Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 59


__ADS_3

Warga yang hadir sedikit demi sedikit berkurang, waktu memang sudah pukul 21:25, sudah banyak juga yang pulang. Kang Ujang menenteng sapu lidi, membersihkan halaman kost yang di penuhi kulit kacang dan bungkus cemilan. Dini mengangkat piring kotor, Ela membantu mengangkat gelas kotor. Aku melihat Nek Iyah menyalami warga yang hendak pulang, sekedar mengucapkan terima kasih.


Atas permintaan dari keluarga yang di rundung duka, tahlil dan doa bersama akan di laksanakan selama tiga malam. Sudah menjadi tradisi di kawasan ini, jika ada yang meninggal dunia, maka akan di lakukan tahlil dan doa bersama. Mau tiga malam atau pun tujuh malam berturut-turut, itu pun tergantung kesanggupan dari sohibul musibah.


"Dek Adi." panggil Nek Iyah. Aku menghampirinya.


Sejak ku tahu informasi soal Nek Iyah mempraktekkan ilmu hitam, aku menjadi agak takut dan was-was jika berhadapan dengannya. Terlebih lagi, Bang Oji menjadi sekutu Nek Iyah.


"Ada apa nek?" tanyaku.


"Makasih sudah ikut tahlil ya. Saya minta tolong tiga malam ke depan ikut tahlil dan doa bersama untuk almarhumah Mbak Wati. Bisa kan?" tanya Nek Iyah.


"Insya Allah bisa nek." jawabku sembari tersenyum.


"Makasih ya."


Lalu Nek Iyah berlalu pergi ke dalam rumah. Aku pun kembali ke kamar, sembari terus memperhatikan Kang Ujang. Jangan sampai lengah kau Adi, kau harus bisa menegur Kang Ujang agar ia melanjutkan ceritanya. Ku lihat Kang Ujang masih sibuk menyapu halaman.


Dengan niat, ku hampiri Kang Ujang.


"Kang," sapaku.


"Eh, iya dek."


"Boleh minta rokok nggak? Sebatang aja, kebetulan mulut lagi ingin merokok nih." pintaku.


"Oh, boleh boleh." Kang Ujang gercep merogoh kantong celananya.


"Tapi rokok saya kretek dek. Memang Dek Adi suka?" Kang Ujang memperlihatkan jenis rokoknya, bungkusnya merah bertuliskan Gedung Gula Merah.


"Rokok apa saja saya suka kang. Hehehehe." balasku.


"Kalau suka, ya sok atuh."


Aku mengambil sebatang, membakarnya lalu ku hisap pelan.


"Uhukk uhukk.." aku batuk, dadaku sesak, mataku berair.


"Nah kan! Sudah dek, kalau tidak suka di buang saja." ucap Kang Ujang.


"Ini efek sudah lama nggak merokok kang, nanti juga biasa kok. Hehehehe." balasku.


"Kang, bisa di lanjutin nggak ceritanya kang?" pintaku.


"Setelah saya bersihkan halaman kost, saya akan lanjutkan ya dek." ucapnya dengan senyum.


"Oke, saya tunggu di teras depan kost ya." kataku. Kang Ujang mengangguk.


Aku duduk menghabiskan sebatang rokok hasil minta dari Kang Ujang. Haduuhh, lama sekali menghabiskan rokok kretek. Bibirku jadi panas, lidahku pun terasa pahit. Ingin ku buang, tapi peranku sebagai seorang penyuka segala jenis rokok akan hilang di mata Kang Ujang.


Kang Ujang datang membawa dua cangkir kopi.


"Kita sambil ngopi dek." tuturnya seraya meletakkan dua cangkir kopi di lantai teras.


"Enak rokoknya?" tanya Kang Ujang.


"Hah, lumayan kang. Agak pahit aja sih. Hehehehe." jawabku asal.


"Sok atuh di hisap lagi nih." Kang Ujang meletakkan bungkus rokok di lantai.


"Eh dek, tadi Nek Iyah bicara apa sama Dek Adi?" tiba-tiba Kang Ujang bertanya.


"Oh yang tadi, itu kang Nek Iyah minta tolong ke saya untuk ikut tahlilan selama tiga malam."


"Cuma itu?" tanyanya kembali.


"Iya cuma itu doang. Memang kenapa kang?" tanyaku.


"Nggak apa-apa dek. Kirain bicara apa gitu."


"Emm kang, Mbak Wati meninggal karena apa kang?" tanyaku penasaran.


Pertanyaan ini sebagai pembuktian untuk Kang Ujang, apakah ia salah satu orang yang masuk ke persekongkolan Nek Iyah atau tidak. Jika ia tak menjawab pertanyaanku dan menunjukkan gerak-gerik yang tak biasa, berarti memang ia menyembunyikan sesuatu, dan sudah barang tentu Kang Ujang berada di pihak Nek Iyah. Aku harus lebih berhati-hati lagi melontarkan pertanyaan.


"Saya sih kurang begitu mengerti penyebabnya, tapi memang Mbak Wati sakit sudah lama. Lumpuh pun sejak kecil, karena jatuh dari lantai atas. Nah, sejak lumpuh itu Mbak Wati kadang kejang-kejang tidak jelas. Saya sendiri pun takut kalau Mbak Wati sedang kambuh, tidak berani lihat." jelas Kang Ujang.


"Kejang-kejang? Oh iya kang, saya pernah lihat sekali, memang parah sih kejangnya." sahutku.

__ADS_1


"Nggak tega lihatnya kalau almarhumah kambuh. Makanya saya teh nggak berani, bukan tidak mau nolong, tapi memang takut." ucap Kang Ujang.


Apa Mbak Wati punya penyakit epilepsi? Aku berpikir sejenak.


"Kang, di keluarga Mbak Wati ada yang punya penyakit yang sama dengan almarhumah?" tanyaku.


Kang Ujang berpikir, matanya melihat ke atas.


"Setahu saya teh tidak ada dek. Memang kenapa?" tanya Kang Ujang.


"Penyakit Mbak Wati kemungkinan epilepsi kang, atau lebih akrab di kenal ayan. Penyakit ayan banyak yang bilang bukan penyakit keturunan sih. Tapi penyebab almarhumah bisa ayan itu apa ya?" jelasku.


"Jadi Mbak Wati meninggal karena ayan?" tanyaku.


"Saya kurang tahu dek. Tapi Dek Adi lihat nggak di kain kafan almarhumah ada bercak noda darah?" sambut Kang Ujang.


"Nah iya kang, saya lihat ada darah di kafan bagian mulut. Itu kenapa kang?" tanyaku.


Kang Ujang merapatkan posisi duduknya mendekat ke arahku.


"Jadi begini dek, almarhumah memang tidur sendiri di kamarnya, tiap sore jadwal saya menggotong almarhumah dari kursi roda ke kasur. Lalu Nek Iyah yang melap dan membersihkan badannya.." cerita Kang Ujang.


"Sore itu, saya mau gotong alamarhumah ke kasur sesuai jadwal. Tapi almarhumah nggak mau, ia berontak dan nggak mau di pindahin ke kasur, ia teriak-teriak nggak karuan. Saya bingung, akhirnya saya bilang ke Nek Iyah. Kata Nek Iyah, biarin dia di kuris roda saja. Kalau kamu nggak sanggup gotong, nanti juga banyak yang gotong dia.."


"Akhirnya saya di suruh pulang sore itu. Pagi hari, adalah jadwal saya menggotong kembali almarhumah dari kasur ke kursi roda. Begitu saya masuk ke kamar almarhumah, saya lihat almarhumah sudah tergeletak di lantai, mulutnya mangap mengeluarkan banyak darah, dan ada potongan lidah di lantai.." Kang Ujang bercerita.


"Hah? Potongan lidah? Maksudnya gimana kang?" tanyaku memotong cerita Kang Ujang.


"Mbak Wati menggigit sendiri lidahnya sampai putus dek. Matanya melotot, tubuhnya kaku, dan yang anehnya lagi seluruh urat-urat di tangan, kaki, dan lehernya itu jelas banget kelihatan. Mirip seperti kabel di dalam kulit gitu dek. Berarti badan almarhumah dalam keadaan tegang saat malaikat mencabut nyawanya kan!" cerita Kang Ujang.


Aku sangat bisa membayangkan keadaan Mbak Wati yang di jelaskan Kang Ujang saat menemukan jasadnya di lantai.


"Terus?" tanyaku lagi.


"Saya lapor ke Nek Iyah. Tapi ekspresi Nek Iyah datar saja, ia hanya tertunduk lalu menangis." lanjut Kang Ujang.


Ekspresi yang datar saat kehilangan anak adalah hal yang sangat mencurigakan. Antara ia pasrah dengan kesehatan Mbak Wati yang tak kunjung membaik atau memang sudah tahu bahwa akan terjadi hal tersebut, yaitu Mbak Wati akan meninggal. Saat ini, ku simpulkan Nek Iyah memang sudah tahu dari awal bahwa Mbak Wati akan meninggal. Ku simpulkan juga bahwa Nek Iyah sengaja menumbalkan Mbak Wati yang sudah lumpuh ke iblis yang bersekutu dengannya. Entah apa alasannya, yang jelas itu adalah perbuatan yang sangat keji.


Tapi kesimpulanku memang belum tentu benar. Bisa saja epilepsi Mbak Wati kambuh, ia jatuh dari kursi roda, dan kepalanya terbentur lantai atau benda apa saja, yang bisa mengakibatkan gegar otak parah dan meninggal seketika.


Warga yang hadir sedikit demi sedikit berkurang, waktu memang sudah pukul 21:25, sudah banyak juga yang pulang. Kang Ujang menenteng sapu lidi, membersihkan halaman kost yang di penuhi kulit kacang dan bungkus cemilan. Dini mengangkat piring kotor, Ela membantu mengangkat gelas kotor. Aku melihat Nek Iyah menyalami warga yang hendak pulang, sekedar mengucapkan terima kasih.


Atas permintaan dari keluarga yang di rundung duka, tahlil dan doa bersama akan di laksanakan selama tiga malam. Sudah menjadi tradisi di kawasan ini, jika ada yang meninggal dunia, maka akan di lakukan tahlil dan doa bersama. Mau tiga malam atau pun tujuh malam berturut-turut, itu pun tergantung kesanggupan dari sohibul musibah.


"Dek Adi." panggil Nek Iyah. Aku menghampirinya.


Sejak ku tahu informasi soal Nek Iyah mempraktekkan ilmu hitam, aku menjadi agak takut dan was-was jika berhadapan dengannya. Terlebih lagi, Bang Oji menjadi sekutu Nek Iyah.


"Ada apa nek?" tanyaku.


"Makasih sudah ikut tahlil ya. Saya minta tolong tiga malam ke depan ikut tahlil dan doa bersama untuk almarhumah Mbak Wati. Bisa kan?" tanya Nek Iyah.


"Insya Allah bisa nek." jawabku sembari tersenyum.


"Makasih ya."


Lalu Nek Iyah berlalu pergi ke dalam rumah. Aku pun kembali ke kamar, sembari terus memperhatikan Kang Ujang. Jangan sampai lengah kau Adi, kau harus bisa menegur Kang Ujang agar ia melanjutkan ceritanya. Ku lihat Kang Ujang masih sibuk menyapu halaman.


Dengan niat, ku hampiri Kang Ujang.


"Kang," sapaku.


"Eh, iya dek."


"Boleh minta rokok nggak? Sebatang aja, kebetulan mulut lagi ingin merokok nih." pintaku.


"Oh, boleh boleh." Kang Ujang gercep merogoh kantong celananya.


"Tapi rokok saya kretek dek. Memang Dek Adi suka?" Kang Ujang memperlihatkan jenis rokoknya, bungkusnya merah bertuliskan Gedung Gula Merah.


"Rokok apa saja saya suka kang. Hehehehe." balasku.


"Kalau suka, ya sok atuh."


Aku mengambil sebatang, membakarnya lalu ku hisap pelan.


"Uhukk uhukk.." aku batuk, dadaku sesak, mataku berair.

__ADS_1


"Nah kan! Sudah dek, kalau tidak suka di buang saja." ucap Kang Ujang.


"Ini efek sudah lama nggak merokok kang, nanti juga biasa kok. Hehehehe." balasku.


"Kang, bisa di lanjutin nggak ceritanya kang?" pintaku.


"Setelah saya bersihkan halaman kost, saya akan lanjutkan ya dek." ucapnya dengan senyum.


"Oke, saya tunggu di teras depan kost ya." kataku. Kang Ujang mengangguk.


Aku duduk menghabiskan sebatang rokok hasil minta dari Kang Ujang. Haduuhh, lama sekali menghabiskan rokok kretek. Bibirku jadi panas, lidahku pun terasa pahit. Ingin ku buang, tapi peranku sebagai seorang penyuka segala jenis rokok akan hilang di mata Kang Ujang.


Kang Ujang datang membawa dua cangkir kopi.


"Kita sambil ngopi dek." tuturnya seraya meletakkan dua cangkir kopi di lantai teras.


"Enak rokoknya?" tanya Kang Ujang.


"Hah, lumayan kang. Agak pahit aja sih. Hehehehe." jawabku asal.


"Sok atuh di hisap lagi nih." Kang Ujang meletakkan bungkus rokok di lantai.


"Eh dek, tadi Nek Iyah bicara apa sama Dek Adi?" tiba-tiba Kang Ujang bertanya.


"Oh yang tadi, itu kang Nek Iyah minta tolong ke saya untuk ikut tahlilan selama tiga malam."


"Cuma itu?" tanyanya kembali.


"Iya cuma itu doang. Memang kenapa kang?" tanyaku.


"Nggak apa-apa dek. Kirain bicara apa gitu."


"Emm kang, Mbak Wati meninggal karena apa kang?" tanyaku penasaran.


Pertanyaan ini sebagai pembuktian untuk Kang Ujang, apakah ia salah satu orang yang masuk ke persekongkolan Nek Iyah atau tidak. Jika ia tak menjawab pertanyaanku dan menunjukkan gerak-gerik yang tak biasa, berarti memang ia menyembunyikan sesuatu, dan sudah barang tentu Kang Ujang berada di pihak Nek Iyah. Aku harus lebih berhati-hati lagi melontarkan pertanyaan.


"Saya sih kurang begitu mengerti penyebabnya, tapi memang Mbak Wati sakit sudah lama. Lumpuh pun sejak kecil, karena jatuh dari lantai atas. Nah, sejak lumpuh itu Mbak Wati kadang kejang-kejang tidak jelas. Saya sendiri pun takut kalau Mbak Wati sedang kambuh, tidak berani lihat." jelas Kang Ujang.


"Kejang-kejang? Oh iya kang, saya pernah lihat sekali, memang parah sih kejangnya." sahutku.


"Nggak tega lihatnya kalau almarhumah kambuh. Makanya saya teh nggak berani, bukan tidak mau nolong, tapi memang takut." ucap Kang Ujang.


Apa Mbak Wati punya penyakit epilepsi? Aku berpikir sejenak.


"Kang, di keluarga Mbak Wati ada yang punya penyakit yang sama dengan almarhumah?" tanyaku.


Kang Ujang berpikir, matanya melihat ke atas.


"Setahu saya teh tidak ada dek. Memang kenapa?" tanya Kang Ujang.


"Penyakit Mbak Wati kemungkinan epilepsi kang, atau lebih akrab di kenal ayan. Penyakit ayan banyak yang bilang bukan penyakit keturunan sih. Tapi penyebab almarhumah bisa ayan itu apa ya?" jelasku.


"Jadi Mbak Wati meninggal karena ayan?" tanyaku.


"Saya kurang tahu dek. Tapi Dek Adi lihat nggak di kain kafan almarhumah ada bercak noda darah?" sambut Kang Ujang.


"Nah iya kang, saya lihat ada darah di kafan bagian mulut. Itu kenapa kang?" tanyaku.


Kang Ujang merapatkan posisi duduknya mendekat ke arahku.


"Jadi begini dek, almarhumah memang tidur sendiri di kamarnya, tiap sore jadwal saya menggotong almarhumah dari kursi roda ke kasur. Lalu Nek Iyah yang melap dan membersihkan badannya.." cerita Kang Ujang.


"Sore itu, saya mau gotong alamarhumah ke kasur sesuai jadwal. Tapi almarhumah nggak mau, ia berontak dan nggak mau di pindahin ke kasur, ia teriak-teriak nggak karuan. Saya bingung, akhirnya saya bilang ke Nek Iyah. Kata Nek Iyah, biarin dia di kuris roda saja. Kalau kamu nggak sanggup gotong, nanti juga banyak yang gotong dia.."


"Akhirnya saya di suruh pulang sore itu. Pagi hari, adalah jadwal saya menggotong kembali almarhumah dari kasur ke kursi roda. Begitu saya masuk ke kamar almarhumah, saya lihat almarhumah sudah tergeletak di lantai, mulutnya mangap mengeluarkan banyak darah, dan ada potongan lidah di lantai.." Kang Ujang bercerita.


"Hah? Potongan lidah? Maksudnya gimana kang?" tanyaku memotong cerita Kang Ujang.


"Mbak Wati menggigit sendiri lidahnya sampai putus dek. Matanya melotot, tubuhnya kaku, dan yang anehnya lagi seluruh urat-urat di tangan, kaki, dan lehernya itu jelas banget kelihatan. Mirip seperti kabel di dalam kulit gitu dek. Berarti badan almarhumah dalam keadaan tegang saat malaikat mencabut nyawanya kan!" cerita Kang Ujang.


Aku sangat bisa membayangkan keadaan Mbak Wati yang di jelaskan Kang Ujang saat menemukan jasadnya di lantai.


"Terus?" tanyaku lagi.


"Saya lapor ke Nek Iyah. Tapi ekspresi Nek Iyah datar saja, ia hanya tertunduk lalu menangis." lanjut Kang Ujang.


Ekspresi yang datar saat kehilangan anak adalah hal yang sangat mencurigakan. Antara ia pasrah dengan kesehatan Mbak Wati yang tak kunjung membaik atau memang sudah tahu bahwa akan terjadi hal tersebut, yaitu Mbak Wati akan meninggal. Saat ini, ku simpulkan Nek Iyah memang sudah tahu dari awal bahwa Mbak Wati akan meninggal. Ku simpulkan juga bahwa Nek Iyah sengaja menumbalkan Mbak Wati yang sudah lumpuh ke iblis yang bersekutu dengannya. Entah apa alasannya, yang jelas itu adalah perbuatan yang sangat keji.

__ADS_1


Tapi kesimpulanku memang belum tentu benar. Bisa saja epilepsi Mbak Wati kambuh, ia jatuh dari kursi roda, dan kepalanya terbentur lantai atau benda apa saja, yang bisa mengakibatkan gegar otak parah dan meninggal seketika.


__ADS_2