
Kakek Badrun menyeka air matanya yg membasahi pipi. Ia terbahak sampai menangis. Entah apa yang ada di pikirannya, sampai tertawa begitu lepas dan puas.
"Sudah kek?" tanyaku.
"Hehehehe. Maaf nak, aku teringat kenangan saat itu. Hehehehe." jawab Kakek Badrun.
"Oh iya, sampai di mana tadi kakek bercerita?" tanya Kakek Badrun.
"Tadi sampai kakek punya lebih banyak peliharaan demit ketimbang Nek Iyah." jawabku.
"Ahh iya iya. Badriyah tidak tahu, kalau demit penghuni Gunung Komang adalah sahabatku. Bahkan Ratu Sekar Dara lebih mengenalku ketimbang dirinya, Kanjeng Ratu Sekar tahu kalau Badriyah sudah menggunakan mustika itu dengan sembarangan dan semena-mena. Kanjeng Ratu Sekar pun tak senang dengan Badriyah." cerita Kakek Badrun.
"Lalu, saat aku terpojok sekumpulan demit menyerang Badriyah dengan tiba-tiba. Hahahahahaha." Kakek Badrun kembali tertawa.
"Kau tahu, Badriyah memanggil satu peliharaannya. Hanya satu, si kuntilanak merah itu. Hahahahahaha. Jelas kuntilanak itu mati. Dan Ratu Sekar Dara pun merebut mustika itu dengan sekejap mata." lanjut Kakek Badrun.
"Kek, kalau memang kuntilanak itu mati, lalu kenapa sekarang kuntilanak merah itu masih ada?" tanyaku.
"Hahahahaha. Nak Adi, kau pikir kuntilanak merah itu cuma satu. Ada jutaan kuntilanak merah." jawab Kakek Badrun.
"Akibat pertarungan itu, aku pun kehilangan setengah ilmu kanuraganku. Demit peliharaanku banyak pula yang mati." lanjut Kakek Badrun.
"Kakek bilang mustika itu di rebut oleh Ratu Sekar Dara, lalu mengapa kembali di pegang oleh kakek?" tanyaku. Banyak teka-teki yang tersembunyi dalam cerita Kakek Badrun.
"Awalnya aku tak mau menerima mustika itu kembali. Tapi Kanjeng Ratu Sekar memberikannya padaku, karena mustika itu kudapatkan dari hasil jerih payaku bertapa di gunung itu. Kanjeng Ratu Sekar bilang, di tanganku mustika itu lebih aman." jawab Kakek Badrun.
Aku diam mencerna cerita Kakek Badrun.
"Kek, kalau dulu kakek bisa merebut mustika itu dengan bertarung dengan Nek Iyah, lalu mengapa saat ini kakek tidak kembali bertarung untuk merebut mustika itu? Kenapa harus melibatkan saya kek?" tanyaku.
"Hehehehehe. Ini yang akan kuberitahukan padamu nak. Dulu aku berteman dengan seorang sakti bernama Raden Halim, ia seorang bijak yang di fitnah sebagai tukang santet. Di fitnah sebagai dukun ilmu hitam. Padahal, ia adalah seorang mantri dan sering mengobati orang. Ia mati di bakar hidup-hidup oleh warga kampung. Satu minggu sebelum kejadian itu, ia menitipkan sesuatu untuk anak cucu keturunannya kelak. Kau tahu siapa Raden Halim itu?" tanya Kakek Badrun.
Aku menggeleng.
"Ia adalah kakek buyutmu."
Deg.
Kakek buyutku seorang sakti? Ah, apa mungkin benar?
"Mana mungkin kek! Keluargaku orang biasa tak mungkin keturunan orang sakti, lagi pula tak ada yang bisa mengobati orang sakit." sanggahku.
"Keluargamu menutup-nutupi nak. Kakekmu anak dari kakek buyutmu tak mau anak cucu keturunannya di cap juga sebagai dukun santet. Padahal dalam darahmu mengalir darah Raden Halim, justru itulah nak kau di takdirkan untuk membasmi semua kejahatan Badriyah."
Aku diam, berpikir dan mencerna informasi dari Kakek Badrun.
"Aku rasa kakek mengarang. Aku tak percaya soal keturunan orang sakti itu. Keluarga kami hanya orang biasa, tak lebih." tambahku.
"Hmm, nanti kau akan tahu sendiri nak, kau akan tahu ketika mustika itu kau gunakan setelah merebutnya." sahut Kakek Badrun.
"Dan ini. Ini pemberian kakek buyutmu yang dahulu di titipkan padaku. Kau simpanlah." Kakek Badrun menyerahkan cincin batu akik, cincin berwarna silver dengan kilau yang menyilaukan. Serta batu di atasnya berwarna biru kehitaman.
"Ini apa kek?" tanyaku begitu menerima cincin batu.
"Itu cincin kakek buyutmu nak. Pakailah." suruh Kakek Badrun. "Di cincin itu tertulis sebuah nama dalam aksara jawa." tambah Kakek Badrun.
__ADS_1
Ya, bagian dalam cincin terukir sebuah huruf aksara jawa yang tak kutahu apa bacaannya.
"Apa arti tulisan ini kek?" tanyaku.
"Aku tak tahu nak, kau carilah arti dari tulisan itu." balas Kakek Badrun.
Makin banyak Kakek Badrun mengungkap misteri yang saling terkait, sampai-sampai kakek buyutku pun di bahas olehnya. Tapi apa betul yang di ceritakan kakek tua ini? Seumur hidupku, aku memang tidak tahu siapa nama kakek buyutku. Bukan karena aku cicit yang lancang, tapi memang semua keluargaku tak pernah menyebut nama kakek buyutku, Raden Halim.
"Jadi untuk apa cincin ini kek?" tanyaku lagi.
"Kau simpanlah nak. Itu pemberian dari kakek buyutmu. Kau ingat, malam jumat besok kau harus berusaha untuk mengambil mustika itu di rumah Badriyah." ujar Kakek Badrun.
"Tika nanti akan membantumu." sambung si kakek.
"Jadi, selama menunggu malam Jumat, akan ada banyak gangguan yang menyerangku kek?"
"Aku tak yakin nak, tapi pastinya akan ada gangguan dari peliharaan-peliharaan Badriyah. Entah bagaimana macamnya, yang jelas kau harus hati-hati. Terlebih pada sosok kuntilanak merah itu. Karena sosok itulah yang paling kuat diantara semua peliharaan Badriyah." jelas Kakek Badrun.
"Berhati-hatilah ketika melewati rumah kosong yang ada di depan rumah Badriyah. Karena di sanalah tempat berkumpulnya peliharaan Badriyah." lanjut kakek.
"Apa? Rumah kosong?"
"Iya Nak Adi. Di sanalah Badriyah mengumpulkan semua peliharaannya. Auranya sangat kuat. Jangan sampai pikiranmu kosong saat lewat depan rumah itu." perintah Kakek Badrun.
"Apa kuntilanak merah ada di rumah itu juga kek?" tanyaku penasaran.
Kakek Badrun menggeleng penuh keyakinan.
"Kuntilanak merah itu ada di rumah Badriyah. Ia di tempatkan di tempat khusus. Sebuah kamar di lantai atas rumah Badriyah." jawab Kakek Badrun.
Seketika bulu kudukku merinding. Aku takut. Aku ketakutan.
"Aku pergi sekarang."
Melawan kebathilan bersama? Apa aku ini seorang pahlawan super?
"Kek, tunggu kek!" panggilku. Kakek Badrun menghentikan langkahnya.
"Kapan kakek akan menemuiku lagi?" tanyaku.
Kakek Badrun tersenyum.
"Setelah mustika itu sudah ada di tanganmu." ucapnya.
Kakek Badrun berjalan ke tengah lapangan yang gelap, lalu perlahan sosoknya tak terlihat, di makan pekatnya malam. Aku diam berdiri di bibir lapangan. Entah apa yang hendak kulakukan. Aku masih ketakutan. Aku tak berani pulang ke kost.
Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke kontrakan Mas Gun, aku akan menumpang tidur di sana malam ini. Jam di ponselku menunjukkan pukul 21:55. Jalan sudah mulai sepi, banyak toko dan warung bersiap tutup.
Tringg. Sebuah pesan masuk.
Tika.
- Lo di mana Di? Belum pulang ke kost? -
Kubalas.
__ADS_1
- Malam ini gue tidur di kost saudara gue Tik. Besok siang kita ketemuan di kantin ya, banyak yang mau gue omongin. -
Tringg.
- Ngomong soal apa? Udah ada rencana buat ambil mustika itu? - Tika membalas.
- Besok kita bicarain ya. Sorry, nggak jadi makan malem bareng nih :D -
- Hehehehe. Santai, kan bisa di ganti besok makan siang. Yaudah, hati-hati ya ;) - balas Tika.
- Oke :) -
* * *
Aku pun sampai di kontrakan Mas Gun. Seperti biasa, pintu kamar Mas Gun masih terbuka lebar. Suara musik terdengar dari luar kamar.
"Assalamualaikuum!" aku mengucap salam dari depan pintu kamar, aku duduk di teras sambil melepas sepatu.
"Waalaikumsalam." jawab Mas Gun dari dalam kamar. "Siapa ya?"
Hah, siapa? Apa Mas Gun tak mengenali suaraku? Aku pun masuk ke dalam kamar. Mas Gun sedang duduk di depan laptopnya. Matanya terpaku pada layar laptop.
"Mas!" panggilku.
Mas Gun mengernyitkan alisnya, matanya di picingkan, seolah melihatku tak jelas.
"Apaan sih lo mas! Udah nggak kenal sama gue?" tanyaku sembari mendekati Mas Gun.
"A-Adi?" tunjukknya.
"Ya siapa lagi mas. Lo nggak kenal gue?" tanyaku.
"Astaghfirullah Adiiii. Lo kenapa Di?" Mas Gun bangun dari duduknya. Ia mendekatiku, menepuk bahuku.
"Lo sakit?" tanya Mas Gun lagi.
"Apaan sih mas? Gue sehat wal afiat. Lo tuh kenapa? Sakit mata? Sampai nggak kenalin gue." balasku.
"Duduk Di. Sumpah gue nggak kenalin wajah lo. Lo berubah Di!" ucap Mas Gun. Raut wajahnya sangat serius, ia tak mungkin bercanda. Apa iya Mas Gun tak mengenali wajahku? Ada apa ini sebenarnya?
"Berubah apa? Berubah jadi apa mas?" tanyaku.
"Lo ada masalah apa Di? Lo terlihat nggak seperti biasa, wajah lo pucat. Lo terlihat lebih kurus. Udah makan?"
"Masa sih mas?"
"Beneran Di. Makan dulu ya Di. Sebentar gue ke warung depan. Lo diam-diam ya, tunggu sebentar." Mas Gun kelabakan, ia melesat keluar kamar. Aku masih di hantui rasa penasaran, apa iya wajahku berubah? Aneh.
Tak lama Mas Gun kembali membawa sebungkus nasi. Ia memberikannya padaku.
"Ini makan dulu, jangan ngomong apa-apa. Nanti aja ceritanya, habis lo makan." Mas Gun memberikan bungkus nasi. Ia ke belakang, dan kembali membawa gelas besar. Mas Gun membuat segelas besar teh manis panas, lalu memberikannya padaku. Aku masih kebingungan dengan gelagatnya.
"Kok diam?" tanya Mas Gun. "Ayo makan dulu Di!" suruhnya, Mas Gun membuka bungkus nasi, lalu menyuruhku makan.
"Lo kenapa sih mas?" tanyaku heran.
__ADS_1
"Sssttt. Udah makan dulu, nih minum teh panas. Biar badan lo segar." sahutnya.
Aku yang heran, bingung, bercampur penasaran pun akhirnya makan dengan lahap. Perutku memang lapar sejak tadi. Tapi bertemu dengan Kakek Badrun dan mendengarnya bercerita, membuat laparku hilang. Mas Gun menatapku makan, aku pun risih dan merasa terganggu. Matanya seolah tak mau berpindah, tatapannya dalam menatapku makan. Aneh.