
"Mas, gue pinjam motor lo dong. Mau beli makan nih, lo mau titip makan sekalian nggak?" aku menawari Mas Gun.
Mas Gun berpikir sejenak.
"Hmmm, enggak deh. Kayaknya perut gue masih kenyang Di. Tuh, kunci motor ada di kantung jaket. Ambil aja!" sahut Mas Gun.
Aku pun mengambil kunci motor di jaket Mas Gun, lalu pergi keluar membeli makan. Mas Gun kutinggalkan di kamar kost, ia masih bergelut dengan game di ponselnya.
Begitu lewat halaman, aku masih melihat Nek Iyah duduk di kursi teras depan rumahnya. Masih dengan posisi yang sama dan tatapan kosong yang sama. Kuacuhkan, aku melewatinya dan beranjak keluar.
Ah senangnya ada kendaraan, aku bebas mencari warung makan favoritku, bebas mencari makanan yang ingin kunikmati malam ini. Tak melulu warung nasi dekat gang, jika malam menjelang lauk-pauknya sudah tak selengkap siang hari.
Aku keliling menuju samping kampus, tempat favorit anak kost mencari makan. Tenda yang menjual makanan paling lengkap di daerah kampusku. Penjual makanan siang sudah berganti dengan penjual makanan malam hari. Biasanya, jika malam tak jauh dari pecel lele, nasi goreng, ayam bakar, sate ayam madura, dan lain-lain. Tujuanku adalah pecel lele langganan Mas Gun. Letaknya ada di ujung jalan samping kampus. Lelenya besar, sambalnya enak, nasinya pulen, dan yang paling penting adalah gratis lalapan. Sebuah konsep baru warung tenda makanan yang menyediakan lalapan gratis dan ambil sepuasnya juga sesukanya.
Aku memarkir motor di depan tenda pecel. Tak begitu ramai, hanya tiga orang yang duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu.
"Pesan apa mas?" tanya mbak penjual.
"Mbak, pecel lele satu tambah tahu tempe ya." jawabku.
"Makan di sini?" tanya si mbak lagi.
"Iya mbak. Nasi uduk ya." balasku.
Si mbak mengangguk, lalu sibuk menggoreng seekor ikan lele dan sepotong tahu juga tempe.
"Minum apa bro?" tanya seorang lelaki dengan dandanan parlente. Kausnya berwarna hitam bergambar manusia berkepal kambing yang memiliki sayap di belakangnya, setahuku itu gambar Baphomet. Gambarnya seram penuh darah. Ia memakai jeans agak belel, dan sengaja di pakai melorot hingga di pantat. Di lehernya menggantung kalung rantai berwarna silver. Potongan rambut poni lempar khas oppa-oppa Korea, berwarna pirang. Sayangnya tak sesuai dengan warna kulitnya yang gelap. Wajahnya penuh jerawat. Ah, pokoknya tak sedap di pandang.
"Teh tawar hangat mas." jawabku.
"Oke bro. Wait a minute!" balasnya.
Aku menahan tawa mendengar ucapannya. Keren juga jawabannya. Bukan bermaksud menghina, aku pun sangat jarang menggunakan bahasa inggris. Tapi lelaki sok parlente itu sangat bagus mengucapkan kalimat 'wait a minute'.
Tak lama si lelaki datang membawa segelas besar teh hangat, terlihat asap putih mengepul dari permukaan gelas.
"Silakan bro!" ucapnya sembari menaruh segelas teh hangat di depanku.
"Thank's ma men!" balasku dengan english.
Si lelaki tersenyum, mengepalkan tangan kanannya, lalu di hentakkan kepalan tangannya di dada.
"You're welcome bro!" balasnya seraya pergi.
__ADS_1
Pesananku datang, lele di goreng kering. Di letakkan di atas piring ceper bersama sepotong tempe dan tahu. Dan sesendok sambal berwarna merah, warnanya menggugah selera di hiasi minyak yang mencilak. Sepiring nasi uduk juga mendarat di depanku, dengan sejumput bawang goreng di atasnya. Tak sampai di situ, si mbak memberiku sepiring penuh lalapan super lengkap. Ada potongan kol, setumpuk daun kemangi, irisan mentimun, daun jambu mede, tiga buah terong bulat berwarna hijau, beberapa iris tomat, potongan kacang panjang, dan setangkai daun selada air. Semua lalapan nampak segar. Mulutku banjir oleh liur, tak sabar ingin segera menyuap nasi beserta lele goreng.
Aku makan dengan lahap. Mataku hanya tertuju ke piring nasi, aku tak menoleh ke arah mana pun. Sedang kunikmati tiap suapan, rasa sambal yang sedap bercampur pedas menari liar di dalam mulutku. Daging lele yang empuk, bergejolak begitu kugigit. Di tambah nasi uduk yang terasa gurih dan harum. Semuanya begitu sempurna, kolaborasi apik dan perpaduan ciamik.
Tak butuh waktu lama aku menghabiskan sepiring nasi beserta lele goreng serta tahu tempe, di tambah lalapan segar. Selesai membayar, aku pun langsung kembali ke kost. Perutku kenyang, terasa nyaman dan membahagiakan.
* * *
"Aaaahhh kenyaaaaanngg!" ucapku begitu masuk ke dalam kost, sambil mengusap-usap perutku yang sedikit membuncit.
Mas Gun melengos.
"Makan apa Di? Kok lama banget." tanya Mas Gun.
"Pecel lalap dong! Hehehehehe." pamerku.
"Aaahh sial, nggak bilang-bilang kalau makan di sana. Kalau lo bilang, gue kan bisa titip makan." ujar Mas Gun.
"Lah, tadi kan gue tawarin. Lo bilang masih kenyang. Bukan salah gue dong!" aku membela.
Mas Gun sungut-sungut, ia tak rela. Memang, aku tahu tempat makan itu dari Mas Gun.
"Yasudah, sana makan! Mumpung masih sore. Kalau sudah jam dua belas, nanti gerbang di kunci." suruhku ke Mas Gun.
"Nggak ah! Tiba-tiba perut gue kenyang." jawab Mas Gun dengan judes. "Besok pagi aja gue sarapan." lanjutnya.
* * *
Pukul 22:10, mataku di serang ngantuk hebat. Mas Gun masih asik rebahan di ruang tengah, masih dengan game di ponselnya, entah sudah berapa jam ia bergelut dengan game. Ah untungnya jadwal kuliah besok tak terlalu pagi, aku bisa santai setelah shalat subuh. Aku berencana untuk mencuci baju dan membersihkan kamar.
Eh, seharian ini aku tak melihat Tika. Kemana dia? Tak terlihat batang hidungnya. Kuambil ponselku, kukirim pesan pada Tika.
- Tik, lo lagi pergi ya? Seharian gue di kost nggak lihat lo. -
.
.
.
Tak ada balasan.
.
__ADS_1
.
.
Pesanku belum di baca oleh Tika. Biarlah, besok akan kucoba menghubunginya lagi.
"Mas, gue tidur duluan ya." ucapku ke Mas Gun.
"Iya Di. Eh, besok pagi temenin gue ke rumah ibu kost lo ya. Gue kan belum izin tinggal di sini, masih jadi penghuni ilegal nih." ujar Mas Gun.
"Oke mas." jawabku seraya menuju kasur.
Kurebahkan tubuhku di atas kasur. Kupejamkan mata perlahan. Namun entah mengapa aku teringat dengan satu nama.
Dini.
Sudah dua hari ini aku tak melihatnya. Kembali teringat nasi bungkus pemberian Dini. Dalam penglihatanku, nasi bungkus itu berisi ratusan belatung yang bergerumul mengerumuni bangkai anak kucing. Sungguh menjijikkan. Tapi beda dengan penglihatan Mas Gun, ia melihat isi nasi bungkus itu benar-benar nasi dengan sepotong daging rendang. Aneh.
Firasatku, itu benar-benar bukan nasi bungkus pemberian Dini. Pasti ada orang yang menyuruhnya untuk memberikan nasi bungkus itu untukku. Pasti ada yang ingin mencelakaiku. Pertanyaannya siapa? Aku harus menceritakan kejadian ini pada Tika, ia lebih paham dan lebih nalar soal hal gaib di bandingkan denganku.
"Hooooaaammmm!" aku menguap. Mataku mulai berat. Tak lama, aku pun tertidur pulas.
* * *
Miaw miaw miaw miaw miaw.
Aku terbangun mendengar suara anak kucing, entah kenapa suaranya terdengar sangat dekat, mereka seperti berkumpul di ruang depan kamarku. Aku beranjak bangun dari kasur. Eh, Mas Gun tak ada di sampingku. Aku menuju ruang depan.
Lho? Tak ada Mas Gun. Dimana dia? Kutengok jam dinding. Pukul 03:05. Pintu kamarku tak tertutup rapat. Aku berlari ke kamar mandi. Kudorong pintu kamar mandi. Tak ada Mas Gun.
Jantungku berdebar dengan cepat. Tanganku gemetar hebat. Dengkulku terasa lemas. Aku panik. Pikiranku kacau.
Aku keluar dari kamar. Suasana halaman kost tampak sepi. Makam Mbak Wati dan Bang Oji terlihat lebih menyeramkan dari biasanya. Udara dingin menusuk ke dalam sumsum. Isi kepalaku hanya Mas Gun. Dimana dia? Kutepus segala kemungkinan yang sempat terlintas di kepalaku.
"Mas Guuuuunn! Maaass!" aku teriak tak terlalu keras. Mataku jelalatan mencari sosok lelaki bertubuh gempal itu.
"Maaaass! Mas Guuun!" panggilku lagi.
Sepi. Tak ada jawaban. Suasana kost pun sepi.
Tidak, tidak mungkin. Tidak boleh. Ini tidak terjadi dengan Mas Gun. Tak akan pernah terjadi. Tak akan boleh terulang lagi. Cukup. Cukup hanya kawanku Bagas.
Pikiranku tertuju pada rumah kosong di depan.
__ADS_1
Tiba-tiba darahku mendidih. Jantungku berdebar. Dadaku sesak. Nafasku tak beraturan.
"Mas Guuuuunn!" aku berteriak kuat-kuat.