
Pemakaman almarhum kawan kami Bagas telah usai. Bunga di tabur di atas gundukan makamnya. Keluarga, sanak saudara, serta sahabat banyak yang hadir saat pemakaman. Kulihat Mamah Bagas masih terpukul dengan kepergian Bagas, ia menangis tersedu-sedu sembari memeluk kayu nisan yang tertancap di tanah.
Aku ikut merasakan kesedihan yang amat mendalam atas kepergian kawanku. Tak percaya rasanya, perasaan baru kemarin ia menginap di kamar kost-ku. Belum lama kami mengerjakan tugas bersama di perpustakaan. Kini ia meninggalkan kami untuk selamanya.
Beberapa orang telah pergi meninggalkan makam Bagas. Di sini masih ramai, aku pun belum ingin pergi. Aku dan Yuda serta beberapa teman kelas berdiri di paling belakang.
"Di, yuk balik." Yuda menyenggol tanganku.
Aku mengangguk pelan, dan berkata "Lo duluan deh ke mobil. Sebentar lagi gue nyusul."
Yuda meninggalkanku, dan beberapa teman kelas pun ikut.
Aku menatap gundukan tanah makam di depanku. Gas, semoga lo tenang ya. Kalau ada yang mau lo sampaikan ke gue, plis jangan datang dengan penampakan menyeramkan ya. Gue jadi takut. Aku bergumam dalam hati. Dan berlalu meninggalkan makam.
Aku berjalan pelan menuju tempat parkir, melewati barisan makam di kanan dan kiri ku. Tempat pemakaman ini bersih dan sangat terurus. Terlihat dari barisan makam yang rapi berjejer, hingga rumput liar yang selalu di bersihkan.
Asap pembakaran sampah mengepul di sudut ujung pemakaman. Asapnya putih, dan dua orang petugas kebersihan memang sedang membakar sampah daun kering yang berjatuhan. Sudut mataku kananku tak sengaja melihat sekelebat sosok putih, aku pun menoleh ke kanan. Sepi. Aku menoleh ke arah makam Bagas yang masih di penuhi orang. Aku pun kembali melangkah menuju tempat parkir.
Seett..
Kali ini sudut mata kiriku yang menangkap sekelebat sosok putih melesat. Aku menoleh ke kiri. Lagi-lagi tak ada apa pun, hanya barisan makam yang kulihat. Ah sial, apa sih yang menggangguku, gumamku dalam hati.
Triiinngg triiinngg
Astaga, mengagetkan saja. Dering ponselku. Yuda. Dia pasti menghubungiku karena aku tak kunjung datang. Aku pun menjawab panggilan Yuda.
"Woi lama amat. Yuk cabut. Perut gue lapar nih." ucap Yuda.
"Iya iya, ini juga lagi jalan ke parkiran. Anak-anak masih ada?" aku menanyakan teman kelasku.
"Udah pada balik. Lo cepetan jalannya Di"
"Iya ini gue cep.."
__ADS_1
Ucapanku terhenti ketika samar-samar ku lihat sosok Bagas mengenakan kain kafan, tepat di samping pohon kamboja. Jaraknya sekitar lima puluh meter persis di depanku. Bagas terbungkus kain kafan putih, matanya sayu terlihat sedih. Lubang hidungnya tertutup kapas.
Langkahku terhenti. Ku baca ayat kursi dalam hati.
"Gas, gue tahu ada sesuatu yang mau lo sampaikan ke gue. Tapi gue minta tolong, datanglah di saat yang tepat dan jangan berwujud menyeramkan. Semoga gue bisa bantu lo." aku membatin sembari memejamkan mata.
Saat ku buka mata, sosok Bagas dengan kain kafan sudah tak terlihat lagi. Aku pun melangkah cepat menuju parkiran.
***
Dua hari berlalu, sejak pemakaman Bagas hidupku terasa tak bersemangat. Entah apa yang ku rasakan, aku sungguh sangat kehilangan seorang sahabat. Kuliah pun tak tenang, kadang terlintas kembali apa yang ku lihat belakangan ini. Ya, sosok Bagas yang menyeramkan. Lalu sosok Bagas dengan kain kafan. Ah sial, hidupku jadi tak seindah dulu.
Selepas kuliah, aku duduk menyendiri di depan kelas. Aku berselonjor di lantai, bersandar pada dinding. Memandangi sebuah pot tanaman berwarna hitam. Pikiranku gamang, kosong, berwarna kelabu.
"Adiii." seseorang memanggilku dari arah kiri. Aku pun menoleh ke arah suara tersebut.
Kemala?
Aku celingak-celinguk, apa betul ia memanggilku? Ah, rasanya tak mungkin. Tapi tak ada orang lain di sini selain aku.
"Lo panggil gue?" tanyaku.
"Siapa lagi yang namanya Adi? Yaiyalaah."
"Kenapa La?" aku bangun dari dudukku.
"Sini dong!" panggil Kemala.
Aku menghampiri Kemala. Ia sendiri? Tumben, tak biasanya ia sendiri.
"Kenapa?" tanyaku.
"Di, kelas lo udah UTS Akuntansi Syariah kan?" tanya Kemala.
__ADS_1
"Udah tadi pagi. Kenapa?" tanyaku lagi.
"Lo jawabnya datar banget sih. Nggak seru ah." ujarnya sembari sedikit cemberut.
Astaga, perempuan ini manis sekali. Matanya cantik, alisnya cukup lebat, bulu matanya lentik. Hidungnya tak terlalu mancung, dan pipi yang sedikit gembil. Memakai kerudung. Badannya tak terlalu tinggi. Hari ini ia memakai kemeja kotak-kotak berwarna kuning hitam, dan celana jeans biru dongker.
Aku harus tenang. Santai Di, santai saja.
Aku bergumam dalam hati.
"Ya terus gue harus jawab kayak gimana?" tanyaku.
"Apa kek!" Kemala masih sedikit cemberut.
Wajahku menunduk, tangan kananku ku letakkan di depan perutku. Lalu aku berkata,
"Mohon izin Yang Mulia Kemala. Apa yang bisa hamba beritahu kepada Yang Mulia Kemala mengenai UTS Akuntansi Syariah?"
"Hahahahahaha," Kemala tertawa terbahak melihat gayaku.
Kemala, mahasiswi kelas C. Aku mengenalnya sejak acara Orientasi Mahasiswa Baru dulu. Dan kebetulan kami sekelompok. Anaknya periang dan senang bercanda. Biasanya, kemana-mana ia selalu bersama dengan tiga temannya. Macam geng saja. Namun, sangat tumben siang ini ia sendiri.
"Hahahahaha, lo pikir gue ratu?" ucapnya.
"Lho, kan emang lo ratu La. Ratu Buaya Putih. Hahahahaha." tuturku.
"Hahahahahaha, suzzana dong gue! Hahahaha." balasnya.
Siang ini kami mengobrol di depan kelas, memang tak lama. Karena sudah jam-nya kelas Kemala UTS Akuntansi Syariah. Ia memukul lengaku kuat, tanda pamit undur diri.
"Chat gue kapan-kapan yaa." ucapnya dari depan kelas.
"Baik Yang Mulia." teriakku.
__ADS_1
"Lo masih simpan nomor gue kan?" tanya Kemala dari depan kelasnya.
Aku mengacungkan jempol. Kemala membalas dengan senyum manisnya, lalu masuk ke dalam kelas.