
Air mataku tumpah ruah. Aku ingin menghampiri ibu dan ayahku, tapi Kakek Badrun mencengkram tanganku dan menahanku untuk mendekati kedua orang tuaku. Kulihat Ibu duduk di sebuah bangku kayu panjang, di sampingnya ayah. Wajah mereka tampak bersih berkilau, senyumnya pun manis.
"Nak Adi, sadar nak! Mereka bukan ayah ibumu! Itu cuma halusinasimu saja!" ucap Kakek Badrun.
"Ayaaahhh. Ibuuuuu." aku menangis meraung memanggil mereka.
Aku sangat rindu dengan kedua orang tuaku. Ingin kupeluk dan menangis dalam pelukan mereka. Ingin kutumpahkan semua keluh kesahku di hadapan mereka. Rindu dengan belaian manja ibuku. Kangen dengan pukulan canda ayahku.
"Nak Adi, sadar nak!" Kakek Badrun masih menahan tubuhku yang mencoba melepaskan cengkraman, Tika pun ikut membantunya.
Aku masih menangis menggerung. Pipiku basah oleh air mata.
"Nak Adi, sadar nak! Mereka sengaja menggodamu dengan memperlihatkan titik lemahmu. Sadar nak!" Kakek Badrun berucap di depan wajahku sambil menggoyangkan tubuhku. Raut wajahnya menampakkan keseriusan.
"Ingat nak! Tujuan kita hanya untuk menyelamatkan Yuda. Ingat itu!" bentak Kakek Badrun.
Aku terisak, tubuhku lemas.
"Adiiiii. Sini nak, ibu kangeeeenn sekali denganmu." panggil ibu dengan suara lirih dan merintih.
Tangisku pecah mendengar ibu memanggilku. Aku kembali berontak dari cengkraman kuat Kakek Badrun.
Duarr.
Tiba-tiba cahaya kuning yang di tembakkan Tika mengenai perut ibuku. Ibuku jatuh tersungkur ke belakang. Suaranya merintih kesakitan. Aku kesal. Hatiku mangkel dengan perbuatan Tika. Aku berontak dari cengkraman Kakek Badrun, dan terlepas. Kulancarkan serangan ke arah Tika.
Duarr.
"Nak Adiiiii!" Kakek Badrun teriak.
Cahaya biru yang kutembakkan dari cincin tepat mengenai punggung Tika. Tika terpental, tubuhnya menghantam dinding rumah, lalu ia jatuh ke lantai.
"Dii. Uhukk uhukk. Sadar Di." ucap Tika sambil memuntahkan darah dari mulutnya.
"Lo udah sembarangan main serang ibu gue! Mau gue bikin musnah lo! Hah!" teriakku sambil mengarahkan cincin itu ke arah Tika yang tersungkur di atas lantai. Kedua tangannya mengangkat, tanda meminta ampun.
"Nak Adi! Apa-apaan kau?" Kakek Badrun mendorongku menjauh dari Tika. Lalu Kakek Badrun membantu Tika bangun.
Sambil menoleh ke arahku, Kakek Badrun berkata, "Kau mudah sekali di perdaya oleh demit itu nak! Kau harus sadar, ini bukan dunia nyata! Kau membahayakan!"
Aku menangis menjerit. Apa yang sudah kulakukan pada Tika? Aku jatuh duduk bersimpuh. Kakek Badrun dan Tika menghampiriku.
"Maafin gue Tika. Maafin gue." ucapku sambil menangis.
Kakek Badrun berjongkok, tangannya mengelus pundakku. Tika duduk.
"Nak, kuatkan dirimu. Misi kita memang tidak mudah. Dan ini pengalaman pertamamu. Tapi kau harus selalu sadar tujuan awal kita ke alam ini untuk apa. Kau tak boleh gegabah nak, akan sangat berbahaya untukmu, dan untuk kita semua." ucap Kakek Badrun.
"Tenangkan dirimu." tambah Kakek Badrun.
"Uhukk uhukk." Tika batuk darah. Tubuhnya kini melemah. Semua gara-gara ulahku.
Aku mendekati Tika yang duduk lemas. Matanya sayu.
__ADS_1
"Tika, maafin gue Tika. Gue udah ngelakuin hal bodoh. Maafin gue Tika." ucapku menggenggam tangan Tika.
Tika senyum.
"Iya, nggak apa-apa Di. Bukan sepenuhnya salah lo. Gue cuma mau menyadarkan lo, kalau yang lo lihat itu bukan hal nyata, itu hanya tipu muslihat saja. Uhukk uhukk!" jawab Tika di akhiri dengan batuk darah.
"Hihihihihihihihihihihihi." lalu suara tawa melengking memenuhi seisi ruangan.
Kakek Badrun tampak bersedia, aku bangun dan berdiri di sampingnya. Cincin yang kupakai untuk senjata memancarkan sinarnya yang kebiruan. Tika diam, ia duduk dengan kondisi yang masih lemah.
"Terus waspada nak!" ucap Kakek Badrun.
Aku menyeka air mata. Sudah! Sudah tak ada lagi air mata. Sudah cukup kalian mempermainkanku. Aku bukan Adi yang lemah sekarang. Aku Adi yang punya cincin sakti ini. Batinku bergejolak. Tubuhku panas. Aku sangat nafsu. Nafsu ingin menghabisi demit-demit yang sudah menipuku.
"Hihihihihihihihihi." suara tawa terkekeh masih saja menggaung.
Asap hitam berpulun-pulun menggulung keluar dari dinding reot secara tiba-tiba. Sinar kemerahan terpancar dari balik asap hitam. Lalu siluet bayangan sosok wanita tergambar dari balik sinar merah. Wangi melati semerbak memenuhi ruangan.
"Nak, kuatkan dirimu. Ini pemimpin mereka!" ucap Kakek Badrun.
Apa? Pemimpin?
"Si kuntilanak merah." lanjut Kakek Badrun.
Deg deg deg deg deg. Jantungku berdebar tak keruan mendengar nama yang di sebut oleh Kakek Badrun.
"Tenangkan dirimu nak!" Kakek Badrun berucap kembali.
Suara tawanya membuat bulu kudukku merinding. Wangi bunga melati yang merangsek ke dalam hidungku membuat dengkulku sedikit lemas.
"Akhirnya kita bisa bertemu kembali Adi." ujar kuntilanak merah itu memanggil namaku. Aku tersentak, aku menelan ludah.
Lalu penampakannya sangat jelas terlihat. Wujudnya masih sama seperti dulu saat pertama kali kulihat. Tak ada kulit mengelupas, tak ada darah yang membuncah. Tak ada gigi taring. Tapi auranya membuat diriku amat ketakutan. Jelas ia bukan demit sembarangan. Gaunnya merah panjang. Rambutnya semrawut.
"Badrun." kuntilanak merah memanggil Kakek Badrun. "Kenapa sekarang kau berpihak pada mereka? Kau menyedihkan Badrun. Hihihihihihihihi." ujar kuntilanak merah.
Kakek Badrun diam dengan tatapan ingin membunuh.
"Kalau kau ikut Badriyah, mungkin kau tidak seperti ini Badrun. Hihihihihihihihihi." lanjut si kuntilanak.
"Aku kini sudah tua Merah. Sudah bukan waktunya lagi aku berkawan dengan iblis macam kau." balas Kakek Badrun.
"Hihihihihihihihihihihihihi." tawa kuntilanak merah melengking.
"Itu karena kau tidak lagi berteman denganku. Coba kau lihat Badriyah sekarang! Ia berikan aku pemuda, maka akan kuberikan umur panjang. Hhihihihihihihihihihihi."
"Cih! Berkawan denganmu sama saja aku mengkhianati Tuhanku!" balas Kakek Badrun.
"Hihihihihihihihihihihihihi. Badrun yang dulu kukenal tak pernah menyinggung nama Tuhan sedikitpun. Kau sudah banyak berubah Badrun. Dengan siapa kau berteman sekarang? Dengan Kyai? Ulama? Atau dengan guru ngaji? Hihihihihihihihihihihi." balas kuntilanak merah itu.
"Kau ingat dengan Gendis bukan? Hihihihihihihihi." tanya kuntilanak merah pada Kakek Badrun.
Kakek Badrun diam.
__ADS_1
"Tak mungkin kau lupa Badrun. Hihihihihihihihi." sahut kuntilanak merah.
"Gendis si guru ngaji. Tumbal yang di berikan Badriyah untukku. Tentu kau tidak lupa kan Badrun? Hihihihihihihihi." tambah kuntilanak merah.
Kakek Badrun masih saja diam.
"Kenapa Badrun? Kenapa kau diam? Apa kau takut rahasiamu terbongkar? Apa kau takut anak muda itu mencapmu sebagai kakek-kakek yang kejam? Hihihihihihihihi." pertanyaan bertubi yang di tujukan untuk Kakek Badrun.
Rahasia?
"Ada rahasia apa kek?" tanyaku. Kakek Badrun diam.
"Hihihihihihihihihihi. Kau tak mau cerita Badrun? Kenapa? Apa kau ingin melupakan dosa masa lalumu, hah? Hihihihihihihihi." kuntilanak merah
"Diam kau iblis!!" bentak Kakek Badrun.
Aku tersentak.
"Hihihihihihihihihihihi. Kau bersalah atas kematian Gendis. Kau harus bertanggung jawab Badrun." ucap kuntilanak merah.
Kematian Mbak Gendis? Astaga, waktu itu Kakek Badrun tak sempat menceritakan tewasnya Mbak Gendis. Kek Badrun hanya bercerita kalau Mbak Gendis menjadi gila, di pasung, dan suka memakan kucing.
"Kek, ada apa sebenarnya dengan Mbak Gendis?" tanyaku.
"Hihihihihihihihihihihihi. Ceritakanlah padanya Badrun! Ceritakan yang sebenarnya." sahut kuntilanak itu.
"Kau tak boleh menutup-nutupi kejadian yang sebenarnya Badrun. Hihihihihihihihihi."
Kakek Badrun diam.
"Iblis jahanam kau Meraaaahhh!!! Hiyaaaa!!" teriak Kakek Badrun seraya melompat menyerang kuntilanak merah itu. Aku terkejut dengan gerakan Kakek Badrun yang cepat.
Wuusss. Kuntilanak merah berubah menjadi asap hitam begitu Kakek Badrun melancarkan serangan.
Suara tawa cekikikan khasnya menggema. Kini, si kuntilanak merah berpindah ke dinding di sebelahnya, di ikuti asap hitam yang bergulung-gulung. Ia tertawa terkekeh dengan wajah menyemburatkan kebahagian.
Kakek Badrun kalap, ia terus menyerang kemana pun kuntilanak merah itu pergi. Namun serangan Kakek Badrun tak pernah berhasil, kuntilanak merah berubah menjadi asap hitam dan selalu berpindah tempat.
Eh. Aku baru tersadar. Malam itu Kakek Badrun bercerita kalau kuntilanak merah peliharaan Nek Iyah sudah tewas di Gunung Komang. Lalu, Nek Iyah memelihara kembali kuntilanak merah yang lain. Jika ini peliharaan Nek Iyah yang baru, mengapa ia tahu soal rahasia Kakek Badrun? Aneh.
Kakek Badrun menghentikan serangannya. Nafasnya tak beraturan, ia kelelahan. Kuntilanak merah masih saja tertawa terkekeh dengan lepasnya.
"Kau sudah tua Badrun. Hihihihihihihihihihi. Kau tak seharusnya melawanku. Aku bukan tandinganmu. Hihihihihihihihihihi." ujar kuntilanak merah itu.
"Sia-sia. Yang kalian lakukan semua akan sia-sia. Kalian hanya mengantarkan jiwa kalian untukku secara sukarela. Hihihihihihihihihi." kuntilanak merah berkata.
"Malam ini aku akan berpesta. Aku mendapatkan empat jiwa sekaligus, tanpa harus bersusah payah. Hihihihihihihihi." lanjutnya.
Kakek Badrun mengatur nafas. Ia tampak marah.
"Kek, apa yang harus kita lakukan kek?" tanyaku.
Kakek Badrun diam sambil memegang dadanya. Nafasnya tak beraturan. Meresahkan.
__ADS_1
Kakek Badrun sudah lelah, Tika sedang kesakitan. Sedangkan aku, bocah ingusan yang tak mengerti apa-apa. Ini misi bunuh diri. Jelas misi untuk membawa jiwa Yuda kembali hampir mustahil rasanya. Mengingat kondisi kami bertiga yang kian melemah. Sedangkan lawan kami yang super kuat dan berilmu tinggi. Ya, kami hanya perlu menunggu keajaiban yang terjadi. Entah apa itu? Yang jelas, ini misi bunuh diri. Dan benar kata kuntilanak merah itu, kami datang bertiga seolah-olah mengantarkan jiwa kami dengan sukarela. Dan satu jiwa lagi adalah jiwa dari Yuda, yang lebih dulu ia sekap.
Empat jiwa dalam satu malam, tentu ia bilang akan berpesta-pora.