
Kami selesai melaksanakan shalat subuh berjamaah. Seperti biasa, Mas Gun selalu menjadi imam shalat. Aku duduk bersila sembari zikir. Kupejamkan mata dengan khusyuk.
"Di. Adi." panggil Mas Gun.
Kubuka mataku.
Cahaya biru yang menyilaukan memancar dari cincin mustika yang kukenakan.
"Cincin lo Di." ucap Mas Gun.
Cahayanya semakin silau. Terasa hawa panas dari jari yang tersemat cincin. Perlahan hawa panas menjalar ke tangan, terasa bergerak ke tengkuk, lalu dadaku, kemudian sampai ke seluruh tubuhku. Ada apa ini?
Tak lama kemudian cahayanya memudar, lalu padam.
Mas Gun melongo menyaksikannya.
"Itu cincin lo kenapa Di?" tanya Mas Gun.
"Habis gue kasih makan." jawabku sembari senyum.
"Eh Di, Tika bilang gue harus melatih kekuatan gue. Tapi gimana caranya ya?" tanya Mas Gun.
"Nanti lo coba tanya deh ke Tika." suruhku.
Kubuka pintu kamar dengan lebar. Membiarkan udara sejuk merangsek masuk ke dalam kamar. Langit masih gelap. Aku dan Mas Gun tak tidur lagi. Kami mengobrol santai sambil menikmati secangkir kopi di teras kost.
Ceklekk. Kunci kamar Tika terdengar diputar.
Pintu kamarnya terbuka.
Yuli.
"Eh, Bang Adi. Lagi pada ngapain?" tanya Yuli sambil menyapu lantai.
"Ngopi-ngopi aja nih. Tika udah bangun belum?"
"Tika terus nih yang ditanyain. Ada apa sih sebenarnya sama Tika? Hehehehe." jawab Yuli.
"Aaahh nggak ada apa-apa. Cuma tanya aja." jawabku.
"Udah bangun kok Tika-nya. Mau dipanggilin?"
"Bagus kalau sudah bangun. Eh, nggak usah. Gue cuma tanya aja kok." balasku.
Yuli menyapu teras depan kamarnya.
"Tika bangun jam tiga tadi Bang. Nggak tidur lagi, sampai subuh. Tuh, masih duduk di atas sajadah." ucap Yuli.
"Oohh gitu." sahutku.
"Akhir-akhir ini nggak tahu kenapa Tika sering shalat malam. Yuli nggak tahu dia doa minta apaan, minta jodoh kali ya. Hehehehe." lanjut Yuli.
"Ooh. Jadi Tika sering shalat malam?" tanyaku.
"Lho, masa Bang Adi nggak tahu sih. Kan Tika sering keluar bareng sama Bang Adi. Kemarin malam kalian pada nginap dimana sih?" tanya Yuli.
"Di rumah teman. Sekalian kerjain tugas bareng." jawabku.
__ADS_1
"Ngerjain tugas bareng? Emang mata kuliah Bang Adi sama Tika samaan ya? Kok bisa ngerjain tugas bareng?"
"Eh. M-maksudnya kita ngerjain tugas barengan. Tika ngerjain tugas dia, gue kerjain tugas gue. Gitu."
Mas Gun masuk ke kamar.
"Yuli, boleh tanya sesuatu nggak?" tanyaku dengan suara pelan.
"Tanya apa Bang? Kok suaranya kayak bisik-bisik gitu sih. Rahasia ya?"
"Enggak kok. Pertanyaan biasa aja." balasku.
"Mau tanya apa memangnya?"
"Emmm. Selama Yuli sama Tika kost disini, pernah mengalami kejadian aneh nggak? Atau pernah digangguin oleh sesuatu nggak?" tanyaku, lagi-lagi dengan suara pelan.
"Digangguin? Sama setan maksudnya?" tanya Yuli.
Aku mengangguk.
Yuli tampak berpikir.
"Enggak pernah sih Bang. Selama Yuli dan Tika tinggal disini, belum pernah ada kejadian aneh-aneh. Memang awalnya takut sih karena di samping kamar ada kuburan. Tapi aman-aman aja kok." jawab Yuli.
Hmmm, benar dugaanku. Masalahnya bukan aku yang di takdirkan memberantas kejahatan yang sudah lama mengakar. Masalahnya adalah kamar yang aku tempati. Hahahaha. Sial. Gara-gara salah menempati kamar aku harus menanggung beban brengsek macam ini.
"Bang. Bang Adi." Yuli memecah lamunanku.
"Kok bengong? Memang kenapa Bang Adi tanya seperti itu? Apa Bang Adi mengalami kejadian aneh selama kost disini?" Yuli bertanya.
"Kalau Yuli pribadi sih nggak pernah Bang. Nggak tahu kalau Tika." jawab Yuli.
Aku diam.
Benar. Berarti benar.
"Ngomongin apa sih?"
Tika tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu.
"Ehh Tika. Sini sini. Tadi lo ditanyain nih sama Bang Adi. Sini." Yuli menyuruh Tika duduk bergabung.
"Ada apaan sih?" tanya Tika.
"Ini Tik, Bang Adi tanya. Apa selama kost disini kita pernah dapat gangguan dari setan? Kalau gue sih nggak pernah. Kalau lo?" Yuli bertanya pada Tika.
Tika melirikku.
"Eng-enggak pernah sih. Gue selama kost disini nyaman aja. Memang kenapa Di? Memang lo pernah di ganggu setan selama kost disini?" Tika bertanya padaku. Aku tahu pertanyaan itu hanya modus belaka.
"Enggak kok, nggak pernah. Sama, gue juga aman-aman aja." jawabku.
Kemudian kami pun diam.
Yuli pamit untuk mandi, ia bilang akan pergi ke kampus lebih awal.
"Lo tanya apa sama Yuli?" Tika membuka obrolan.
__ADS_1
"Tanya seperti yang tadi. Memang perlu gue ulang?" jawabku.
"Kenapa lo tanya seperti itu?" tanya Tika.
Aku diam. Menatap langit yang sudah mulai memutih. Di kejauhan sinar mentari tampak mulai bersinar. Sinarnya malu-malu.
"Tik, lo percaya nggak kalau semua yang gue alami berkaitan dengan hal gaib adalah karena kamar 11b itu?" tanyaku.
Tika diam.
"Kenapa lo berkesimpulan seperti itu Di? Bukannya memang takdir lo untuk menghentikan kejahatan Nek Iyah dan kuntilanak merah itu?" Tika balik bertanya.
Aku terkekeh.
"Lo percaya itu?" tanyaku.
Tika diam.
"Kan memang ini sudah jalannya Di. Kakek Badrun bilang begitu. Nyokap Kemala bilang seperti itu. Lo orang yang ditakdirkan untuk memusnahkan kuntilanak merah itu Di. Apa lo kurang yakin dengan mereka?"
"Hehehehehe. Enggak enggak. Terlepas dari takdir, penyebab semua masalah ini adalah kamar 11b. Mau gue kasih buktinya?"
"Apa buktinya?" tantang Tika.
"Sekarang gue tanya sama lo. Selama lo kost disini, apa pernah lo mengalami gangguan secara langsung? Kesampingkan dulu kelebihan yang lo punya. Coba jawab." tanyaku.
Tika terdiam.
"Kenapa diam?"
"Oke. Gue anggap lo nggak pernah mendapat gangguan dari demit apapun selama disini. Sekarang gue tanya lagi, apa pernah Yuli cerita ke lo soal melihat penampakan setan, diganggu setan, atau mimpi-mimpi seram, atau yang berkaitan dengan setan dan demit selama kost disini? Jawab Tik, gue nggak mau lo diam!" pintaku.
"Nggak pernah sekalipun." jawab Tika pelan.
Aku terkekeh.
"Hahahahahahaha."
"Kenapa ketawa Di?" tanya Tika.
"Itu buktinya Tik. Kalau dari awal gue nggak menempati kamar itu, gue sangat yakin kalau gue nggak akan mendapatkan gangguan aneh seperti sekarang. Lihat penampakan demit, mimpi-mimpi aneh, ditandai oleh kuntilanak merah, bahkan sahabat gue tewas mengenaskan karena dijadikan tumbal. Itu artinya apa Tik? Artinya apa? Jawab Tika!"
Tika kembali terdiam.
Aku bangun dari duduk.
"Itu artinya gue salah pilih kamar Tik. Itu aja jawabannya."
Aku masuk kamar meninggalkan Tika duduk sendiri di teras kost. Tika masih terdiam.
"Di, kenapa Di?" Mas Gun bertanya.
Kuacuhkan.
Kurebahkan tubuhku di atas kasur. Memandang langit-langit kamar yang dipenuhi sarang laba-laba. Terngiang wajah Bagas, sahabatku.
Gas, maafin gue Gas.
__ADS_1