
Kami sampai di kantor polisi. Aku dan Yuda masuk ke dalam untuk bertemu petugas yang menyuruh kami menunggu di kantor. Sementara, Ti dan Mas Gun menunggu di luar.
"Siang Dek. Ada yang bisa dibantu?" tanya seorang petugas polisi di meja piket.
"Siang Pak. Maaf mengganggu, saya diperintahkan Pak Andri untuk menunggu hasil penyelidikan mobil dan hasil autopsi terkait kecelakaan yang menewaskan Pak Steven." ujar Yuda.
"Ooohh. Dek Yuda ya?" tanya petugas.
"Iya Pak, betul."
"Kalau mau menunggu silakan di ruang sebelah saja." si petugas menunjuka sebuah ruangan di sebelah kanannya.
"Baik Pak. Emm Pak, saya mau tanya." ucap Yuda.
"Mau tanya apa Dek?"
"Emm, kira-kira berapa lama hasil penyelidikan dan hasil autopsinya keluar ya?" tanya Yuda.
"Wah Dek, saya kurang tahu soal itu. Tapi nanti boleh tanya ke Pak Andri saja. Kebetulan beliau masih di luar, mungkin sebentar lagi sampai." jawab petugas.
"Ooh gitu. Baik Pak. Terima kasih." ucap Yuda.
"Sama-sama."
Kami izin untuk keluar sebentar pada petugas. Lalu menemui Tika dan Mas Gun.
"Gimana? Hasilnya udah keluar?" tanya Tika.
Yuda menggeleng.
"Petugas piket nggak tahu berapa lama hasil penyelidikan dan autopsi keluar." sambutku.
"Lalu kita tunggu disini sampai hasilnya keluar gitu?" tanya Mas Gun.
"Mau nggak mau harus nunggu Mas." jawab Yuda.
"Waahh, terus kalau hasilnya keluar besok gimana?" Mas Gun bertanya lagi.
"Belum tentu besok sih. Intinya gue nggak boleh kemana-mana sampai hasilnya keluar." balas Yuda.
"Mas Gun, Tika. Kalian kalau mau balik duluan, balik aja. Nggak apa-apa kok, biar Adi yang temani gue disini." ujar Yuda.
"Nggak apa-apa Da, gue temani lo disini." ujar Tika.
"Tika, lo balik aja sama gue yuk. Lo mau nunggu di kantor polisi memangnya? Kalau sampai malam gimana?" ajak Mas Gun.
"Iya Tik. Nggak apa-apa balik duluan. Biar gue aja yang temani Yuda disini. Mudah-mudahan nanti sore udah keluar hasilnya." sambungku.
"Yakin nggak apa-apa lo disini berdua?" tanya Tika meyakinkan.
"Aman Tik. Santai aja." jawabku.
"Oke deh. Gue sama Mas Gun balik duluan ya." ucap Tika.
Tika memesan taksi online untuk pulang bersama Mas Gun.
Tak berapa lama, taksi online pun datang.
"Da, motor gue masih dirumah lo. Titip ya. Syukur-syukur bisa berubah jadi motor baru kalau di taruh di rumah lo. Hehehehe." ujar Mas Gun sebelum masuk mobil.
Yuda senyum sambil mengangkat jempolnya.
Mobil pun melaju, meninggalkan kantor polisi.
"Masuk yuk Di." ajak Yuda.
Kami pun masuk ke dalam kantor, menuju ruang tunggu. Di ruang tunggu ada seorang pria sedang duduk di bangku panjang. Mengenakan jaket parasut berwarna hitam dan celana jeans agak kusam. Wajahnya terlihat kusut, sama seperti rambut keritingnya.
Pria itu hanya melirik ketika aku dan Yuda masuk dan duduk.
"Da, lo nggak coba hubungi bokap nyokap? Ya sekedar kasih kabar aja." tanyaku.
Yuda yang sedang menatap layar ponselnya melirikku.
"Nggak ah Di. Buat apa?" Yuda balik tanya.
"Kok buat apa? Ya sekedar memberi kabar tentang masalah lo Da. Nanti kalau bokap nyokap lo tahu masalah ini dari Om Panji gimana?"
Yuda melengos.
__ADS_1
"Biarin aja." balas Yuda singkat.
Kutatap wajah Yuda yang tak keruan.
"Kenapa Da? Ada masalah?" tanyaku.
Yuda melirikku lagi.
"Percuma gue kabarin bokap nyokap Di." sahut Yuda.
"Percuma kenapa Da?"
"Ya percuma, pasti mereka suruh gue menyelesaikan sendiri masalah gue. Jadi buat apa gue kabarin mereka, kalau mereka nggak peduli dengan gue. Lebih baik nggak usah kabarin kan." jawab Yuda.
"Setidaknya mereka tahu apa yang sedang lo hadapi sekarang Da." balasku.
"Ah udah deh Di. Jangan bahas-bahas bokap nyokap. Mending kita pikirin gimana nasib gue kalau memang terbukti gue salah." Yuda mengalihkan pembicaraan.
Si Pria yang duduk di pojok melirik ke arah kami.
"Mulut gue asem. Ngerokok yuk!" ajak Yuda.
Kami pun keluar kantor untuk merokok. Yuda membakar sebatang rokok, aku ikut.
"Da, memang pemilik mobil itu sempat memberi tahu lo soal gangguan yang di alaminya?" tanyaku.
Yuda menghisap dalam rokoknya.
"Sempat Di. Sehari setelah Mas Steve membeli mobil gue. Di mengirim gue pesan." Yuda merogoh kantung celananya, mengambil ponsel miliknya.
"Nih. Coba lo baca pesan dari dia." Yuda menunjukkan isi pesan, obrolan antara Yuda dengan Mas Steve.
- (Yuda) Mas, gimana kondisi mobil aman kan? -
- (Mas Steve) Aman bro. Cuma ada sesuatu yang aneh nih. -
- (Yuda) Aneh apaan Mas? -
- (Mas Steve) Sejak mobil lo nongkrong di garasi gue. Tiap malam gue sering dengar suara cewek nangis :D -
- (Yuda) Masa sih Mas? Perasaan lo aja kali. -
- (Mas Steve) Mungkin bro. -
- (Mas Steve) Udah bro. Nggak ada siapa2 di garasi. Halu kali ya gue. Wkwkwk. -
- (Yuda) Hahahaha. Kalo ada buat gue ya Mas. Wkwkwkwk. -
- (Mas Steve) Enak aja lo. Gue duluan lah. Lo bekas gue aja. Wkwkwk. -
- (Yuda) Wkwkwkwk. -
"Nih." kukembalikan ponsel milik Yuda.
"Tapi cuma itu kejadian yang dialami Mas Steve?" tanyaku.
"Iya. Dia cuma dengar suara tangis cewek aja. Nggak pernah lihat penampakan apapun. Kemarin malam dia sempat hubungi gue, dia bilang suara tangis cewek nggak pernah hilang. Dan selalu terdengar tiap malam." jawab Yuda.
Yuda membuang puntung rokok di aspal, kemudian menginjaknya.
Aku diam.
"Di, bagaimana kalau Mas Steve ternyata jadi korban kuntilanak merah itu?" tanya Yuda.
Aku diam.
"Tadi lo lihat jenazahnya kan?" tanya Yuda lagi.
Aku mengangguk.
"Gimana menurut lo setelah lo lihat jenazah Mas Steve?" tanya Yuda.
Aku kembali mengambil sebatang rokok, kubakar.
Aku duduk di bangku besi.
"Da, setelah gue lihat jenazah Mas Steve. Jenazahnya mengingatkan gue dengan jenazah Mbak Wati dan Pak Rahmat. Ciri-cirinya sama persis dengan kedua jenazah itu. Matanya melotot, lidah menjulur keluar, dan seluruh urat di tubuhnya menonjol." jelasku.
"Lalu?" tanya Yuda.
__ADS_1
"Mbak Wati dan Pak Rahmat tewas karena menjadi tumbal kuntilanak merah. Bahkan mereka menjadi demit dan sempat menyerang gue dan Tika. Mereka menjadi pengikut kuntilanak merah. Gue takut itu yang terjadi dengan Mas Steve." lanjutku.
"Di, kalau ternyata Mas Steve menjadi tumbal kuntilanak mer'
ah, berarti demitnya akan menjadi pengikut si kuntilanak itu?" tanya Yuda.
Aku menghisap dalam rokok. Menghembuskan asapnya ke atas.
"Jelas Da. Kalau memang seperti itu, gue harus segera bersiap. Mereka bisa sewaktu-waktu menyerang." balasku.
Yuda diam, wajahnya tampak murung.
"Bismillah Da. Gue yakin kita bisa mengalahkan semua kejahatan yang mengancam. Ingat, nggak ada sejarahnya kebathilan menang melawan kebenaran." ujarku menenangkan Yuda.
Yuda hanya senyum.
"Dek Yuda. Dek Yuda." panggil seorang petugas.
"Siap Pak!" jawab Yuda.
Kami pun menghampiri petugas yang memanggil Yuda.
"Saya Yuda Pak. Ada info soal hasil penyelidikan dan autopsi?" tanya Yuda.
"Nanti dijelaskan Pak Andri di ruangan. Silakan masuk Dek." petugas menyuruh kami masuk ke sebuah ruangan.
Kami pun masuk, dengan mengetuk pintu dengan pelan.
Petugas yang tadi kami temui di rumah sakit bernama Pak Andri. Ia sudah duduk di kursinya.
"Silakan duduk Dek." Pak Andri mempersilakan kami duduk di kursi.
Kami duduk dengan rasa penasaran yang menggebu.
"Dek Yuda, saya dan tim sudah menyelidiki dan menemui Saudara Afiq di bengkel Classic Garage. Saudara Afiq juga memberi tahu kami bahwa saat mobil diperiksa, mobil tersebut dalam kondisi baik dan aman. Mesin, rem, persneling, shock, dan lainnya dalam kondisi bagus. Saudara Afiq pun membuat pernyataan dan siap bersaksi jika itu memang diperlukan." terang Pak Andri.
"Alhamdulillaaaahhh." ucap Yuda seraya mengusap wajahnya.
Pak Andri tampak tersenyum.
"Lalu, apa penyebab terjadinya kecelakaan Pak?" tanyaku.
"Saat ini penyelidikan masih dilakukan. Tim forensik pun masih melakukan pemeriksaan pada jenazah korban. Saya harap, Dek Yuda sabar menunggu hasilnya." ujar Pak Andri.
"Baik Pak." jawab Yuda.
"Dek Yuda, ada satu lagi yang ingin saya informasikan terkait kecelakaan yang menewaskan Pak Steve." ungkap Pak Andri.
"Apa itu Pak?" tanya Yuda.
"Ditemukan satu jenazah wanita dengan kondisi yang sama dengan Pak Steve. Kami sudah memeriksa cctv dan rute perjalanan Pak Steve pada GPS yang terpasang di mobil itu. Ternyata, wanita itu sempat bersama Pak Steve malam harinya. Namun wanita itu di turunkan oleh Pak Steve di Jalan Adidharma 2 pada pukul tiga dini hari." jelas Pak Andri.
Kami diam.
"Saya hanya memberi informasi saja pada Dek Yuda. Besar kemungkinan kasus ini bukan salah Dek Yuda. Tapi kita harus sama-sama menunggu hasil autopsi pada kedua jenazahnya. Saya harap Dek Yuda bisa menunggu." ujar Pak Andri.
"Baik Pak. Kami akan menunggu hasilnya sampai benar-benar keluar." ujar Yuda.
"Terima kasih atas kerjasama Dek Yuda." balas Pak Andri.
"Pak." panggilku.
"Ya. Ada yang mau ditanyakan?"
"Apa kami boleh lihat foto jenazah wanita itu Pak? Kalau ada, kalau tidak ada tak jadi masalah." pintaku.
"Boleh. Sebentar saya ambilkan." balas Pak Andri seraya bangun dari kursinya. Ia mengambil sebuah map berwarna putih dengan logo kepolisian berwarna emas.
Pak Andri kembali duduk. Ia membuka map dan mengeluarkan beberapa lembar foto.
"Ini foto dari tim forensik." kata Pak Andri seraya memperlihatkan foto padaku dan Yuda.
Deg deg deg deg deg deg. Jantungku berdegup kencang.
Gambar di foto menunjukkan seorang wanita yang terkapar di atas lantai. Matanya terbelalak sangat lebar, bola matanya hampir keluar. Tangannya mengepal kaku di depan dadanya. Mulutnya menganga dengan lidah yang menjulur. Serta seluruh urat dan pembuluh darah yang menonjol keluar.
Jelas. Ini jelas korban kuntilanak merah itu.
Sial. Ada dua korban.
__ADS_1
Bakal ada dua demit yang akan menyerangku.
Sial.