Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 85


__ADS_3

Aku bangun karena alarmku berbunyi. Eh, apa ini benar? Ini sudah subuh? Segera kuambil ponselku. Wah, benar! Ini jam lima subuh. Sangat jarang aku terbangun saat alarm berbunyi. Selama tidurku di kost itu, aku pasti terbangun karena gangguan-gangguan yang tak jelas asalnya dari mana. Suara tangis bayi, suara kucing mengeong, bahkan suara kursi roda. Malam ini tidurku cukup, tidurku nyenyak, tidurku nikmat. Bahagia untukku sederhana sekali ternyata.


Aku pun bergegas bangun dan melaksanakan shalat subuh. Yuda masih terlelap sambil memeluk gulingnya. Setelah shalat subuh, aku melanjutkan tidur.


***


Kulihat Bang Oji menangis mengulun, ia berjongkok sambil memeluk dengkulnya, tak memakai baju. Wajahnya tertunduk, menangis sampai terisak.


"Bang. Bang Oji. Kenapa bang?" aku memanggilnya.


Ia tak menjawab, ia hanya terus menangis. Seolah tak memedulikanku. Kali ini tangisnya makin menjadi, mengerang.


Aku berjalan mendekat ke Bang Oji. Aku berjongkok di sampingnya. Kusentuh pundaknya.


"Bang. Bang Oji, kenapa bang?" aku bertanya sambil menepuk pundaknya pelan.


Tiba-tiba tangisnya terhenti.


"Bang. Kenapa bang?" aku bertanya kembali.


Wajahnya yang tertunduk, pelan-pelan terangkat. Aku terhenyak melihat bola mata Bang Oji tak ada, hanya terlihat lubang kosong yang mengeluarkan darah segar. Aku jatuh ke belakang karena kaget, lalu mundur perlahan.


"Di, tolong Di. Mata gue mana Di?" Bang Oji bertanya padaku, tangannya seolah ingin meraihku.


Aku mundur dengan cepat, tapi tangan Bang Oji berhasil mencengkram kakiku. Aku ketakutan.


"Di, tolong cariin mata gue Di." ucapnya sambil memegang kuat kakiku.


"Mata gue mana Di?"


"Mata gue nggak ada Di."


Bang Oji terus saja bertanya soal matanya, sambil menangis dan dari lubang matanya masih mengeluarkan darah sehingga membanjiri pipinya.


Aku berteriak, seraya menendang-nendang. Berharap Bang Oji melepaskan cengkraman tangannya di kakiku. Tapi tangannya kuat, kakiku pun sampai terasa sakit.


"Mata Di. Mata gue di mana? Tolong cari mata gue Di." ia masih saja membahas matanya yang tidak ada.


"Gue nggak tahu bang. Lepasin bang. Lepaaaaasss!"


Plakk!


.


.


.


.


.


.


.


.


Aku membuka mata, pipiku terasa perih. Wajah Yuda yang kulihat saat membuka mataku.


"Woi Di, Di. Bangun Di." Yuda berkata sambil menepuk pipiku. "Woi, bangun woi!".


Aku sepenuhnya sadar. Mimpi. Tadi itu hanya mimpi ternyata. Haaahh, syukurlah. Aku menghela nafas panjang dan lega.


"Mimpi apa lo?" tanya Yuda. Aku masih merebahkan badanku di atas karpet.


"Eh, mimpi apa lo? Heboh banget sih." Yuda kembali bertanya.


Aku mengucek mata pelan.


"Memang tidur gue gimana Da?" tanyaku dengan lemas.


"Kaki lo nendang-nendang nggak jelas. Terus lo teriak 'lepas lepas lepas', mimpi di perkosa siapa lo? Hahahahahaha." ledek Yuda, ia bicara sambil memandang layar komputer.


"Sial lo!" sahutku sambil melirik jam dinding di kamar Yuda. Pukul 08:15. Lama juga aku tertidur sehabis shalat subuh tadi.


Tok tok tok. Pintu kamar Yuda di ketuk.


"Mas Yuda, sarapannya sudah siap. Mau makan di bawah atau mau di antar ke kamar?" suara si mbak bertanya dari luar kamar.

__ADS_1


"Nanti makan di bawah saja mbaak! Makasih yaaa." sahut Yuda.


"Heh, cuci muka sana! Yuk sarapan." ajak Yuda.


Aku bangun dan bergegas mencuci muka. Lalu kami turun menuju meja makan. Sudah tersedia dua piring mie goreng porsi jumbo dengan telur mata sapi di atasnya, lengkap dengan bakso dan sosis, serta irisan kecil wortel berbentuk dadu. Melihatnya sekejap membuat hasrat makanku membuncah.


"Mau minum apa mas?" si mbak bertanya pada Yuda.


"Air putih saja mbak. Tapi bikinin kopi yang biasa ya mbak. Lo mau minum apa Di?"


"Teh manis panas aja." jawabku.


Kami pun sarapan, lagi-lagi aku makan dengan lahap. Sungguh enak masakan si mbak.


"Di, Adi." Yuda memanggilku, ia nampak heran.


"He? A an i na?" sahutku dengan mulut penuh mie goreng.


"Buset dah Di, lo belum makan dari kecil ya? Gragas banget." aku tak menggubris omongan Yuda. "Di. Adi! Woi." panggilnya lagi.


"A an naaa?" mulutku penuh, pipiku sampai mengembung.


"Pelan-pelan woi!" ujar Yuda.


"I aaa." jawabku tak jelas terdengar.


***


Hari ini aku hanya bermalas-malasan di kamar Yuda. Akses wifi aman dan ngebut, kamar nyaman dengan tiupan AC yang semriwing, aroma kamar Yuda wangi dan membuat betah, kasur empuk dan bantal isi bulu angsa. The real sultan, ya kawanku Yuda. Habis shalat zuhur, si mbak kembali memanggil untuk makan siang. Wah, nikmat sekali hidup seperti ini. Kami kembali turun ke bawah untuk makan siang.


Si mbak membuat Soto ayam dengan kuah santan, sambal goreng hati, dan bakwan jagung. Satu stoples besar krupuk ikan sudah tersedia. Mulutku banjir oleh liur, hehehehe.


"Heh, Mas Ndeso. Makannya pelan-pelan ya!" ucap Yuda.


"Iya Da iyaaa. Ayo Da, silakan makan jangan malu-malu." balasku.


"Hahahaha. Iya Mas Adi, makasih lho mas saya udah boleh numpang makan di rumah Mas Adi." Yuda membalas dengan canda.


"Nggak apa-apa Mas Yuda, saya ngerti kok kondisi Mas Yuda lagi kesusahan. Hahahahaha." aku menimpali.


Aku menyendok nasi lebih dulu, tak tahan melihat soto ayam dan bakwan jagung yang memanggilku untuk segera kukunyah.


"Iya ayo. Ngobrolnya nanti aja ya Da, gue lagi fokus makan nih." sahutku.


Tuk. Yuda melempar potongan krupuk ikan ke kepalaku.


Ia hanya senyum melihat tingkahku.


***


Pak Satpam membuka gerbang lebar. Aku dan Yuda pergi menuju bengkel milik om si Yuda. Om Galih namanya.


"Ngapain bawa mobil sih Da. Enakan juga naik motor, nggak macet." tanyaku.


"Iya ya. Sial, baru aja keluar dari gerbang perumahan, udah kena macet aja." tutur Yuda.


Lalu lintas dekat perumahan tempat Yuda tinggal memang padat, karena dekat dengan pusat perbelanjaan dan jalan perempatan. Otomatis menjadi langganan macet. Belum lagi warung makan yang mendirikan tenda di bibir jalan, kadang membuat lalu lintas menjadi terganggu.


"Tapi gue lebih pilih naik mobil sih Di, kalau cuacanya terik begini." ujar Yuda.


Cuaca di luar memang terik, sinar matahari siang ini terlihat menyengat. Ada untungnya juga Yuda memutuskan untuk naik mobil. Cukup lama kami terjebak dalam kemacetan siang ini. Hingga sampailah kami di bengkel milik Om Galih, sudah hampir masuk waktu ashar.


Aku jalan mengikuti Yuda, kami masuk ke dalam bengkel. Bengkel milik Om Galih sangat besar, alat-alatnya pun terlihat modern, karyawan yang bekerja cukup banyak dan semua memakai seragam yang sama. Ini bengkel berkelas. Ada sekitar tujuh mobil yang sedang di kerjakan di dalam bengkel.


Kami masuk ke sebuah bangunan dua lantai di ujung bengkel, dan naik ke atas. Di lantai atas ada ruang tunggu khusus pelanggan, ruangannya terlihat nyaman. Ada beberapa sofa dan kursi tertata rapi bersama meja. Dekorasinya apik, ada beberapa pot tanaman di sudut ruangan dan sebuah pot kecil di atas meja. Di pojok ruangan ada sebuah dispenser air dan gelas-gelas. Semua untuk kenyamanan pelanggan.


Aku berjalan mengekor di belakang Yuda, lalu Yuda membuka sebuah pintu kaca. Seorang pria dengan kaca mata dan berbadan kekar dengan otot lengan yang cukup besar. Mengenakan kemeja kotak-kotak.


"Om!" sapa Yuda. Oh, ini yang namanya Om Galih.


"Ngapain lo?" tanya Om Galih ke Yuda.


"Main aja om. Eh ini temen Yuda om, Adi namanya." Yuda memperkenalkan, aku pun salaman dengan Om Galih.


"Main apa minta duit? Hehehehehe." Om Galih kembali bertanya ke Yuda.


"Main aja, sekalian minta duit. Hahahaha." jawab Yuda.


Yuda pun menjelaskan maksud kedatangannya siang itu, bahwa besok Yuda akan mengantar sebuah mobil antik untuk di periksa segala macam kendala yang ada pada mobil tersebut.

__ADS_1


"Jangan besok deh, montir om yang paling jago lagi sakit Da." ujar Om Galih.


"Ya nggak apa-apa, kan bisa taruh di sini mobilnya. Emang sakit apaan sih? Palingan masuk angin." balas Yuda.


"Nggak tahu sakit apaan, semalam om di telpon katanya dia kesurupan. Au dah, om nggak ngerti." jawab Om Galih sambil menyedot vape dan menghembuskan asap tebal ke langit-langit.


"Kesurupan? Hehehehe. Masih jaman ya kesurupan?" tukas Yuda. "Yasudah om, kalau gitu Yuda pamit ya."


"Iya deh, besok lo antar aja mobilnya. Tapi taruh di belakang ya, tempat biasa." ucap Om Galih.


"Iya om. Eh, hampir lupa. Mana om?" Yuda menodong Om Galih.


"Aaahhh, inget aja kalo duit." Om Galih membuka laci, memberikan tiga lembar uang pecahan seratus ribu pada Yuda.


"Makasih om." ucapnya sambil terkekeh, lalu kami bersalaman dengan Om Galih.


Kami pun berangkat meninggalkan bengkel, tujuan selanjutnya adalah mengantarku pulang ke kost. Untungnya lalu lintas sore menuju kampus tak terlalu padat. Aku dan Yuda berencana untuk ngopi-ngopi santai di Kedai Kopi Satu Arah, karena Yuda baru saja mendapatkan suntikan dana dari Om Galih.


Namun, tiba-tiba saja terjadi kemacetan. Padahal jarak menuju kampus tinggal beberapa puluh meter lagi, gedung-gedungnya pun sudah terlihat dari kejauhan.


"Ah sial, macet apa lagi sih ini?" Yuda sungut-sungut.


Mobil berjalan lambat. Lalu kembali terhenti, dan jalan kembali dengan perlahan.


"Ini sih pasti ada kecelakaan nih, nggak mungkin semacet ini." ucap Yuda seraya membuka kaca di sampingnya. Yuda melongokkan kepalanya melihat keluar.


"Wah, bener ada kecelakaan Di." ucapnya.


"Masa sih Da." aku penasaran, kubuka kaca di sampingku. Mobil masih jalan dengan perlahan. Kulihat ada kerumunan orang di ujung jalan. Benar saja, ada sebuah kecelakaan.


Mobil mendekat ke arah kerumunan. Ada seorang lelaki yang mengatur lalu lintas, menyuruh kendaraan untuk terus berjalan.


"Bang, kecelakaan ya?" teriakku.


"Bukan! Orang bunuh diri." jawabnya.


Bunuh diri?


Kulihat kerumunan orang yang melingkar, di tengahnya ada sebuah jasad yang tertutup koran. Ada darah segar yang terlihat di dekat jasad itu. Mobil masih jalan dengan perlahan.


"Terooosss teroooosss!" seorang lelaki lainnya mengatur lalu lintas.


"Bang, bunuh dirinya gimana bang?" tanyaku ke lekaki tersebut.


"Lompat dari jembatan penyebrangan." jawabnya. "Teroooosss teroooosss!" ia kembali mengatur.


Tak jauh dari gerbang kampusku, memang ada jembatan penyebrangan. Di bangun khusus untuk mahasiswa yang ingin menyebrang jalan, tapi jembatan itu tak pernah di gunakan sama sekali. Mahasiswa lebih memilih menyebrang melalui zebra cross yang ada tepat di depan gerbang kampus.


"Buset, serem amat bunuh diri lompat dari jembatan penyebrangan." ucap Yuda. "Pas lompat, di bawahnya bisa ketabrak lagi tuh sama kendaraan." sambungnya.


"Double kill dong Da! Hehehehe." sahutku.


"Gila, bukan double kill lagi Di. Bisa-bisa savage, lompat ke bawah, sampai bawah langsung di hantam mobil truk! Hahahaha." tambah Yuda.


Kami pun sampai di kedai kopi. Aku dan Yuda menghela nafas lega setelah kemacetan yang terjadi akibat seseorang bunuh diri.


"Eh bro, ada yang bunuh diri lompat dari jembatan penyebrangan. Lo tahu nggak?" tanya Bang Dede.


"Tahu banget bang. Ini abis kena macet gara-gara itu." jawab Yuda.


"Katanya anak belakang kampus. Di, lo kost di belakang kampus kan kali aja lo kenal?" tanya Bang Dede.


"Ya kali gue kenal, lingkup gue kan kost kecil gitu doang. Sementara belakang kampus kan luas bang. Bisa aja warga asli situ yang mati bunuh diri." jawabku.


Aku dan Yuda menghabiskan sore dengan ngopi di kedai. Bang Dede pun ikut nimbrung di meja kami. Kami mengobrol banyak, kami bercanda, kami tertawa lepas. Sampai suatu momen tertawaku pun hilang, saat kubaca pesan dari Kang Ujang.


- Dek, Bang Oji meninggal bunuh diri -


.


.


.


.


.


Aku diam tak bisa berkata.

__ADS_1


__ADS_2