
"P-Pak, kenapa pintunya dikunci?" Mas Gun bertanya dengan bingung.
Pak Aziz duduk bergabung dengan warga lainnya, ia duduk bersila dengan posisi tegap. Sama persis dengan warga lainnya.
Mencurigakan. Ini jelas ada kaitannya dengan kejahatan Nek Iyah dan kuntilanak merah. Jelas mereka adalah kaki-tangan Nek Iyah. Sekte pemuja kuntilanak merah yang hendak menuntut balas atas kematian pemimpin mereka.
Aku harus bersiap.
Tanganku bersiap mengepal.
Grepp. Tiba-tiba Tika memegang tanganku. Ia menatapku, sembari mengedipkan matanya.
"Pak RW, ini ada apa sebenarnya?" Arya bertanya.
Pak Aziz hanya tersenyum.
Pak Aziz menoleh ke arah Bapak berbaju putih dan meliriknya. Bapak berbaju putih mengangguk.
"Maaf kalau salam perkenalan dari kami tidak membuat kalian nyaman. Malah mungkin membuat kalian merasa terancam." ucap Pak Aziz.
"Saya Aziz, pemimpin perkumpulan yang dibuat oleh Nek Iyah sekitar sepuluh tahun yang lalu." lanjutnya.
Ia pemimpin perkumpulan kaki-tangan Nek Iyah? Astaga, masalah apa lagi yang akan kami hadapi selanjutnya?
Deg deg deg deg deg. Jantungku berpacu dengan jarum detik pada jam dinding.
Benar. Mereka ingin balas dendam atas kematian Nek Iyah dan musnahnya kuntilanak merah.
"Kami semua yang ada disini merupakan anggota dari perkumpulan," lanjut Pak Aziz sambil tersenyum.
"Yang berguru pada almarhumah Nek Iyah sejak lama." ucap Pak Aziz.
Pak Aziz lalu bangun. Ia berdiri di hadapan kami.
Aku, Tika, Mas Gun, dan Arya hanya diam seribu bahasa.
"Lalu, apa maksudnya ini?" tanyaku.
Pak Aziz kemudian tersenyum.
"Jangan takut Dek Adi. Kami hanya ingin penjelasan dan cerita dari kalian. Kami tak ingin menyakiti kalian. Kami tak ada maksud buruk. Tenang saja." balas Pak Aziz.
Aku sedikit bernapas lega dengan jawaban dari Pak Aziz.
"Kami hanya ingin penjelasan dari kalian. Yang ingin kami tanyakan pada kalian. Pertama, apa benar kalian ikut berjuang memusnahkan kuntilanak merah?" Pak Aziz bertanya.
Aku dengan Tika dan Mas Gun saling tatap.
Tiba-tiba Tika berdiri.
"Maaf, bukannya kami tak ingin jawab pertanyaan Bapak. Tapi kami ingin tanya dulu, dari mana Bapak tahu kalau kami habis berjuang memusnahkan kuntilanak merah?" Tika balas bertanya.
Pak Aziz diam.
Semua orang terdiam.
Warga di dalam rumah saling tatap dan berbisik.
Pak Aziz menoleh lagi ke Bapak berbaju putih.
Bapak berbaju putih berdiri, dan mendekat ke Pak Aziz.
"Dek, maafkan kami. Kami hanya ingin tahu kebenaran yang terjadi. Kami sangat berterima kasih pada kalian jika kalian berkenan menceritakan kejadian yang kalian alami. Dan kami sangat-sangat berterima kasih jika kalian memang benar-benar telah memusnahkan kuntilanak merah itu." ujar Bapak berbaju putih.
"Supaya lebih adil, bagaimana kalau malam ini kita saling bertukar cerita? Nantinya akan kami ceritakan juga tentang perkumpulan yang dibuat oleh Nek Iyah sepuluh tahun silam. Tapi setelah kalian ceritakan apa yang kalian alami bersama Nek Iyah di alam sana. Bagaimana? Cukup adil?" Bapak berbaju putih memberi penawaran.
Aku, Tika, dan Mas Gun saling tatap.
Tika mengangguk.
"Oke. Setuju." ucap Tika.
Warga yang hadir di dalam rumah tampak sumringah mendengar jawaban Tika.
Jantungku tak lagi berdegup cepat. Sudah kembali normal. Hatiku sudah lebih tenang. Mas Gun pun sudah meneruskan kegiatannya mengunyah bolu pandan. Arya juga duduk lebih santai.
__ADS_1
"Terima kasih Dek." ucap Bapak berbaju putih ramah.
Aku bangkit berdiri.
"Malam Bapak-Ibu, saya Adi. Mahasiswa yang kost di belakang. Ini kawan-kawan saya. Tika dan Guntur." kubuka dengan perkenalan.
"Kami juga mohon maaf, sebelumnya kami berprasangka buruk pada Bapak-Ibu sekalian. Karena kami baru saja mengalami kejadian yang sangat-sangat luar biasa." ujarku.
"Tapi sebelumnya, saya ingin bertanya pada Bapak-Ibu anggota perkumpulan. Apa Bapak-Ibu tahu kalau Kang Ujang ternyata mempunyai kesepakatan dengan Nek Iyah?" ucapku.
"Saya sepertinya tahu!" ucap seorang Bapak berkumis.
"Ujang yang mengalahkan Nek Iyah untuk mengambil kuntilanak merah bukan? Waktu itu Ujang meminta pada saya untuk diajarkan ilmu kanuragan, dengan alasan ingin melindungi diri dari kuntilanak merah. Yang kami tahu, kuntilanak merah itu nggak akan mengambil jiwa seseorang kalau bukan yang sudah ditandai. Jadi saya menolak untuk mengajarkannya. Tapi saya tahu, kalau Ujang punya niat yang nggak benar. Dan ternyata memang betul kejadian." jelas Bapak berkumis.
"Lho, bukannya Bapak sering pergi malam-malam dengan Kang Ujang?" Arya bertanya.
Eh. Apa itu Bapaknya Arya?
"Bapak sering pergi dengan Ujang, karena Ujang tahu cara menangkap tokek. Udah cuma itu saja. Kamu tahu nggak kalau tokek dijual itu harganya mahal?" jawab Bapak berkumis.
Arya diam tak menanggapi Bapak berkumis.
"Lalu apa ada diantara anggota perkumpulan yang menjadi gurunya Ujang dan mengajarkan ilmu kanuragan padanya?" tanya Pak Aziz.
Warga diam saling tengok.
"Dek Adi, sepertinya Ujang memang menuntut ilmu dengan orang selain anggota perkumpulan. Saya juga tahu kalau Nek Iyah memang bertaruh dengan Ujang soal kuntilanak merah itu. Dan Nek Iyah memang sengaja mengalah pada Ujang." sahut Pak Aziz.
Aku mengangguk.
"Ooh jadi Nek Iyah memang sengaja mengalah ya." sahutku.
Pak Aziz mengangguk.
"Silakan dilanjutkan ceritanya." pinta Pak Aziz.
Aku, Tika, dan Mas Gun bergantian menceritakan kejadian yang kami alami. Dari awal permulaan melawan Ela, Dini, dan Kang Ujang. Sampai akhirnya melepas raga melawan demit-demit pengikut kuntilanak merah. Melawan kuntilanak merah. Nek Iyah dan Kakek Badrun yang mengorbankan jiwanya untuk memusnahkan kuntilanak merah. Sampai akhirnya Kanjeng Ratu Sekar Dara yang datang menghancurkan istana kuntilanak merah.
Semua warga tampak serius mendengarkan cerita kami. Mendengarkan kejadian yang kami alami di alam lain. Kejadian demi kejadian. Pertarungan demi pertarungan.
"Dan kami pun kembali ke tubuh kami masing-masing." ucapku menutup cerita.
Lalu Pak Aziz berdiri.
"Makasih untuk kalian semua. Dek Adi, Tika, dan Guntur. Kami yakin apa yang kalian ceritakan memang benar terjadi." ucap Pak Aziz.
"Kami juga percaya apa yang sudah dilakukan oleh Nek Iyah merupakan suatu keputusan yang terbaik, keputusan yang tepat, keputusan bijaksana, dan keputusan untuk kebaikan bersama." tambah Pak Aziz.
"Pak, kalau saya boleh bertanya. Kenapa Bapak bilang kebaikan untuk bersama? Dan tampaknya kalian sebagai anggota perkumpulan tak merasa sedih atas kepergian Nek Iyah. Ada apa sebenarnya?" aku mencoba memberanikan diri bertanya.
Semua warga menunduk. Bapak berbaju putih dan Pak Aziz diam saling tatap.
Pak Aziz menghela napas.
"Dek Adi dan teman-teman. Ada sesuatu yang ingin kami beritahukan pada kalian." ucap Pak Aziz.
Kami diam menunggu Pak Aziz buka suara.
"Sejujurnya, sudah lama Nek Iyah dan kami para anggota perkumpulan ingin mengakhiri ini semua. Nek Iyah merasa sudah tidak ada gunanya lagi bersekutu dengan kuntilanak merah. Dan kami sebagai anggota perkumpulan sudah lelah dengan apa yang kami lakukan. Namun Nek Iyah pernah berkata, bahwa akan ada seseorang yang mampu membantunya memusnahkan kuntilanak merah itu. Nek Iyah merasa tak mampu jika harus memusnahkan iblis itu seorang diri." terang Pak Aziz.
"Mungkin Dek Adi-lah orang yang dimaksud oleh Nek Iyah." lanjut Pak Aziz.
Entah itu hanya bualan Pak Aziz atau memang benar aku tak tahu.
Tiba-tiba Pak Aziz merogoh kantung bajunya dan mengeluarkan secarik kertas lusuh.
"Ini adalah surat yang ditulis oleh Nek Iyah. Surat yang saya temukan tepat diganggaman tangannya, saat saya temukan jenazah Nek Iyah di atas ranjang. Surat ini berisi tentang keputusannya untuk mengakhiri perjanjiannya dengan kuntilanak merah. Dalam surat ini juga dijelaskan kalau Ujang telah berkhianat, dan Nek Iyah sengaja mengalah dari Ujang. Agar ia mendapat kuntilanak merah itu. Namun perjanjian tak dapat dibatalkan. Perjanjian dengan kuntilanak merah berlaku sampai ajal menjemput." jelas Pak Aziz sambil memegang secarik kertas.
"Dalam surat ini, Nek Iyah resmi membubarkan perkumpulan. Ia ingin membayar semua kejahatan yang telah dilakukannya dengan memusnahkan kuntilanak merah." lanjut Pak Aziz.
Pak Aziz menatapku.
"Nek Iyah ingin memusnahkan kuntilanak merah bersama Adi dan kawan-kawannya." tambah Pak Aziz.
"Kemudian, dalam surat ini Nek Iyah berwasiat. Wasiatnya yang terakhir. Permintaan maafnya yang terakhir. Permohonannya yang terakhir." sambung Pak Aziz.
__ADS_1
Semua mata menatap Pak Aziz, menunggu isi surat dari Nek Iyah yang akan diungkapkan.
Pak Aziz tertunduk.
"Dalam surat ini, Nek Iyah mengatakan dengan tulus meminta maaf pada semua anggota perkumpulan. Atas perbuatan, kelakuan, dan perkataannya pada anggota perkumpulan. Yang disengaja, maupun yang tidak disengaja. Ia menyesal telah melakukan hal-hal yang tidak baik selama ini." ujar Pak Aziz.
Semua anggota perkumpulan tertunduk. Ada beberapa Ibu yang terisak dan menangis.
"Nek Iyah merasa sangat-sangat menyesal telah melakukan hal buruk pada seluruh anggota perkumpulan. Untuk itu, ia meminta dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya." lanjut Pak Aziz.
Aku terdiam.
Tika menyeka air mata di ujung matanya.
Mas Gun diam tertunduk.
Arya pun membisu.
"Yang kedua," ucap Pak Aziz.
"Permohonannya yang terakhir kali. Nek Iyah meminta bantuan kepada seluruh anggota perkumpulan." sambung Pak Aziz.
"Untuk menutup rumah dan kamar kostnya. Jangan ada yang menempati atau memakainya, karena suatu saat akan datang seseorang dari keturunan Nek Iyah atau Juragan Thamrin yang akan mengakui rumah beserta tanahnya. Dan orang tersebutlah yang nantinya berhak atas tanah ini dan bangunan yang berdiri di atasnya." ujar Pak Aziz.
Seisi rumah terdiam.
Seseorang dari keturunan Nek Iyah atau Pak Thamrin? Siapa kira-kira orangnya?
"APA ANGGOTA BERSEDIA MEMAAFKAN DAN MENGABULKAN PERMOHONANNYA?" Pak Aziz berteriak.
"WAAAAAAAAAAAAAAA!" teriak seluruh anggota perkumpulan.
"DENGAN DIBACAKANNYA SURAT WASIAT DARI NEK IYAH, MAKA MALAM INI PERKUMPULAN RESMI DIBUBARKAN!" teriak Pak Aziz.
Asli, aku seperti berada di suku pedalaman hutan. Mereka berteriak, mengangkat tangan, dan bersorak.
Pak Aziz mengepalkan tangannya, menginstruksikan para anggota perkumpulan untuk diam. Seketika suasana menjadi hening.
Pak Aziz duduk bersila di hadapan kami. Kemudian dua orang datang membawa sebuah map coklat. Menyerahkan map tersebut kepada Pak Aziz.
Pak Aziz tersenyum menatap kami.
"Dan ini juga termasuk permohonan terakhir Nek Iyah." ucap Pak Aziz seraya menyerahkan amplop coklat padaku.
"Apa ini Pak?" tanyaku.
"Bukalah amplop itu." suruh Pak Aziz.
Aku menoleh ke arah Tika dan Mas Gun.
"Buka Di." ucap Tika.
Kubuka kedua amplop coklat. Apa ini? Sobekan tiket kereta berjumlah tiga dan satu amplop lagi berisi sebuah flashdisk?
"Apa maksudnya ini Pak?" tanyaku seraya mengeluarkan sobekan tiket kereta berjumlah tiga dan sebuah flashdisk.
Pak Aziz tersenyum.
Aku kebingungan.
Mas Gun garuk-garuk kepala.
Tika diam tanpa berkata.
Semua anggota perkumpulan diam menatap kami.
...________________...
...oke kawan2, segini dulu yaaa....
...penasaran? hehehehe. tunggu lanjutannya ya...
...next part kayaknya akan tamat....
...dan sepertinya nanti akan ada sequel lanjutan dari novel kamar no.11b. mudah2an bisa terwujud. amiiinn. doakan aja yaa....
__ADS_1
...makasih banyak kawan2 pembaca setia...
..."KAMAR NO.11B"...