Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 22


__ADS_3

Hari ini aku tak bersemangat, hingga kuliah pun enggan rasanya ku melangkah pergi. Letih menangis, aku pun tertidur.


***


"Assalamualaikum, Dek Adi."


Suara seseorang membangunkanku. Eh, pukul berapa ini? 11:20. Cukup lama aku tertidur.


Tok tok tok


"Assalamualaikum."


Eh, suara Nek Iyah. Aku pun segera bangun.


"Waalaikumsalam," jawabku.


Kubuka pintu kamar. Nek Iyah berdiri di depan kamarku membawa sepiring nasi dengan lauk cukup banyak.


"Ya nek, ada apa?" tanyaku.


"Ini dek, saya kebetulan masak banyak. Ini buat Dek Adi." Nek Iyah menyerahkan sepiring nasi dengan lauk penuh.


"Wah, makasih banyak nek." aku menerima sepiring nasi berisikan sepotong ayam goreng, setumpuk sayur tumis, tiga potong tempe goreng, seonggok sambal merah, dan beberapa potong cumi asin. Mewah untuk ukuran anak kost.


"Saya lihat dari pagi Dek Adi nggak keluar kamar, libur ya?" tanya Nek Iyah.


"Enggak kok nek, cuma lagi nggak semangat kemana-mana." jawabku.


"Yasudah, saya permisi ya." Nek Iyah pamit.


"Iya nek. Makasih banyak nek." ucapku.


"Di habiskan ya makanannya!" Ia berkata sambil menjauh dari kamarku.


"Iya nek, pasti." sahutku.


Jadi kembali teringat mbah-ku. Ah, sedihnya aku tak bisa melihat wajah teduhnya untuk terakhir kali. Aku masih berdiri di depan kamar, sambil memegang sepiring nasi pemberian Nek Iyah. Kulihat gelas kopiku tadi pagi, di penuhi semut hitam. Mengerubung. Puluhan semut mengambang tak bergerak di permukaan kopi.


Aku masuk ke dalam menuju kamar mandi, piring nasi kuletakkan di lantai ruang tengah. Pintu kamar tetap kubuka, agar udara segar berhembus ke dalam.


Selesai kucuci mukaku, aku bergegas menuju ruang depan. Lapar juga rasanya perutku. Terkejutnya aku, sepuluh ekor kucing melingkari piringku tak bergerak. Sambil memandang ke arah piring.


"Husshh!!" aku teriak mengusir kucing-kucing itu.


Aneh, sepuluh ekor kucing itu tak bergeming sedikitpun. Kucolek tubuh seekor kucing dengan jempol kaki, ia menoleh. Tatapannya tajam melihat ke arahku. Tak ambil pusing, kuambil sapu ijuk.


Wush! sapu ijuk melayang

__ADS_1


Bug! menghantam seekor kucing, mereka pun bubar.


Bug! Bug! ahaa, dua ekor kucing kena hantam.


Sepuluh ekor kucing lari tunggang-langgang. Rasakan hantaman sapu ijukku! Ah, akhirnya aku bisa makan dengan tenang. Dan mari makaaaan! Bismillah.


Sepiring nasi dan lauk ludes, kini bersarang di perutku. Ah, sungguh kenyang. Terlalu kenyang. Setelah kucuci piring, cepat kukembalikan piring Nek Iyah.


"Assalamualaikum nek." salamku sembari mengetuk pintu belakang rumah Nek Iyah.


"Waalaikumsalam." jawab Nek Iyah terdengar dari dalam.


Nek Iyah membuka pintu.


"Nek, saya mau balikin piring," ucapku sambil menyerahkan piring.


"Oh iya dek. Di habisin kan makanannya?" tanya Nek Iyah.


"Pasti nek. Enak banget masakannya. Makasih ya nek."


"Iya iya, sama-sama." tutur Nek Iyah.


"Saya permisi nek. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." jawab Nek Iyah seraya menutup pintu.


"Permisi bang." seorang menyapaku sambil tersenyum.


"Iya, mari kak." kubalas dengan senyum.


Mereka berjalan menuju garasi, namun terhenti karena panggilan Nek Iyah dari dalam rumah. Nek Iyah membuka pintu belakang.


"Ela, Dini, udah pada makan belum?" tanya Nek Iyah.


Rupanya nama mereka Ela dan Dini.


"Ela udah nek. Nih, Dini yang belum" jawab Ela, perempuan dengan pipi tembem. Lalu keduanya tertawa. Dini, sedikit ramping namun tubuhnya sedikit lebih tinggi.


"Sini dulu!" panggil Nek Iyah. Keduanya pun menghampiri Nek Iyah. Tak lama, Nek Iyah memberikan dua bungkus nasi kepada Ela. Dan mereka pergi.


Aku duduk di ruang depan sambil membaca novel. Sedang asik membaca, aku di kagetkan oleh suara gaduh di atas atap kost. Grasak-grusuk. Kucing sial, pikirku.


Srekk Srekk Srekk


Suara dari atap seperti sesuatu yang terseret. Suaranya berasal dari atap ruang tengah. Kuacuhkan.


Duuaagg

__ADS_1


Astaga, apa itu? Suara keras mengagetkanku. Lagi-lagi berasal dari atap ruang tengah. Suaranya seperti hantaman, atau sesuatu yang jatuh. Kulihat atap ruang tengah kamarku, bahaya jika sampai ambruk. Ah, tak ada apa-apa. Sial, kucing-kucing di sini amat menganggu, pikirku.


***


Sore hari, Yuda mampir ke tempatku.


"Lo kenapa nggak kuliah Di?" tanya Yuda sembari mengaduk kopi.


"Nggak apa-apa Da, lagi nggak enak badan aja." sahutku.


"Eh Di, udah lo tanyain belum ke ibu kost soal mobil?" Yuda mengingatkanku.


"Astaga, gue lupa Da. Nanti deh gue tanyain. Sorry sorry."


"Iya, santai aja." Yuda menyeruput kopinya.


"Eh Da, gue mau tanya deh."


"Tanya apa?"


"Kemarin, lo beneran lihat mbak yang punya rumah depan?" tanyaku.


"Iya, dia senyum ke kita Di. Lo diam aja." Yuda mengeluarkan sebatang rokok.


"Emang kenapa?" tanya Yuda.


Aku diam.


"Heh, kenapa? Malah diam." sergah Yuda.


"Semalam, gue ngobrol sama penghuni kost 11e. Lo tahu nggak dia cerita apa soal rumah depan?" aku membuka cerita.


"Apaan?" Yuda bertanya dengan rokok menempel di bibirnya.


"Ternyata, yang punya rumah depan itu adiknya almarhum Pak Thamrin, yang punya kost ini." jelasku.


"Lah, terus?"


"Yang punya rumah itu udah lama meninggal Da." sambungku.


Yuda terkaget.


"Hah? Beneran Di?" tanya Yuda.


"Iya, itu adiknya Pak Thamrin udah lama meninggal. Dan rumah itu udah lama banget kosong Da." lanjutku.


Yuda diam bersandar di dinding tak bergeming sedikitpun. Ia tak jadi membakar rokoknya. Tatapannya kosong.

__ADS_1


__ADS_2