Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 68


__ADS_3

Mataku terbuka, aku kaget, nafasku terengah. Cahaya matahari masuk melalui celah-celah gordyn. Sudah pagi? Apa yang ku lihat semalam hanya mimpi? Kembali teringat penampakan wanita bergaun merah dengan wajah menakutkan. Ia pun bilang kalau ia menyukai anak sepertiku, astaga bulu kudukku meremang seketika.


Tak mungkin semalam mimpi. Jelas, semalam sangat jelas. Itu mungkin Si Merah yang pernah Nek Iyah sebut. Ya, kuntilanak merah. Bahaya, ia sudah berani menampakkan dirinya. Aku harus pergi dari kost ini. Sial, apa gunanya mustika yang di berikan oleh Kakek Badrun? Sama sekali tak berpengaruh. Tahu kalau kejadiannya seperti ini, biar saja ku berikan mustika itu pada Ki Sona waktu itu. Sial.


Bajuku basah oleh keringat, dan celanaku basah? Apa aku mengompol? Ah memalukan. Apa karena saking takutnya, sampai-sampai aku mengompol? Buru-buru aku menuju kamar mandi untuk mandi dan membersihkan diri. Setelahnya, ku bersihkan lantai kamar yang basah karena ompolku, sungguh memalukan.


Aku berpakaian, lalu ku ambil tas ransel besar. Ku jejalkan semua pakaianku ke dalam tas, dengan terburu-buru. Aku harus pergi dari kost ini. Harus. Sesegera mungkin. Aku tak peduli soal Si Merah, Kakek Badrun, mustika sialan itu, Bang Oji yang berperilaku aneh, Kang Ujang, cairan hitam yang keluar dari lantai, dan penampakan-penampakan aneh yang ku lihat selama aku berada di sini. Mari katakan sayonara!


Baju-bajuku sudah masuk ke dalam tas ransel. Tersisa buku kuliah, alat mandi, alat makan, bantal, selimut, dan dispenser air milik Yuda. Nanti saja ku ambil belakangan, yang jelas aku harus segera pergi dulu dari sini. Semoga saja tak bertemu dengan Nek Iyah.


Jam di ponselku menunjukkan pukul 09:23, itu berarti jadwal Nek Iyah menyapu halaman sudah terlewat. Aku bisa leluasa keluar gerbang tanpa ketahuan, yang ku kuatirkan jika bertemu dengan Kang Ujang, apa yang harus ku jelaskan jika ia bertanya mengapa aku membawa tas besar. Ah, masa bodo!


Aku pun keluar, setelah aku mengunci pintu aku berjalan sedikit cepat. Suasana nampak sepi, yang ku dengar hanya suara radio dari dalam rumah Nek Iyah. Aku berjalan melewati garasi, lalu berjalan menuju halaman, tak ku dengar suara sapu menggesek tanah. Dan sampailah di depan gerbang, ku buka gerbang dengan perlahan. Sampai akhirnya..


"Dek Adi." sebuah panggilan dari Nek Iyah.


Aku berbalik.


"Iya nek." jawabku.


"Kamu mau ke mana? Kok bawa tas besar?" tanya Nek Iyah.


Aku bingung mencari alasan.


"Ah, em, ini nek. Em, mau. Mau. Mau naik gunung rencananya." jawabku amat gugup.


Wajah Nek Iyah nampak segar, senyumnya pun tersirat manis.


"Boleh saya bicara sebentar?" ucap Nek Iyah.


"Eh, bo..boleh nek." jawabku seraya berjalan menghampiri Nek Iyah yang berdiri di teras.


Nek Iyah tersenyum padaku.

__ADS_1


"Mau bicara apa nek?" tanyaku. Aku gugup bertemu dengan Nek Iyah, terasa beda rasanya. Aku jadi takut dan tak berani menatap Nek Iyah.


"Kamu mau pergi dari sini?" tanya Nek Iyah dengan suara pelan.


"Eh, eng..enggak nek. Eng..enggak kok." aku tergagap.


Nek Iyah balas dengan senyum.


"Nggak apa kalau mau pergi, tapi nanti kamu bakal kembali ke sini lagi." ujarnya pelan.


"M..m..maksud Nek Iyah apa?" tanyaku.


Ia hanya senyum dan tak berkata lagi. Lalu mempersilakanku untuk berangkat kuliah. Aku memikirkan apa makna yang ia katakan tadi. Aku menggendong tas besar menuju kontrakan Mas Gun. Malam ini, aku akan menumpang tidur di kontrakan Mas Gun, tak peduli Mas Gun bilang apa.


Berjalan selama sepuluh menit lebih, akhirnya aku sampai di kontrakan Mas Gun. Pintunya tertutup rapat, tapi motornya terparkir di depan kamarnya. Pasti ia masih tidur, pikirku. Aku mengetuk pintu dan mengucap salam. Cukup lama tak di buka oleh Mas Gun, jariku sampai perih mengetuk pintu.


"Iya iya iyaa." ucapnya dari dalam. Mas Gun membuka pintu. Wajahnya sembab baru bangun dari tidur.


"Lho? Mau kemana Di?" tanya Mas Gun sambil mengucek matanya.


Mas Gun nampak heran, "Kenapa tiba-tiba berubah pikiran? Kemarin masih keukeuh stay di sana." ujar Mas Gun.


"Gue lihat penampakan serem mas. Parah!" ucapku sembari mengambil sebatang rokok milik Mas Gun.


"Hah? Penampakan? Penampakan apaan Di?" tanya Mas Gun tertarik.


Kemudian ku ceritakan tiap detil kejadian yang ku alami tadi malam, tak ku lewatkan sedetik pun. Mas Gun mendengarkan dengan seksama, tak berkedip sekejap pun.


"Yakin nih mau cabut dari kost sana? Nggak ragu-ragu kan?" tanya Mas Gun meyakinkan.


"Yakin seratus persen mas! Kali ini nggak bakal ada keraguan." jawabku tegas.


"Eh mas, gue kuliah dulu ya. Sebentar lagi jadwal masuk kuliah nih." ucapku sambil memetikan sebatang rokok.

__ADS_1


"Iya deh. Belajar yang betul ya." balas Mas Gun.


Aku meninggalkan kontrakan Mas Gun menuju kampus. Sedari tadi ponselku terus bergetar, namun tak ku gubris karena sedang asik cerita dengan Mas Gun. Kemala? Tiga panggilan tak terjawab dari Kemala, dan sepuluh pesan belum terbaca. Ada apa ini? Mengapa Kemala menghubungi berkali-kali? Apa ada sesuatu yang penting? Apa ia yang ingin mengungkapkan perasaannya lebih dulu padaku? Hahahahahaha, khayalanku terlalu jauh sepertinya. Aku pun menghubungi Kemala.


"Mala, kena..."


"Kemana aja sih? di telpon nggak jawab-jawab. Udah baca pesan gue belum? lihat pesan gue sekarang! Kalau udah, gue tunggu di lobby kampus sekarang!"


Tep. Kemala mengakhiri panggilan.


Aku hampir tak mendengar apa yang ia bicarakan, karena saking cepatnya. Ku baca pesan dari Kemala.


Hah? Ibunya Kemala ingin bicara denganku? Ada perihal apa ini? Kemala menungguku di lobby kampus, aku pun bergegas mempercepat langkahku. Aku tak ingin ia menunggu.


Sampailah aku di lobby kampus, keringat membasahi dahi, nafasku sedikit tersengal. Kemala duduk di bangku panjang dekat lift. Ia memandangku dengan tatapan judes.


"La, maaf La. Tadi gue lagi ketemu sama Mas Gun, jadi nggak bisa jawab telepon lo." ucapku.


"Sepenting apa Mas Gun?" balasnya ketus.


Lho? Ada apa dengan Kemala?


"Di, gue nggak tahu yang lo obrolin ke nyokap gue apaan ya. Tapi sepertinya masalah lo yang lo ceritain ke nyokap gue, itu udah ganggu hidup gue." ujar Kemala.


"Ganggu hidup lo? Maksudnya?" tanyaku bingung.


"Lo di minta datang ke rumah sore ini, nyokap gue mau ketemu sama lo." jawabnya, masih dengan ketus.


"Oke siap. Terus bagian mana yang sampai ganggu hidup lo? Penasaran gue?" tanyaku.


"Karena masalah lo udah bikin nyokap gue selalu bicarain lo di rumah. Sampai pagi ini pun, nyokap gue berkali-kali hubungi gue tanyain lo." terang Kemala.


"Lho, itu kan bukan kemauan gue." ungkapku.

__ADS_1


Kemala melihat ponselnya, mengetik sesuatu dan berkata, "Itu nomor nyokap gue, silakan lo hubungi sendiri. Gue capek dengar nama lo terus-terus di sebut sama dia!"


Lalu Kemala pergi dengan tergesa meninggalkanku.


__ADS_2