
Malam ini semua tertunduk lesu, Pak Thamrin ternyata tak jadi pulang bertugas dari luar kota, hanya sepucuk surat yang ia titipkan untuk istrinya, Nyai Asih.
Nyai duduk di kursi goyang, sembari menggenggam amplop putih. Bi Tati datang membawakan secangkir teh hangat, lalu duduk di lantai bersama ibu. Nyai Asih nampak tak nafsu melihat teh yang di buat Bi Tati.
"Kenapa amplopnya tidak di buka nyai?" tanya Bi Tati.
Nyai Asih diam, pipinya basah oleh air mata. Ya, air mata kerinduan yang mendalam. Matanya sembab, namun paras cantiknya tak sedikit pun berkurang.
"Saya takut teh." ucap nyai pelan. Ia menatap kosong ke langit-langit rumah.
"Apa yang nyai takutkan?" ibu bertanya.
"Saya takut, kalau isi surat ini menyampaikan kabar buruk untuk saya teh." balas nyai, kemudian ia terisak kembali.
Ibu dan Bi Tati saling pandang, mereka tak tega melihat nyai larut dalam kesedihan hanya karena sepucuk surat yang belum tahu isi kabarnya.
"Mungkin bukan kabar buruk nyai. Coba bukalah nyai, dan baca." pinta ibu.
"Betul nyai, mungkin juragan menunggu balasan surat dari nyai di sana, setelah nyai membacanya. Bukalah nyai." sambung Bi Tati.
Nyai mengusap air mata yang membasahi pipinya. Saran dari ibu dan Bi Tati nampaknya menggerakkan hati Nyai Asih untuk segera membuka amplop dan membaca isi surat dari suami tercinta.
Nyai merobek ujung amplop, di keluarkan secarik kertas dari dalam amplop, kemudian ia baca isi suratnya. Ibu dan Bi Tati terlihat berdebar menunggu penjelasan soal isi surat. Nyai Asih telah selesai membaca surat dari Pak Thamrin, ia kembali terisak. Ibu dan Bi Tati nampak panik.
"Nyai, apa isi suratnya nyai?" tanya ibu.
"Apa yang juragan katakan nyai?" Bi Tati menambahkan.
Nyai tak menjawab, ia hanya menangis.
"Nyai, ada apa nyai?" Bi Tati cemas. "Ada apa sama juragan nyai?" Bi Tati lanjut bertanya.
"Teh, juragan nggak jadi pulang hari ini. Tugasnya di tambah satu bulan lagi." jawab Nyai Asih sambil sesenggukan. "Saya rindu sama juragan teh." lanjutnya.
Bi Tati berdiri dan mengusap bahu nyai, mencoba menenangkan. Nyai pun memeluk Bi Tati. "Saya rindu juragan teh." tangis nyai meraung-raung sambil berkata. "Saya rindu juragan."
Hari itu menjadi kelabu sejak surat yang ayah berikan ke Nyai Asih. Malam ini, nyai tak nafsu makan. Makanan yang di masak oleh Bi Tati pun tak tersentuh di meja makan, begitu pun jamu yang telah di buat. Nyai hanya mengurung diri di kamar, sambil terus berucap rindu dengan juragan.
__ADS_1
--------
"Lalu gimana nasib Nyai kang?" tanyaku.
"Esoknya nyai hanya berdiam diri di kamar, Bi Tati mengetuk pintu kamar nyai untuk mengantar makanan, tapi tak ada jawaban dari nyai." tutur Kang Ujang.
"Sore hari nyai keluar kamar, setelah Bi Tati berkata kalau nyai harus memperhatikan bayi yang ada dalam kandungan. Setidaknya makan dan minum." cerita Kang Ujang.
Jam telah menunjukkan pukul 01:20, aku tak peduli besok ada jadwal kuliah. Biarlah, mata kuliah pagi aku tak usah masuk. Aku masih setia mendengar cerita Kang Ujang soal Nyai Asih dan Pak Thamrin.
Tak ada suara dari kamar Dini, mungkin mereka sudah tertidur pulas. Syukurlah. Dan Kang Ujang pun melanjutkan ceritanya.
--------
Hari-hari pun di lalui Nyai Asih dengan tak bersemangat, nyai memendam rindu yang teramat sangat pada Pak Thamrin. Nyai rindu di belai, nyai rindu di sanjung, nyai rindu wangi minyak rambut Pak Thamrin, nyai rindu bau keringat Pak Thamrin, nyai rindu semua tentang Pak Thamrin. Saking rindunya, pernah Bi Tati melihat nyai tertidur di kursi goyang sambil memeluk baju milik Pak Thamrin, baju yang di pakai sehari sebelum keberangkatannya ke luar kota.
Makan dan minum pun nyai sudah tak berselera. Tapi, biar bagaimana pun Bi Tati dan ibu selalu berusaha untuk merayu Nyai Asih untuk makan, karena demi kesehatan bayi dalam kandungan nyai.
"Nyai, nyai harus makan walaupun sedikit. Kasihan bayi yang ada di dalam perut nyai." Bi Tati berujar. "Saya ambilkan ya nyai." rayu Bi Tati.
"Kalau nyai sayang sama juragan, nyai harus makan." Bi Tati kembali merayu. Nyai Asih akhirnya menyerah, ia mengangguk dengan lesu. Bi Tati sumringah dan pergi melesat ke dapur mengambil makanan.
Hari berganti, Nyai Asih sudah kembali tegar berkat usaha Bi Tati dan ibu merayu dan membujuk. Jamu pemberian mantri menjadi sajian utama untuk nyai sebelum ia makan. Suasana rumah kembali normal, kami semua senang melihat nyai segar bugar.
Tapi ada kebiasaan nyai yang membuat kami semua merasa cemas. Yaitu kebiasaan nyai minum kopi setelah makan, ia berdalih agar badannya tidak merasa lemas. Kopi membuat tubuhnya merasa segar, ungkap nyai. Berkali-kali sudah di ingatkan oleh Bi Tati dan ibu, tapi nyai selalu membantah.
"Mang Engkus. Mang!" panggil nyai di suatu pagi.
Ayah yang sedang mencuci mobil segara meninggalkan pekerjaannya guna memenuhi panggilan nyai.
"Saya nyai."
"Mang Engkus, tolong ke pasar ya." ucap nyai.
"Ada yang mau nyai beli?" tanya ayah.
"Beli buah-buahan untuk rujak ya mang. Saya lagi kepingin makan rujak." ujar nyai.
__ADS_1
"Buah apa saja nyai?" tanya ayah kembali.
Nyai berpikir, lalu memanggil Bi Tati.
"Teh, Teh Tatii!"
Bi Tati datang masih mengenakan celemek.
"Saya nyai."
"Kalau buah-buahan untuk rujak apa saja teh?" tanya nyai ke Bi Tati.
"Buah untuk rujak biasanya bengkuang, jambu air, ubi oren, pepaya mengkel, banyak sih. Memang nyai mau apa saja?" tanya Bi Tati.
"Sudah mang, bilang saja sama penjual buah di pasar, buah-buahan untuk rujak. Biar si penjual yang memilihnya." tukas nyai.
"Mang, tapi jangan pakai nanas ya. Nggak baik untuk perempuan yang sedang hamil." sergah Bi Tati.
"Baik. Saya berangkat nyai." ayah pun undur diri.
Cukup lama ayah pergi membeli buah di pasar. Sudah hampir tengah hari akhirnya ayah pulang. Ia membawa sekantung plastik besar berisi buah-buahan untuk membuat rujak. Tak menunggu lama, ibu dan ayah bertugas membersihkan dan mengupas buah, sedangkan Bi Tati membuat sambal rujak.
"Nyai, rujaknya sudah siap. Nyai mau makan rujaknya di mana?" tanya Bi Tati.
"Kita makan bareng-bareng aja teh, ngariung aja. Yuk!" ajak nyai.
Nyai Asih mengajak kami semua untuk menikmati rujak buah di kebun belakang rumah, sambil menikmati udara siang di bawah pohon yang rimbun. Ada sebuah bale bambu yang di sengaja di buat ayah untuk tempat beristirahat. Siang itu kami menikmati rujak bersama nyai. Wajahnya nampak senang, sedikit di lupakan rasa rindunya kepada Pak Thamrin. Angin sepoi menambah keceriaan siang itu. Nyai menertawakan tingkahku yang merasa kepedasan saat mencolek sambal rujak dari cobek. Tawanya membuat wajahnya secerah siang ini. Cantik.
Namun, keceriaan hari itu tak berlangsung lama. Malam hari, setelah makan malam nyai mengeluh badannya tidak enak. Perutnya terasa nyeri dan kram. Bi Tati dan ibu menemani nyai di kamar. Di balurkan minyak angin pada perut nyai.
"Teh, teh, lihat itu teh!" ibu memanggil Bi Tati dan menunjuk ke arah kasur.
"Astaghfirullah!" Bi Tati nampak terkejut.
"Ada apa teh?" tanya nyai dengan suara lemah.
"Nya-nya-nyai, ada darah di kasur nyai." ucap Bi Tati dengan gugup. Wajahnya nampak panik.
__ADS_1
Nyai Asih terkesiap, ia bangun dari rebahnya dan melihat ke atas kasur yang di tunjuk ibu. Nyai menyingkap kain batik yang menutupi pahanya. Alangkah terkejutnya mereka bertiga ketika melihat ada darah segar di paha nyai, darah merembes keluar dari balik ****** ***** nyai.