
Baru saja kami bernafas lega, secara tiba-tiba Yuda bangun dari rebahnya, ia langsung berdiri. Matanya melotot dan terbelalak. Kami semua yang ada di ruang tamu terkaget. Yuda berdiri dengan tegap di atas sofa.
"Yuda. Yuda. Yuda kenapa nak?" panggil ayah.
"Ini jelas bukan Yuda pak." sahut Tika. "Hei! Siapa kamu?" tanya Tika.
Ada yang masuk kembali ke dalam tubuh Yuda. Kenapa jiwa Yuda tidak kembali setelah jin dari tubuhnya keluar?
"Hehehehehe." Yuda terkekeh. Raut wajahnya tampak angkuh, tatapannya licik.
"Siapa kamu?" tanya Tika.
"Kau tak perlu tahu siapa aku, cucuku. Hehehehehe." jawabnya. Suaranya berat dan dalam.
"Kek, saya minta keluar dari tubuh ini sekarang." suruh Tika.
"Hehehehehe. Percuma cucuku, percuma. Hehehehehe." jawab Yuda.
Lho, apa yang percuma? Kami semua di ruang tamu saling tatap keheranan.
"Hehehehehe. Anak muda ini tak akan bisa kembali. Hehehehehe." sambungnya.
"Apa maksudnya?" tanya Tika.
"Jiwanya sudah bersama pemimpin kami. Yang kau lakukan sia-sia, cucuku. Hehehehehe." jawab Yuda.
Astaga, apa yang di maksud itu jiwa Yuda sudah di sekap oleh si kuntilanak merah? Nggak, nggak boleh. Nggak bisa. Aku akan lakukan apa pun untuk membawa Yuda kembali.
"Tubuh ini kosong. Kami yang akan mengisinya silih berganti. Hehehehehe." lanjutnya.
Tika lagi-lagi mengambil sejumput garam, memantrainya, kemudian melemparkan ke tubuh Yuda.
"Hehehehehe. Garam itu tak akan bisa mengusirku. Aku bukan Genderuwo bodoh itu. Hehehehehe." tegas Yuda.
"Apa yang kakek mau?" tanya Tika.
"Hehehehehe. Aku hanya ingin diam di tubuh ini, cucuku." jawabnya sambil terus terkekeh.
"Bagaimana cara agar jiwa teman kami kembali kek?" tanya Tika tegas.
"Hehehehehehe. Sulit cucuku. Sangat sulit. Harus ada pertukaran yang mahal. Hehehehehe." jawabnya.
"Mahal? Seberapa mahal, hah? Berapa nominalnya? Akan saya bayar, asalkan jiwa anak saya Yuda bisa kembali." sergah ayah Yuda.
"Hahahahahahaha." kakek yang merasuki Yuda tertawa terbahak.
Kami kembali saling pandang keheranan.
"Hahahahahaha. Dasar manusia! Kau pikir kertas-kertas itu berguna untuk kami? Hanya manusia bodoh yang hidup untuk mengejar kertas, bahkan mereka sampai lupa dengan penciptanya. Hahahahahaha. Banyak manusia yang meminta bantuan dari kaum kami hanya karena mengejar kertas yang kalian sebut uang itu. Hahahahahaha. Bodoh. Sangat bodoh." balas Yuda.
"Lalu apa maksudnya pertukaran mahal itu?" tanyaku.
"Hahahahahaha. Apa kalian akan berusaha menyanggupinya? Hahahahahaha. Aku yakin kalian tidak akan sanggup." jawabnya.
"Apa? Apa itu?" ayah bertanya dengan suara lantang.
Yuda diam, matanya menatap kami satu persatu. Tajam.
__ADS_1
"Jiwa tukar jiwa." ucap Yuda dengan raut serius.
Kami semua kaget mendengar perkataan kakek yang merasuki Yuda.
"Hehehehehehe. Kenapa dengan wajah kalian? Aku sudah yakin, kalian tak akan sanggup dengan syaratnya. Hehehehehe. Manusia memang seperti itu, hanya mulut besar saja. Tadi seolah menantang, tapi saat tahu syaratnya seperti itu, semua terdiam. Hehehehehe."
"Kek, apa nggak ada cara lain selain menukar jiwa dengan jiwa?" tanyaku.
"Hahahahahaha." Yuda alias kakek kembali tertawa terbahak.
"Manusia seperti kalian memang lucu. Hahahahaha. Kali ini kalian malah minta penawaran. Kalian pikir kalian berurusan dengan siapa?"
"Sudahlah, kalian relakan saja anak muda itu untuk pemimpin kami. Usaha apa pun yang kalian lakukan, akan berujung sia-sia. Hahahahahaha." ujarnya lagi.
"Satu lagi, kau tak usah melemparku dengan garam, aku tak suka. Kau pikir aku ayam yang hendak di masak! Urusanku sudah selesai."
Mata Yuda terpejam kemudian tubuhnya ambruk. Ya, itu pertanda kalau jin yang merasukinya sudah keluar dari tubuhnya.
"Adi, bagaimana ini Di?" ayah bertanya padaku. Ia tampak panik dan kelimpungan mendengar syarat yang di katakan oleh kakek yang merasuki Yuda tadi.
Aku pun bingung harus bagaimana. Tapi Yuda harus di selamatkan, aku pun tak ingin terjadi apa-apa terhadap Yuda.
"Iya pak, tenang pak. Saya akan coba diskusi dengan teman saya dulu." jawabku.
"Hei, tenang tenang! Kamu pikir saya bisa tenang! Anak saya entah ada dimana, kamu malah suruh saya tenang. Kalau anak saya nggak bisa kembali, apa kamu mau tanggung jawab! Hah!" ayah Yuda membentakku, aku terpaku.
"Kamu! Siapa nama kamu?" tanya ayah ke Tika.
"Saya Tika om."
"Om, ini bukan soal uang. Om tidak bayar saya, tidak apa-apa. Saya akan tolong dan berusaha semampu saya, tapi jika nantinya tetap tidak bisa, saya pun nggak bisa berbuat apa-apa. Karena yang kita hadapi bukan manusia yang bisa di iming-imingi uang. Kita berurusan dengan hal gaib, dan mereka punya rules sendiri." jelas Tika panjang.
"Aaahh, masa bodo hal gaib! Saya mau anak saya kembali. Titik!" sahut ayah Yuda seraya meninggalkan kami, ia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.
Tika diam. Aku menghampirinya, Kemala pun mendekatinya.
"Tika, apa lo bisa bantu?" tanyaku.
Wajah Tika tertunduk lesu, ia menggeleng pelan. Dari ujung matanya menetes air mata. Kemala merangkulnya, mencoba menenangkan Tika.
"Di, maaf Di. Kalau syaratnya jiwa tukar jiwa, sudah pasti akan ada satu korban. Pertanyaannya, siapa yang mau jiwanya di tukar?" ujar Tika.
"Adi, sepertinya lo harus merelakan sahabat lo dari sekarang." Tika melanjutkan ucapannya.
Deg.
Dengkulku lemas seketika.
Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan agar sahabatku Yuda bisa kembali? Apa ada cara lain agar tak ada korban yang jatuh?
Tika duduk bersama Kemala di sofa, Kemala masih menenangkan Tika. Aku bingung mencari jalan keluar yang tak kutahu caranya bagaimana. Benar kata Tika, yang kita hadapi adalah perihal gaib. Yang tidak kita tahu alurnya, tidak bisa di tebak dan susah di terka. Tak bisa di imingi uang dan tak bisa suap-menyuap.
* * *
Yuda sudah di pindah ke kamarnya, namun sampai saat ini ia pun belum siuman. Ibu Yuda pun tadi bersikeras untuk mencari orang pintar yang bisa membantu anaknya kembali. Ibunya menangis meraung-raung, tapi akhirnya berhasil di tenangkan oleh ayah. Bahkan, Tika sampai bilang akan meminta bantuan kepada gurunya untuk bisa membawa kembali jiwa Yuda.
Ibu dan ayah Yuda kembali ke lantai bawah. Sementara aku, Tika, Kemala, dan si mbak masih di ruang tengah di depan kamar Yuda. Kami duduk di sofa saling berhadapan.
__ADS_1
"Tika, lo yakin mau minta bantuan sama guru lo?" tanyaku.
"Iya Tika, kalau nggak yakin mending nggak usah. Apa perlu aku telpon mamah buat bantu kamu?" tawar Kemala.
Tika diam, wajahnya terlihat murung. Dagunya bertumpu pada tangannya. Aku mengerti apa yang Tika rasakan, ia memikul beban yang sangat berat. Kepercayaan kedua orang tua Yuda padanya sudah terlalu besar. Kedua orang tua Yuda sangat yakin dengan Tika, Tika yang akan membawa kembali jiwa Yuda.
Kemudian Tika senyum.
"Kenapa Tik?" tanyaku dengan heran.
"Iya, kamu kenapa senyum gitu?" Kemala ikut bertanya.
"Kalian pikir gue punya guru? Hehehehe." ucap Tika.
"Jadi.." sahutku.
"Iya, gue nggak punya guru Di. Semua kelebihan yang gue punya saat ini adalah hasil belajar sendiri, di tambah bakat dan darah dari para pendahulu gue." jelas Tika.
Aku menepuk dahiku. Astaga. Aku makin bingung setengah mati.
"Terus tadi kenapa lo bilang akan minta bantuan guru lo di depan kedua orang tua Yuda? Kenapa Tika?" tanyaku.
Si mbak menangis. Kemala tak berkata apa pun.
"Gu-gue panik dengar nyokap Yuda menangis sambil teriak-teriak Di! Gue nggak tahu harus bilang apa!" jawab Tika. "Ya akhirnya gue bilang seperti itu."
"Astaga Tika. Lo tahu kan akibatnya? Mereka mempercayakan keselamatan anaknya sama lo. Terus kalau seperti ini gimana? Harusnya lo pikir dulu sebelum bicara Tika." balasku.
Tika menundukkan wajahnya.
"Maaf ya Di." ucap Tika pelan.
"Lo nggak harus minta maaf sama gue Tik. Gimana kalau orang tua Yuda tahu, kalau tadi itu lo asal ngomong. Pasti mereka bakal kecewa." sahutku lagi.
"Adi, udah Di. Kita nggak bisa salahin Tika sepenuhnya. Lebih baik kita cari cara lain ataupun cari orang lain yang bisa dan mampu bantu kita." sambar Kemala.
"Iya. Tapi siapa? Lo tahu dan kenal orang yang bisa bantu kita? Hah?" sahutku.
"Nyokap gue." ujar Kemala.
"Nggak La. Nyokap lo nggak akan mampu. Tolong jangan libatin nyokap lo, dia nggak akan sanggup melawan kuntilanak merah itu." sergah Tika.
Kemala diam.
"Dukun? Gimana?" ucap Kemala tampak asal sebut.
Aku menghela nafas.
"Dukun apa La?" tanyaku.
"Ayo kita cari, di mana aja. Atau orang pintar yang sangat mengerti dengan hal gaib. Soal biaya orang tua Yuda nggak pernah mempermasalahkan bukan!" ujar Kemala.
Di putuskan sudah, aku dan Kemala pergi mencari orang pintar. Sedangkan Tika menjaga Yuda, takutnya akan ada jin yang masuk ke dalam tubuh Yuda. Setelah melaksanakan shalat maghrib, aku dan Kemala bersiap.
Kami memakai motor Kemala. Ia membonceng di belakangku. Kuhidupkan mesin motor dan lampu motor. Tiba-tiba, di seberang rumah berdiri sosok yang sangat kukenal. Sosok itu terang terkena pancaran sinar lampu motor.
Kakek Badrun!
__ADS_1