berkata sambil menunjuk ke dinding di sebelah kanannya, kemudian ia hilang dalam kepulan asap hitam yang datang berduyun-duyun.


Asap hitam bergelombang, keluar dari dalam dinding yang di tunjuk oleh kuntilanak merah itu. Tiba-tiba saja, keluar tiga bola api dari dalam dinding. Terbang melayang-layang mengitari ruangan. Apa itu?


Kakek Badrun terkejut, ia kaget. Apa yang membuatnya begitu terkejut?


"Sial!" umpat Kakek Badrun.


Bola api itu masih terbang mengitari ruangan, berbaris melayang-layang.


Tika mencoba bangun, wajahnya pun menampakkan mimik ketakutan. Apa sebenarnya yang ia takutkan? Padahal itu hanya bola api.


"Nak Adi, merunduk nak!" suruh Kakek Badrun.


Aku kaget mendengar Kakek Badrun menyuruhku dengan berteriak, aku pun segera merunduk.


"Kek, apa itu kek?" tanyaku.


Kakek Badrun tak langsung menjawab pertanyaanku, ia sangat waspada dengan apa yang kami hadapi saat ini.


"Tika, memang itu apa sebenarnya?" tanyaku.


"Di, mereka lebih berbahaya dari demit-demit yang tadi menyerang kita." jawab Tika. "Mereka memiliki ilmu hitam paling tinggi, sekali menyerang, mereka tak akan melepaskanmu sampai kau menemui ajalmu." sambung Tika.


"Itu Banaspati!" tambah Kakek Badrun.


Astaga, apa seseram itu Banaspati?


Bola api itu kini berpencar, menyerang ke arah kami.


"Bismillahi. Allahu Akbar!" aku membatin, kubuat tameng dari kekuatan cincin yang kupakai.


Wuungg. Tameng terbentuk dengan sinar berwarna biru.


"Bagus Nak Adi!" ujar Kakek Badrun yang menghindar dari serangan bola api.


Tika membuat tameng, sinarnya berwarna kuning keemasan.


Craasss.. Bola api menabrak tamengku, aku terdorong ke belakang. Bola api ini masih mencoba menerobos tameng yang kubuat.


Nguuuuunnggg. Bunyinya berdengung seperti lebah.


Gila! Dorongannya sangat kuat, tenagaku hampir habis menahan serangannya. Kakek Badrun terus menghindar, sesekali menahan serangan bola api dengan tangan yang memancarkan sinar berwarna kuning. Tika terbang melayang, bola api mengejarnya kemana pun Tika bergerak. Kami semua kewalahan dengan serangan bola api.


Aku tak kuat lagi!


.

__ADS_1


.


.


Aku sudah tak tahan!


.


.


.


.


.


Ya Tuhanku, kuatkan diriku! Aku membatin.


.


.


.


.


.


Praanngg. Tameng yang kubuat hancur. Suaranya pecah bagai kaca. Hancur berkeping-keping.


Bugg! Sshhhhh..


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" aku berteriak dengan kuat sambil meringis kesakitan.


"Nak Adiiii!" Kakek Badrun meneriakiku. "Adiiiiiii!" Tika pun teriak memanggil namaku.


Kakek Badrun lompat menghampiriku. Tika terbang ke arahku. Kakek Badrun mencoba menyingkirkan bola api yang menempel di perutku. Tika pun ikut mambantu. Asap putih pun mengepul keluar. Aku teriak kesakitan, perutku terbakar namun seluruh tubuhku merasakan panas yang teramat sangat.


Di saat Kakek Badrun dan Tika berjuang menyelamatkanku, tiba-tiba terdengar bunyi lonceng. Lonceng kecil namun dengan jumlah banyak. Aku tahu betul suara ini. Mirip dengan kereta kuda atau delman di kampungku.


DUAARRR.


Pintu rumah reot itu meledak, ada kekuatan besar yang menghancurkannya. Ledakannya kini membuat lubang besar yang menganga di dinding rumah.


Suara lonceng makin terdengar, terasa dekat. Tiba-tiba bola api yang menempel di perutku terlepas begitu saja. Ia terbang bersama dua bola api lainnya. Mengitari ruangan sambil berputar-putar. Tubuhku masih terasa panas, bekas luka bakar dari bola api tampak parah. Kulit perutku terlihat mengelupas, berwarna kehitaman, dan mengeluarkan darah cukup banyak.


Ada pancaran cahaya berwarna hijau putih, asalnya dari luar rumah reot. Cahayanya masuk melalui celah pintu yang hancur dan lubang-lubang di area dinding dan jendela. Suara lonceng tiba-tiba berhenti, di gantikan suara ringkikan kuda saling bersahutan.


Aku, Kakek Badrun, dan Tika memandang ke arah pintu yang sudah hancur, pintu berganti menjadi lubang besar di dinding rumah. Cahaya hijau putih berpendar dengan silaunya. Terlihat siluet tubuh perempuan yang tergambar di dinding rumah.


Tiba-tiba sosok wanita cantik nan anggun berjalan pelan memasuki rumah. Tubuhnya memancarkan sinar. Wajahnya cantik rupawan, ia mengenakan mahkota emas di atas kepalanya, bertabur berlian berwarna merah dan biru. Rambutnya hitam, tergerai panjang. Kulitnya putih bersih. Di kedua lengannya menempel pula hiasan dari emas dan bertabur berlian. Mengenakan kebaya berwarna putih dan kain batik, di hiasi selendang berwarna putih. Wanita cantik itu membawa tongkat emas, ada sebongkah batu berwarna hijau besar di ujung tongkatnya. Wanita itu sungguh menawan. Wangi semerbak seribu bunga tercium seketika. Aromanya sangat menyejukkan.


Kakek Badrun langsung bergerak dan duduk bersimpuh di depan wanita cantik itu, kedua tangannya seolah menyembah.


"Salam Kanjeng Ratu." ucap Kakek Badrun.


Kanjeng Ratu? Siapa wanita itu?


Aku dan Tika hanya diam menatap pesona kecantikan wanita yang di sebut Kanjeng Ratu oleh Kakek Badrun.

__ADS_1


"Bangunlah Badrun." balas wanita cantik.


Kakek Badrun bangun, wajahnya tetap tertunduk.


"Sudah kelewatan. Kuntilanak merah itu sudah keterlaluan." ucap wanita cantik.


Duarr.


Seketika wanita cantik itu menembakkan cahaya berwarna hijau ke arah bola api yang terbang berputar. Satu bola api hancur lebur. Kemudian, dua bola api terbang mendekat ke arah wanita cantik. Aku dan Tika hanya bisa menonton, tanpa berkata.


Wanita cantik yang di panggil Kanjeng Ratu oleh Kakek Badrun tersenyum angkuh melihat dua bola api terbang mendekat ke arahnya. Dengan gerakan cepat, wanita cantik itu mengayunkan tongkat emasnya.


Sett.


Sekali gerakan menyapu, kedua bola api meledak hancur berkeping-keping, menyisakan asap tipis yang membumbung.


Aku dan Tika menganga melihat wanita cantik itu, ia dengan mudahnya menghancurkan bola api dengan sekali serangan. Jelas ia bukan wanita sembarangan. Terbukti Kakek Badrun bersimpuh begitu melihatnya masuk ke dalam rumah.


Wuuuuusssss.


Asap hitam bergulung-gulung keluar dari balik dinding di sertai cahaya kemerahan. Sudah pasti itu pemimpin para demit, si kuntilanak merah.


"Hihihihihihihihihihihihihi."


Benar saja dugaanku, kuntilanak merah datang dengan tawa ciri khasnya. Tawanya menggema.


Lalu sosoknya pun muncul dari balik kepulan asap hitam.


"Wah wah wah, ada tamu agung rupanya. Salam sembah dariku.." ucap kuntilanak merah seraya membungkukkan tubuhnya, "Kanjeng Ratu Sekar Dara." lanjutnya.


Aku terhenyak, i-itu Ratu Sekar Dara, penguasa Gunung Komang. Pantas saja Kakek Badrun sampai bersimpuh menyambut kedatangannya.


"Mengapa banyak sekali tamu malam ini, padahal aku tidak sedang kendurian. Hihihihihihihihihi." ujar kuntilanak merah.


"Merah, kau memang tidak pernah berubah. Tawamu membuatku muak. Kau sudah melewati batas Merah!" sahut Kanjeng Ratu.


"Hihihihihihihihihihihi." tawa Merah memecah keheningan malam, menggema.


"Ampun Kanjeng Ratu. Perbuatan apa yang aku lakukan sampai Kanjeng Ratu menyebutku sudah melewati batas?" tanya kuntilanak merah dengan nada mengejek.


"Aku semakin muak dengan tingkah pura-pura bodohmu Merah." balas Kanjeng Ratu.


"Hihihihihihihihihihihihi." lagi-lagi kuntilanak merah tertawa mengikik, seolah meremehkan.


"Sungguh sombong sekali kau Ratu. Hihihihihihihihihi."


Sesaat kemudian mimik wajah si kuntilanak berubah menjadi buas.


"Muak. Kalau kau muak, lalu kau mau apa perempuan laknat!" tanya kuntilanak merah dengan lantang ke Kanjeng Ratu. Kuntilanak merah itu seakan-akan menantang Kanjeng Ratu Sekar.


Kanjeng Ratu Sekar Dara hanya tersenyum angkuh, keanggunan dan wibawanya tak terpungkiri. Kanjeng Ratu Sekar Dara menatap tajam ke kuntilanak merah.


"Sudah lancang kau Merah! Berani-beraninya kau menyebutku perempuan laknat. Cih! Dari dulu aku memang tak suka dengan demit dari golonganmu." tanggap Kanjeng Ratu Sekar.


"Setelah aku memusnahkanmu, akan kumusnahkan juga semua kuntilanak yang tinggal di Gunung Komang. Aku tak sudi kerajaanku di isi oleh demit dari golongan kuntilanak!"


Kanjeng Ratu Sekar Dara dan kuntilanak merah saling tatap, tatapan keduanya penuh amarah. Akan ada pertarungan besar sesaat lagi. Aku dan Tika mundur perlahan hingga menyentuh dinding. Kakek Badrun mundur menghampiri kami. Aura kedua pemimpin itu terasa kuat. Ada cahaya hijau menari-nari layaknya jilatan api di sekujur tubuh Kanjeng Ratu Sekar. Dan cahaya merah bersinar dari belakang tubuh kuntilanak merah, gulungan asap hitam layaknya ombak terus mengepul di sekeliling kuntilanak merah.


Aku menelan ludah. Jantungku berdegup cepat.

__ADS_1


__ADS_2