Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 166


__ADS_3

"Jadi, balas budi apa sih Kang Ujang itu dengan Nek Iyah?" tanya Tika.


Aku mengisi segelas air putih. Menenggaknya dengan cepat.


"Rokoknya Juragan." Mas Gun menyodorkan sebatang rokok untukku. Kuambil.


Crass. Mas Gun menyalakan korek api.


"Silakan Juragan." lalu menyodorkan korek api yang menyala.


Kubakar rokok. Kuhisap dan kuhembuskan asapnya.


"Nah, sekarang silakan cerita." pinta Tika.


Mas Gun tak berkata apa-apa.


"Lo kenal Bi Tati kan?" tanyaku pada Tika.


Tika cengengesan.


"Lo lagi bercanda atau gimana nih?" tanya Tika.


"Hehehehehe. Kan gue cuma tanya Tik." sahutku.


"Memang siapa Bi Tati?" tanya Mas Gun.


Aku dan Tika kompak menoleh ke arah Mas Gun.


"Lho, kenapa kalian lihat gue seperti itu? Wajar kan kalau gue tanya? Karena gue memang nggak tahu siapa Bi Tati itu." ujar Mas Gun.


"Ceritain dulu soal keluarga Pak Thamrin Di." suruh Tika.


Aduuuhh, makin banyak PR-ku kalau harus menceritakan kisah keluarga Pak Thamrin pada Mas Gun.


"Buruan cerita Di!" pinta Mas Gun.


"Oke. Cerita soal keluarga Pak Thamrin akan gue rangkum dengan sangat singkat, padat, dan semoga jelas. Jadi lo bisa nyambung dengan cerita Kang Ujang selanjutnya. Oke." tuturku.


"Oke. Buruan cuss!" sahut Mas Gun.


Lalu kuceritakan asal muasal Kang Ujang bersama kedua orang tuanya tinggal di rumah Pak Thamrin dan bekerja sebagai pembantu. Kujelaskan juga kalau sebelum keluarga Kang Ujang bekerja di rumah Pak Thamrin, ada seorang tukang masak yang lebih dulu bekerja. Bi Tati namanya.


Kuceritakan pada Mas Gun kalau Pak Thamrin mempunyai seorang istri bernama Nyai Asih. Yang mana, Nyai Asih ini sebenarnya anak kandung dari Bi Tati. Namun identitas Bi Tati sebagai ibunya disembunyikan olehnya dan Pak Thamrin.


Saat Pak Thamrin tugas ke luar kota, Nyai Asih mengandung anak dari Pak Thamrin. Anak yang lama diidam-idamkan. Namun seiring berjalannya waktu, ada masalah yang timbul. Nyai Asih keguguran. Sepulang tugas dari luar kota, Pak Thamrin murka mengetahui Nyai Asih keguguran. Dan memutuskan untuk kabur meninggalkan Nyai Asih.

__ADS_1


"Waaahh, kok jadi suami seperti itu sih." ucap Mas Gun.


"Bukannya menguatkan istri, ini malah kabur. Nggak jelas banget Pak Thamrin." tambah Mas Gun.


Kulanjutkan cerita. Pak Thamrin pulang membawa seorang perempuan muda belia, seumur Nyai Asih. Bernama Badriyah. Sejak saat itu sifat Pak Thamrin berubah menjadi pemarah, angkuh, dan gampang emosi. Sehingga membuat tidak nyaman seluruh penghuni rumah.


Setelah keguguran, Nyai Asih menderita infeksi rahim. Sampai ia meninggal, Pak Thamrin tak jua berubah. Malah seakan senang dengan meninggalnya Nyai Asih.


Bi Tati sebagai ibu kandung merasa geram dengan Pak Thamrin. Ia yang sebenarnya seorang sakti memutuskan untuk menyantet Badriyah. Karena Bi Tati pikir bahwa akar masalah yang timbul di keluarga itu akibat ulah Badriyah yang merebut Pak Thamrin dari anaknya, Nyai Asih.


Badrun sebagai kakak dari Badriyah merasa kesal dengan perlakuan Bi Tati. Badrun berencana membalas dendam. Badrun menyantet balik Bi Tati, sampai akhirnya Bi Tati meregang nyawa.


"Gitu Mas cerita singkatnya. Jelas?" tanyaku.


"Hmmm." Mas Gun hanya bergumam.


"Lalu, dimana part balas budinya?" tanya Mas Gun.


Kujelaskan lagi soal pertanyaan Mas Gun.


Sebelum Bi Tati memutuskan untuk menyantet Badriyah, terlebih dulu Bi Tati dipecat oleh Pak Thamrin. Bi Tati merasa kalau orang tua Kang Ujang berada di pihaknya dan setia kawan sebagai sesama pembantu. Namun tak di nyana, orang tua Kang Ujang menolak untuk keluar dari rumah Pak Thamrin dan memutuskan untuk tetap bekerja disana. Disitu Bi Tati semakin geram. Ia menyantet Badriyah, Ayah, dan Ibu Kang Ujang.


Kang Ujang yang sebatang kara ditawarkan oleh Badriyah untuk mengabdi padanya dan Pak Thamrin. Jika Kang Ujang mau, Badriyah akan membalaskan dendam atas perlakuan Bi Tati pada kedua orang tua Kang Ujang. Akhirnya Kang Ujang mengiyakan, ia begitu terpukul melihat kedua orang tuanya tewas dengan cara yang tidak wajar.


"Gitu Mas ceritanya. Jelas kan?" tanyaku.


"Terus Bi Tati memang siapa lo Tik? Tadi Adi tanya ke lo kenal dengan Bi Tati atau enggak, lo malah bilang bercanda."


Tika tersenyum.


"Bi Tati itu nenek gue Mas." jawab Tika.


"Apa? Nenek lo? Nenek lo orang sakti?" Mas Gun terkejut.


"Iya Mas. Semua anaknya nggak mau diturunkan ilmu olehnya. Akhirnya gue yang menjadi korban sebagai cucu."


"Tik, gue mau tanya deh. Kalau lo cucu dari Bi Tati, berarti Nyai Asih bibi lo dong?" tanyaku.


"Iya. Nenek gue menikah dang suami pertamanya, lahirlah Nyai Asih. Lalu nenek gue menikah untuk kedua kalinya, dan gue keturunan dari suami keduanya. Bisa dibilang, gue dengan Nyai Asih adalah bibi dan keponakan tiri." jelas Tika.


"Oohh gitu." sahutku.


"Lalu, hubungan persaudaraan lo dengan Kemala dari mana?" tanyaku lagi.


"Ehemm! Ciyeeee Kemala. Ciyeee." ledek Mas Gun.

__ADS_1


"Apaan sih lo Mas." sungutku.


"Gue nggak ada hubungan darah dengan Kemala. Ia hanya sepupu tiri. Almarhum ayahnya kebetulan menikah dengan bibi gue. Ya itu, nyokapnya yang sekarang. Yang pernah menghubungi lo, dan menyuruh lo untuk jangan pergi dari kost ini. Ingat kan?"


"Gue ngerti sekarang. Gue ngerti." ucapku.


"Keluarga lo ruwet banget ya Tik. Susah tuh kalau pembagian warisan. Hehehehe." ucap Mas Gun asal.


Tika hanya terkekeh tak ambil pusing.


"Tapi Tik, masih ada perasaan kesal nggak dalam hati lo mengetahui nenek lo tewas disantet oleh Nek Iyah?" tanyaku.


"Kesal kenapa?" tanya Tika.


"Ya mungkin aja lo masih menyimpan rasa ingin membalas perbuatan Nek Iyah gitu." ucapku.


Tika tersenyum.


"Rasa kesal pasti ada Di. Cuma kalau nggak ada yang mau mengalah dan menerima semua yang sudah ditakdirkan Tuhan, bakal nggak ada habisnya dong. Kalau gue pribadi, gue hanya ingin menumpas akar dari semua permasalahan yang terjadi." jelas Tika.


"Kuntilanak merah. Itu saja incaran gue. Mungkin setelah iblis itu musnah, hidup gue akan jauh lebih tenang." lanjut Tika.


"Bismillah Tik. Semoga kita bisa menumpas dan mengalahkan kuntilanak merah itu." tukasku.


"Amiiiiiiiin." sahut Mas Gun dengan keras.


"Eh, udah jam sebelas nih. Gue balik ke kamar ya. Besok kuliah pagi." ujar Tika.


"Iya Tik. Besok gue juga kuliah nih." sahutku.


"Makasih ya ceritanya. Pikiran gue jadi lebih terbuka. Niat awal yang semula redup, sekarang makin menggebu-gebu." ujar Tika.


"Eh, maksudnya?" tanyaku.


"Hehehehe. Udah nggak usah dipikirin. Makasih ya Di, Mas." ucap Tika.


Tika pun meninggalkan kamarku. Kututup dan kukunci pintu kamar.


"Di, maksud perkataan Tika tadi apa ya?" tanya Mas Gun.


Aku mengangkat bahu, tanda tak tahu.


"Aneh sih. Memang niat awal Tika ngapain ya Di?" Mas Gun bertanya lagi.


"Nggak tahu Mas. Udah jangan dipikirin." jawabku.

__ADS_1


Sebelum tidur, kulaksanakan shalat isya terlebih dahulu. Setelahnya, kurebahkan tubuhku di atas kasur dan segera tidur.


__ADS_2