
Bagus. Ia terluka, setidaknya kami bisa melukainya. Walaupun hanya sedikit. Raut wajahnya tak berubah, senyumnya tak pernah sirna. Kuntilanak merah menyeringai semakin lebar.
Tiba-tiba dari lubang di perutnya bergumul asap hitam, seketika menutup lukanya. Dan tubuhnya kembali ke seperti semula.
Kami yang melihatnya terkejut.
Aku semakin bergidik. Perlahan ketakutan menjalar, menyelimutiku. Tak diragukan lagi, ia memang demit sakti. Bagaimana cara mengalahkannya? Kalau melukai kuntilanak merah itu saja kami harus memikirkan cara yang berbelit. Aku jadi ketakutan melihatnya.
"Sialan. Demit itu bisa menyembuhkan dirinya. Ia kini semakin sakti saja." tutur Kakek Badrun.
Deg. Aku makin ketakutan.
"K-Kek, bagaimana cara kita mengalahkannya?" tanyaku gugup.
Kakek Badrun berpikir. Tampangnya sangat serius. Alisnya bahkan mengerut.
"Nak Adi, justru kami yang sekarang bergantung pada kekuatan mustika Dawana yang telah menyatu dengan jiwa Nak Adi." jawab Kakek Badrun.
Jawabannya membuatku terhenyak.
Apa? Bergantung padaku? Bagaimana bisa mereka bergantung padaku? Sementara aku tak tahu apa yang harus kulakukan.
Gila. Ini benar-benar gila.
"HIHIHIHIHIHIHIHI." tawa kuntilanak memecah lamunanku.
"KENAPA WAJAH KALIAN TAMPAK BINGUNG? AKU JADI PENASARAN, RENCANA APA LAGI YANG AKAN KALIAN BUAT? HIHIHIHIHIHI." teriaknya di kejauhan.
"Nak Adi, kau pasti punya cara untuk melawannya. Coba kau pikirkan secepat mungkin!" suruh Kakek Badrun.
Kuntilanak melayang maju dengan pelan.
Ayo berpikir Adi. Ayo! Pasti ada taktik lain yang bisa mengalahkannya. Berpikir Adi. Berpikir!
.
.
.
.
"Kek, apa Kakek tahu kelemahan kuntilanak merah itu?" tanyaku.
"Aku sudah tidak tahu Nak. Sejak ia dipelihara Badriyah, aku sudah tak bersinggungan dengannya lagi." jawab Kakek Badrun.
Ah, Nek Iyah. Nek Iyah pasti tahu kelemahan kuntilanak merah itu.
SYUUUUTTT. Aku turun dan masuk ke dalam perisai Mas Gun. Tempat mereka berkumpul.
"Ada apa Di? Apa rencana kita berhasil?" tanya Tika.
"Kenapa Dek?" Nek Iyah bertanya.
"Nek, apa sebenarnya kelemahan kuntilanak merah itu? Pasti Nek Iyah tahu kan?" tanyaku.
Nek Iyah tertunduk.
"Kelemahannya terlihat ketika ia tidak mendapat tumbal. Tapi, karena ia baru saja mengambil jiwa Ujang. Sekarang pasti lebih kuat dan sakti." jawab Nek Iyah.
Aaahh, sial. Sudah kuduga. Ia akan menjadi lebih kuat ketika mendapatkan jiwa seseorang.
"Tapi pasti ada kelemahannya kan?" tanyaku lagi.
Nek Iyah menatapku.
"Apa kelemahannya Badriyah? Jangan kau sembunyikan. Cepat kasih tahu Adi!" paksa Kakek Halim.
Nek Iyah menatap kami semua.
"Kelemahannya adalah hilangnya rasa takut." jawab Nek Iyah.
Hilangnya rasa takut? Apa Maksudnya?
DUUUAAARRRRR.
Kami semua terkejut. Tiba-tiba kuntilanak merah menembakkan sinar merah kehitaman ke arah perisai Mas Gun.
Sssssshhhhhhhhh. Perisai Mas Gun memudar. Cahaya perisainya perlahan menghilang.
Kuntilanak merah menatap kami buas.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHI."
"KALIAN TERLALU BANYAK DISKUSI. AYO BERMAIN-MAIN DENGANKU!" teriaknya.
"Ayo Dek, kita musnahkan dia!" ajak Nek Iyah.
WUSHH. Nek Iyah terbang ke arah kuntilanak merah.
"NEK!" panggilku kaget.
WUSHH. Aku terbang menyusul Nek Iyah.
Nek Iyah langsung menyerang kuntilanak merah. Ia menyemburkan api berwarna merah tua ke arah kuntilanak.
Tiba-tiba. BUFFF. Kuntilanak merah berubah menjadi kepulan asap hitam, dengan cepat ia menghilang.
Serangan Nek Iyah kandas, api merahnya hanya membakar asap hitam. Tak berarti apa-apa.
Aku menghampiri Nek Iyah. Kami melayang saling membelakangi.
Kakek Badrun ikut bergabung bersama kami.
"Guntur! Buat perisai lagi. Cepat! Lindungi Halim!" suruh Kakek Badrun.
SYUUUUUUUUTTTT. Mas Gun membuat perisai yang mengelilinginya bersama Tika dan Kakek Halim.
"Nak, kami benar-benar bergantung pada mustika Dawana yang ada padamu." ucap Kakek Badrun berbisik.
"Kek, saya nggak tahu cara memakainya dengan maksimal." balasku.
"Cukup sebut Asma Allah Nak, juga shalawat Nabi. Insyaallah kekuatan dari mustika itu akan bekerja." ujar Kakek Badrun.
"Pikirkan dalam benakmu, apa yang ingin kau lakukan dengan mustika itu. Untuk menyerang atau bertahan " tambah Kakek Badrun.
"Baik Kek." balasku.
"Kuncinya satu Dek," sahut Nek Iyah.
"Kau hanya cukup yakin, kalau mustika itu bisa menjadi perantara pertolongan dari Gusti Allah." sambung Nek Iyah.
"Hehehehehehe. Sejak kapan kau ingat dengan Gusti Allah Badriyah? Hehehehehe. Sejak insyaf beberapa waktu lalu?" tukas Kakek Badrun.
"Heh. Jangan merendahkanku. Kau pun memang sudah jadi hamba yang taat?" balas Nek Iyah.
"Hehehehe. Biar aku tak terlalu taat, tapi setidaknya aku sadar akan dosa-dosaku dan segera taubat. Tidak sepertimu yang masih berteman dengan demit itu." Kakek Badrun angkat bicara.
"Wah wah waaahh. Hebat betul ocehanmu sekarang. Apa itu kemajuan dari taubatmu? Bukannya memperbanyak ibadah, malah membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Cih. Taubat macam apa itu?" Nek Iyah membalas lagi.
"Memang aku harus cerita padamu dan semua orang soal ibadahku?"
"HEI. SUDAH SUDAH! KOK MALAH JADI BERDEBAT." selaku.
"Kek. Nek. Nyawa kita sedang terancam saat ini. Pemasalahan kalian selesaikan nanti saja setelah kita berhasil memusnahkan kun.."
DUARRRRRR.
Aaaaahhh sial. Gara-gara para manula itu berdebat, aku jadi hilang fokus dan konsentrasi.
Kuntilanak merah melancarkan serangan ditengah perdebatan Nek Iyah dan Kakek Badrun. Tubuhku terhempas dan jatuh di tanah. Entah apa yang terjadi dengan Nek Iyah dan Kakek Badrun.
Sial. Bagaimana mau memusnahkan kuntilanak merah kalau internal kami masih jauh dari kata kompak. Tak bisa. Aku tak bisa mengandalkan Kakek-Nenek itu. Harus aku, Tika, dan Mas Gun yang menghadapi kuntilanak merah itu.
Aku segera bangkit dan mendekati Tika dan Mas Gun.
"HIHIHIHIHIHIHI. NAMPAKNYA KALIAN MEMANG SENANG BERMAIN-MAIN YA. BAIKLAH. AKAN KULADENI KETIKA KALIAN SIAP MELAWANKU." ucap kuntilanak merah.
"Apa yang sebenarnya terjadi barusan Di?" Tika bertanya.
Kuceritakan pada Tika dan Mas Gun tentang perdebatan Nek Iyah dan Kakek Badrun. Tika hanya menggeleng.
"Dasar orang dulu." gumam Tika.
"Tik. Mas. Sebaiknya kita bertiga saja yang melawan kuntilanak merah. Gue takut kalau Nek Iyah dan Kakek Badrun yang turun tangan akan terjadi lagi debat-debat nggak jelas macam tadi." usulku.
"Ayo Di." balas Mas Gun.
__ADS_1
Aku mendekati Kakek Halim.
"Kek,"
"Ya cucuku."
"Beri restu padaku Kek untuk menggunakan mustika Dawana ini. Semoga bisa memberi manfaat dan bisa menumpas iblis itu." ucapku seraya mencium tangan Kakek Halim.
"Aku ridho. Aku ikhlas kau gunakan mustika itu untuk malawan kebathilan." balas Kakek Halim.
"Terima kasih Kek." tuturku.
Aku pun menjauh dari Kakek Halim.
"Mas. Tik. Yuk!" ajakku pada mereka.
Mas Gun dan Tika mengangguk.
WUUSSHH. Kami bertiga terbang ke atas.
Melayang dengan posisi saling membelakangi.
"Pancing demit itu Di." suruh Tika.
Kami melihat ke sekeliling. Kuntilanak merah tak nampak. Kemana ia pergi? Dimana ia bersembunyi?
"AYO KELUAR KAU DEMIT LAKNAT!" teriakku.
Hening.
.
.
.
"WOI, KELUAR LO SETAN!" Mas Gun teriak.
.
.
.
Sepi. Hanya angin menggoyang dahan yang terlihat.
"KELUAR LO B*NGSAT!" Mas Gun teriak lagi.
.
.
.
Tak ada tanda-tanda keberadaan kuntilanak merah.
"Eh. Omongan gue kasar banget ya?" bisik Mas Gun bertanya padaku dan Tika.
"Nggak apa-apa Mas. Santai aja, nggak ada yang omelin kok." sahut Tika.
"Lanjut Mas!" pintaku.
Mas Gun mengacungkan jempol.
"AYO KELUAR! TAKUT LO SAMA KITA? SEGINI DOANG PERLAWANAN LO?" Mas Gun berkata.
"AAAAAHHH CUPU LO SETAN!" lanjut Mas Gun.
.
.
Sepi.
"Mas, memang kuntilanak merah tahu arti cupu?" tanyaku.
"Hehehehe. Iya ya. Takutnya dia nggak ngerti arti cupu ya. Nanti salah sangka lagi." balas Mas Gun.
"Ganti kata-katanya Mas." ucap Tika.
"WOOOIII. KELU.."
Mas Gun tak melanjutkan kata-katanya. Karena tiba-tiba saja angin bertiup sangat kencang. Membuat pusaran di tengah-tengah kebun.
Ya, itu pasti dia.
Asap hitam bergelombang muncul, diiringi kilatan petir berwarna merah. Dari dalam asap muncul cahaya redup berwarna merah.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHI." tawa khas kuntilanak merah.
Tiba-tiba..
SYUUTT. Sinar merah kehitaman menyerang kami dari dalam asap.
Kami terkejut, lalu menghindar dengan cepat.
DUUAAARRR. Sinar merah kehitaman meledak tepat di tempat kami berada tadi.
"SERANG!" ucap Tika.
Kami bertiga terbang menuju kepulan asap hitam.
SYUUTT. Tika menembakkan sinar kuning dari tangannya. Sinar masuk ke dalam kepulan asap.
Tak terdengar ledakan dari dalam kepulan asap tersebut.
Asap hitam menjalar perlahan, bagai ular yang melata. Asap itu mendekati kami. Kami menghindar dengan cepat.
"Berpencar!" ujar Mas Gun.
Kami terbang berpencar.
Tiba-tiba..
BUFFF.
DUAKK. Tika terkena pukulan.
BUFFF. Kuntilanak kembali menghilang.
Cih. Taktik klasik. Sudah kubaca pola seranganmu demit sialan!
"HATI-HATI DI." teriak Tika.
Kutajamkan mataku. Mencari asap tipis. Itu pertanda kemunculannya.
.
.
.
AHH. ITU DIA!
Tiba-tiba..
BUFFF.
DAKK. Kuntilanak melancarkan pukulan padaku, beruntung dapat kutahan.
BUFFF. Ia kembali menghilang.
Aku terbang mendekat ke Mas Gun.
"Mas, begitu kuntilanak merah itu muncul. Lo bikin kubah perisai. Buat perisai itu sekuat mungkin. Sampai kuntilanak itu nggak bisa keluar. Bisa kan?" ucapku dengan berbisik.
Mas Gun mengangguk.
"Apa memang rencana lo Di?" tanya Mas Gun.
Kukedip-kedipkan mataku pada Mas Gun. Mas Gun diam. Lalu kuberi isyarat pada Tika untuk tenang dan menunggu aba-abaku.
Tinggal kucari asap tipis yang menjadi petunjuk kemunculannya.
Dimana kau?
Kupicingkan mataku. Kupindai seluruh sudut.
__ADS_1
.
.
.
Dimana kau?
.
.
Ayo muncul! Ayo!
"Dimana dia Di?" tanya Mas Gun dengan suara pelan.
"Ssstt." balasku.
.
.
.
Dimana kau demit?
.
.
YAAAA. ITU DIA. ITU ASAP TIPISNYA.
Sabar.
Tunggu.
Tenang.
Tiba-tiba..
BUFFF.
"SEKARAAAANGG!" teriakku.
SYUUUUTTTT. Mas Gun membuat perisai berbentuk kubah. Perisai itu mengurungku dan Mas Gun bersama kuntilanak merah itu.
"HIYAAAAAAAA!"
Kutembakkan sinar biru ke arah kuntilanak merah itu.
DUARRRRR. Tepat meledak di tubuhnya.
Kuntilanak merah terdorong dan menabrak perisai yang Mas Gun buat. Ia tak bisa keluar.
"MATI KAU!"
DUAARRR.
DUAARRR.
DUAARRR.
DUAARRR.
DUAARRR.
"MATI KAU B*NGSAAAAATTT!"
DUAARRR.
DUAARRR.
"SERANG DIA TIKAAA!" teriakku.
DUAARRR.
DUAARRR. Kulihat Tika menembakkan sinar kuning dari tangannya ke dalam kubah perisai.
Kuntilanak merah itu terkurung di dalam kubah perisai yang dibuat Mas Gun. Kutembakkan sinar biru dari tanganku tanpa henti.
"ALLAAAAAAHU AKBAR!"
Sinar biru bersinar sangat silau.
Lalu..
DUUUAAAAARRRRRRRRRRR.
Ledakan besar tak terelakkan. Saking besar kekuatan yang di keluarkan dari tanganku, perisai yang dibuat Mas Gun pun pecah. Aku terlempar. Mas Gun terhempas. Kuntilanak merah itu pun terpental.
BUKK. Aku jatuh menghantam tanah.
Aku duduk dan melihat ke sekelilingku. Dimana Mas Gun? Dimana kuntilanak merah itu? Apa taktik yang kubuat berhasil?
Diujung kebun, kulihat sebuah cahaya merah kehitaman yang berpendar. Cahayanya redup.
Aku bangkit berdiri. Kulihat Mas Gun berdiri sambil memegang lengan kanannya. Tika menghampiriku.
"Di, lo nggak apa-apa?" tanya Tika sambil merangkulku, membantuku berjalan.
"Nggak apa-apa Tik." jawabku.
Nek Iyah mendekatiku.
"Dek, kau kini sudah tahu kelemahan kuntilanak merah itu." ucap Nek Iyah.
"Eh. Memang apa itu Nek? Saya tidak sadar dengan apa yang saya lakukan. Saya hanya berusaha." balasku.
"Hilangnya rasa takut padanya adalah kelemahan terbesarnya." tutur Nek Iyah.
Hilangnya rasa takut padanya? Apa itu juga yang Kubil pernah bilang, kalau kelemahan kuntilanak merah adalah diriku. Apa yang di maksud Kubil adalah rasa takutku?
"Rasa takut padanya membuat kuntilanak merah itu semakin kuat. Jiwa sebagai tumbal yang dipersembahkan untuknya adalah makanannya." lanjut Nek Iyah.
"Sedangkan kau berhasil menghilangkan rasa takutmu akan keberadaan dan ancamannya. Itu yang membuatmu semakin kuat dan membuatnya semakin lemah." tambah Nek Iyah.
Sinar merah kehitaman masih berpendar. Tampak siluet kuntilanak merah yang berdiri di tengah-tengah sinar tersebut.
Aku, Tika, Nek Iyah, dan Kakek Badrun berjalan mendekat ke arah sinar itu.
"Hihihihihihihihi." terdengar tawa kuntilanak merah pelan.
Kuntilanak merah berdiri dengan wajah tertunduk. Dari tubuhnya memendarkan cahaya merah kehitaman. Dan di sekujur tubuhnya tampak lubang-lubang besar. Dari dalam lubang itu, keluar jiwa-jiwa yang pernah menjadi tumbalnya.
Jiwa-jiwa itu berbentuk asap tipis berwarna hitam yang membentuk wajah para korban tumbal kuntilanak merah. Jiwa-jiwa yang terbang mengeluarkan suara melengking. Mereka terbang tak tentu arah.
"Hihihihihihihihihi." tawa kuntilanak merah terdengar pelan.
"Tak kusangka. Tak kusangka. Tak kusangka." ucapnya berulang kali.
"Hihihihihihihihihi."
"Menyerahlah Merah. Ini memang sudah berakhir." ucap Nek Iyah.
"Hihihihihihihi. Berakhir? Apa yang berakhir Badriyah? Hihihihihihi." balas kuntilanak merah dengan suara pelan. Wajahnya masih tertunduk.
Wuungg. Tangan Nek Iyah bersinar.
Ya, mungkin ini saatnya. Ini akhirnya. Kuntilanak merah itu menanti ajal yang segera tiba. Ini saat yang di nanti-nantikan. Ini momen yang ditunggu-tunggu.
...______________...
...otor mau minta maaf kalo gantung ceritanya...
...besok di lanjut lagi yaa. oke. oke....
...jgn marah yaa....
...LIKE...
...tolong KOMEN yg positif & membangun...
...FAVORIT kalo suka...
...kirim HADIAH berarti kamu baik...
...kalo VOTE, otor doain banyak rejeki...
__ADS_1
...makasih...