
Jalanku pelan, menunduk tak bersemangat. Aku melewati lapangan belakang kampus, jalan ini ku lalui saat awal ku temukan Kost Pak Thamrin. Saat ini pukul 20:10, tapi jalan ini sudah nampak sepi. Ku lihat di ujung lapangan hanya ada sekumpulan lelaki sedang nongkrong. Apa enaknya berkumpul di tempat gelap, pikirku.
"Permisi bang." aku menyapa ketika melewati sekumpulan lelaki tersebut.
"Yoo." balas seseorang.
"Woii, anak mana lo?" tanya seseorang yang berdiri, wajahnya tak terlihat karena gelap.
Aku menghentikan langkahku.
"Anak kost belakang bang." jawabku.
Lelaki itu menghampiriku.
"Anak kampus ya?" tanya si lelaki. Astaga, mulutnya bau sekali alkohol.
"Iya bang, saya anak kampus."
"Ada duit nggak?" lelaki itu bertanya kembali.
"Aduh, maaf saya nggak punya duit bang." jawabku datar.
"Heh, lo nantangin gue! Kalo di tanya jawab yang bener!" si lelaki membentakku.
"Maaf bang saya nggak punya duit." ku jawab.
"Yee ni anak berani." tangan kanannya mencengkram kerah depan kemejaku, tangan kirinya mengepal bersiap mendaratkan tinju.
"Maaf bang, saya nggak punya duit." ucapku dengan takut.
"Ah banyak bacot lo!"
Bugg.
__ADS_1
Tinju mendarat di pipi kiriku. Nyeri rasanya. Aku jatuh tersungkur. Si lelaki menindih tubuhku, mendaratkan beberapa pukulan ke wajahku. Aku hanya bisa melindungi wajhaku dengan kedua tanganku.
"Ampun bang, ampun." ucapku merintih.
"Nal udah Nal, bisa mati anak orang." ku dengar seseorang menghentikan si lelaki. Pukulan pun terhenti. Aku terlentang tak berdaya.
"Makanya jadi anak jangan songong lo!" si lelaki memakiku.
Seseorang membantuku bangun, mungkin teman dari si lelaki.
"Parah lo Nal, anak orang di bikin begini. Udah sana lo balik!"
Seorang mendorongku. Aku berjalan lunglai menuju kost, aku menjauh dari kumpulan lelaki sial itu. Ya Tuhan, apa lagi ini? Kenapa hari ini begitu banyak hal yang ku hadapi.
Aku berjalan masuk gang, nampak gelap. Tubuhku lemas, tak ada tenaga tersisa. Di ujung jalan, tepat di bawah tiang lampu ku lihat seseorang berdiri diam. Ku picingkan mataku, agar terlihat lebih jelas.
Seorang kakek?
Aku menghentikan langkahku.
Apa yang harus ku lakukan? Jalan maju, aku bertemu dengan si kakek. Aku kembali ke belakang, aku bertemu dengan sekumpulan lelaki sialan. Aku diam sejenak. Otakku tak dapat berpikir jernih, mungkin karena kena tinju barusan.
Aku pun melanjutkan jalan menuju kost. Pikiranku sudah terlanjur bilang bodo amat. Dengan sisa-sisa tenaga yang ku miliki, aku jalan dengan cepat. Aku lewat tepat di depan si kakek, mataku hanya melirik. Tatapannya tajam menusuk mataku.
Alhamdulillah, tak ada apa-apa. Aku berhasil melewati si kakek.
"Hei, anak muda!"
Baru sekitar lima langkah ku berjalan, si kakek memanggilku. Jantungku berdegup cepat, tak beraturan. Aku berhenti melangkah.
"Pergi dari sana!" si kakek itu bersuara lantang. Aku kaget bukan main.
Aku lari tunggang langgang. Sampai di gerbang kost, ku buka gerbang dengan cepat dan ku tutup kembali. Rumah Nek Iyah terlihat sepi. Aku lari menuju kamarku, melewati halaman dan pohon mangga, lalu ku lewati garasi dan sedan tua. Sampailah di depan kamar, aku duduk berselonjor kaki di teras depan kamarku.
__ADS_1
Lelah dan letih bersarang di tubuhku. Nyeri menjalar di wajahku. Aku melihat ke arah kamar Bang Oji, pintunya tertutup rapat. Motornya terparkir tak bergeming di depan kamarnya.
Aku berdiri dan membuka pintu kamarku. Sumpah demi apa pun, badanku sudah tak bertenaga. Sampai melepas sepatu saja aku tak sanggup rasanya. Pintu kamar ku tutup kemudian ku kunci, tubuhku seketika ambruk di ruang tengah. Terakhir ku lihat, hanya kemejaku yang kotor penuh debu akibat pukulan lelaki sialan itu. Setelah itu, aku tertidur.
***
Eaaaa eaaaa eaaaa
Mataku terbuka, aku sadar. Suara tangis bayi lagi. Sudah pasti ini jam tiga malam. Aku kembali tidur, ku acuhkan suara tangis bayi. Mataku terlalu lelah, tubuhku terlalu letih. Aku pun tertidur kembali.
***
Harum sekali. Wanginya tak pernah ku jumpai sebelumnya. Wangi apa ini? Aku melihat seorang wanita, berdiri membelakangiku. Mengenakan gaun merah panjang. Rambutnya terurai panjang. Aku berjalan menghampiri wanita itu. Terus ku berjalan. Aneh, aku tak bisa mendekati wanita itu. Kakiku mulai letih, tapi aku terus berjalan. Bukan makin mendekat, wanita bergaun merah malah menjauh. Dan semakin menjauh.
Aku berhenti berjalan, kakiku pegal.
Sreett.
Apa ini? Sesuatu menggerayangi pinggulku. Aku menunduk melihat pinggulku. Aku terkejut, sepasang tangan keriput dengan kuku-kuku panjang berwarna hitam merangkul pinggulku. Aku menepisnya, menarik tangan ini agar terlepas. Namun rangkulannya makin kuat. Aku berteriak sekencangnya. Tapi suaraku tak keluar dari mulutku.
Sepasang tangan ini terus merangkul pinggulku, cengkeramannya makin kuat. Aku tak bisa melepasnya. Dan sekarang tangan ini menjalar ke perutku perlahan, aku terus mencoba melepaskan rangkulannya. Bahkan, kuku-kuku panjangnya mulai menusuk perutku. Sakit. Aku bisa merasakan, kuku-kuku ini menusuk masuk ke dalam perutku. Pelan. Darah mengucur deras dari tusukan kuku. Aku mencoba berteriak sekuat tenaga, namun suaraku tak terdengar.
Seketika gelap. Mataku tak dapat melihat apa-apa. Namun pinggulku masih terasa sakit akibat tusukan kuku-kuku.
"Tolooooooonnnggg!" eh, aku bisa teriak. Suaraku keluar.
"Tolooooooonnnggg.. Ibuuuu.. Ayaaaahh."
Mataku terbuka, nafasku tak beraturan. Tersengal-sengal. Tenggorokanku kering. Aku melihat sekeliling. Alhamdulillah, ini kamarku. Aku menghela nafas panjang. Ku seka keringat yang membasahi dahi. Tadi itu mimpi ternyata. Alhamdulillah Ya Allah.
Aku bangun dari tidurku, lalu duduk. Ku lihat jam di ponselku, 07:15. Aww, aku memegang pipiku yang nyeri. Sedikit bengkak. Aku tak ingin kuliah, badanku sakit. Tiba-tiba aku teringat Kemala, dan hatiku sakit.
Aku bangun, ku lepas sepatuku, baju, dan celanaku yang kotor. Aku tak ingin kemana-mana hari ini. Aku tak ingin bicara dengan siapa-siapa hari ini. Aku takut kesialan belum meninggalkanku. Ku harap.
__ADS_1