
Ponsel ku matikan, aku hanya ingin sebuah ketenangan hari ini, tanpa ada gangguan dari siapapun. Ku bereskan baju kemeja dan celanaku yang kotor, menaruhnya di ember.
Aku duduk di ruang depan, lalu ku buat secangkir kopi. Asap tipis mengepul dari cangkir kopi. Aku duduk bersandar pada dinding. Tiba-tiba perutnya terasa nyeri. Ku singkap kaus yang ku kenakan.
Degg.
Aku terkejut, di perutku ada bekas luka. Bentuknya setengah lingkaran, warnanya hitam kemerahan. Ini apa? Astaga, apa kejadian tadi itu nyata? Kuku-kuku hitam yang menusuk perutku, apa itu nyata? Ah, tidak mungkin, itu pasti hanya mimpi. Lalu ini apa? Ini bekas apa?
Aku menyentuh luka di perutku. Aww, terasa sakit. Ini tak masuk akal. Ku coba mengusapnya, berharap hilang. Tapi ini sangat menyakitkan, jelas ini luka betulan.
Aku segera ke kamar mandi, ku buka baju dan celanaku. Ku guyur kepala hingga seluruh tubuhku. Tapi begitu terkena air, luka ini semakin menyakitkan. Ku basuh dengan sabun perlahan.
"Aaaaaa." aku menjerit kesakitan.
Apa arti mimpiku tadi malam? Jika itu hanya mimpi, lalu ini luka apa? Jika itu benar terjadi, mengapa seperti mimpi? Ini membingungkanku. Otakku tak dapat berpikir. Ku lupakan pipiku yang bengkak akibat pukulan semalam.
Ku selesaikan mandi, lalu berpakaian. Aku duduk di teras depan kamarku, di temani secangkir kopi yang ku buat tadi. Sudah tak panas. Aku menyeruputnya sedikit.
"Dek Adi." Kang Ujang memanggilku dari arah garasi.
"Ya kang. Ngopi sini kang." aku menawarkan.
"Iya makasih dek. Nggak kuliah?" tanya Kang Ujang.
"Enggak kang, lagi kurang enak badan nih."
"Ooh, yasudah istirahat. Saya lanjut kerja dulu ya." ujar Kang Ujang.
"Oke kang."
Kang Ujang nampak sibuk merapikan tumpukan karung, tak lama ia pun meninggalkan garasi. Ku lihat ke arah kamar Bang Oji, motornya sudah tidak ada.
Aku tak mengerjakan apa-apa, hanya menikmati pagi dengan secangkir kopi hangat. Mendengar kicauan burung, merasakan hangatnya pancaran Sang Surya.
***
Siang hari, setelah shalat zuhur aku keluar untuk mencari makan. Warung nasi langganan dekat gang adalah tujuanku, hanya itu yang bisa ku jangkau dengan berjalan kaki.
Warung nasi nampak sedikit ramai. Untungnya saja aku dapat temapt duduk. Lauk pauk pun masih terlihat banyak, berbagai macam pilihan membuat nafsu makanku meningkat. Ikan tongkol balado, sayur sawi putih, orek tempe, dan tahu goreng, lauk itu yang ada di pikiranku saat ini.
__ADS_1
Ibu penjual menggali nasi dalam termos, menyendok dan menaruhnya di atas piring. Lalu mengambil semua lauk yang ku sebut. Aku melahap dengan gragas, mulutku menikmati tiap sendoknya, menikmati tiap kunyahan.
Puas menghabiskan sepiring nasi beserta lauk, setelah membayar aku pun langsung bergegas pulang.
Aku berjalan pelan menuju kost-ku, sedang ku nikmati sepiring nasi dan lauk berkumpul di dalam perutku. Tapi tiba-tiba, luka ini terasa nyeri. Saking sakitnya, sampai-sampai aku menghentikan langkahku. Membungkuk sebentar. Ku singkap sedikit kaus yang ku pakai, darah nampak keluar dari luka di perutku. Aku mencoba jalan perlahan, tapi baru saja selangkah sakit dari luka di perutku makin menjadi. Aku masih terus membungkuk.
Astaga, kenapa ini?
Aku duduk di pinggir jalan, berharap semoga sakitnya berkurang dan aku bisa kembali ke kamar kost. Kurang lebih lima menit aku duduk di pinggir jalan, tak mau menunggu lama lagi aku pun bangun dan kembali melangkah perlahan. Alhamdulillah, sakitnya tak terlalu parah.
Aku melewati rumah depan gerbang, rumah tempat dimana Bagas di temukan sudah tak bernyawa. Garis polisi berwarna kuning garis hitam masih melingkar di depan rumah. Sedih dan haru bercampur, kembali teringat wajah Bagas. Candanya, leluconnya, omongan nyelenehnya, semuanya ku ingat.
Aku membuka gerbang pelan, kemudian ku tutup kembali.
"Dari mana dek?" tanya Nek Iyah dari arah teras rumah.
"Eh nek, ini habis cari makan." jawabku.
"Oh cari makan. Sudah pulang kuliah jam segini?" tanya Nek Iyah kembali.
"Hari ini nggak kuliah nek, kebetulan lagi nggak enak badan." jelasku.
Aku pamit dengan senyum lebar. Baru beberapa langkah ku lewati halaman, ada seseorang mengucap salam dari luar gerbang.
"Assalamualaikum. Permisi mas, ini rumah Ibu Badriyah bukan?" tanya lelaki dari luar gerbang.
Aku menoleh.
"Iya mas betul." jawabku.
"Ada apa mas?" sahut Nek Iyah dari teras rumah.
"Ibu Badriyah-nya ada bu?" tanya si lelaki.
"Saya Bu Badriyah. Kenapa mas?" tanya Nek Iyah.
"Oh ibu. Ini saya mau antar pesanan ibu." ujar si lelaki.
"Oh iya. Buka saja gerbangnya mas. Langsung ke dalam rumah saja." suruh Nek Iyah.
__ADS_1
Aku masih berdiri dekat pohon mangga.
Si lelaki membuka gerbang lebar. Apa yang di pesan Nek Iyah?
Tak lama dua orang lelaki dengan lengan sebesar betisku mengangkat kardus besar. Apa itu? Lemari es. Mereka membawanya masuk ke dalam rumah Nek Iyah. Tak lama datang lagi dua orang mengangkat kardus besar, apa lagi? Mesin cuci. Dua orang pertama keluar gerbang, tak lama kembali membawa kembali kardus besar, kali ini televisi layar datar. Wow, aku terhenyak. Terakhir empat orang berlengan besar kembali mengangkat sebuah lemari baju. Indah berwarna coklat gelap, banyak ukiran dan terlihat mewah, pasti terbuat dari kayu jati, dan pasti mahal harganya. Banyak sekali Nek Iyah belanja perabot rumah.
"Eh Dek Adi." Kang Ujang menepuk pundakku pelan.
"Eh kang. Udah beres kerjaannya kang?" tanyaku.
"Istirahat dulu atuh dek, masa kerja terus. Dari mana dek?" tanya Kang Ujang.
"Habis cari makan kang." jawabku.
"Eh, itu kenapa pipinya?" tanya Kang Ujang memperhatikan pipiku yang bengkak.
"Oh ini? Kemarin ke pentok pintu di kampus kang." jawabku sekenanya.
"Ini ada gerangan apa Nek Iyah beli perabotan banyak banget kang?" tanyaku.
"Saya nggak terlalu jelas sih dek, tapi katanya Nek Iyah habis dapat uang kaget." jawab Kang Ujang.
"Hahahaha. Dapat uang kaget dari acara tv ya kang?" sahutku.
"Hahahaha, mungkin."
"Ngopi yuk kang di depan kamar!" ajakku.
"Iya iya dek, makasih."
"Hayuu atuh, saya habis beli kopi banyak nih. Sekalian ngobrol-ngobrol. Yuk." ajakku kembali.
"Iya dek."
"Saya tunggu di depan kamar ya. Oke kang."
Aku meninggalkan Kang Ujang di halaman, dan berlalu ke kamar. Ku buka pintu kamarku lebar-lebar. Aku masuk.
Hah? Apa ini?
__ADS_1
Ada banyak jejak kaki di ruang tengah kamarku, dari sela-sela keramiknya menyembul cairan berwarna hitam dan berbau busuk. Aku hampir memuntahkan sepiring nasi beserta lauknya, karena mencium aroma busuknya. Setelah sekian lama tak muncul, kenapa jejak kaki ini muncul lagi? Ada apa ini? Kenapa banyak jejak kaki? Kenapa ada cairan hitam ini? Kenapa muncul lagi? Aneh.