Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 82


__ADS_3

Eh, kenapa gerbang kost terbuka lebar? Ada sebuah mobil los bak yang parkir di halaman. Aku berjalan menuju halaman, kulihat Nek Iyah sedang duduk di kursi teras.


"Dek Adi dari mana? Kok jam segini baru pulang?" tanya Nek Iyah.


"Eh nek, habis tahlil di rumah Pak Rahmat. Nek Iyah belum tidur?" sahutku.


"Ooh tahlilan si Rahmat ya. Belum dek, kebetulan malam ini ada yang mau isi kamar 11a. Mereka maksa mau nempatin kamarnya malam ini." jelas Nek Iyah.


Ooh jadi mahasiswi yang lihat kamar tadi siang jadi pindah ke kamar 11a. Wah, buru-buru sekali mereka. Ini sudah hampir tengah malam lho, kenapa tidak menunggu besok saja ya. Ah biarlah, ada urusan apa kau Adi.


"Mari nek, saya ke kamar dulu."


"Iya dek, silakan." ucap Nek Iyah dengan senyum.


Aku berpapasan dengan dua orang pria di garasi, mereka mengangguk menyapaku ramah. Benar saja, tiga orang mahasiswi itu terlihat sedang merapikan kamar. Terlihat dari luar karena gordyn kamar terbuka lebar.


Aku masuk kamar, mengganti baju kemudian berwudhu, ternyata aku belum shalat isya. Setelah shalat isya terdengar riuh dari kamar samping. Biasa, berisik khas perempuan. Hal sekecil apa pun pasti di bahas.


"Aku capek nih saaay. Beresin bajunya lanjut besok aja yaaa." kudengar seorang perempuan mengeluh dengan nada manja.


"Aaaaa.. di kamar mandi ada kecoaaa. Iiiihhh, aku geli tauuuu." seorang lainnya berteriak.


Aku menarik selimut, sudah pukul 00:15. Besok aku harus kuliah, terasa lama tak menginjakkan kaki di kampus rasanya. Dan ada rasa rindu bertemu Kemala, apa ia masih marah denganku? Jelas masih marah, pesanku saja tak ia balas. Ah bodo amat lah, lagipula siapa aku? Aku bukan siapa-siapanya.


***


Ngekk ngekk ngekk


Aaahh bunyi apa sih itu? Mengganggu tidurku saja. Telingaku mendengar bunyian tak jelas, namun mataku masih terpejam. Aku mengganti posisi tidurku, kutarik selimut sampai menutup kepalaku.


Ngekk ngekk ngekk


Bunyi-bunyian itu kembali tertangkap telingaku. Tak ikhlas rasanya jika aku harus membuka mata dan mengecek asal bunyi tersebut. Tapi bunyinya sangat mengganggu. Kubuka mataku pelan, kepala masih tertutup selimut. Kutajamkan telingaku, apa bunyi sesuatu itu masih terdengar. Dan ya, masih terdengar. Kusingkap cepat selimutku.


Astaghfirullah, apa lagi ini?


Sosok wanita dengan leher tergantung sebuah tali tambang. Baunya busuk menyengat, di pipinya bergerumul belatung menggeliat sungguh menggelikan. Dan cairan hitam menetes dari mulutnya. Tambangnya bergoyang ke kanan ke kiri.


Aku bangun dari kasur, berlari menuju ruang depan. Kuputar-putar kunci pintu, gagang pintu kugerak-gerakkan, namun pintu tak mau terbuka. Jantungku berdegup sangat cepat. Aaahhh siiiaaall, ada apa dengan pintu sialan ini.


Klek


Terbuka!


Aku berlari keluar kamar. Nafasku tersengal, aku membungkuk. Dahiku banjir keringat. Sial sekali aku, tiap malam melihat penampakan dalam kamarku. Kemarin malam wanita pemakan kucing, malam ini wanita dengan leher tergantung. Ada apa ini?


"Bang."


"Waaaaa!" aku teriak karena terkejut, ada yang memanggilku.


Haduh, jantungku mau copot rasanya. Mahasiswi penghuni kost baru yang memanggilku. Aku mengelus dada.


"Aduuuhh, bikin kaget aja." ujarku.


"Eh maaf bang. Maaf maaf." ucap si perempuan.


Nafasku masih tak beraturan. Aku masih membungkuk mengatur nafas. Tak kugubris permintaan maaf si perempuan.


"Abang kenapa? Kok ngos-ngosan sih?" tanya si perempuan.


"Nggak apa-apa." jawabku. Aku berdiri tegak. Menghela nafas panjang.

__ADS_1


Si perempuan hanya memandangiku. Aku belum berani masuk ke dalam kamar. Hanya berani melirik dari depan teras kamarku. Apa wanita dengan leher yang menggantung masih ada?


"Abang kenapa?" tanya si perempuan lagi. Ini perempuan kenapa cerewet sekali sih, mangkel juga hatiku di tanya terus-menerus.


"Nggak apa-apa. Memang kenapa sih?" jawabku.


Si perempuan tak menjawab. Ia masih berdiri di teras depan kamarnya, kamar nomor 11a. Wajahnya terlihat tak normal. Raut wajahnya nampak cemas.


"Abang sudah lama kost di sini?" ini perempuan kenapa sih, banyak tanya sekali.


Aku tak menjawab, aku berjalan perlahan mendekat ke pintu kamar. Kulirik ke dalam kamar kost ruang tengah, mencari sosok wanita yang menggantung tadi. Alhamdulillah sudah tak ada, aku bernafas lega.


"Hati-hati ya bang. Kalau abang takut, mereka makin sering kesini." ucap si perempuan.


Eh, maksudnya apa? Apa ia bisa melihat hal tak kasat mata.


"Maksudnya?" tanyaku.


Si perempuan tak langsung menjawab, ia tengok kanan kiri. Wajahnya masih saja cemas.


"Saya lihat apa yang abang lihat." ujarnya. Ia berbicara sambil terus menggigit kuku-kukunya.


"Memang kamu bisa lihat hal-hal gaib?" tanyaku seraya mendekat ke arahnya.


Ia mengangguk.


"Memang kamu lihat apa di sini?" tanyaku.


Wajahnya makin terlihat cemas, bola matanya bergerak cepat ke kanan dan kiri. Giginya makin cepat menggigit kuku.


"Ba-banyak bang." jawabnya dengan merintih.


"Sudah jangan takut. Mending kamu masuk ke dalam aja." suruhku.


Si perempuan mengangguk, ia berjalan pelan menuju kamarnya. Wajahnya masih saja cemas. Baru saja berjalan tiga langkah, tiba-tiba tubuh perempuan itu terdorong ke samping dengan kuat, ia berteriak dan tersungkur di lantai. Aku bergegas menolongnya bangun.


Ia menangis mengulun, tubuhnya terdorong oleh sesuatu yang tak bisa kulihat. Si perempuan duduk dengan wajah tertunduk. Tiba-tiba kedua teman sekamarnya keluar.


"Tika kenapa Tik?" tanya seorang temannya. Ternyata perempuan ini bernama Tika.


Mereka mendekat ke Tika, membantunya bangun. Tika menangis sedu.


"Teman saya abang apain? Kok bisa nangis sih? Abang mau macem-macem ya?" seorang lainnya menodongku dengan pertanyaan ngawur.


"Heh, jangan sembarangan ngomong ya. Justru gue bantuin temen lo." jawabku.


"Bantuin apaan? Ini sampai nangis begini." sanggahnya.


"Lo tanya sendiri sama temen lo sana!" balasku.


"Awas ya, nanti saya aduin ke ibu kost." ucapnya lagi.


"Sana lo ngadu ke ibu kost! Ngadu ke bapak lo sekalian!" sungutku.


Mereka pun masuk ke dalam kamar, Tika berjalan di tuntun kedua temannya. Aku pun masuk juga ke dalam kamar. Penampakan wanita dengan leher menggantung di tali sudah tidak ada. Sial sekali aku malam ini, melihat penampakan seram di tambah menjadi tertuduh mengerjai perempuan penghuni kost baru.


Kembali kutarik selimut, dan kulanjutkan tidur. Semoga tak ada gangguan lagi setelah ini.


***


Aku sudah siap untuk berangkat kuliah, setelah mengunci pintu aku pun bergegas pergi. Hari masih pagi, sinar mentari pun terlihat malu-malu menampakkan cahayanya. Saat ini pukul tujuh. Aku berjalan melewati garasi, lalu jalan menuju teras rumah Nek Iyah dan halaman rumah.

__ADS_1


Lho, dua orang penghuni baru terlihat sedang bertemu dengan Nek Iyah di teras rumah, mau apa mereka?


Seorang perempuan yang semalam menuduhku melakukan hal macam-macam pada Tika temannya menatapku tajam, pasti ia mengadu pada Nek Iyah. Kuacuhkan.


"Dek Adi." panggil Nek Iyah


"Iya nek."


"Sebentar dek, ada yang mau di bicarakan." ucapnya. Aku pun menghampiri mereka di teras.


"Dek Adi, saya mau tanya memang semalam Dek Adi melakukan apa sama teman mereka?" tanya Nek Iyah.


"Saya nggak ngelakuin apa-apa nek. Memang saya ngelakuin apa? Justru saya bantuin teman mereka." jawabku.


"Halaaahh, jangan bohong lo. Temen gue sampai sekarang masih nangis aja tuh di kamar. Udah ngaku aja lo. Udah lo apain teman gue?" ucap si perempuan yang menuduhku.


Mangkel juga rasanya hatiku.


"Heh, jangan main tuduh-tuduh sembarangan lo! Itu fitnah namanya. Lo udah tanya belum sama temen lo kejadian yang sebenarnya?" sahutku.


Mereka diam.


"Belum kan! Enak aja main tuduh sembarangan, gue laporin polisi lo! Kena pasal pencemaran nama baik!" emosiku memuncak.


"Sudah sudah. Adek sebaiknya tanya ke temannya dulu soal kejadian yang sebenarnya. Jangan main tuduh dulu. Kalau memang Dek Adi berbuat macam-macam, nanti saya tindak." Nek Iyah menengahi.


Lalu dua perempuan itu undur diri menuju kamar mereka.


"Nggak tahu kejadiannya udah tuduh orang sembarangan! Nggak terima gue di tuduh-tuduh, awas lo gue laporin polisi!" ancamku.


"Sssttt Dek Adi, sudah sudah." ucap Nek Iyah.


"Saya nggak terima nek, seenaknya saja tuduh orang. Biarin, nanti saya laporin ke polisi." aku makin sebal.


Rusak sudah pagiku. Aku tak terima di tuduh mengerjai temannya. Lihat saja, akan kubalas kau perempuan sial. Akan kutunggu kau di sini setelah kau bertanya kepada temanmu soal kejadian yang sebenarnya.


Perempuan itu kembali ke Nek Iyah.


"Gimana? Udah lo tanya ke temen lo kejadian yang sebenernya?" aku bertanya dengan suara lantang.


Ia hanya diam.


"Sudah di tanya ke temannya dek?" tanya Nek Iyah.


"Sudah nek," jawabnya dengan wajah memelas. "Maaf ya nek, maaf ya bang saya sudah tuduh yang enggak-enggak ke abang." ucapnya meminta maaf.


"Heh, siap-siap lo masuk penjara! Gue nggak terima, hari ini juga gue laporin lo ke polisi!" sahutku.


"Dek Adi, sudah Dek Adi. Sudah sudah." Nek Iyah mencoba menenangkanku.


"Enggak bisa nek, ini udah fitnah. Saya nggak terima pokoknya." ujarku.


"Bang, maafin saya bang. Maafin saya udah menuduh abang." ia memelas meminta maaf padaku.


"Nanti aja lo ngomong di kantor polisi! Siapin semua baju lo buat nginep di penjara!" balasku, lalu aku berlalu pergi meninggalkan Nek Iyah dan perempuan sial itu.


"Dek Adi, Dek Adi! Dek Adi, ini bisa di selesaikan secara damai dek!" Nek Iyah memanggilku.


"Bang, maafin saya bang." si perempuan memanggilku.


Semua panggilan kuacuhkan. Aku melangkah dengan tergesa. Amarahku di ujung ubun-ubun.

__ADS_1


__ADS_2