
Kriiiiiiiinnggg kriiiiiinnggg. Ponselku berdering nyaring.
Yuda?
Kujawab panggilan dari Yuda.
"Ya, kenapa Da?" tanyaku.
"Dimana lo? Nggak kuliah?" tanya Yuda.
"Emm, kayaknya enggak deh." jawabku.
"Yakin lo hari ini nggak mau masuk kuliah?" Yuda meyakinkan.
"Iya, gue nggak masuk. Memang kenapa Da?" tanyaku.
"Hari ini ada UTS mata kuliah akuntansi syariah. Mending lo masuk, nanti nyontek sama gue aja. Rugi kalau lo harus ngulang." jelas Yuda.
Aku diam.
"Udah, jangan kelamaan mikir. Buruan lo berangkat ke kampus sekarang!" suruh Yuda.
"I-iya deh. Gue berangkat." sahutku.
"Eh Di, nanti kelar UTS ada yang mau gue obrolin sama lo ya." ujar Yuda.
"Eh, ngobrol soal apa nih? Jadi penasaran gue."
"Udah nanti aja. Buruan jalan!" suruh Yuda.
"Iya iya."
Setelah Yuda mengakhiri panggilan telepon, aku bersiap-siap. Mandi dan mengganti baju. Tika dan Mas Gun sempat bertanya padaku.
"Lo mau kemana Di?" tanya Mas Gun.
"Ke kampus Mas. Gue ada UTS nih." jawabku.
"Yaelah Di, masih mikirin UTS aja sih. Keadaan lagi genting begini." sahut Mas Gun.
"Iya Di. Memang lo nggak bisa izin?" Tika bertanya.
Kujawab sembari memasukkan buku ke dalam ransel.
"Nggak bisa Tik. Ini dosen killer banget. Sore gue balik kok."
Tika bangun dari duduk, ia berjalan ngeloyor keluar kamarku.
"Lo harus lebih bisa memilih mana yang harus didahulukan, mana yang bukan. Gue nggak habis pikir, lo masih pikirin kuliah daripada keselamatan lo." Tika berujar didepan pintu kamarku.
Tika berjalan, lalu masuk ke dalam kamarnya.
Aku hanya diam. Mas Gun pun hanya diam.
Entah apa salahku? Tak bolehkah aku kuliah dalam keadaan genting seperti ini? Aku tahu keselamatanku dan teman-temanku sedang terancam. Tapi apa aku salah kalau aku hanya ingin kuliah?
Tika memandang sinis padaku. Mas Gun hanya diam tak membelaku. Mengapa mereka seperti itu padaku?
"Mas, gue berangkat." aku pamit pada Mas Gun.
__ADS_1
"Iya." jawab Mas Gun singkat.
Aku berjalan dengan cepat menuju kampus. Matahari siang terasa terik. Namun di kejauhan awan hitam bergumul, terlihat seperti bahtera Nabi Nuh yang sangat besar. Aku mempercepat langkahku. Melewati garasi dan halaman rumah Nek Iyah. Dengan cepat kubuka gerbang kost. Kututup kembali.
Eh. Nek Iyah.
Aku sempat terdiam memandang Nek Iyah. Ia berdiri di depan pintu rumahnya. Wajahnya tampak sayu dengan kantung mata yang menghitam. Ia memandangku dengan tatapan datar, tanpa ekspresi yang tersirat. Tubuhnya sedikit membungkuk. Dan rambutnya terlihat berantakan.
Tak kugubris. Aku pun pergi meninggalkan kost menuju kampus.
Tak lama aku pun sampai di kelas. Nafasku sedikit terengah karena langkahku yang cepat. Beruntungnya Bu Yus belum sampai di kelas. Bu Yus, dosen super judes dan buas yang mengajar mata kuliah akuntansi syariah. Tak dapat mengerjakan soal yang ia berikan, dijamin jemari di tangan akan memerah. Bu Yus akan memukul jemari dengan spidol snowman. Takk! Bunyi nyaring tulang bertumbuk dengan spidol. Terasa perih dan nyut-nyutan. Parasnya ayu dan manis, cuma terhalang oleh wajah judesnya. Tubuhnya agak pendek dan sedikit gempal, khas ibu-ibu. Selalu memakai kerudung panjang. Logat bicaranya layaknya orang Sunda.
"Gila, cepet banget sampai kampus? Lo nggak mandi ya?" tanya Yuda meledek.
"Ya kali gue nggak mandi." sahutku.
"Lo kenapa tadi nggak mau kuliah?" tanya Yuda.
Aku menghela nafas.
Aku diam.
"Kenapa? Dapat gangguan lagi?" tanya Yuda.
Aku menoleh ke arah Yuda.
"Ah enggak kok. Aman Da. Alhamdulillah sudah nggak ada gangguan lagi." jawabku asal.
"Serius?" Yuda meyakinkan.
"Iya serius."
Bu Yus mulai membagikan selembar kertas ke tiap mahasiswa. Ia masih belum berkata apa-apa.
Setelah kertas rata tersebar ke seluruh mahasiswa. Bu Yus menulis beberapa soal di papan tulis. Lagi-lagi ia tak berkata sepatah pun. Wajahnya terlihat tak mengenakkan.
Ada sepuluh soal yang terpampang di papan tulis. Bu Yus kemudian duduk bersandar, matanya memandang ke arah kami semua.
"Berapa lama durasi mata kuliah saya?" ucap Bu Yus.
Semua mahasiswa diam.
"Kok nggak ada yang jawab?"
Kami diam sambil saling tengok.
"Saya tanya, mata kuliah saya hari ini durasinya berapa lama?" tanya Bu Yus dengan nada tinggi.
"Satu jam empat puluh lima menit Bu." ucap Rahmat si ketua.
Bu Yus hanya mengangguk.
"Selesaikan soal yang ada di papan tulis. Saya kasih waktu satu jam dari sekarang!" ujar Bu Yus.
Mendengar ucapannya kami semua buru-buru sibuk mengerjakan. Otakku buntu. Satu soal pun aku tak mengerti. Hanya Yuda harapanku satu-satunya.
Waktu terus berjalan, Yuda diam-diam memberiku contekan. Belum pernah seumur hidupku mencontek. Baru kali ini kulakukan kecurangan seperti ini. Ada rasa bersalah dalam hatiku.
Kulihat mata Bu Yus jelalatan memperhatikan gerak-gerik mahasiswa. Aku masih diam-diam mencontek dari kertas jawaban Yuda. Sejauh ini Bu Yuda tak curiga sama sekali padaku.
__ADS_1
Mataku sesekali tertuju pada wajah Bu Yus. Hanya sekedar melihat situasi. Entah kenapa tiba-tiba wajah Bu Yus berubah menjadi wajah yang sangat menyeramkan. Wajah yang sangat kukenal. Wajah menakutkan yang membuat bulu kudukku meremang. Wajah dengan senyum menyeringai buas. Ya, itu adalah wajah kuntilanak merah.
BRAAKKK. Aku terkejut sampai jatuh ke belakang. Aku terjengkang dan kursi yang kududuki pun tumbang.
Seisi kelas menatapku dengan heran, tak terkecuali Bu Yus. Samar-samar kudengar tawa teman kelasku.
"Hei, kamu kenapa?" tanya Bu Yus yang menghampiriku.
Kulihat wajah Bu Yus kembali normal. Nafasku terengah. Aku celingukan. Apa benar yang tadi kulihat?
"Hihihihihihi." suara tawa mengikik terdengar.
Aku bergetar ketakutan.
"Hei, kamu sakit?" Bu Yus bertanya. Namun tak kugubris. Suara tawa mengikik masih menggema di lubang telingaku.
"Hihihihihihihihi." kali ini tawanya lebih panjang.
Seluruh kelas melihatku keheranan. Mungkin mereka menyangka aku gila. Keringatku mengucur deras.
Tiba-tiba, wajah teman kelasku berubah. Semua wajah mereka berubah menjadi wajah kuntilanak merah. Bahkan wajah Yuda pun berubah. Semua menatapku dengan senyum menyeringai, sangat menyeramkan.
"Adiiiii. Hihihihihihihihi." panggilan terdengar samar.
"*Adiiiii."
"Adiiii."
"Hihihihihihi."
"Adiiiii*." suaranya pelan dan terdengar parau.
Suara panggilan dan tertawa memenuhi isi telingaku. Aku terserang panik. Aku mundur menjauh dari Bu Yus dan teman kelasku sampai dinding belakang kelas.
"*Adiiiii."
"Hihihihihihi."
"Adiiiii*."
Kubekap telingaku dengan kedua tangan sambil memejamkan mata. Aku meringkuk tertunduk.
"Waaaaaaaaaaaaaaaaa! Pergiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!" aku teriak dengan sangat keras.
Tubuhku terasa diguncang dengan kuat. Suara panggilan dan tertawa mengikik hilang, tak terdengar lagi.
"Di, sadar Di. Adi." Yuda memanggil namaku.
"Lo kenapa Di?"
"Ini gue Yuda. Adi. Sadar Di." ucap Yuda sambil terus mengguncang tubuhku.
Aku membuka mata, kuangkat kepalaku dan melihat sekeliling. Tampak seisi kelas melihatku dengan tatapan aneh, tak terkecuali Bu Yus. Sedangkan beberapa pasang mata lainnya menatapku dengan takut.
"Di, lo kenapa Di?" tanya Yuda.
Nafasku terengah. Dahiku basah oleh keringat. Aku malu bercampur takut.
Tanpa pikir panjang, aku bangkit dan berlari keluar kelas. Meninggalkan UTS akuntansi syariah yang sedang berlangsung. Meninggalkan Yuda dan semua teman kelas. Aku malu sejadi-jadinya.
__ADS_1