Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 89


__ADS_3

"Kyaaaaaaaaa!" suara teriak perempuan.


Aku yang sedang tidur terbangun dengan kaget, buru-buru aku membuka pintu kamar lalu keluar. Aku menoleh ke kamar 11a, Yuli terduduk di depan kamar sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Yuli! Kenapa Yul?" aku menghampiri Yuli, ia menangis.


"Kenapa Yul?" tanyaku.


Tangan Yuli kemudian menunjuk ke sebuah arah. Aku pun menoleh ke arah yang di tunjuk Yuli. Arah kebun samping kamar 11a.


"Astaghfirullah!" aku jatuh terduduk. "Astaghfirullah."


Kepala Bang Oji yang di balut kain kafan dan membentuk pocongan menyembul keluar dari dalam tanah kubur. Warna kafannya tak lagi putih, kotor dan dekil oleh tanah.


Aku berlari kembali ke dalam kamar, membangunkan Kang Ujang dan Arya, lalu memberi tahu soal makam Bang Oji. Kang Ujang berlari keluar menuju makam Bang Oji di ikuti Arya.


"Astaghfirullahal'adziiiimm." ucap Kang Ujang.


"Dek Adi, Arya, jaga di sini ya! Saya akan kerumah tukang gali kubur." Kang Ujang berlari dengan tergesa.


Aku berinisiatif untuk menutup ujung kain kafan yang menyembul keluar dari dalam makam oleh kertas koran. Dan menunggu Kang Ujang datang.


"Di, lo percaya dengan hal gaib nggak?" tanya Arya.


Aku tak langsung menjawab, kucerna maksud dari pertanyaan Arya barusan.


"Percaya sih. Kan kita harus beriman dengan hal gaib, dalam arti kita harus yakin ciptaan Allah bukan hanya yang terlihat tapi juga yang tak terlihat, contohnya jin. Bener nggak?" terangku.


"Yap, betul." sahut Arya.


Kemudian kami diam kembali. Yuli tampak sudah tenang, Tika dan seorang lagi temannya mencoba menghibur Yuli yang sedikit terperanjat karena melihat penampakan pocongan Bang Oji.


"Ya, boleh tanya sesuatu nggak?"


"Boleh, tanya apaan?"


"Malam saat lo melakukan ritual dengan keluarga Hendra dari Cirebon, sebenarnya apa yang kalian lakukan?" tanyaku.


"Oh malam itu ya? Malam saat Kang Ujang tak mau di libatkan dalam ritual balas dendam itu. Malam itu sebetulnya tidak terjadi apa-apa Di. Mang Yana, pamannya Hendra hanya mencoba berkomunikasi saja dengan kuntilanak merah yang mencelakai almarhum Pak Rahmat." terang Arya.


"Memang komunikasi apa Ya? Apa yang mereka bicarakan?" tanyaku.


"Mang Yana bertanya ke salah satu makhluk pengikut dari kuntilanak merah itu, kenapa bisa Pak Rahmat yang jadi korbannya. Kami tidak terima dengan perlakuan mereka. Makhluk itu bilang hanya menuruti perintah kuntilanak merah itu."


"Lho, kenapa tak berkomunikasi langsung ke kuntilanak merah Ya? Mengapa ke makhluk lain?" tanyaku.


"Sejujurnya Di, untuk berkomunikasi dengan kuntinalak itu saja Mang Yana tidak bisa. Auranya sangat kuat, Mang Yana tak bisa menembusnya. Jangankan untuk balas dendam, untuk berkomunikasi saja kami semua tidak akan sanggup. Dia sangat kuat, Mang Yana tak mau mengambil resiko dengan melawan kuntilanak itu. Bisa-bisa kami yang jadi korban." lanjut Arya.


"Lalu, malam sebelumnya Hendra bilang akan menuntut balas kepada kuntilanak merah yang telah membuat Pak Rahmat seperti itu. Memang kejadiannya gimana Ya?" tanyaku.

__ADS_1


"Sssttt!" Arya menyuruhku memelankan suara.


"Pelan-pelan ngomongnya Di." Arya tengok kanan kiri. "Malam sebelumnya itu, mereka hanya sanggup melawan satu pengikutnya saja, nggak lebih. Hanya saja, satu pengikutnya itu menggunakan media tubuh Nek Iyah. Jadi Nek Iyah yang terkena imbasnya." Arya menjelaskan dengan suara pelan. "Melawan satu pengikut kuntilanak merah itu saja membuat tiga orang dari anggota Mang Yana tumbang, apa lagi melawan kuntilanak itu?" sambung Arya.


"Jadi benar, Nek Iyah bersekutu dengan kuntilanak merah Ya?" tanyaku dengan suara pelan.


Arya diam.


"Tapi sepenuhnya bukan salah Nek Iyah. Ada kekuatan lain yang membuat Nek Iyah terpaksa bersekutu dengan kuntilanak merah itu." jelas Arya.


"Hah, kekuatan lain? Jadi ada pihak lain yang ikut campur dalam hal ini?" tanyaku.


Arya kembali diam.


"Ya! Jawab Ya!" aku memaksa Arya.


Tiba-tiba saja Kang Ujang datang bersama tiga pria penggali kubur, pria yang semalam menggali liang untuk makam Bang Oji. Beberapa warga turut hadir, juga Nek Iyah. Pemakaman Bang Oji di ulang, jenazahnya kembali di keluarkan dan di makamkan dengan benar. Bau busuk sudah tercium dari kafan Bang Oji, kulitnya sudah menghitam, kafannya sudah tak bersih. Nek Iyah menyaksikan pemakaman Bang Oji dengan derai air mata deras.


***


Setelah kuliah pertama hari ini, pukul 12:00 aku menuju Fakultas Komunikasi, aku ada janji dengan Tika. Ia mau cerita banyak soal kost yang kami tinggali. Aku duduk di bangku kosong di kantin fakultas. Sebelumnya Tika sudah kukirim pesan, ia membalas akan segera turun dari kelasnya di lantai tujuh.


Kupesan segelas es kopi sembari menunggu Tika. Kupandangi layar ponsel, entah aplikasi apa yang ingin kubuka semua terasa tak menarik. Sampai terlintas sebuah nama.


Kemala.


Kuberanikan diri mengirim pesan ke Kemala, hanya sekedar menanyakan kabarnya saja. Tapi tak di balas. Ah biarlah, sepertinya nama Kemala harus kukubur pelan-pelan.


Eh, Kemala.


"Ngapain lo di sini Di?" tanya Kemala. Di sampingnya berdiri seorang lelaki tinggi dengan wajah tampan dan kulit putih, kumisnya tipis, dan mengenakan kaca mata.


"Eh, Mala! Gue baru aja chat lo." jawabku. "Gue lagi nunggu temen nih." lanjutku.


"Ciyeee, temen apa temeeeenn. Hehehehe." ledeknya.


"Temen kok. Hehehehe." sahutku.


"Oh yaudah. Eh, ini kenalin cowok gue Di." ujar Kemala.


Aku tertegun. Ini pacar Kemala? Langit seolah runtuh, Bumi seakan runtuh, Air Laut laksana mengering. Ada luka yang menggores, namun tak mengeluarkan setetes pun darah.


"Panji." ucap si lelaki. "Adi." kami bersalaman.


"Mana temen lo? Masih lama?" tanya Kemala.


"Enggak, paling sebentar lagi turun. Barusan chat masih di atas." jawabku.


"Oh gitu. Eh, dapat salam dari nyokap gue, nyokap nanya kabar lo. Lo sehat kan?"

__ADS_1


"Lo lihat gue gimana? Kalau sakit nggak mungkin gue di sini. Hehehehe. Alhamdulillah sehat, salam juga buat nyokap lo ya." balasku.


"Alhamdulillah kalau sehat, nanti gue lapor ke nyokap. Kalau gitu gue cabut duluan ya, laper Di. Hehehe. Daaahh!" Kemala pamit, tangannya menggandeng lengan Panji.


Aku menatap Kemala berjalan beriringan dengan Panji, pacarnya. Hidupku tak berwarna lagi rasanya. Semangatku pudar. Gairahku luntur. Aku bersandar pada kursi dengan lemas.


"Bang Adi!" Tika memanggilku. Ia berjalan cepat menghampiriku. Kemudian duduk di depanku.


"Udah lama bang?" tanya Tika.


"Mayan dah." jawabku singkat. Aku sudah tak tertarik lagi dengan cerita Tika. Rasanya aku ingin pulang ke kost dan merebahkan badanku.


"Kenapa lo banh? Nggak bersemangat banget, sakit ya?" tanya Tika.


"Lo kenapa panggil gue abang sih? Gue kan mahasiswa baru, panggil Adi aja." balasku.


"Iya deh, Adi." Tika pun jadi tak bersemangat melihatku.


"Tik, ceritanya lain waktu aja ya. Gue kayaknya lagi butuh tidur nih, ngantuk banget gara-gara kejadian tadi malam." ujarku.


"Oh. Oke deh."


"Gua balik ya. Sorry ya Tik." aku bangun dari duduk dan meninggalkan Tika. Entah apa yang di pikirkan Tika padaku, jelas ia bete melihat wajahku.


Hanya soal Kemala, hariku langsung kelabu. Kemala memang lebih sakti dari dukun mana pun, ia bisa membuat moodku hilang dalam sekejap. Senjatanya pamungkasnya hanya seorang Panji, cukup membuatku hatiku remuk redam.


Aku berniat pulang ke kost, lalu tidur dengan nyaman. Aku tak ingin ada gangguan dari siapa pun. Yang kubutuhakn saat ini adalah tidur. Tak mau yang lain. Aku muak dengan yang lain.


Tin!


Sebuah mobil membunyikan klaksonnya, aku menoleh ke belakang dengan hati kesal. Perasaan aku sudah berjalan sangat pinggir, kenapa mobil sial itu masih saja membunyikan klakson.


"Adiii." aku menoleh dan menghentikan langkah. Kemala lagi?


"Mau kemana?" tanya Kemala dari dalam mobil, ia hanya mengeluarkan kepalanya.


"Eh. Em ini, gue mau, mau beli makan La." jawabku asal.


"Barengan yuk! Gue mau ke Kedai Kopi Satu Arah nih. Yuk!" ajak Kemala.


"Oh gitu. Em, nggak usah deh. Gue, gue mau cari makan di seberang kampus, sekalian mampir ke kost temen." jawabku.


"Yaaahh. Beneran nggak mau bareng nih?"


"Ng-nggak usah La. Makasih ya tawarannya." jawabku sambil tersenyum.


"Yaudah, kalau gitu gue duluan ya Di." ucapnya, lalu Kemala menutup kaca mobil dan mobil pun melesat pergi. Aku hanya bisa memandang mobil yang di tumpangi Kemala menjauh.


Memang sangat serasi, jika Kemala di sandingkan dengan Panji. Apa yang kurang dari Panji? Wajah tampan rupawan bak selebriti, tubuh atletis dengan tinggi proporsional, kuliah membawa mobil merk Eropa. Jika di bandingkan dengan aku, hahahahahaha. Aku siapa? Bocah kampung yang masih di sibukkan dengan hal mistis di kamar kostnya. Jelas aku kalah jauh dengan Panji.

__ADS_1


Rasakan kau Adi! Kau nikmati sakit hatimu. Berkacalah kau Adi. Kau bukan siapa-siapa.


Aku berjalan lunglai pulang ke kost. Ponselku bergetar, Yuda. Ada apa dia menghubungiku? Kuacuhkan. Aku sedang tak minat bicara dengan siapa pun siang ini.


__ADS_2