
Sore hari, sepulang kuliah aku sedang asik menyeruput kopi bersama Yuda di Kedai Kopi Satu Arah. Bang Dede ikut gabung mengobrol dengan kami, tawa mengalir lepas dan canda pun tak terelakkan. Sore ini, pengunjung kedai hanya aku dan Yuda. Karena belum ramai pengunjung, Kak Nia pun ikut bergabung bersama kami, ia tinggalkan mesin kasirnya. Makin panjang dan seru obrolan kami.
Jalan samping kampus kadang memang menjadi jalan alternatif untuk pengendara motor, jika jalan utama di depan kampus macet. Biasalah, lalu lintas sore kadang menjadi momok menakutkan bagi para pengendara, jadi jalan alternatif kadang di pilih untuk lebih cepat sampai, atau setidaknya tidak terkurung dalam kemacetan. Begitu pun sore ini, banyak pengendara motor yang lewat jalan samping kampus. Tak ada habisnya. Klakson saling bersahutan.
Aku dan Yuda sedari awal memang memilih meja di luar, karena Yuda merokok. Bang Dede pun merokok, sampai Kak Nia pun merokok.
"Nih isep Di!" Bang Dede menyodorkan bungkus rokok miliknya.
Aku tersenyum, "Lagi nggak pengen bang. Hehehehe."
"Dia mah aneh bang, ngerokok kalau lagi banyak masalah doang. Dasar mas ndeso!" Yuda buka suara.
Kami pun tertawa, Yuda memberiku nama baru, Mas Ndeso. Sebelumnya memberiku julukan Adi Si Telinga Kelinci.
"Kak, lo sebenernya umur berapa sih?" tanya Yuda. Kak Nia yang di tanya senyum misuh-misuh.
"Lo ngapain tanya umur ke dia? Dia tua. Udah titik!" sambar Bang Dede.
"Parah lo bang, seenggaknya biar Kak Nia jawab dulu lah." sahutku.
"Nggak usah, nggak usah! Udah, dia tua. Fix. Hahahaha." balas Bang Dede.
"Sebentar bang, biar Kak Nia jawab dulu. Gue penasaran nih." ungkap Yuda. Kak Nia hanya senyum-senyum di ledek oleh Bang Dede.
"Hahahahaha. Emang penting banget umur gue buat lo?" sahut Kak Nia.
Yuda masih terus mengorek umur Kak Nia, Bang Dede menanggapi sembari becanda. Kak Nia hanya senyum misuh-misuh tak memberi tanggapan. Sedangkan aku, aku hanya tertawa melihat kelakuan mereka bertiga.
Di kejauhan adzan maghrib terdengar berkumandang. Langit pun perlahan menghitam, gelap melahap sinar surya.
Motor masih ramai lewat jalan samping kampus, tak ada habisnya. Di saat aku tertawa melihat mereka, tiba-tiba ujung mataku menangkap sebuah sosok yang tak asing bagiku, ia berdiri di seberang tepat dekat tembok kampus. Aku pun menoleh. Tak ada. Itu bayangan sosok si kakek semalam. Aku berdiri dari dudukku, mencari-cari si kakek. Semalam ia bilang, ia mau membantuku. Tapi dalam hal apa? Belum sempat si kakek menjawab, ia tiba-tiba pergi. Wajahnya terlihat panik, entah kenapa.
"Di, lo ngapain sih?" tanya Bang Dede.
"Di, woii." panggil Yuda. Aku menoleh ke arah Yuda.
"Apaan Da?" tanyaku, mataku masih saja mencari sosok kakek.
"Lo kenapa woi? Lagi seru-seru ngobrol tiba-tiba lo bangun sambil celingak-celinguk, gimana orang nggak heran. Lo cari siapa sih?" tanya Yuda.
"Eh, eng..nggak apa-apa." jawabku.
"Da, balik yuk!" ajakku.
"Hah, balik?" Yuda kaget.
__ADS_1
"Gue baru pesen kopi segelas lagi. Masa balik? Nggak ah!" Yuda nampak sedikit geram.
"Emang kenapa sih lo tiba-tiba ngajak balik? Kemala ya?" tanya Yuda.
Astaga, Kemala! Aku baru ingat ada janji dengan Kemala. Kenapa bisa sampai terlupakan. Gawat, ini pasti gawat.
"Da, hape gue mana Da?" tanyaku.
"Yeee mana gue tahu. Ingat-ingat lagi coba!" sahut Yuda.
"Itu hape lo di charge dekat mesih kasir! Kan tadi lo sendiri yang numpang di sana." tutur Kak Nia.
Aku buru-buru mengambil ponselku yang di charge dekat mesin kasir.
"Da, gue balik duluan ya!" ucapku sembari mengambil tas.
"Eh beneran nih bocah! Mau gue antar nggak?" tanya Yuda.
"Nggak usah, gue cabut duluan ya Da, bang, kak!" setelah pamit aku melesat pergi.
Tak sempat ku dengar Yuda bilang apa. Aku langsung pergi dari kedai kopi. Ku nyalakan ponselku sambil berjalan cepat. Astaga, belasan chat dari Kemala memenuhi chat box. Ia pasti marah. Sial, kenapa bisa lupa sih? Seorang Kemala bisa terlupakan, sungguh keterlaluan kau Adi, sungutku dalam hati.
Ku beranikan diri menghubungi Kemala.
Tepp. Ia menolak panggilanku. Hancur sudah, kandas sudah, pupus sudah seluruh harapanku.
Aku sampai dekat lapangan, ku percepat langkahku. Karena belum sempat shalat maghrib.
Saat melangkah memasuki gang, pundakku di pegang amat kuat, aku terperanjat hampir lompat. Cengkeramannya kuat, hingga bahuku terasa nyeri. Aku menoleh ke belakang, si kakek yang mencengkram bahuku. Aku tak bisa bergerak.
"Nak Adi." ucapnya dengan suara berat dan serak. Si kakek melepas cengkramannya, aku mengusap-usap pundakku yang nyeri.
"I..iya kek."
Suasana gelap menyelimuti, aku tak dapat melihat wajah si kakek, hanya siluet tubuhnya dengan balutan baju kancing berwarna hitam dan kepalanya yang di ikat selembar kain corak batik.
"Nak, kakek mau kasih tahu sesuatu." tutur si kakek.
"Ada apa kek?" tanyaku yang masih mengusap-usap bahu.
"Pergilah dari rumah Badriyah nak, ada bahaya yang mengintaimu setiap saat." ucap si kakek.
"Hah, pergi? Apa alasan kakek suruh saya pergi dari sana?" jawabku kesal, keberanianku mulai timbul.
"Memang kakek yang bayar sewa kost saya?" lanjutku.
__ADS_1
Ia hanya diam.
"Kakek siapa suruh-suruh saya pergi dari sana?"
"Nak, kakek hanya ingin membantumu. Di sana tidak baik, di sana tidak aman untukmu, mereka semua bersekongkol." ucap si kakek kembali.
"Bersekongkol? Siapa?" tanyaku penasaran.
Kakek diam. Wajahnya nampak tertunduk.
"Jadi kamu benar-benar yakin tidak mau pergi dari sana?" tanya si kakek.
"Kalau saya tidak mau, kakek mau apa?" tantangku dengan berani.
Tiba-tiba ia merogoh kantung bajunya, ia mengeluarkan seuntai kalung dengan liontin sesuatu berbentuk bulat yang di bungkus kain hitam.
"Nak, kalau kamu tidak mau pergi dari sana, setidaknya terima dan simpan kalung ini." ujar si kakek seraya menyerahkan kalung kepadaku.
"Dengan jimat ini, sementara dapat menahan kekuatan jahat yang ingin mencelakaimu. Ambillah nak!" kakek menyerahkan kalung. Aku diam, tak berkata maupun bergerak.
Ku ambil kalung pemberian si kakek, ketika sedikit lagi tanganku berhasil menggapai kalung dari tangan si kakek, tiba-tiba angin bertiup amat kuat, membuat daun berguguran, debu beterbangan. Kedua tanganku menutupi wajahku, begitu pula si kakek. Seiring tiupan angin yang sangat kuat, puluhan kelelawar beterbangan di sekitar kepala kami. Suara decitannya terdengar amat dekat, sangat mengganggu.
"Nak, cepat ambil kalung ini!" teriak si kakek.
Aku meraih tangan kakek dan menyabet kalung dari genggamannya.
Syuuuuttt.
Seketika angin berhenti berhembus. Belasan kelelawar hilang entah kemana. Daun berserakan mengitariku dan si kakek, aku seolah-olah ada di dalam lingkaran dedaunan. Kakek menghempas-hempas bajunya yang berdebu, aku merapikan rambutku yang berantakan.
"Kakek mohon, selama kau ada di sana pakai atau kantongi terus kalung itu. Kamu mengerti?" ucap si kakek.
"Kek, sebenarnya ada apa dengan saya?" tanyaku.
Si kakek diam.
"Jika waktunya tiba, kamu akan tahu semuanya nak. Kakek tak bisa katakan, kamu sendiri yang nantinya akan menemukan semua jawaban atas semua pertanyaanmu." jawab kakek.
"Lalu, kenapa saya kek? Kenapa bukan orang lain?" tanyaku lagi.
"Karena kamu telah di pilih nak. Kamu tidak lemah, tidak juga kuat. Mereka senang denganmu." ucap si kakek.
Ia perlahan mundur menuju kebun kosong dekat lapangan.
"Kek, kakek! Kakek siapa?" teriakku.
__ADS_1
"Haaa huuu..." hanya suara mirip bisikan yang ku dengar, tak lebih.
Aku berdiri diam sejenak, tanganku menggenggam kalung pemberian si kakek. Antara percaya atau tidak, yang baru saja ku alami adalah sesuatu di luar nalarku. Yang sama sekali belum pernah ku alami seumur hidupku. Apa aku harus percaya dengan perkataan si kakek?