Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 92


__ADS_3

"Di, Adi. Jangan cepet-cepet dong jalannya." panggil Tika. "Adi!".


"Apa?" tanyaku dengan suara kuat. Aku menghentikan langkahku dan berbalik badan ke Tika. Tika diam.


"Di, mungkin ada alasan tertentu Yuda menukar kalung lo dengan uang." ujar Tika.


"Alasan apa? Duit alasannya, cuma itu. Lo nggak tahu apa-apa Tika, lo cuma kebetulan di kasih kelebihan bisa lihat setan. Lo nggak tahu apa-apa tentang masalah yang gue hadapi, dan lo hanya kebetulan menolong gue semalam." balasku.


Tika senyum.


"Kenapa lo senyum-senyum?" tanyaku.


"Ada hal yang lo nggak tahu dan gue lebih banyak tahu Di." ucap Tika pelan seraya mendekatiku. "Lo pikir gue tinggal di kost itu bukan tanpa sebab? Lo pikir tadi malam gue teriak-teriak di depan kamar lo bukan tanpa sebab? Hah?" ujar Tika.


"Justru lo yang nggak tahu apa-apa Di." kata Tika.


Aku tertegun dengan perkataannya. Apa maksud dari ucapannya?


"Lo pikir, gue nggak tahu soal mustika pemberian Kakek Badrun? Hah?" sambung Tika.


Aku diam tanpa berkata. Ia menyebut nama Kakek Badrun, siapa Tika sebenarnya?


"Lo yang nggak tahu apa-apa."


"Maksud lo apa sih?" tanyaku penasaran.


"Ingat dengan takdir yang kita obrolin tadi malam?" ucap Tika.


Aku mengangguk pelan.


"Lo kenal dengan Kemala?" tanya Tika lagi.


Aku terkejut mendengar nama Kemala. Misteri apa lagi ini? Siapa Tika?


"Apa Kemala pernah bilang kalau ia punya saudara yang tinggal di belakang kampus?" Tika kembali bertanya.


"Siapa lo sebenarnya? Kenapa lo bisa tahu Kakek Badrun dan Kemala?" tanyaku.


Tika tersenyum angkuh.


"Ada hal-hal yang lo nggak tahu Adi. Dan gue lebih tahu banyak ketimbang lo." ucapnya.


"Tugas gue cuma membantu lo menghentikan kejahatan yang sudah lama ada di kost itu. Lo nggak perlu tahu siapa gue." ungkap Tika.


"Sekarang, bagaimana caranya agar kita bisa ambil kembali mustika itu dari tangan Nek Iyah. Oke!" lanjut Tika.


Sepintas di pikiranku saat ini adalah Kang Ujang, aku ingin ia lanjutkan cerita mengenai keluarga Pak Thamrin yang sempat tertunda dan belum selesai. Barangkali dari ceritanya aku bisa tahu asal usul Tika.


"Oke. Tapi tolong kasih tahu gue, siapa lo sebenarnya?" aku mencoba mengorek Tika.


Tika kembali melontarkan senyum angkuhnya.


"Gue saudara dari Kemala. Udah itu saja." jawabnya singkat.


"Oke, itu saja cukup menurut gue. Terus, apa rencana lo untuk mengambil kembali mustika itu?" tanyaku.


Tika berpikir, ia diam. Menyilangkan tangannya ke depan.

__ADS_1


"Intinya adalah membuat Nek Iyah keluar dari rumah itu. Setelah Nek Iyah keluar rumah, itulah kesempatan kita untuk mencari mustika di dalam rumahnya." ujar Tika.


"Iya, kayaknya memang harus seperti itu sih." tambahku. Aku berpikir sejenak, " Ah, Kang Ujang! Apa kita tanya ke Kang Ujang saja?" saranku.


"Boleh. Ayo kita temui Kang Ujang!" ajak Tika.


"Tik, apa nggak sebaiknya kita temui Kang Ujang di luar kawasan rumah Nek Iyah. Gimana menurut lo?" tanyaku.


"Oke. Coba lo hubungi Kang Ujang!" suruh Tika. "Kita ajak ketemuan di luar." sambung Tika.


Aku dan Tika janjian dengan Kang Ujang di sebuah cafe seberang kampus. Kata Tika, biar jauh sekalian tidak apa. Untungnya pekerjaan Kang Ujang sedang tidak menumpuk di rumah Nek Iyah.


Langit sudah hampir gelap, sebentar lagi waktu maghrib tiba. Aku dan Tika sudah sampai lebih dulu di cafe, kami memesan minuman sembari menunggu Kang Ujang datang. Aku mengobrol santai dengan Tika, aku sama sekali tak menyinggung asal usul Tika. Kami hanya berbincang soal kuliah, sekolah asal, sampai soal asmara. Aku pun cerita sedikit soal Kemala.


"Ooh jadi ada yang patah hati niiiih? Hahahaha." ledek Tika.


"Nggak patah hati sih. Cuma rasanya kayak ada yang nusuk-nusuk gitu di dalam. Hahahaha." sahutku.


"Mala memang gitu Di, dia lebih gampang akrab dengan cowok ketimbang cewek. Kebanyakan cowok yang dekat sama dia, jadi nyaman seakan ada kesempatan, dan akhirnya kebawa perasaan. Udah ge'er duluan cowoknya, ternyata Mala jadian sama cowok lain. Hehehehe." jelas Tika.


"Salah satunya gue ini Tik. Hahahahaha." sahutku.


"Yaaaaaa curcol. Hahahahaha."


Obrolan kami sore itu sama sekali tak membahas hal mistis, penampakan gaib, tak menyinggung Kakek Badrun, mustika, apalagi Nek Iyah. Kami mengobrol lepas sambil bercanda dan tertawa lepas sampai adzan maghrib berkumandang.


Ada mushola kecil di lantai atas cafe, Tika shalat duluan, kami bergantian. Setalah Tika selesai, aku pun shalat. Setelah selesai dan aku turun, ternyata Kang Ujang sudah tiba di cafe.


"Kang, sudah pesan minum?" tanyaku.


"Sudah dek sudah." jawab Kang Ujang.


Aku beradu tatap dengan Tika. Tika memberi kode padaku untuk bicara ke Kang Ujang.


"Kang, maaf sebelumnya kalau saya dan Tika mengajak Kang Ujang untuk bertemu di luar area kost." kataku.


"Ah nggak apa-apa atuh dek. Tapi memang mau bicarain apa sih, kok sampai jauh-jauh ketemu di sini?" tanya Kang Ujang.


"Begini, ada sesuatu barang milik saya yang di simpan oleh Nek Iyah. Dan saya ingin barang milik saya itu kembali. Tapi saya nggak mau Nek Iyah sampai tahu kalau barang itu saya ambil kembali." jelasku.


Kang Ujang menatapku diam.


"Ah, penjelasan lo terlalu berbelit Di. Gini kang, intinya Adi mau ambil sesuatu yang di simpan sama Nek Iyah secara diam-diam. Tapi Adi bingung bagaimana caranya."


"Harus ambil diam-diam ya?" tanya Kang Ujang.


"Harus kang. Gimana caranya agar Nek Iyah keluar dari rumah itu seharian, itu yang mau kita bicarakan sore ini." sahut Tika.


Kang Ujang hanya diam menatapku dan Tika.


"Kalian sebenarnya punya rencana apa? Kalian mau masuk rumah Nek Iyah tanpa izin, gitu?" tanya Kang Ujang dengan pelan. "Kalian mau menggeledah rumah Nek Iyah, gitu?"


"Ya, ya tapi kan kang cuma pakai cara itu yang memungkinkan." balasku.


"Memang barang apa yang Nek Iyah simpan? Sampai-sampai kalian harus masuk ke dalam rumah Nek Iyah diam-diam, seperti maling saja." tutur Kang Ujang.


Aku saling pandang dengan Tika, kemudian Tika mengangguk memberi kode.

__ADS_1


.


.


.


"Kalung pemberian Kakek Badrun." jawabku.


"Apa? Kalung mustika di pegang Nek Iyah?" Kang Ujang terkejut, ia tak sadar suaranya meninggi, sehingga seluruh pengunjung cafe menatap sinis ke arah kami.


Tika meminta maaf kepada para pengunjung cafe dengan menyatukan kedua tangannya sambil senyum tak enak.


"Ini nggak bisa di biarkan dek. Kalau sampai kalung itu di tangan Nek Iyah, peliharaannya nanti makin kuat. Ayo kita ambil dek, ayo kita ambil sekarang!" Kang Ujang memaksa, menarik tanganku.


"Kang, kang, Kang Ujang sabar kang. Sabar, tenang dulu. Duduk dulu kang." Tika menahan Kang Ujang, wajahnya panik.


"Ayo dek, kita ambil kalung itu. Saya nggak mau kejadian dulu terulang lagi." ucap Kang Ujang, raut wajahnya sedih.


"Kang, tenang kang. Minum dulu kang." suruhku. Kang Ujang menyedot es kopi pesanannya. "Kang, memang dulu ada kejadian apa? Sampai bikin Kang Ujang seperti trauma gini." tanyaku.


"Semua bermula ketika..."


______


Hari itu Mbak Ajeng dan Mbak Gendis datang untuk menjenguk Nyai Asih, sekaligus menyemangatinya. Nyai Asih tampak senang, senyumnya pun cerah, setelah beberapa hari hanya menangis dan menangis. Walaupun wajah nyai pucat karena tak pernah keluar dari kamarnya dan tak pernah terkena matahari, tapi senyum bahagia nyai terpancar.


Mbak Ajeng selaku saudara dari Pak Thamrin memohon maaf kepada nyai, ia kasihan dan tak tega melihat nyai di perlakukan seperti ini oleh Pak Thamrin.


"Nyai, saya atas nama Mas Thamrin meminta maaf dengan tulus sama nyai. Maafkan atas sikap Mas Thamrin yang sudah menelantarkan nyai di saat nyai sangat butuh seseorang yang memperhatikan nyai."


Nyai tersenyum, "Tidak apa Mbak, saya yang salah. Mas Thamrin berharap besar atas kehamilan saya, tapi saya yang tidak bisa menjaganya dengan baik. Wajar kalau Mas Thamrin murka seperti itu. Alhamdulillah, untungnya ada Teh Tati, Teh Kokom, Mang Engkus, dan anaknya Ujang yang selalu memperhatikan saya mbak."


"Nyai yang sabar ya. Sekarang yang terpenting kesehatan nyai cepat pulih." tambah Mbak Gendis. "Jangan terlalu memikirkan Mas Thamrin, nanti juga kalau kangen pulang." lanjut Mbak Gendis.


"Iya mbak, saya makasih sama Mbak Ajeng dan Mbak Gendis sudah repot-repot datang ke sini." balas nyai.


"Aaahh tidak repot kok." ungkap Mbak Ajeng.


"Mbak Ajeng dan Mbak Gendis menginap kan? Pokoknya harus menginap di sini ya, kalau perlu satu minggu, saya senang kalau ada mbak-mbak di sini." Nyai Asih berucap.


"Iya nyai, saya dan Mbak Ajeng akan menginap disini, menemani nyai." balas Mbak Gendis.


Senyum Nyai Asih merekah, wajahnya cantik tiada tara.


"Teh Tatiii. Teeehh." nyai memanggil Bi Tati.


Bi Tati datang ke kamar nyai.


"Saya nyai."


"Tolong masak makanan yang enak-enak ya, Mbak Ajeng dan Mbak Gendis mau menginap." pinta nyai. "Teh Kokooom. Teeehh. Teh Kokooomm." ibu datang dengan tergesa.


"Saya nyai." ibu datang ke kamar nyai.


"Tolong rapikan kamar tamu, ganti semua sprei dan sarung bantal. Mbak Ajeng dan Mbak Gendis mau menginap."


Bi Tati dan ibu bergerak cepat atas perintah Nyai Asih.

__ADS_1


Mbak Ajeng dan Mbak Gendis hanya tersenyum melihat nyai. Mereka berharap nyai segera pulih dan sehat kembali. Mereka lebih sayang Nyai Asih ketimbang abang kandung mereka sendiri, Pak Thamrin.


__ADS_2