Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 117


__ADS_3

"Kau siap untuk pulang Nak Adi?" tanya Kakek Badrun padaku, senyumnya merekah bagai bunga.


"Siap kek. Saya sangat siap!" ucapku dengan tegas.


"Kek, memang kita ada dimana?" tanya Yuda dengan wajah bingung.


Kakek Badrun tersenyum pada Yuda.


"Kau ada di tempat yang sangat jauh. Nanti biar Nak Adi yang akan ceritakan semua. Sekarang, mari kita pulang." balas Kakek Badrun.


"Nak Adi, kau bersama Yuda. Biar kakek yang di depan, dan Tika di belakang." ujar Kakek Badrun.


Yuda masih tampak bingung. Aku menggaet tangannya.


"Sini, lo pegangan sama gue!" ucapku.


Perlahan-lahan Kakek Badrun lebih dulu melayang, lalu terbang menuju ke atas langit. Aku bergerak maju selangkah, seketika tubuhku melayang dengan perlahan. Yuda tampak ketakutan.


"Di Di Di, mau kemana Di? Adi gue takut Di." ucap Yuda panik. Kutarik tangannya, tubuhnya ikut melayang bersamaku. Wajah Yuda pucat. Di susul Tika terakhir.


"Ayo, cepat kita berangkat!" ajak Kakek Badrun sambil tubuhnya melayang.


Dengan satu gerakan, tubuh Kakek Badrun melesat dengan cepat. Aku tak mau kalah, aku pun buru-buru menyusul Kakek Badrun. Di lanjutkan dengan Tika. Kami terbang dengan cepat ke atas langit, lalu masuk ke dalam lubang hitam. Menyusuri lorong gelap seperti awal kudatang ke alam ini.


Kakek Badrun terbang di barisan paling depan, di lanjutkan dengan aku dan Yuda, dan Tika di barisan belakang.


"Hyaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!" tiba-tiba suara teriakan dari belakang sangat kuat terdengar. Karena terkejut, aku cepat menoleh ke arah Tika.


Aku terkejut, melihat sosok kuntilanak merah terbang melesat mendekat ke arah Tika.


"Tikaaa! Awaaasss!" aku berteriak. Kakek Badrun terkejut dan menoleh ke arah belakang.


"Kubunuh kalian semuaaaa!!" teriak kuntilanak merah dengan wajah menyiratkan amarah. Tangan kuntilanak merah mencoba meraih kaki Tika.


"Aaaaaa!" Tika teriak.


Kudorong tubuh Yuda ke arah Kakek Badrun, dalam hati kubaca ayat kursi.


Grep.


Kaki Tika berhasil di cengkram oleh kuntilanak merah. Tika berteriak, wajahnya menggambarkan ketakutan yang teramat sangat.


Wuungg. Cincin yang kupakai bersinar.


"Nak Tikaa! Lawan nak! Lawan!" teriak Kakek Badrun sambil memegang Yuda. Yuda panik juga ketakutan, wajahnya pucat pasi.


"Bismillahi. Allahu Akbar!!" aku membatin.


Wuuusssshhh.


Cincinku menembakkan sinar biru ke arah kuntilanak merah yang menarik kaki Tika. Tika menendang-nendang, mencoba melepaskan cengkraman kuntilanak merah.


Sett. Kuntilanak merah menghindar dengan cepat.

__ADS_1


Aku terbang mendekat ke Tika, merangkul Tika dengan kuat. Wajah kuntilanak merah semakin tampak buas, ia lebih seram. Pancaran kekuatannya bersinar berwarna merah kehitaman. Ia masih terus bergumam akan membunuh kami semua. Sangat menakutkan.


Aku sudah muak dengan kuntilanak merah itu, tak ada secuil rasa takut padanya. Aku marah. Aku kesal. Kulepas rangkulan dari tubub Tika. Aku terbang mendekat ke arah kuntilanak merah itu dengan amarah bergejolak. Tanganku mengepal dengan kuat. Cincin mustika Dawana bersinar menyilaukan, sinarnya berwarna biru putih.


"Hyaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!"


Kulayangkan pukulan ke arah kuntilanak merah. Kekuatan dari cincin mustika Dawana kusebar ke seluruh tubuhku, bukan hanya di pukulanku. Kali ini seluruh tubuhku bisa menjadi senjata untuk menyerang kuntilanak merah itu.


Sett. Lagi-lagi kuntilanak merahenghindar dengan cepat.


Namun ia tak sadar, seluruh tubuhku kini mengalir kekuatan dari cincin mustika Dawana. Begitu kuntilanak merah dengan cepatnya menghindar, aku tak pikir panjang, aku melesat memeluk kuntilanak merah.


"Grrraaaaaaaaaaaaaaaa!!!" kuntilanak merah teriak dengan kuat. Aliran kekuatan mustika Dawana seolah membakar tubuhnya. Kupeluk ia dengan kuatnya sambil memejamkan mata.


Jleb.


Mataku membelalak terhenyak. Ada rasa sakit bercampur nyeri di punggungku.


"Nak Adiii!" Kakek Badrun teriak memanggilku.


Aku melirik ke punggung belakangku. Tampak kuku-kuku panjang kuntilanak merah menusuk punggungku. Rasa sakit semakin menjadi-jadi, nyeri dan ngilu bercampur aduk.


"Mati kau! Mati kau! Mati kau! Hihihihihihihi" kudengar kuntilanak merah berucap dengan wajah tersenyum.


"Hehehehe. Tak semudah itu iblis laknat!"


Dalam hati kubaca ayat kursi. Cincin mustika Dawana menyemburatkan sinar biru bercampur putih.


"Kau yang akan musnah jahanaaaaamm!!!" aku berteriak sambil menempelkan cincin mustika Dawana ke tubuh kuntilanak merah.


Dan..


**DUAAAAAARRRRR**!!!


Kuntilanak merah terpental jauh dariku, kulihat perutnya berlubang. Matanya terbelalak, tak mengira aku bakal menyerangnya. Ia menjauh dari lorong hitam tempat kami saat ini.


"Tunggu pembalasankuuuu." kuntilanak merah berteriak semakin menjauh dan semakin tak terlihat, suaranya pun semakin tak terdengar.


Nafasku tersengal-sengal, pungguku masih terasa nyeri menyatu dengan perih. Aku masih melihat ke arah kuntilanak merah itu menghilang.


"Nak Adi!" panggil Kakek Badrun.


Aku menengok ke arahnya.


Kakek Badrun tersenyum padaku. Wajah Yuda terlihat tegang dan cemas. Tika menghela nafas panjang.


"Makasih banyak Di." ucap Tika lemas.


Aku menepuk pundak Tika sambil tersenyum.


"Pulang yuk! Gue capek." ajakku.


Tika membalas senyumku, ia terlihat manis dari biasanya malam ini.

__ADS_1


"Yuk!" balas Tika.


Aku senang, walaupun punggungku masih terasa nyeri. Kami terbang mendekat ke Kakek Badrun dan Yuda. Kakek Badrun tersenyum melihatku dan Tika.


"Kau semakin hebat Nak Adi. Kau sudah bisa beradaptasi dengan cincin itu." ucap Kakek Badrun. "Bagaimana punggungmu?" tanya Kakek Badrun. "Berbaliklah!" suruhnya.


Aku berbalik badan. Nyeri dan perih masih saja terasa. Tiba-tiba hawa dingin menjalar di sekitar punggungku. Kakek Badrun mengusap punggungku.


"Sudah! Memang cukup dalam lukanya, tapi tak terlalu parah. Begitu kita sampai di alam kita, lukamu akan segera sembuh." ujar Kakek Badrun.


"Kek, ayo kita pulang kek. Saya takut ada gangguan dari demit lainnya." pinta Tika.


Kakek Badrun mengangguk.


"Ayo! Mudah-mudahan tidak ada lagi gangguan-gangguan lainnya." ajak Kakek Badrun.


Kami pun bergegas pergi, kami terbang menyusuri lubang hitam. Wajah Yuda masih terlihat pucat, ia tak berucap sepatah kata pun.


Syuuuuuttt.


Kami keluar dari lubang hitam, tepat di atas rumah Yuda. Wujud kami masih seperti asap putih tipis. Kami terkejut begitu sampai di alam dunia. Langit terlihat terang dan menyilaukan. Astaga, berapa lama kami di alam lain?


Kami pun masuk menembus atap dan sampai di kamar Yuda. Terlihat jasad kami masih terduduk bersila sambil memejamkan mata, sedangkan jasad Yuda masih terbaring di atas kasur.


"Astaga! Itu badan gue Di? Terus gue ini apa? Kok tiba-tiba gue bisa lihat diri gue?" Yuda terkejut.


"Nanti gue ceritain ya." jawabku.


Kami masih melayang-layang di kamar Yuda.


"Alhamdulillah kita sampai." ucap Kakek Badrun. "Sekarang, kalian masuk kembali ke tubuh kalian dan semua akan kembali normal." tambah Kakek Badrun.


"Gimana caranya kek?" tanyaku.


"Cukup dekati saja tubuhmu, dengan sendirinya jiwamu akan tersedot kembali ke dalam tubuhmu." jawab Kakek Badrun.


Kami semua menyebar ke dekat tubuh kami masing-masing.


"Selamat datang kembali. Sampai bertemu di alam dunia." ucap Kakek Badrun dengan melemparkan senyum.


Lalu, dengan perlahan kami mendekati tubuh kami masing-masing. Aku memejamkan mata.


Syuutt.


Jiwaku tersedot dengan perlahan ke dalam tubuh, rasanya seperti di tarik. Lalu tubuhku terasa hangat.


"Bukalah mata kalian! Kalian sudah kembali ke tubuh semula." suara Kakek Badrun terdengar.


Aku membuka mata. Aaahhh, badanku terasa pegal di semua bagian. Hal yang pertama kali kucari saat kubuka mataku adalah jam dinding. Jam dinding menunjukkan pukul 09:10 pagi.


Yuda bangun dari ranjang, mengucek matanya dengan pelan. Tika berdiri, Kakek Badrun pun bangun dari duduknya. Benar saja, luka yang kami terima dan rasakan di alam sana akan sembuh dengan sendirinya saat kami sampai di alam dunia. Luka bakar di perutku pun hilang, waktu Banaspati menempel erat di perutku. Bahkan, luka tusuk dari kuntilanak merah pun sudah tak terasa.


"Nak Yuda, silakan temui orang tuamu di depan kamar. Mereka sangat khawatir denganmu." ucap Kakek Badrun.

__ADS_1


Yuda jalan perlahan menuju pintu kamar.


Klek. Yuda membuka pintu.


__ADS_2