
"Eng-eng-enggak mau kemana-mana kok Mas." jawabku terbata.
Mas Gun kemudian berbalik, ia kembali ke ruang tengah berjalan dengan perlahan. Jelas, itu bukan Mas Gun. Kubuka pintu kamar dengan cepat. Aku segera menuju kamar Tika.
Tok tok tok. Kuketuk pintu kamar Tika pelan.
"Tik. Tika. Tolongin gue Tik." ucapku dengan suara pelan.
Tak ada jawaban dari dalam kamar.
"Tika. Tika. Tolongin gue Tik." kupanggil lagi.
Ah sial, kenapa Tika tak bangun sih.
Kuketuk lagi pintu kamar Tika. Kali ini agak kuat.
"Tika. Tika. Bangun Tik. Tolongin gue Tik."
Ceklek. Kunci pintu diputar. Aku sumringah. Pintu dibuka. Tika berdiri mengenakan mukena berwarna putih.
"Kenapa?" tanya Tika.
"Tik, tolongin Mas Gun Tik. Kayaknya dia kerasukan. Gelagatnya aneh banget." ujarku.
Tika diam. Ia menghela nafas.
"Hmm. Tunggu sebentar." Tika menutup pintu kamarnya.
Tak lama ia kembali tanpa mengenakan mukena.
"Lo udah shalat?" tanya Tika.
Aku menggeleng dengan ragu.
"Kenapa bangun tidur nggak langsung shalat?" tanya Tika lagi.
"Gue takut lihat Mas Gun." jawabku.
Kami menuju kamarku. Pintu kamar kubuka dengan lebar. Kami masuk ke ruang tengah. Kulihat Mas Gun tidur meringkuk. Tika menyuruhku untuk membangunkannya. Aku menelan ludah.
Kuhampiri Mas Gun, lalu berjongkok di sampingnya.
"Mas. Mas Gun." kutepuk pelan lengannya.
Mas Gun tak bergerak.
"Mas. Bangun Mas." ucapku. Aku menoleh ke Tika. Tika memberi kode untuk terus membangunkannya.
"Mas Gun. Mas. Bangun Mas."
Mas Gun merenggangkan tubuhnya dan berbalik. Ia membuka matanya. Lalu seperti terkejut melihatku dan Tika.
"Eh. Ada apaan nih?" tanya Mas Gun.
Aku dan Tika saling pandang.
"Heh. Kenapa sih? Lo kenapa bangunin gue Di? Ini kenapa Tika ada disini?" tanya Mas Gun.
Aku dan Tika masih diam.
"Memang jam berapa sekarang? Lo berdua pada mau ngapain sih?" Mas Gun bertanya kembali. Ia mengambil ponselnya.
"Astaga. Jam dua. Ngapain Tika disini malam-malam. Sana balik ke kamar!" suruh Mas Gun.
"Emm. Anu Mas. Emm Tika tadi. Anu. Mau. Mau apa sih Tik?" ucapku gagap.
"Oh ini Mas. Gue mau kasih obat buat lo." sergah Tika.
"Aaahhh iya. Tika mau kasih obat buat lo. Obat apa tadi Tik?" sambutku.
"Emm, obat. Obat ini Mas. Obat penurun panas. Iya itu. Obat penurun panas." tukas Tika asal.
Mas Gun memegang dahinya. Dilanjutkan memegang lehernya.
"Ah, badan gue nggak panas kok." tepis Mas Gun.
"Eh. M-masa sih Mas?" sahutku.
Mas Gun menyuruhku untuk memegang dahi dan lehernya. Memang tak panas.
Mas Gun menyuruh Tika untuk kembali ke kamarnya. Ia takut terjadi fitnah jika ada orang yang melihat. Mas Gun pun kembali tidur. Tika kembali ke kamarnya, kuantar ia sampai depan kamar.
"Tik, maaf ya." ucapku.
"Nggak apa-apa. Udah sana shalat! Gue balik ke kamar ya." Tika pun berlalu dan masuk ke kamarnya.
Pintu kamar kututup dan kembali kukunci.
Aku berjalan pelan melewati ruang tengah. Kulihat Mas Gun kembali meringkuk di atas kasur. Aku menuju kamar mandi untuk berwudhu. Kulaksanakan shalat tahajud di ruang depan.
Ya Allah, berikan kekuatan pada hamba untuk menghadapi segala macam gangguan dan godaan. Lindungi hamba dari segala macam kekuatan jahat yang ingin mencelakai hamba dan seluruh orang-orang di sekitar hamba. Tunjukkan yang baik itu baik dan tunjukkan pada hamba bahwa yang jahat itu jahat. Hanya kepada-Mu hamba memohon pertolongan dan perlindungan. Ampunilah dosa-dosa kedua orang tua hamba, dan sayangilah mereka. Amin.
Kuusap wajahku setelah berdoa.
Grep. Aku terkejut ketika kedua tangan Mas Gun mencengkram leherku dari belakang.
Aku gelagapan. Nafasku sesak.
Kulirik Mas Gun. Astaga, mata Mas Gun berwarna merah.
__ADS_1
"M-M-Mas. Uhukk. Mas. Uhuk uhukk. Lo kenapa M-Mas? Uhukk."
Tangannya yang besar membuatku susah bergerak. Aku meronta-ronta. Kucoba melepaskan cengkraman tangan Mas Gun. Namun kekuatannya tak sebanding denganku. Mas Gun menggeram dengan senyum menyeringai. Matanya merah menyala.
"Mas. Is-istighfar Mas. M-Mas. Uhukk."
"Hehehehehe. Malam ini kau akan menjadi tumbal untuk pemimpin kami. Hehehehe." ucap Mas Gun.
Jantungku berdegup dengan cepat.
"Malam ini kau dan temanmu akan menemui ajal. Hehehehehe." ujar Mas Gun.
Bismillahirrahmanirrahiem.
Seketika seluruh tubuhku terasa panas. Kulihat cincin yang kupakai di jari manis mengeluarkan sinar kebiruan. Berpendar. Lama-kelamaan menyilaukan. Hawa panas menjalar dari kepala hingga ke ujung kaki.
Kutarik tangan Mas Gun yang mencengkram batang leherku. Terlepas. Kini tanganku mencengkram tangan kanan Mas Gun. Kutarik dengan kuat ke arah depan.
Buakkk. Tubuh Mas Gun terbanting di depanku. Ia terlentang. Suaranya mengerang.
Wuusshhh. Tiba-tiba aku melayang. Aku melepas raga? Aku terkejut melihat tubuhku duduk bersila. Masa bodo! Aku tak memikirkan bagaimana aku bisa melepas raga.
Aku duduk di atas perut Mas Gun. Kutarik kepala Mas Gun.
Sreeeekkk. Sebuah jiwa keluar dari kepala Mas Gun. Wajahnya menyeramkan. Namun tak ada secuil pun rasa takut hinggap di pundakku.
Kutarik jiwa itu hingga melayang bersamaku.
Bakk bukk bakk bukk bakk bukk. Amarahku memuncak. Sampai tak sadar kupukuli sosok yang merasuki Mas Gun.
"Hiyaaaaaaaaa!" aku teriak kencang.
Kepalan tanganku mendarat dengan kuat di wajah roh itu.
Craaassssshhh. Roh itu hancur lebur menjadi butiran-butiran cahaya berwarna putih.
Sungguh. Aku sangat emosi.
Wuusshh. Sesosok roh keluar dari tubuh Mas Gun dengan cepat. Ia terbang keluar kamar, menembus tembok.
Sial. Mau kabur kemana kau demit. Jiwaku melayang keluar kamar dan mengejar roh tersebut. Aku terbang melesat dengan cepat. Tak akan kubiarkan kau lolos demit jahanam. Aku terbang di belakang roh tersebut.
Tiba-tiba ia berhenti. Ia melayang membelakangiku.
"Mau kabur kemana kau iblis? Sampai ke ujung dunia sekalipun, akan kukejar kau." ucapku.
Perlahan roh itu berbalik badan menghadapku.
Aku tertegun.
Diam tak berkata.
"Hehehehehehe." ia hanya tertawa terkekeh.
"Bagas." panggilku.
Ya. Itu Bagas. Kawanku yang ditemukan tewas di rumah kosong depan gerbang.
"Kenapa Gas? Kenapa lo seperti ini?" tanyaku.
Bagas masih saja tersenyum.
"Apa yang sebenarnya terjadi Gas?" tanyaku lagi.
"Hehehehehe. Gue cuma melaksanakan tugas yang diberikan pemimpin gue Di. Hehehehe." jawab Bagas dengan wajah sumringah.
"Tugas? Tugas apa Gas?"
Tatapan Bagas tajam. Senyumnya masih menyeringai menyeramkan.
Kami saling tatap.
"Hehehehehe. Tugas untuk melenyapkan lo dan teman-teman lo." jawab Bagas tanpa ragu.
Mendengar jawaban Bagas, darahku seperti mendidih. Amarahku kian memuncak.
"Cih. Coba kalau lo bisa! Nggak akan gue biarkan itu terjadi. Kita udah berbeda Gas." sahutku.
"Hehehehehe. Kok lo jadi seperti ini sih Di? Bukankah kita temenan? Hehehehehe. Ayolah Di, ikut gue." ujar Bagas.
Aku senyum kecut.
"Temen? Nggak. Nggak ada hubungan pertemanan lagi antara lo sama gue." ungkapku.
Bagas mengangguk. Ia menghela nafas.
"Hmmm. Sepertinya harus pakai cara lain biar lo bisa ikut sama gue." ucap Bagas santai.
Aku bersiap. Dengan cara apapun akan kumusnahkan Bagas. Tak kuanggap lagi ia temanku. Ia sudah menjadi budak iblis.
"Malam ini lo harus matiiiii!!!!" teriak Bagas sembari melesat ke arahku.
BUAKKK. Pukulannya kutangkis dengan mudah.
Sett. Bagas mengayunkan kakinya ke arah perutku.
Aku lompat menghindar.
Bagas melancarkan pukulan beruntun padaku. Aku menghindar dengan mudahnya. Ia terlihat sangat bernafsu ingin mengalahkanku.
__ADS_1
Lo harus tenang Di. Jangan gegabah. Jangan terbawa emosi. Aku membatin.
Buakk. Bukk. Bukk. Buakk. Beberapa kali serangan Bagas mentah. Aku hanya menghindar dan sesekali menangkis. Raut wajah Bagas terlihat bengis.
Tangan Bagas mengepal. Dari kepalan tangannya keluar cahaya berwarna merah.
"Hiyaaaaaaa!" Bagas teriak seraya menembakkan cahaya merah berbentuk bulat ke arahku.
Tak mau kalah. Kutembakkan cahaya biru dari cincin yang kupakai.
BLAAAAARRRRR. Cahaya merah dan biru beradu membuat ledakan cukup dahsyat.
Kini giliranku demit sial.
Kutembakkan beberapa bola berwarna biru ke arah Bagas.
*Duarr.
Duarr.
Duarr.
Duarr.
Duarr*.
Bagas terhenyak. Namun ia berhasil menghindar.
Sett. Aku melesat terbang mendekatinya dengan cepat.
Aku berhenti di depan Bagas. Ia terkejut. Kulempar senyum kecut.
BUAKKK. Sebuah pukulan mendarat di perutnya. Bagas terpental cukup jauh.
Aku kembali terbang mendekatinya dengan kecepatan penuh.
"Hiiiyaaaaaaaaaaa!!!!!" teriakanku sangat kuat.
*BUGG.
BAGG.
BUAKK.
BUKK.
DUAGG.
BUKK*.
Pukulan dan tendanganku menghantam Bagas bertubi-tubi.
"Hiiyaaaaaaaaaa!!!!!!"
Sinar kebiruan kembali berpendar dari kepalan tanganku.
DUARRRRR. Kutembakkan cahaya biru berbentuk bulat ke arah Bagas.
BLARRRRR.
"Aaaaaaarrrgghhh." Bagas tak sempat menghindar. Ia terpental makin jauh, lalu tubuhnya jatuh di atas tanah dan menabrak pohon.
Aku terbang mendekat dengan cepat ke arah Bagas.
Bagas terlentang di atas tanah. Ia masih saja tersenyum.
"Hehehehehe. Lo he-hebat Di." ucap Bagas dengan lemah.
Aku diam berdiri di samping Bagas yang tergeletak.
"Ki-ki-kita tetap temenan kan Di?" tanya Bagas sambil menyodorkan tangannya. Ia mengajakku bersalaman.
Plakk. Kutepis tangannya.
"Siapa lagi yang jadi pengabdi kuntilanak merah itu?" tanyaku.
Bagas tertawa.
Aku diam.
"Semua yang menjadi tumbal untuk pemimpin kami, akan mengabdi padanya. Tunggu serangan berikutnya. Hahahahaha. Lo nggak bakal hidup tenang Di." jelas Bagas.
Semua yang menjadi tumbal untuk kuntilanak merah itu akan mengabdi padanya? Apa mungkin Pak Rahmat, Mbak Wati, dan Bang Oji juga akan mengabdi pada kuntilanak merah itu. Jelas. Mereka semua memang menjadi tumbal untuk iblis jahanam itu.
"Siapa aja yang mengabdi pada iblis itu?" tanyaku.
"Hahahahahahaha." Bagas hanya tertawa. Ia tak menjawab.
Aku berjongkok di samping Bagas.
"Cukup Gas. Maaf lo bukan teman gue." ucapku.
BUAAAKKKKK.
CRAAAASSSSHHHH. Tubuh Bagas hancur menjadi butiran-butiran yang berhamburan bersinar putih.
Masih ada beberapa demit lagi yang akan kembali menyerang. Aku harus selalu bersiap. Pak Rahmat, Mbak Wati. dan Bang Oji. Mereka sewaktu-waktu bisa menyerangku.
Aku menghela nafas panjang.
__ADS_1
Alhamdulillah.