
Aku, Yuda, dan Tika bersiap menuju rumah sakit. Kami sudah ganti baju dan rapi.
"Heh heh heh. Pada mau kemana?" tanya Mas Gun dari kolam renang.
"Kita mau ke rumah sakit sebentar." jawab Tika.
"Eh kok gue nggak diajak?" tanya Mas Gun seraya naik dari kolam.
"Lo disini aja Mas. Cuma sebentar kok." ucap Yuda.
"Ah nggak mau. Gue ikut. Tunggu sebentar." Mas Gun mengambil handuk, lalu lari ke kamar Yuda.
Kami pasrah menunggu Mas Gun dan duduk di sofa ruang keluarga.
"Yuk, cabut!" ujar Mas Gun dari atas, ia memakai baju sambil menuruni anak tangga.
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Mas Gun.
"Lo nggak mandi Mas?" tanya Yuda.
"Mandi? Lah, tadi barusan gue ngapain di kolam? Lo pikir gue lagi gali lobang. Udah ayo cabut." sergah Mas Gun.
"Maksudnya, lo nggak bilas? Takutnya badan lo gatal-gatal kena air kolam renang." tambahku.
"Aaahh udah udah. Kuman juga males lama-lama di badan gue, terlalu lebar. Ayo buruan." jawab Mas Gun asal.
Kami pergi menaiki mobil. Letak rumah sakitnya lumayan jauh dari rumah Yuda. Beberapa kali kami dihadang macet. Yuda yang mengendarai mobil, di sampingnya Mas Gun. Aku dan Tika duduk di kursi belakang.
"Sebenarnya kita mau kemana sih?" tanya Mas Gun yang duduk di kursi depan.
"Ke rumah sakit Mas." jawabku.
"Ke rumah sakit? Ngapain sih? Bukannya kita mau ke rumah pemilik mobil antik itu ya?" tanya Mas Gun lagi.
"Jadi gini Mas, tadi pagi gue dapat telepon dari istri pemilik mobil. Dia bilang kalau suaminya mengalami kecelakaan dan tewas di tempat. Istrinya melaporkan gue ke polisi, menuduh gue menjual mobil rongsokan pada suaminya. Nah, siang ini gue ditunggu oleh polisi dan istri korban di rumah sakit." jelas Yuda.
"Wah wah wah, kok jadi makin rumit gini sih? Da, tapi sebelum ada kesepakatan antara lo sama pembeli itu, ada test drive kan?" tanya Mas Gun lagi.
"Pasti dong Mas. Gue kasih mobil itu ke dia untuk test drive. Kita juga sama-sama periksa lagi mobil itu ke bengkel langganannya. Dan ternyata memang aman dan mobil dalam kondisi bagus. Nggak mungkin gue jual kalau mobil belum beres." terang Yuda.
"Yaudah, kita hadapi aja bareng-bareng. Tenang Da, lo nggak sendirian." sahut Tika.
"Makasih ya guys." balas Yuda.
Sekitar satu jam lebih menempuh perjalanan, kami pun sampai di rumah sakit kepolisian. Yuda menghubungi istri korban.
"Yuk, kita ke kamar jenazah." ajak Yuda.
"Hah? Kamar jenazah? Eh eh, sebentar deh." Mas Gun menahan kami.
"Apa lagi Mas?" tanyaku.
"Gue tunggu di warung kopi depan aja ya. Perut gue suka mual kalau liat jenazah." ucap Mas Gun.
"Yaudah terserah lo. Kita ke dalam dulu ya." balas Yuda.
Aku, Yuda, dan Tika masuk ke rumah sakit. Sementara Mas Gun menuju warung kopi di depan rumah sakit. Kami menyusuri lorong demi lorong, mencari kamar jenazah berada. Yuda sempat bertanya pada seorang petugas.
"Disana Dek, lurus saja. Mentok belok kanan, kamar jenazah ada di paling ujung dekat pohon duren." seorang petugas memberi tahu.
Kami pun berjalan sesuai arahan petugas. Yuda berjalan paling depan, sedangkan aku dan Tika di belakangnya.
"Tik, lo ngerasain hawa yang kurang enak nggak?" tanyaku berbisik.
Tika hanya mengangguk tanpa berkata.
Ada sesuatu yang tak enak yang kurasakan. Entah bagaimana menggambarkannya. Tapi tubuhku terasa lemas dan pegal di segala sendi.
"Pikiran jangan kosong Di." balas Tika dengan berbisik.
Aku pun mengangguk.
Di ujung lorong, kulihat sekumpulan orang dan beberapa petugas dari kepolisian.
"Nah, itu tuh Pak orangnya. Dia tuh yang jual mobil rongsokan ke suami saya." teriak salah seorang wanita berkacamata. Pipinya tembam, matanya agak sipit. Wanita itu menangis meraung-raung.
__ADS_1
"Tanggung jawab kamu! Tanggung jawaaaaabb!" ucap si wanita sembari mengepalkan tinjunya, ingin memukul Yuda. Beruntung seorang petugas melerai.
Si Wanita digeret menjauh dari Yuda oleh seorang Pria jangkung.
"Selamat siang. Adek yang bernama Yuda?" tanya seorang polisi pada Yuda.
"Si-siang Pak. Betul, saya Yuda."
"Boleh kami bicara sebentar dengan Dek Yuda?"
"Boleh Pak."
"Pak, saudara saya boleh ikut menemani saya?" tanya Yuda pada petugas. Yuda menunjukku.
"Oh boleh. Silakan."
Aku dan Yuda diajak menjauh dari kerumunan. Dua orang petugas kepolisian berseragam lengkap berdiri di hadapan kami.
"Sebelumnya, Dek Yuda tidak datang dengan orang tua? Karena ini menyangkut masalah yang cukup besar. Orang tua Dek Yuda kemana?" tanya petugas.
"Orang tua saya sedang dinas ke luar kota Pak. Ini masalah saya, Insya Allah akan saya hadapi sendiri. Atau memang harus ada pendamping Pak?" tanya Yuda.
"Boleh. Siapa pun? Om atau Tante Dek Yuda, yang penting orang dewasa." jawab petugas.
Yuda izin untuk menghubungi pamannya. Setelah menghubungi paman, Yuda kembali menghadap petugas.
"Baik, sambil menunggu pendamping Dek Yuda. Saya akan tanya beberapa hal terkait kejadian yang dialami korban." ucap petugas.
"Siap. Silakan Pak." jawab Yuda mantap. Ia tak gentar sedikit pun.
"Apa benar Dek Yuda menjual mobil kepada korban?"
"Benar Pak."
Petugas terlihat mencatat jawaban Yuda di atas secarik kertas.
"Apa Dek Yuda menjual mobil dengan kondisi yang baik?"
"Tentu Pak. Korban sempat melakukan test drive sebelum membeli mobil dari saya. Saya dan korban juga sempat membawa mobil itu ke bengkel untuk di cek. Tepatnya bengkel langganan korban. Dan hasilnya semua baik, aman, dan normal." jawab Yuda tegas.
"Apa nama bengkel tempat Dek Yuda dan korban memeriksa mobil?"
"Emm, kalau tidak salah nama bengkelnya Classic Garage 88. Kalau Bapak mau diantar kesana untuk pemeriksaan, akan saya antar. Saya juga sempat berkenalan dengan montir yang memeriksa mobil itu." jawab Yuda.
"Ah tidak usah, nanti biar petugas yang akan kesana. Siapa nama montirnya?"
"Afiq Pak. Ia montir senior di bengkel itu. Dan bengkel itu memang khusus menangani mobil antik." balas Yuda.
Petugas mencatat lagi.
"Apa Dek Yuda memang bekerja sebagai penjual mobil?" tanya petugas.
"Tidak Pak. Saya mahasiswa tingkat satu. Saya dan ayah memang hobi dengan mobil antik."
"Kalau hobi, kenapa mobil itu dijual pada korban?" tanya petugas.
"Saya kurang suka. Sebelum menjualnya, saya sudah berdiskusi dengan ayah saya Pak. Dan beliau mengizinkan saya untuk menjual mobil itu."
"Baiklah Dek Yuda. Mungkin pertanyaan saya cukup ini saja. Kami akan melakukan penyelidikan kepada mobil tersebut. Saya harap Dek Yuda tidak keberatan untuk menunggu sampai hasil penyelidikan keluar dan tidak pulang dulu." ujar petugas.
"Baik. Siap Pak." jawab Yuda.
"Emm Pak."
"Ya. Ada yang bisa dibantu?" tanya petugas.
"Apa boleh saya melihat jenazah korban?" tanya Yuda.
Petugas melirik ke petugas di belakangnya.
"Boleh. Mari saya antar."
Aku dan Yuda diantar dua petugas memasuki kamar jenazah.
"Pak, mau diajak kemana dia? Saya nggak terima suami saya jadi korban mobil rongsokan ituuu. Saya nggak terimaaaa!" istri korban masih saja kalap dan menuduh Yuda.
__ADS_1
Aku dan Yuda pun masuk.
"Itu Dek, jenazahnya di ranjang paling ujung." tunjuk petugas.
Ada sekitar enam ranjang di dalam ruangan. Semua ranjang terisi oleh jenazah yang di tutup kain putih. Lampu di dalam ruangan tampak tenang, menambah kesan angker.
Aku dan Yuda berjalan pelan, mendekat ke arah ranjang paling ujung.
"Di, lo yang buka ya kainnya." pinta Yuda dengan berbisik.
"Hah? Gue? Enggak enggak. Lo aja deh. Gue ampun kalau soal ini Da." jawabku menolak.
Sekujur tubuh ditutup kain putih di depan kami. Yuda tampak ragu untuk membuka kain penutupnya. Aku gugup, menelan ludah.
Tangan Yuda perlahan memegang ujung kain. Ia sedikit menyingkap ujung kain.
"Dek, ayo cepat."
Petugas mengejutkan kami.
Sial.
Yuda pun kembali menyingkap kain penutup secara perlahan.
Srakk. Kain terbuka lebar. Seorang petugas datang menyingkap kain itu.
"Waaaa!" Yuda terkejut sampai lompat. Aku pun begitu.
Pemandangan yang sangat mengerikan. Di atas ranjang terlentang seorang pria bermandikan darah. Di dahinya menganga lubang sampai ke hidungnya. Matanya terbelalak. Lidahnya terbelah menjulur keluar. Seluruh urat di tubuhnya menonjol berwarna kebiruan. Tangannya mengepal.
"Huuekkk." Yuda mual.
Jenazah kembali di tutup kain.
"Sudah?" tanya petugas.
"Su-sudah Pak. Makasih." jawabku.
Kami pun bergegas keluar dari ruangan. Tubuhku makin terasa tak enak. Di luar ternyata sudah ada Om Panji menunggu Yuda.
"Hei Da, kamu baik-baik aja?" tanya Om Panji.
"Aman Om." balas Yuda sambil menahan mual.
"Apa kata polisi?" tanya Om Panji.
"Yuda disuruh tunggu hasil penyelidikan mobil, nggak boleh pulang."
Seorang petugas menghampiri kami.
"Selamat siang Pak."
"Siang Pak. Saya pamannya Yuda. Ada apa ini Pak? Kenapa keponakan saya sampai dipanggil kesini?"
Petugas pun menjelaskan duduk permasalahannya pada Om Panji dengan tenang. Om Panji pun kini terlihat tenang dan santai.
Setelah selesai, Om Panji menghampiri Yuda.
"Da, kamu nggak perlu tunggu disini. Petugas menyuruh kamu untuk tunggu di kantor saja. Nanti hasilnya akan dijelaskan di kantor. Mau Om temani?" ujar Om Panji.
"Nggak usah Om. Yuda sama Adi saja. Om pulang saja nggak apa-apa." balas Yuda.
"Yakin kamu?"
"Iya Om. Yuda udah gede. Biar Yuda selesaikan masalah Yuda sendiri." balas Yuda.
"Sudah kabarin ayah?" tanya Om Panji.
Yuda menggeleng.
"Perlu Om yang kabari? Atau kamu saja?"
"Biar Yuda saja Om."
Om Panji pun pamit pulang. Keluarga korban sudah tak ada, begitu pun istri korban. Yuda harus menunggu hasil penyelidikan mobil dan hasil autopsi pada jenazah korban. Aku, Tika, dan Mas Gun akan menemani Yuda sampai masalah ini selesai.
__ADS_1
Kami pun bergegas menuju kantor polres. Ya Tuhan, semoga tidak terjadi hal-hal yang tak kami inginkan.