
Kanjeng Ratu Sekar Dara berbalik badan. Ia menatap kami dengan senyum manisnya. Wajahnya sangat ayu dan cantik. Kulit putihnya menambah kecantikannya. Bibirnya merah merekah bak bunga mawar yang ranum.
Di belakangnya, kobaran api berwarna putih besar. Istana kuntilanak merah telah musnah, seiring sang pemiliknya yang juga musnah. Pemimpin para demit yang telah memakan banyak korban tumbal.
Kanjeng Ratu Sekar melangkah, mendekati kami. Langkahnya anggun bagai peragawati.
"Sekarang, pulanglah. Kembalilah ke kehidupan kalian. Semua telah usai." ucap Kanjeng Ratu Sekar.
Kami menunduk mengangguk.
"Halim, kembalilah ke asalmu. Waktumu sudah hampir habis. Bawalah harimau putih itu bersamamu. Terima kasih telah datang membantu anak-anak ini." tutur Kanjeng Ratu Sekar.
"Baik Kanjeng Ratu." balas Kakek Halim sambil menunduk. Harimau putih mengaum pelan. Sesekali ekornya mengibas. Terlihat gagah.
"Ampun Nyai. Bolehkan saya bertanya?" tanyaku.
Kanjeng Ratu Sekar tersenyum.
"Tanyalah Nak."
"Bukankah Kakek Halim telah lama meninggal? Lalu, kenapa ia bisa datang menolong kami?" tanyaku.
Kanjeng Ratu Sekar tersenyum. Kakek Halim pun ikut tersenyum.
"Aku adalah khodam milik Halim. Aku dan Halim sama. Kau pun memiliki khodam cucuku. Apa yang kau rasakan, ia pun ikut merasakan. Halim memang telah lama meninggal. Namun aku sebagai khodamnya, bisa datang kapan pun dibutuhkan." jelas Kakek Halim.
Aku mengangguk.
"Lalu, kenapa Kakek baru datang di saat seperti ini? Kenapa tidak datang sejak awal dan membantu kami?" tanyaku.
Kakek Halim menoleh ke arah Kanjeng Ratu Sekar dengan senyum simpul. Kanjeng Ratu Sekar mengangguk pelan.
"Ada saat-saat dimana aku tak bisa menampakkan wujudku dan tak dapat datang sesuka hati. Karena perbedaan alam dan tentunya kuasa Tuhan. Namun, di waktu tertentu aku bisa datang, jika Tuhan berkehendak. Semua adalah kuasa Tuhan, cucuku." jelas Kakek Halim.
Aku mengangguk pelan.
"Kek, apa aku bisa datang ke alam ini sewaktu-waktu?" tanyaku.
Kakek Halim nyengir. Kanjeng Ratu Sekar hanya tersenyum.
"Untuk apa kau datang ke alam ini Nak?" tanya Kanjeng Ratu.
Aku pun bingung mencari alasannya. Pertanyaan tadi spontan terlontar begitu saja.
"Tak perlu lagi kau datang ke alam ini lagi Nak. Tak ada urusan yang harus kau selesaikan lagi. Tetaplah di alammu, dan kami di alam kami." jawab Kanjeng Ratu Sekar.
"Sekarang pulanglah." suruh Kanjeng Ratu Sekar.
"Lalu, bagaimana dengan semua jasad mereka di alamku yang jiwanya musnah di alam ini Kanjeng Ratu?" tanyaku.
Kanjeng Ratu Sekar berjalan pelan.
"Perputaran waktu di alam ini berbeda dengan alam dunia. Kau lihatlah nanti bagaimana nasib jasad Badriyah, Ujang, serta dua perempuan pengikut Ujang yang tewas itu." jawab Kanjeng Ratu Sekar.
Aku saling tatap dengan Tika.
"Sekarang, kalian pulanglah." suruh Kanjeng Ratu Sekar.
"Baik Kanjeng Ratu Sekar." jawab kami semua.
Kakek Halim menjauh beberapa langkah dari kami. Ia tersenyum.
"Aku pamit. Jaga diri baik-baik, cucuku." ucap Kakek Halim seraya tersenyum.
Lalu dari tubuh Kakek Halim berpendar cahaya putih. Perlahan tubuh Kakek Halim berubah menjadi debu yang bersinar putih. Debu terbang ke atas langit. Berkelip. Kemudian hilang.
Tiba-tiba terdengar ringkikan kuda dan lonceng berdentang.
Di kejauhan kereta kencana milik Kanjeng Ratu Sekar datang menjemput.
"Kalian adalah pahlawan. Kalian telah berhasil menghentikan kebathilan. Kebenaran memang akan selalu menang, walaupun berat menjalani prosesnya. Sekali lagi aku berterima kasih pada kalian. Jaga diri baik-baik. Pergilah dari kamar itu Nak Adi." ujar Kanjeng Ratu Sekar.
"Pergi dari kamar itu? Apa maksudnya Kanjeng?" tanyaku heran.
Kanjeng Ratu Sekar tersenyum.
"Kamarmu adalah tempat peristirahatan Ajeng, Gendis, dan bayi Nyai Asih. Sebaiknya jangan kau ganggu tempat peristirahatannya." jawab Kanjeng Ratu Sekar.
"Apa yang dimaksud Kanjeng, kamar Adi itu kuburan mereka?" tanya Tika.
Kanjeng Ratu Sekar mengangguk pelan.
"Pergilah dari kamar itu. Carilah tempat lain." suruh Kanjeng Ratu.
"Baik Kanjeng Ratu." jawab kami semua.
Kanjeng Ratu Sekar pun naik ke kereta kencana. Ia duduk dengan anggun.
"Terima kasih anak-anakku." ucap Kanjeng Ratu Sekar.
__ADS_1
Kami mengangguk seraya menunduk.
Ringkikan kuda terdengar keras.
"Aku pamit. Assalamualaikum." ucap Kanjeng Ratu Sekar.
Kami serentak menjawab salam Kanjeng Ratu Sekar Dara.
Perlahan kereta kencana pun bergerak, seiring langkah kaki kuda. Kemudian kuda berlari pelan. Lama-kelamaan kuda pun terbang menarik kereta kencana di belakangnya. Terbang meninggi, bercahaya hijau. Lalu hilang di atas langit.
Plakk. Mas Gun menepuk tangan Tika.
"Aaawww. Apaan sih Mas?" tanya Tika terkejut.
"Ngerangkul terus nih sama Adi. Lepasin!" ucap Mas Gun.
Aku tersenyum menatap Tika, ia balas senyum.
"Biarin. Memang lo nggak dengar apa yang Kanjeng Ratu Sekar bilang? Mustika gue sama Adi memiliki aura yang cocok jika saling berdekatan. Weeee." balas Tika seraya menjulurkan lidahnya pada Mas Gun, meledek.
Kami tertawa.
"Di, gimana cara kita pulang nih?" tanya Mas Gun.
Tika masih merangkul tanganku. Hangat.
"Pesan ojol sana Mas. Hehehehehehe." jawab Tika asal.
"Yeeee bercanda ni anak. Gue nggak restuin lo sama Adi. Hahahahaha." tukas Mas Gun.
Kami kembali tertawa.
Lega.
"Yuk, pulang yuk." ajakku.
"Ayo. Kan dari tadi gue ngajak pulang." sahut Mas Gun.
"Eh, jasad kita gimana ya? Kan masih di kebun kosong tuh." sergah Tika.
Plakk. Mas Gun menepuk dahinya.
"Oh iyaaaa. Gimana nasib jasad kita nih. Yukk pulang yuk." ajak Mas Gun memaksa.
"Iya ayo pulang." balasku.
Kami berpegangan tangan, dan berbaris memanjang. Dengan mengucap Basmalah kami pun melesat. Terbang melayang menuju sebuah lubang hitam. Kami memasuki lubang seperti lorong hitam gelap. Hingga di ujung terdapat sebuah titik cahaya putih.
SYUUUUTTTT. Tubuhku terasa terombang ambing.
Gelap.
Semua tampak gelap.
Kucoba membuka mata perlahan.
Kukedip-kedipkan.
Kubuka mataku lebar-lebar.
Lho? Masih malam?
Kulihat sekeliling.
Mas Gun duduk bersila beberapa jarak di sampingku. Begitu pun Tika.
Alhamdulillah kami sudah kembali ke tubuh kamu masing-masing.
"Di." panggil Mas Gun.
Aku bangkit berdiri.
Kepalaku terasa sangat pening.
Tubuhku sempoyongan.
Mas Gun pun berdiri. Tika berdiri. Kami berkumpul membentuk lingkaran.
"Alhamdulillah. Akhirnya sampai juga." ucap Mas Gun.
"Kok masih malam ya?" tanya Mas Gun.
Aku melihat ke sekeliling kebun kosong. Gelap gulita.
"Iya. Aneh, kok masih malam ya. Bukannya ada perbedaan waktu antara alam kita dengan alam mereka?" sahutku.
Tika diam tak berkata, ia juga melihat ke sekeliling.
"Di, lo lihat nggak di ujung kebun, kayak ada sesuatu deh? Tuh, lihat ada apaan!" suruh Tika.
__ADS_1
Kupicingkan mataku.
Ada sebuah garis kuning, samar-samar terlihat.
"Itu bukannya garis polisi ya?" tanyaku.
Mas Gun menatap arah yang ditunjuk Tika.
"Iya. Seperti garis polisi." sahut Mas Gun.
"Yasudah, balik aja yuk ke kost." ajak Tika.
Kami pun berjalan melewati kebun kosong yang sangat gelap. Kugenggam tangan Tika sambil menuntunnya.
"Kalian ini apa-apaan sih? Pamer kemesraan terus. Udah jadian memangnya?" sungut Mas Gun.
Aku dan Tika hanya tersenyum.
Entahlah apa perlu kata 'jadian' bagiku dan Tika. Yang jelas, aku merasa tak ingin jauh-jauh dari Tika. Ada perasaan yang menggelitik saat ini di hatiku. Emmm, bagaimana cara menjelaskannya ya? Aku tak tahu.
Kami keluar dari kebun kosong, lalu berjalan melewati tiang lampu di ujung gang. Berbelok ke kiri melewati rumah kosong milik Mbak Ajeng. Suasana tampak sepi, seperti biasa.
Eh. Bendera kuning?
Ada bendera kuning yang diikat di tiang listrik depan gerbang.
Dan gerbang kost terbuka dengan lebar.
Kami berhenti melangkah sambil saling tatap.
"Jam berapa ini?" tanyaku.
Mas Gun mengangkat bahu.
"Bendera kuning? Apa Nek Iyah yang meninggal?" tanya Tika.
"Mungkin." balasku singkat.
"Yuk, masuk. Kalau nggak masuk bagaimana kita bisa tahu." ajak Mas Gun seraya melangkah lebih dulu.
Kami melangkah masuk ke pekarangan rumah Nek Iyah.
Langkah kami tiba-tiba terhenti, ketika melihat puluhan orang sedang duduk menyebut asma Allah. Mereka sedang melaksanakan tahlil. Belasan pasang mata menatap kami dengan heran. Benar. Nek Iyah telah meninggal dunia.
Seseorang menghampiri kami. Aku kenal dengannya. Arya.
"Lho, Bang Adi dari mana saja?" tanya Arya.
"Eh, Arya. Siapa yang meninggal Ya?" tanyaku.
Arya tengak-tengok. Lalu mengajak kami berjalan ke arah garasi mobil. Menjauh dari halaman rumah Nek Iyah.
"Nek Iyah meninggal Bang. Sudah seminggu yang lalu. Memang Bang Adi dari mana saja sih?" tanya Arya.
APA? NEK IYAH MENINGGAL SEMINGGU YANG LALU!
"Hah? Seminggu yang lalu? Beneran?" tanya Mas Gun.
"Benar Bang." jawab Arya.
Aku mengajak Arya ke teras depan kamarku.
"Ya, banyak yang mau gue tanyain. Boleh ngobrol sebentar nggak?" ucapku.
"Boleh. Boleh. Tapi sebaiknya, Bang Adi dan yang lain ganti baju dulu deh. Biar lebih enak ngobrolnya." suruh Arya.
Aku melihat baju yang kukenakan.
Astaga. Aku sampai tak sadar. Bajuku kotor dan terlihat sangat dekil. Tika juga seperti itu. Terlebih lagi Mas Gun.
"Oke deh. Tunggu sebentar ya. Gue mandi dan ganti baju dulu."
"Iya Bang. Nah, sekalian mandi. Badan lo bau tong sampah. Hehehehehe." ledek Arya.
"Hahahahahaha. Sial lo." balasku.
Aku membuka kunci dan pintu kamar. Tika pun berlalu ke kamarnya. Terdengar teriakan Yuli yang kaget melihat Tika kembali. Apa iya pertempuran kami di alam lain memakan waktu seminggu?
Malam ini harus kudapatkan jawaban tentang semua pertanyaan yang menggelayut di kepalaku.
...______________...
...maaf ya, update-nya sekian dulu...
...mudah2an besok bisa up lagi...
...LIKE - KOMEN - FAVORIT...
...kasih HADIAH boleh banget kok...
__ADS_1
...kalo VOTE wajib banget. hehehehe....
...makasih yaaa...