
"Apa? Lo dapat gangguan juga di rumah?" aku bertanya dengan terkejut pada Yuda.
"Da, lo nggak takut terjadi hal yang lebih mengkhawatirkan pada lo dan keluarga lo?" tanya Mas Gun.
"Iya Da. Ini bukan masalah hobi dan kesenangan lagi Da. Ini menyangkut keselamatan lo dan keluarga lo." aku menambahkan.
Yuda dengan santai menyeruput kopi dalam cangkirnya. Seruputan terakhir sebelum kopi menyisakan ampas.
"Tenang tenang. Cerita gue belum selesai kawan-kawan. Masih bersambung kok. Hehehehe." balas Yuda sambil cengengesan.
Aku menghela nafas. Mas Gun menenggak segelas air putih, rupanya tenggorokan Mas Gun kering.
"Terus, gimana kelanjutannya?" tanyaku.
"Gue selesaikan dulu cerita Tarjo ya. Setelah itu, akan gue lanjutkan cerita mobil itu." ucap Yuda.
Matahari sore makin temaram. Langit memerah memunculkan mega. Awan bak lukisan abstrak yang tergambar di atas canvas sangat besar. Angin sepoi menyenggol dedaunan, menggoyang dahan dan menjatuhkan daun kering. Burung-burung tampak berkelebat kembali ke peraduan. Sebentar lagi matahari yang gagah perkasa akan digantikan oleh rembulan. Aku dan Mas Gun masih menunggu kelanjutan cerita Yuda.
"Setelah mobil gue bawa pulang, beberapa malam Tarjo masih terngiang dengan penampakan sosok wanita bergaun putih. Ia menjadi tak tenang. Om Panji pun menjadi khawatir dengan Tarjo. Kerjanya menjadi tak segercep dulu. Belakang Tarjo terlihat murung, kadang ketakutan sendiri jika melihat ruangan gelap. Puncaknya Tarjo menjadi agak.." Yuda tak melanjutkan.
"Agak apa Da?" tanyaku.
Yuda mengacungkan jari telunjuknya, ia menaruh telunjuknya miring di depan dahinya.
"Gila maksud lo?" tanyaku kaget.
Yuda mengangguk pelan.
"Stress." ucap Yuda.
"Tarjo menjadi kurang waras. Ia kadang berbicara sendiri, tertawa sendiri, menangis, dan ngelakuin hal-hal yang nggak di lakuin orang normal." terang Yuda.
Persis seperti Mas Gun kemarin. Kelakuan Mas Gun pun sama persis dengan cerita Yuda mengenai Tarjo. Beruntungnya Mas Gun dapat diselamatkan.
"Menurut cerita teman montir satu kamarnya. Pernah Tarjo didapati sedang asik membunuh kucing dekat bengkel. Katanya, Tarjo sedang memukuli kucing yang sudah terkapar tak bernyawa menggunakan sebatang kayu hingga tubuh kucing hancur berantakan." tambah Yuda.
"Iiiiihhh. Kok sampai gitu ya?" Mas Gun berucap.
"Da, lo dapat cerita ini dari siapa?" tanyaku.
"Kalau cerita gangguan saat Tarjo membereskan mobil gue, sumbernya dari Tarjo langsung. Cuma cerita setelahnya gue dapat dari Om Panji. Om Panji dapat laporan dari para montir yang tinggal di bengkel. Memang kenapa Di?"
__ADS_1
"Enggak apa-apa kok. Gue cuma tanya aja. Lanjut Da."
"Karena Tarjo yang tak kunjung membaik, akhirnya ia dipulangkan ke kampung halamannya. Om Panji memberikan uang untuk perawatan Tarjo di kampung." cerita Yuda.
"Mendengar informasih soal Tarjo yang seperti itu, akhirnya gue memutuskan untuk menjual mobil itu." ucap Yuda.
"Jadi sekarang mobil itu sudah dijual Da?" tanyaku.
"Alhamdulillah udah laku. Tapi sebelum mobil terjual, keadaan di rumah sedikit menyeramkan dan menegangkan sih." terang Yuda.
"Ada kejadian apa di rumah lo?" tanya Mas Gun.
"Beberapa kali si Mbak mendengar suara wanita menangis di garasi mobil. Pak Satpam melihat penampakan wanita di balkon kamar gue. Dan gangguan paling nyata adalah saat sepupu gue datang untuk menginap di rumah."
"Sepupu gue sedang libur sekolah, dia siswi SMA swasta. Deby namanya. Keluarga gue dan keluarganya memang sangat dekat. Dia udah gue anggap seperti adik sendiri. Malam hari sekitar jam delapan malam, dia berenang. Gue sedang asik nonton tv di ruang keluarga. Tiba-tiba, gue dengar suara Deby teriak-teriak dari luar. Lo tahu Deby kenapa?"
Aku dan Mas Gun menggeleng.
"Deby sedang berontak ketika gue lihat. Ia tampak di tarik ke dalam air. Kejadian itu sangat nyata, gue lihat dengan mata kepala gue sendiri. Deby sudah di permukaan, tiba-tiba di tarik lagi ke dalam air. Dan yang paling membuat gue nggak bisa berkata-kata adalah ketika Deby sudah meraih tangan gue di pinggir kolam, tiba-tiba ia di tarik kembali ke dalam air. Akhirnya gue dan Pak Satpam berhasil menyelamatkan Deby. Syukurnya Deby nggak mengalami luka dan trauma apapun." cerita Yuda.
"Lalu?" tanya Mas Gun.
"Mendengar cerita gue yang mengaitkan kejadian di bengkel Om Panji, Tarjo, Mbak, Pak Satpam, dan Deby akhirnya bokap memutuskan untuk segera menjual mobil itu." lanjut Yuda.
"Setelah mobil terjual, apa ada kejadian aneh lagi di rumah lo?" tanyaku.
Yuda terlihat berpikir.
"Emmm, sepertinya nggak ada sih. Nggak ada laporan dari Mbak dan Pak Satpam soal suara tangis dan penampakan." jawab Yuda.
"Kalau menurut lo kesimpulannya apa Di? Mas?" tanya Yuda.
Aku menoleh ke arah Mas Gun. Mas Gun menatapku.
"Kenapa lo malah lihat gue Di? Itu ditanya sama Yuda. Jawab buruan!" tukas Mas Gun.
"Kalau menurut gue, sosok yang sedari awal mengikuti lo memang dikirim untuk mencelakai lo. Namun karena lo mampir di bengkel, akhirnya sosok itu turun dan tinggal di bengkel. Ditambah lagi, di bengkel itu ada mobil antik yang ada hubungannya dengan Pak Thamrin dan Nek Iyah. Jadilah sosok itu mendiami mobil. Menurut gue, serangan memang di tujukan pada orang pertama yang demit itu temui. Naasnya Tarjo-lah orang yang demit itu temui. Itu menurut pendapat gue lho yaa." jelasku.
Ah gila, sedikit bangga aku dengan intuisi macam ini. Sepertinya aku memang salah jurusan kuliah. Untuk apa aku kuliah ekonomi kalau nalarku diatas rata-rata seperti ini. Sial.
"Kalau menurut lo Mas?" tanya Yuda.
__ADS_1
Mas Gun tampak berpikir.
"Untuk apa lo tanya gue lagi kalau udah di jawab sama Adi." tukasnya cepat.
"Halaaaahh, bilang aja nggak ada kesimpulan. Hehehehehe." ledekku.
"Kesimpulan dari lo menurut gue masuk akal sih Di. Mungkin memang seperti itu tujuan dari sosok wanita yang membonceng malam itu." ujar Yuda.
"Da, ada baiknya lo jangan pulang dulu ke rumah sebelum keadaan benar-benar aman. Nanti gue dan Tika akan coba membantu melihat rumah lo. Masih ada atau enggak sosok itu disana." ujarku.
"Hehehehehe. Nggak usah Di. Sosok itu jelas udah nggak ada di rumah gue." balas Yuda.
"Kok lo bisa seyakin itu?" tanyaku.
"Kan gue belum selesai cerita. Tadi itu gue hanya minta pendapat kalian aja sebelum gue lanjutkan ceritanya." ujar Yuda.
"Oalaaahh, belum selesai toh! Gue kirain udah happy ending, ternyata lanjut ke part berikutnya. Hehehehehe." sahut Mas Gun.
"Beneran belum selesai Da?" tanyaku.
"Iya, beneran belum selesai. Mau gue lanjutin nggak nih?" tawar Yuda.
Di kejauhan terdengar adzan Maghrib berkumandang. Langit hampir gelap pekat. Cerita Yuda akan dilanjutkan setelah melaksanakan shalat Maghrib. Kami shalat berjamaah di ruang depan. Mas Gun sebagai imam, sedangkan aku dan Yuda sebagai makmum.
Setelah shalat, tak lupa aku berdoa. Meminta pertolongan pada pemilik kekuatan paling Agung. Penguasa jagat raya. Pengatur hidup dan mati. Tuhan Yang Maha Esa. Kebathilan belum musnah, kuntilanak merah itu masih mencari mangsa. Aku masih terancam. Dan teman-temanku pun bernasib sama. Hanya kepada-Nya aku meminta pertolongan.
"Lapar nih. Beli makan yuk Di." ajak Mas Gun.
"Gue juga lapar nih. Udah nggak usah keluar kost, gue pesan lewat ojol aja. Lo pada mau makan apa?" tanya Yuda.
"Wuiiihh zaman udah canggih ya, makan aja tinggal pesan. Nanti diantar ke tempat tujuan. Mantap." sahut Mas Gun.
Kami memesan empat porsi nasi goreng. Seporsi untuk Tika yang sedari tadi tak menunjukkan batang hidungnya. Kami mengobrol santai sembari menunggu makanan kami diantar oleh ojol. Yuda memang berniat tak pulang malam ini. Sebab ayah dan ibunya sedang tugas ke luar kota.
Semoga malam ini tak terjadi hal-hal yang tak kami inginkan. Semoga malam ini aku dan teman-temanku bisa tidur nyenyak tanpa ada gangguan. Kuyakin Tuhan selalu melindungi kami, jika kami meminta perlindungan pada-Nya. Tuhan tak tidur.
_________
kawan-kawan, otor sengaja update malam ini. kemungkinan besok nggak bisa update karena ada kesibukan.
mohon maklum dan pengertiannya. sebisa mungkin tiap hari otor akan update jika tidak ada kesibukan.
__ADS_1
makasih sudah setia membaca dan menunggu, makasih dukungannya, makasih atas vote, like, komen, favoritnya.
makasih all,